Kesabaran Hati Seorang Istri

Kesabaran Hati Seorang Istri
BAB 59 KEHIDUPAN BARU NABILA


__ADS_3

Pagi hari nya nabila di ajak sepupu nya jalan jalan, mereka seumuran dan sama sama baru luluh SMA


yunita, kama mau lanjut kuliah, tanya nabila


tidak, otak aku tidak sampai, padahal nenek dan kedua orang tua ku sudah memaksa, tapi aku pikir pikir lagi dari pada aku tidak niat hanya akan membuang buang uang saja, kalau kamu, jawab yunita jujur


aku tidak tahu, biaya kuliah mahal, kalau misal beasiswa baru aku melanjut kan, balas nabila yang tidak ingin membebani nenek nya yang sudah tua


kita memang bukan keluarga kaya, tetapi tenang saja kalau untuk biaya kuliah kamu pasti nenek masih mampu, bujuk yunita


usaha nenek apa, tanya nabila


nenek punya tanah cukup luas, setiap panen selalu nabung dan tabungan nenek pasti cukup untuk biaya kuliah kamu, belum lagi dari uang pengsiun almarhum kakek juga dari dulu selalu di tabung, balas yunita


tidak tega ah, biar buat masa tua nenek, aku mau usaha sendiri saja, balas nabila bertekad


setelah berjalan cukup jauh, mereka duduk di sebuah perbukitan, dari atas pemandangan nampak begitu indah


melihat matahari terbit


cantik nya,... gumam nabila, dia membayang kan jika ibu nya di sini pasti juga akan merasa bahagia


tiba tiba saja ponsel yunita berbunyi, panggilan dari ibu nya untuk mengantar kan pergi ke pasar


yah, aku di suruh ibu mengantar ke pasar, yuk pulang, ajak yunita


aku masih mau di sini, kamu duluan saja, jawab nabila


nabila terus menikmati pemandangan, sampai begitu sadar dia lupa arah jalan pulang, tadi gelap dia tidak begitu memperhatikan


nah ini di mana, aku lupa tidak membawah ponsel, gumam nabila panik


nabila masih menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari orang, siapa tahu ada yang mau menunjukan arah jalan pulang, tetapi sepagi ini belum ada orang yang lewat di pengunungan sepwrti ini


sampai tiba tiba datang lelaki muda yang mungkin sebaya dia tengah berolahraga sepeda


maaf, apa kamu tahu balai desa, tanya nabila


lelaki itu diam sejenak, kemudian memperhatikan nabila


yuk ikut aku


karena memang hanya ada lelaki itu nabila tidak menolak, dia membonceng nabila di belakang


nama kamu siapa, tanya nabila


DIQAH, jawab lelaki itu


nabila bingung, karena dia malah di bawah ke sebuah pondok pesantren yang lumayan besar, di sana dia mendapat kan banyak tatapan anak anak yang memakai gamis berjilbab


DIQAH, seperti nya balai desa bukan di sini deh, protes nabila


aku juga tidak tahu, karena aku orang baru, tapi aku tidak bisa meninggal kan kamu sendirian di sana, makanya aku ajak ke mari biar nanti di antar oleh sepupu ku, jawab DIQAH santai


apa, pekik nabila kaget, sungguh dia tidak mengerti dengan pola pikiran lelaki itu


DIQAH, kenapa mereka melihat ku dengan tatapan seperti itu, tanya nabila sedikit takut


jelas, karena kamu aku bonceng pakai sepeda, di pesantren antara lelaki dan perempuan harus jaga jarak, jawab DIQAH santai

__ADS_1


terus, kita mau ngapain ke sini, tanya nabila semakin heran


jangan banya bertanya lagi, ayo ikut aku masuk ke dalam, ajak DIQAH


nabila diam karena takut jika banyak bertanya akan membuat teman baru nya itu kesal


nabila di ajak masuk, di sana dia bertemu dengan seorang perempuan usia sekitar lima puluh tahunan


Assalamualllahikum, ucap DIQAH


waallahikumsalam, jawab wanita yang tak lagi muda itu


nek, perkenalkan ini adalah teman baru ku, nama nya nabila di juga pendatang baru dan ke betulan dia tersesat, ucap DIQAH sopan


nabila, kamu cantik sekali, nak, alangkah lebih cantik lagi jika kamu memakai jilbab, pasti tampak anggun, rumah kamu di mana manis, nanti biar di antar kan oleh dina, jawab nenek nya DIQAH tersenyum ramah


belakang balai desa, nek, jawab nabila


nabila hanya tersenyum malu, apa lagi di area sana semua perempuan sebayanya memakai gamis dan juga hijab yang panjang sampai menutupi dada


maaf, ibu nyai, barusan ada ibu khodijah yang hendak bertemu, sela seorang perempuan cantik memakai jilbab putih


iya, kamu bilang tungguh sebentar gitu ya, jawab nenek nya DIQAH kepada gadis tersebut


kemuadian wanita yang menjadi ibu nyai di pondok tersebut kembali memperhatikan cucu dan tamu nya


DIQAH, kakek kamu sedang mengajar ngaji, tetapi sebentar lagi akan selesai, kamu belajar nya mau menunggu apa nanti kemari lagi, tanya nenek nya DIQAH


menunggguh saja, jawab DIQAH sambil melihat jam tangan nya


kalau begitu panggil dina, biar dia yang mengantar kan nak, nabila


iya, nek, jawab DIQAH patuh


iya, terimah kasih banyak bu, jawab nabila tersenyum


kini hanya ada nabila dan DIQAH di ruang tamu, untuk seketika suasana menjadi sunyi, sebab nabila fokus melihat ruang yang besar tapi sangat sederhana, lebih tepat nya karena semua hiasan seperti dari zaman kuno


DIQAH, Kamu ini cucu dari pak kyai ya, tapi kenapa kamu tampak berbeda dari yang lain, tanya nabila tak tahan dengan rasa penasaran nya


berbeda bagaimana, ujar DIQAH Balik bertanya


lelaki yang lain memakai sarung, kamu malah memakai celana olah raga, jawab nabila


aku memang bukan santri, meskipun aku cucu nya pak kyai tapi sejak kecil aku hidup di kota, baru berapa hari tinggal di sini, karena kakek aku sudah tua jadi sebentar lagi ayah dan ibu ku yang di minta untuk mengantikan posisi nya mengurus pondok pesantren ini, mau tak mau aku harus pindah ke sini juga, jawab DIQAH


wah, berarti setelah ayah kamu bisa bisa kamu dong yang menjadi pak kyai, goda nabila


aku tidak punya ke inginan seperti itu, karena menjadi kyai itu berat tanggungan nya, aku juga belum siap untuk melepas kan kesenangan dunia wi, kamu kira jadi kyai itu gampang, sela DIQAH


benar juga, tapi ini kan karena kamu yang masih terlalu muda, seiring berjalan nya waktu dan bertambah nya usia, kamu pasti bisa berubah pikiran dengan sendiri nya, balas nabila


nabila, bagai mana kalau kamu jadi santri di sini saja, kamu bisa belajar membaca al qur'an dan mengikuti berbagai macam pengajian, saran DIQAH


aku ingin kuliah, jawab nabila


di sini banyak santri yang juga sambil kuliah, balas DIQAH


biaya nya pasti mahal ya, tanya nabila

__ADS_1


kalau itu aku belum tahu, nanti akan aku lihat rincianya dan aku berikan pada mu, tapi kaya nya murah, soal nya banyak dari kampung ini yang bisa masuk walau bukan orang kaya, jawab DIQAH


terima kasih, jawab nabila


nabila, ayo lewat sini kita temui mbak dina, ajak DIQAH menunjukan arah


begitu sampai di area pondok pesantren putri, banyak sekali santriwati yang berbisik dan mengaggumi ke tampanan DIQAH


assalamuaallahikum, gus DIQAH, sapa mereka


waallaikumsalam, jawab DIQAH bersikap datar


nabila hanya tersenyum saja, ternyata di pondok pesantren teman nya itu sangat populer


mbak dina, tolong antar teman ku pulang ke balai desa ya, rumah nya di belakang balai desa kata nya, pintah DIQAH


iya, gus DIQAH, jawab dina


permisi, boleh aku menumpang toilet sebentar, sela nabila yang kebelet pipis


mari aku antar, jawab dina ramah


nabila mendengar suara merdu sholawatan yang berkumandang, hati nya seketika runtuh danmerasa begitu banyak dosa, betapa rendah nya dia di hadapan illahi, hanya demi uang samapi pernah rela mempertonton kan tubuh seksi nya di deoan umum, nabila jadi ingin hijrah dan menjadi wanita muslimah seperti yang di saran kan nyai tadi, dia pun segera menokeh pada DIQAH yang sudah mengajak nya ke sini


DIQAH, terima kasih banyak,aku merasa sedikit lebih tenang setelah kamu ajak kemari, ucap nabila tersenyum manis


untuk sesaat DIQAH terpana dengan kecantikan nabila yang sangat mempesona, tapi pemuda itu segera memalingkan wajah nya ke arah lain agar tidak hanyut dalam buaian godaan nafsu seperti yang sudah di ajarkan oleh kakek nya


sama sama, aku sendiri sedang belajar kok, kalau begitu aku juga akan ke masjid terlebih dahulu, nanti setelah selesai dari toilet kita bertemu di gerbang depan, kamu minta mbak dina untuk mengantar ya, balas DIQAH berlalu pergi


nabila mengikuti langkah dina menuju kamar mandi, di sana sangat banyak sekali santri perempuan yang juga sedang mengantri untuk wudhu


tolong persilah kan tamu gus DIQAH untuk wudhu duluan ya, pinta dina


meraka saling menyingkir dan memberikan kesempatan pada nabila untuk maju duluan, seperti nya di sana dina merupakan sosok yang di hormati


nabila malu sekali, karena dia di perhatikan oleh se orang yang banyak, padahal dia sudah terbiasa tampil di panggung yang di hadiri banyak orang


dengan bantuan dina akhir nya nabila sampai di gerbang, hanya saja DIQAH sudah berada di dalam mobil


ayo aku aantar kan pakai mobil saja, mbak dina kamu bantu jadi petunjuk arah jalan ya, kata DIQAH


siap, gus DIQAH, jawab dina senang hati


nabila, lain kali main ke sini lagi ya, ucap dina senang


iya, jawab nabila mulai penasaran dengan ke hidupan santri


mobil pun di jalan kan secara berlahan oleh DIQAH


ini mobil siapa, gus, taanya dina penasaran


mobil ku mbak, jawab DIQAH singkat


kalau begitu kenapa ke mana mana pakai sepeda, timpal dina


di daerah sini anak muda pada pakai sepeda atau motor, masa iya aku pakai mobil, kecuali untuk kepentingan jauh, balas DIQAH


nabila ikut tersenyum, ternyata DIQAH bukan orang yang suka pamer atau pun ingin terlihat mencolok, berbeda dengan teman teman sekolah nya dulu yang selalu memamerkan harta orang tua, dan menindas yang miskin

__ADS_1


terima kasih karena sudah mau mengantar kan aku, ucap nabila


sama sama.. jawab DIQAH dan dina kompak..


__ADS_2