
Jam 9 pagi Diani telah sampai di kafe bunga milik Lena, ia langsung naik ke lantai dua karena sahabat nya itu telah mengirim chat kalau ia sedang memeriksa laporan keuangan.
"Assalamualaikum" Salam Diani, Lena yang sedang menatap layar laptop nya pun mengangkat kepala nya.
"Waalaikumsalam, Sini duduk" Ucap Lena sambil menepuk sofa di sebelah nya.
"Ada apa? kok tumben mau ketemu, biasa nya sibuk sama ayang beb,".
"Mas Rian sibuk Len, jadi aku bosen di rumah terus," Jabmwab Diani sambil mengeluarkan Handphone nya.
"Oh ia gimana udah isi belum?" Tanya Lena dan itu membuat seketika raut wajah Diani muram. Lena mengernyitkan dahi nya melihat ekspresi wajah sahabat nya itu. "Kalau mau cerita, cerita saja Di, siapa tau aku bisa bantu," Sambung Lena.
Diani terisak dan memeluk Lena, " Len, kata dokter aku terkena PCOS, dan akan sulit buat punya anak, padahal Mas Rian udah ngebet banget punya anak," Cerita Diani, Lena sedikit syok dan terkejut mendengar penuturan Diani, namun tak di pungkiri di dalam hati nya ia bersorak senang.
"Apa? PCOS," Tanya Lena memastikan dan Diani hanya mengangguk.
"Ia Len, aku bingung banget, aku nggak mau buat Mas Rian kecewa, tapi secara tidak langsung aku sudah melakukan nya," Tangis Diani pecah, tanpa di sadari Lena tersenyum sambil menepuk pundak Diani, berpura-pura empati.
__ADS_1
"Kamu sabar ya Di, suatu saat nanti aku takin kalian pasti punya anak," Hibur Lena, Diani hanya bisa menghembuskan nafas nya kasar.
Saat sedang asyik mengobrol dengan Lena Diani mendapat telepon dari Rian, Diani pun mengangkat nya dan agak sedikit menjauh dari Lena.
"Assalamualaikum Mas!" Ucap Diani setelah ia menggeser tombol hijau di layar ponsel nya.
"Waalaikumsalam Dek, Mas hari ini mau keluar kota, ada meeting dengan pak Bejo Handoko di Malang, kamu nggak apa-apa kan kalau Mas tinggal sendiri, aku langsung berangkat soal nya waktu nya mepet banget, udah ya Dek, Assalamualaikum," Ujar Rian panjang kali lebar dan langsung mematikan telepon nya sepihak, tanpa mendengar omongan Diani.
"Wa, waalaikumsalam,"Ucap Diani meskipun Rian tak mendengar salam nya.
"Kenapa Di?" Tanya Lena penasaran.
"Oh, emang nya mau kemana?".
"Kata nya sih ke malang," Ucap Diani dengan wajah yang di tekuk.
"Idih, ditinggal berapa hari aja, udah uring-uringan," Ledek Lena dan membuat Diani tersipu.
__ADS_1
"Apaan sih Len, bukan itu tang buat aku kecewa, tapi,".
"Tapi apa?". Lena penasaran dengan lanjutan perkataan nya Diani.
"Mas Rian, kayak nya berubah Len," Curhat Diani dan membuat Lena semakin bingung.
"Berubah jadi ultramen maksud kamu," Canda Lena, Diani refleks memukul lengan Lena." Aduh bercanda kali Di," Sambung nya, dan mengusap bekas pukulan Diani.
"Aki serius Len," Diani merajuk.
Diani menghembuskan nafas nya pelan dan mulai menceritakan semua yang terjadi saat di rumah sakit dan dirumah tanpa ada sedikitpun yang di lewati.
Lena yang mendengar perubahan Rian diam-diam tersenyum," Bagus deh, kalau kamu mandul, jadi aku punya kesempatan buat ngerebut Rian dari kamu," Ujar Lena dalam hati.
"Terus sekarang apa yanga akan kamu lakukan," Tanya Lena pura-pura simpati.
"Entah lah Len, aku pun bingung harus bagaimana sekarang,"Jawab Diani dengan wajah yang terlihat sangat tertekan.
__ADS_1
"Kamu sabar ya, di balik semua ini pasti ada kebahagiaan di hari selanjut nya," Ucap Diani berpura-pura simpati, namun di dalam hati nya bersorak gembira karena ia punya kesempatan untuk mendekati Rian.
TBC