Kesabaran Hati Seorang Istri

Kesabaran Hati Seorang Istri
BAB 55


__ADS_3

"Nggak ada, hanya saja rasa bahagia bisa bertemu dengan gadis secantik bidadari hari ini," Ujar Bian mulai gombal.


"Oh ya, siapa dia? sungguh beruntung nya perempuan itu," Balas Diani tersenyum.


"Kamu!" Sahut Bian dan lagi-lagi membuat Diani tersipu.


"Sudah aku bilang jangan menggodaku Bian,".


"Baiklah, Oh iya ngomong-ngomong apa kabar nya si Rian?" Tanya Bian.


"Bagaimana kamu tahu?" Tanya Diani Balik.


"Siapa yang tidak mengenal pengusaha sukses Rian Syahreza," Ujar Bian.


"Emm, dia baik," Jawab Diani dengan sendu. " Oh, iya Bi aku mau minta bantuan mu," Sambung Diani.


"Anything for you Babe," Jawab Bian tersenyum," Apa yang bisa aku bantu?" Ujar nya lagi


"Kamu pasti mengerti kan tentang sistem reproduksi," Ucap Diani.


"Kamu meragukan kemampuan ku," Sahut Bian kesal karena tak di percaya oleh Diani.


"Bu-bukan begitu Bi, aku tahu kamu cerdas oke, tapi aku hanya memastikan," Ucap Diani tertunduk.


Percakapan mereka terjeda karena seorang waitress datang mengantarkan pesanan mereka.


"Silahkan tuan dan nyonya, selamat menikmati," Kata Waitres perempuan itu kemudian berlalu meninggalkan pelanggan nya.


"Terus apa yang bisa aku bantu," Sahut Bian sambil menikmati Beef steak nya.


"Aku ingin kamu mengubah semua hasil pemeriksaan aku dan Rian,".


"Tidak bisa begitu Di, itu menyalahkan aturan,".


"Ayolah Bi, aku mohon,".


"Tapi, apa alasan kamu mau menukar hasil pemeriksaan kalian, jelas-jelas Rian yang bermasalah," Tanya Bian heran dengan permintaan Diani.


"Aku akan menceritakan semua nya padamu, tapi tidak hari ini Bi, aku mohon," Mohon Diani.


Bian terlihat menghembuskan nafas nya pelan, ia memang sedikit bingung namun Bian merasa kasihan melihat raut wajah prustasi dari cinta pertama nya itu.


"Huuff, baiklah, aku akan mencoba membantu mu, kabari aku besok kapan kalian akan datang," Ucap Bian akhir nya mengalah.


"Terima kasih Bi, kamu memang teman yang paling baik," Sahut Diani reflek memegang tangan Bian, dan sontak saja membuat Bian agak gugup.


"I-iya sama-sama Di," Balas Bian tersenyum namun agak canggung.


Setelah Diani mengutarakan maksud dan tujuan nya bertemu Bian, mereka pun akhir nya berpisah dan pulang kerumah masing-masing.

__ADS_1


Di perjalanan Bian selalu teringat dengan genggaman tangan Diani, bahkan ia mencium parfum yang dulu sering Diani pakai.


"Ternyata seleramu nggak pernah berubah Di," Gumam Bian sambil senyam-senyum.


FLASHBACK OFF


Setelah kepergian Rian, Diani pun bergegas mengejar nya ia pun segera menyambar tas dan kunci mobil.


"Bi, aku pergi dulu ya," Pamit Diani saat melihat pembantu nya menyiram tanaman.


"Iya Non, hati-hati," Pesan Bi Nah ke majikan nya.


Diani mengemudi dengan kecepatan tinggi agar tak tertinggal oleh Rian, Diani celingak celinguk mencari keberadaan mobil Rian, akhir nya ia pun menemukan nya berhenti di depan toko bunga.


"Mas Rian mau belikan bunga buat siapa ya," Gumam nya dalam hati.


Diani pun meminggirkan mobil nya ke tepi jalan menunggu Rian keluar dari toko tersebut.


Dan tak berapa lama menunggu Rian pun keluar membawa buket bunga mawar merah yang sangat cantik.


"Mawar merah, ini pasti ada yang tidak beres," Ujar nya.


Diani masih mengikuti mobil Rian di belakang, ia sengaja tidak terlalu dekat karena takut Rian mengenali mobil nya.


Setelah sekitar 10 menit mengemudi akhir nya Rian berhenti di sebuah cafe yang sangat Diani kenal, ya cafe Bunga milik sahabat nya.


Dari arah belakang terdengar suara seorang perempuan yang sangat ia kenali.


"Lena!" Batin Diani.


"Hay, apa Diani tau kalau kamu kesini?" Tanya Lena ke Rian.


"Nggak, dia nggak tau," Jawab Rian singkat.


"Baguslah, kalau dia tahu semua rencana kita akan gagal," Sahut Lena lagi.


"Iya, justru itu aku kesini sendiri," Balas Rian dan membuat Lena tersenyum.


"Bagaimana? Apa rencana kita selanjut nya?" Tanya Lena lagi.


"Seperti yang sudah aku katakan aku akan bertanggung jawab," Jawab Rian santai sambil menggenggam tangan Lena.


"Aku lega mendengar nya, makasi ya Mas," Ujar Lena manja.


"Iya, aku bukan tipe laki-laki yang ingkar janji," Balas Rian dengan senyuman di bibir nya.


"Aku sudah tidak sabar menjadi istri mu Mas," Ucap Lena.


Duuaarr.

__ADS_1


Bagai disambar petir siang bolong, Diani sangat terkejut mendengar perkataan Lena. Tangan nya terkepal kuat ia tak menyangka bahwa duri dalam rumah tangga nya adalah sahabat yang sangat ia sayang.


"Ini pasti ada yang tidak beres," Ujar Diani berusaha tetap tenang, namun sesak didada nya tak juga menghilang.


Diani bangkit dari duduk nya dan segara mungkin berlari meninggalkan Cafe Bunga, ia kemudian menuju mobil dan mengemudi kan nya dengan kecepatan tinggi, Diani tak langsung pulang kerumah nya melainkan ia menuju bukit bunga yang tak jauh dari rumah nya.


Sesampai nya di bukit Diani menangis sejadi-jadi nya, ia berteriak mengeluarkan sesak di dada nya.


Setelah lelah menangis dan sedikit tenang Diani pun akhir nya pulang.


"Assalamualaikum," Salam Diani.


"Waalaikumsalah Bunda," Jawab Icha dengan senyum ceria nya, Diani hanya mengusap kepala nya lembut dan berlalu begiti saja meninggalkan Icha yang tengah belajar menuju kamar nya.


Di dalam kamar Diani merebahkan tubuh lelah nya dan kembali menangis mengingat perkataan Lena yang ia dengar di Cafe.


"Kenapa harus Rian Len, kenapa kamu tega menghancurkan rumah tangga sahabatmu," Ucap Diani sesenggukan.


Ceklek


Suara pintu kamar terbuka, Bi Jum masuk melihat kondisi majikan nya, karena ia melihat mata Diani sembab.


"Non, ayo makan sudah malam," Ucap Bu Jum membangunkan Diani.


"Iya Bi, nanti saja," Jawab Diani lemah.


"Ayo Non," Ajak Bi Jum lagi.


"Bibi tunggu di luar ya," Sambung nya lagi.


Diani bangkit kemudian menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka agar lebih segar.


Di meja makan Diani terlihat tak berselera memakan makanan yang sudah di sajikan Bi Jum.


"Ayo Nona Kecil, makan yang banyak biar cepat gede," Ucap Bi Jum ke Icha.


"Iya Bi, terima kasih ya," Sahut Icha sambil tersenyum manis. Bi jum pun mengusap kepala Icha dan menganggukkan kepala nya.


"Assalamualaikum," Terdengar salam dari luar.


Diani yang mendengar salam dari suami nya pun segera bangkit dari kursi nya, dan masuk ke kamar nya.


"Dek!" Panggil Rian saat Diani melewati nya.


Diani berhenti dan menoleh sekilas ke arah Rian, "Ada apa Mas?" Ucap Diani lemah.


"Kamu sakit," Tanya Rian lagi karena melihat mata sayu Diani, kemudian Rian meletakkan tangan di kening nya Diani. "Kamu demam Dek, aku panggilkan Dokter ya," Sambung Rian.


"Nggak perlu, aku baik-baik saja," Sahut Diani dan berlalu meninggalkan Rian yang terdiam karena heran dengan sikap Diani yang agak berbeda dari biasa nya.

__ADS_1


__ADS_2