
Pagi hari nya nabila di ajak sepupu nya jalan jalan, mereka seumuran dan sama sama baru luluh SMA
yunita, kama mau lanjut kuliah, tanya nabila
tidak, otak aku tidak sampai, padahal nenek dan kedua orang tua ku sudah memaksa, tapi aku pikir pikir lagi dari pada aku tidak niat hanya akan membuang buang uang saja, kalau kamu, jawab yunita jujur
aku tidak tahu, biaya kuliah mahal, kalau misal beasiswa baru aku melanjut kan, balas nabila yang tidak ingin membebani nenek nya yang sudah tua
kita memang bukan keluarga kaya, tetapi tenang saja kalau untuk biaya kuliah kamu pasti nenek masih mampu, bujuk yunita
usaha nenek apa, tanya nabila
nenek punya tanah cukup luas, setiap panen selalu nabung dan tabungan nenek pasti cukup untuk biaya kuliah kamu, belum lagi dari uang pengsiun almarhum kakek juga dari dulu selalu di tabung, balas yunita
tidak tega ah, biar buat masa tua nenek, aku mau usaha sendiri saja, balas nabila bertekad
setelah berjalan cukup jauh, mereka duduk di sebuah perbukitan, dari atas pemandangan nampak begitu indah
melihat matahari terbit
cantik nya,... gumam nabila, dia membayang kan jika ibu nya di sini pasti juga akan merasa bahagia
tiba tiba saja ponsel yunita berbunyi, panggilan dari ibu nya untuk mengantar kan pergi ke pasar
yah, aku di suruh ibu mengantar ke pasar, yuk pulang, ajak yunita
aku masih mau di sini, kamu duluan saja, jawab nabila
nabila terus menikmati pemandangan, sampai begitu sadar dia lupa arah jalan pulang, tadi gelap dia tidak begitu memperhatikan
nah ini di mana, aku lupa tidak membawah ponsel, gumam nabila panik
nabila masih menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari orang, siapa tahu ada yang mau menunjukan arah jalan pulang, tetapi sepagi ini belum ada orang yang lewat di pengunungan sepwrti ini
sampai tiba tiba datang lelaki muda yang mungkin sebaya dia tengah berolahraga sepeda
maaf, apa kamu tahu balai desa, tanya nabila
lelaki itu diam sejenak, kemudian memperhatikan nabila
yuk ikut aku
karena memang hanya ada lelaki itu nabila tidak menolak, dia membonceng nabila di belakang
nama kamu siapa, tanya nabila
DIQAH, jawab lelaki itu
nabila bingung, karena dia malah di bawah ke sebuah pondok pesantren yang lumayan besar, di sana dia mendapat kan banyak tatapan anak anak yang memakai gamis berjilbab
DIQAH, seperti nya balai desa bukan di sini deh, protes nabila
aku juga tidak tahu, karena aku orang baru, tapi aku tidak bisa meninggal kan kamu sendirian di sana, makanya aku ajak ke mari biar nanti di antar oleh sepupu ku, jawab DIQAH santai
apa, pekik nabila kaget, sungguh dia tidak mengerti dengan pola pikiran lelaki itu
DIQAH, kenapa mereka melihat ku dengan tatapan seperti itu, tanya nabila sedikit takut
jelas, karena kamu aku bonceng pakai sepeda, di pesantren antara lelaki dan perempuan harus jaga jarak, jawab DIQAH santai
__ADS_1
terus, kita mau ngapain ke sini, tanya nabila semakin heran
jangan banya bertanya lagi, ayo ikut aku masuk ke dalam, ajak DIQAH
nabila diam karena takut jika banyak bertanya akan membuat teman baru nya itu kesal
nabila di ajak masuk, di sana dia bertemu dengan seorang perempuan usia sekitar lima puluh tahunan
Assalamualllahikum, ucap DIQAH
waallahikumsalam, jawab wanita yang tak lagi muda itu
nek, perkenalkan ini adalah teman baru ku, nama nya nabila di juga pendatang baru dan ke betulan dia tersesat, ucap DIQAH sopan
nabila, kamu cantik sekali, nak, alangkah lebih cantik lagi jika kamu memakai jilbab, pasti tampak anggun, rumah kamu di mana manis, nanti biar di antar kan oleh dina, jawab nenek nya DIQAH tersenyum ramah
belakang balai desa, nek, jawab nabila
nabila hanya tersenyum malu, apa lagi di area sana semua perempuan sebayanya memakai gamis dan juga hijab yang panjang sampai menutupi dada
maaf, ibu nyai, barusan ada ibu khodijah yang hendak bertemu, sela seorang perempuan cantik memakai jilbab putih
iya, kamu bilang tungguh sebentar gitu ya, jawab nenek nya DIQAH kepada gadis tersebut
kemuadian wanita yang menjadi ibu nyai di pondok tersebut kembali memperhatikan cucu dan tamu nya
DIQAH, kakek kamu sedang mengajar ngaji, tetapi sebentar lagi akan selesai, kamu belajar nya mau menunggu apa nanti kemari lagi, tanya nenek nya DIQAH
menunggguh saja, jawab DIQAH sambil melihat jam tangan nya
kalau begitu panggil dina, biar dia yang mengantar kan nak, nabila
iya, nek, jawab DIQAH patuh
iya, terimah kasih banyak bu, jawab nabila tersenyum
kini hanya ada nabila dan DIQAH di ruang tamu, untuk seketika suasana menjadi sunyi, sebab nabila fokus melihat ruang yang besar tapi sangat sederhana, lebih tepat nya karena semua hiasan seperti dari zaman kuno
DIQAH, Kamu ini cucu dari pak kyai ya, tapi kenapa kamu tampak berbeda dari yang lain, tanya nabila tak tahan dengan rasa penasaran nya
berbeda bagaimana, ujar DIQAH Balik bertanya
lelaki yang lain memakai sarung, kamu malah memakai celana olah raga, jawab nabila
aku memang bukan santri, meskipun aku cucu nya pak kyai tapi sejak kecil aku hidup di kota, baru berapa hari tinggal di sini, karena kakek aku sudah tua jadi sebentar lagi ayah dan ibu ku yang di minta untuk mengantikan posisi nya mengurus pondok pesantren ini, mau tak mau aku harus pindah ke sini juga, jawab DIQAH
wah, berarti setelah ayah kamu bisa bisa kamu dong yang menjadi pak kyai, goda nabila
aku tidak punya ke inginan seperti itu, karena menjadi kyai itu berat tanggungan nya, aku juga belum siap untuk melepas kan kesenangan dunia wi, kamu kira jadi kyai itu gampang, sela DIQAH
benar juga, tapi ini kan karena kamu yang masih terlalu muda, seiring berjalan nya waktu dan bertambah nya usia, kamu pasti bisa berubah pikiran dengan sendiri nya, balas nabila
nabila, bagai mana kalau kamu jadi santri di sini saja, kamu bisa belajar membaca al qur'an dan mengikuti berbagai macam pengajian, saran DIQAH
aku ingin kuliah, jawab nabila
di sini banyak santri yang juga sambil kuliah, balas DIQAH
biaya nya pasti mahal ya, tanya nabila
__ADS_1
kalau itu aku belum tahu, nanti akan aku lihat rincianya dan aku berikan pada mu, tapi kaya nya murah, soal nya banyak dari kampung ini yang bisa masuk walau bukan orang kaya, jawab DIQAH
terima kasih, jawab nabila
nabila, ayo lewat sini kita temui mbak dina, ajak DIQAH menunjukan arah
begitu sampai di area pondok pesantren putri, banyak sekali santriwati yang berbisik dan mengaggumi ke tampanan DIQAH
assalamuaallahikum, gus DIQAH, sapa mereka
waallaikumsalam, jawab DIQAH bersikap datar
nabila hanya tersenyum saja, ternyata di pondok pesantren teman nya itu sangat populer
mbak dina, tolong antar teman ku pulang ke balai desa ya, rumah nya di belakang balai desa kata nya, pintah DIQAH
iya, gus DIQAH, jawab dina
permisi, boleh aku menumpang toilet sebentar, sela nabila yang kebelet pipis
mari aku antar, jawab dina ramah
nabila mendengar suara merdu sholawatan yang berkumandang, hati nya seketika runtuh danmerasa begitu banyak dosa, betapa rendah nya dia di hadapan illahi, hanya demi uang samapi pernah rela mempertonton kan tubuh seksi nya di deoan umum, nabila jadi ingin hijrah dan menjadi wanita muslimah seperti yang di saran kan nyai tadi, dia pun segera menokeh pada DIQAH yang sudah mengajak nya ke sini
DIQAH, terima kasih banyak,aku merasa sedikit lebih tenang setelah kamu ajak kemari, ucap nabila tersenyum manis
untuk sesaat DIQAH terpana dengan kecantikan nabila yang sangat mempesona, tapi pemuda itu segera memalingkan wajah nya ke arah lain agar tidak hanyut dalam buaian godaan nafsu seperti yang sudah di ajarkan oleh kakek nya
sama sama, aku sendiri sedang belajar kok, kalau begitu aku juga akan ke masjid terlebih dahulu, nanti setelah selesai dari toilet kita bertemu di gerbang depan, kamu minta mbak dina untuk mengantar ya, balas DIQAH berlalu pergi
nabila mengikuti langkah dina menuju kamar mandi, di sana sangat banyak sekali santri perempuan yang juga sedang mengantri untuk wudhu
tolong persilah kan tamu gus DIQAH untuk wudhu duluan ya, pinta dina
meraka saling menyingkir dan memberikan kesempatan pada nabila untuk maju duluan, seperti nya di sana dina merupakan sosok yang di hormati
nabila malu sekali, karena dia di perhatikan oleh se orang yang banyak, padahal dia sudah terbiasa tampil di panggung yang di hadiri banyak orang
dengan bantuan dina akhir nya nabila sampai di gerbang, hanya saja DIQAH sudah berada di dalam mobil
ayo aku aantar kan pakai mobil saja, mbak dina kamu bantu jadi petunjuk arah jalan ya, kata DIQAH
siap, gus DIQAH, jawab dina senang hati
nabila, lain kali main ke sini lagi ya, ucap dina senang
iya, jawab nabila mulai penasaran dengan ke hidupan santri
mobil pun di jalan kan secara berlahan oleh DIQAH
ini mobil siapa, gus, taanya dina penasaran
mobil ku mbak, jawab DIQAH singkat
kalau begitu kenapa ke mana mana pakai sepeda, timpal dina
di daerah sini anak muda pada pakai sepeda atau motor, masa iya aku pakai mobil, kecuali untuk kepentingan jauh, balas DIQAH
nabila ikut tersenyum, ternyata DIQAH bukan orang yang suka pamer atau pun ingin terlihat mencolok, berbeda dengan teman teman sekolah nya dulu yang selalu memamerkan harta orang tua, dan menindas yang miskin
__ADS_1
terima kasih karena sudah mau mengantar kan aku, ucap nabila
sama sama.. jawab DIQAH dan dina kompak..