
Tling
Handphone Rian yang berada di samping tempat tidur nya berbunyi, Diani yang mendengar ada pesan masuk pun penasaran dan melihat nya, tertera nama Bunga, meskipun ia tak membuka namun Diani masih bisa membaca nya.
"Mas, hari ini aku tunggu di kafe ya, ada yang...," Pesan dari Bunga itu terpotong karena Diani hanya membaca sekilas di layar Handphone Rian.
"Siapa Bunga?" Tanya Diani dalam hati penasaran, ia pun kemudian meraih Handphone Rian dan membuka nya, namun sayang sekarang Hp itu menggunakan pasword. "Nggak biasa nya Mas Rian mengunci Hp nya, ada apa ini," Sambung nya semakin curiga.
Diani mencoba memasukkan beberapa tanggal, seperti tanggal pernikahan, tanggal ulang tahun nya dan Rian namun hasil nya gagal, ia terus mencoba hingga suara pintu kamar mandi terbuka.
"Ada apa dek," Tanya Rian saat melihat Diani memegang ponsel nya.
"Nggak ada apa-apa kok Mas, oh iya kok sekarang di pasword Mas, biasa nya juga nggak,?" Ucap Diani, Rian terlihat salah tingkah.
"Emang nya kenapa, ini kan ponsel ku, terserah aku dong," Sahut Rian sambil mengambil handphone dari tangan Diani.
"Kamu sembunyiin apa Mas di Hp mu? nggam biasa nya deh kamu kayak gini," Ucap Diani.
"Nggak ada apa-apa kok, mulai sekarang kamu jangan sembarangan pegang Hp ku, ini privasi ku," Lanjut Rian membuay Diani kesal.
"Oh, jadi sekarang mau main rahasia-rahasia segala gitu," Ketus Diani.
Rian tak menanggapi ucapan Diani, ia segera memakai baju dan mengambil konci mobil nya.
"Mas, kamu mau kemana, hari ini kan libur," Tanya Diani lagi.
"Bukan urusan mu," Jawab Rian dan meninggalkan Diani yang hampir menangis karena sikap Rian yang berubah.
"Mas, kamu kenapa sih, aku punya salah apa sama kamu," Tanya Diani yang belum mendapat jawaban dari pertanyaan nya, Rian pun berhenti dan berbalik mendengar Diani bertanya seperti itu.
Rian menatap tajam manik mata coklat Diani dan kemudian berkata ,"Kamu mandul dan tidak bisa memberiku anak, hanya itu salah mu,". Rian pun bergegas meninggalkan Diani, ia seperti orang asing semenjak ia kembali dari Malang.
Hati Diani bagai di tusuk ribuan belati mendengar pernyataan Rian, Ia pun menangis, runtuh sudah air mata yang ia tahan.
"Mas, apa hanya karena itu saja kamu berubah, atau diluar sana kamu ada wanita lain?" Tanya Diani dalam hati, ia tak habis pikir dengan suami yang dulu sangat menyayangi nya, tapi kini telah berubah 180 derajat.
Setelah kepergian Rian, Diani pun menelpon Dokter Bian, yang ternyata adalah kekasih nya dulu, namun kini mereka tak lebih dari seorang sahabat.
__ADS_1
Setelah panggilan nya di terima Diani pun mengutarakan niat nya untuk bertemu dengan Dokter Bian, dan Kebetulan sekali Dokter Bian sedang tidak ada pasien, ia menyuruh Diani ke Rumah Sakit yang kemarin sempat di datangi nya.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit Diani pun sampai di tempat Dokter Bian, Diani pun memberitahukan suster Nida kalau ia sudah membuat janji dengan sang Dokter.
"Assalamualaikum Dokter," Ucap Diani saat masuk ke ruangan.
"Waalaikumsalam Di, silahkan duduk," Perintah Dokter Bian.
"Bagaimana Dok hasil nya," Tanya Diani penasaran.
"Tenang Di, aku sudah membaca ulang tentang hasil pemeriksaan mu, dan kamu di nyatakan sehat, tidak ada keluhan apa apun di rahimmu, hanya saja," Ucapan dokter Bian membuat Diani cukup senang namun ia juga penasaran karena sang Dokter sempat menjeda ucapan nya.
"Hanya saja apa dokter?" Tanya Diani lagi.
"Rian kemungkinan besar akan sulit mempunyai anak, hanya kemungkinan nya 5%," Ucap Dokter Bian membuat Diani sangat terkejut dan sedikit kecewa mendengar pernytaan dokter Bian
"Astagfirullah, apa tidak bisa di obati dokter?" Ucap Diani sedih.
"Bisa dengan terapi dan mengubah pola hidup tidak sehat, misalkan kurangi kopi dan merokok," Jelas Dokter Bian.
"Tapi selama ini Mas Rian tidak merokok Bi," Ucap Diani.
"Baiklah Dokter, terima kasih atas kerja sama nya, terima kasih juga karena sudah membantuku, ini masalah rumah tangga ku, tapi kamu sangat baik hati mau membantuku," Ucap Diani sambil mengulurkan tangan nya.
"Its Oke Di, Apapun masalah mu, jangan sungkan cerita aja," Kata Dokter Bian dan menyambut uluran tangan Diani.
"ToLong rahasiakan semua nya, sampai aku benar-benar menemukan inti masalah ini," Ucap Diani dan Bian hanya mengangguk sambil tersenyum manis.
Flasback.
POV Diani
Saat mendengar Rian merekomendasikan dokter Obgyn luar negeri bernama Bian aku teringat dengan mantan kekasihku dulu, aku mencoba menerka-nerka kalau memang dia Bian yang dulu apakah ia masih mengenalku atau tidak.
Aku pun mencoba mencari Nomor Handphone nya di grup alumni SMA, dan apa yang kucari akhir nya ketemu. Aku memberanikan diri menghubungi nya, dan berhasil pesan ku terkirim.
"Assalamualaikum, apakah benar ini Bian?" Tanyaku lewat aplikasi Hijau.
__ADS_1
"Iya saya Bian, ini dengan siapa ya?" Ia bertanya Balik.
"Aku Diani, Apa kabar Bi?".
"Alhamdulillah baik, Apa kamu Diani yang ini?" Tanya Bian dengan menyertakan sebuah foto gadis berwajah manis dan memakai seragam SMA.
Diani melihat foto yang di uploud oleh Bian dan ia tersenyuk kemudian membalas "Ya!"
"Wah sudah lama sekali ya Di," Ucap Bian.
"Bian, aku mau minta tolong, bisa kah kita bertemu?" Ujar Diani.
"Oke, dimana?" Tanya Bian.
"Di kafe XX, jam 7," Jawab Diani.
"Oke, sampai bertemu nanti, bye," Ujar Bian, mengakhiri Chat nya bersama Diani.
Diani melihat jam di gawai nya, tinggal satu jam lagi, ia pun segera bersiap. Setelah selesai Diani pun segera memberitahukan Bian. Sebelum berangkat ia semoat berpamitan dengan Icha.
Diani memacu mobil nya dengan kecepatan sedang menuju kafe tempat mereka janjian bertemu.
Setelah sampai Diani pun melihat kekiri dan ke kanan, ia pun menemukan sosok tinggi dengan jaket kulit warna gelap, Diani sangat familiar dengan fostur tubuh itu. Ia pun kemudian menghampiri nya.
"Hai bian!" Ucap Diani dengan tersenyum
"Hai sayang!" Balas Bian, membuat Diani sedikit tersipu sehingga wajah nya bersemu merah. "Apa kabar," Sambung nya.
"Ba-baik, bagaimana dengan kamu?" Tanya Diani balik ia sangat gugup.
"Seperti yang kamu lihat baby," Ucap Bian menggoda Diani lagi.
"Oh, ayolah Bian jangan menggodaku," Sahut Diani menggeser kursi dan duduk.
"Ayo, mau pesan apa? jangan sungkan aku yang traktir," Ujar Bian tersenyum.
"Ada acara apa nih, sampai aku mau di traktir?" Tanya Diani basa basi.
__ADS_1
TBC