Kesabaran Hati Seorang Istri

Kesabaran Hati Seorang Istri
BAB 34


__ADS_3

"Maaf Bu, Rian yang anda maksud bekerja di Devisi apa"Hendri bertanya kepada perempuan berhijab yang tidak lain adalah Diani.


Diani berbalik dan Hendri sangat terkejut malihat Diani "Maaf Nyonya, saya tidak mengenali anda" Hendri bertanya dengan kepala sedikit membungkuk tanda hormat.


Meri yang mendengar Hendri memanggil perempuan dihadapannya dengan sebutan nyonya sangat terkejut, dia terlihat sangat takut.


"Tidak apa-apa Hen, apakah dia adalah pegawai baru "Tanya Diani dengan sikap berwibawa nya.


"Betul Nyonya, dia baru beberapa hari kerja disini" Hendri menjawab dengan tatapan mata yang tajam sambil melihat Meri.


Meri yang di tatap oleh Hendri semakin terlihat pucat dia segera berlutut di hadapan Diani "Maaf kan saya Bu, saya benar-benar tidak tahu"Ucap Meri sambil memegang kaki Diani dan menangis.


Teman satu profesinya hanya bisa terdiam melihat Meri yang berlutut karena mereka tahu kesalahan Meri.


Diani yang melihat Meri berlutut dihadapannya pun terkejut namun segera menguasai dirinya.

__ADS_1


"Lain kali jangan suka meremehkan orang yang baru pertama kamu lihat, saya memaaf kan kamu karena kamu pegawai baru disini, saya tidak mau hal ini tererulang lagi, kalian paham semuanya" Suara Rian yang tiba-tiba datang dan segera merangkul pundak Diani membuat Meri dan yang lainnya semakin terkejut.


"Baik Pak"Ucap semuanya serentak.


Rian segera membawa Diani dan Icha masuk ke lift khusus CEO menuju ruangannya.


"Kok kamu bisa keluar sih Mas"Diani bertanya pada Rian.


"Aku cuma khawatir saja sayang, kok kamu lama, biasanya kan langsung masuk saja"Jawab Rian dengan masih menggandeng tangan Diani dan Icha.


"Icha kamu nggak apa-apa kan"Tanya Rian khawatir karena Icha sedari tadi hanya diam.


"Tante yang tadi nggak marah sama bunda sayang, cuma dia nggak tau kalau kita keluarganya ayah" Diani menjawab pertanyaan Icha di sertai senyuman.


"Tapi kan bunda, kita tidak boleh merendahkan orang sebelum kita tau kebenarannya"Ucapan Icha membuat Diani dan Rian kagum, anak sekecil Icha sudah bisa memahami arti sopan santun.

__ADS_1


Ting


Pintu lift terbuka Rian dan Diani segera melangkah ke dan masuk ke dalam ruangannya.


"Betul sayang, kamu pintar sekali, jadi kalau kamu sudah dewasa nanti jangan pernah memandang rendah orang lain, tetaplah rendah hati, dan jangan sungkan untuk menolong orang yang membutuhkan bantuan kita"Riam memberikan wejangan kepada Icha.


"Baik ayah, Icha akan ingat selalu pesan ayah"Icha kemudian mencium pipi Diani dan Rian secara bergantian, begitu pun Rian dan Diani mereka mencium pipi Icha bersamaan.


***


Sementara di bawah Meri sedang di introgasi oleh rekan kerjanya Ani "Aduh Mer, kok kamu sampai nggak tahu sih kalau itu Buk bos, aki kan sudah menunjukkan fotonya".


"Aku kan lupa An, aduh aku sudah menyinggung pak Rian lagi" Meri masih merasa takut dan malu kalau mengingat hal memalukan tadi.


"Makanya Mer, jangan suka memandang orang dengan sebelah mata, kamu kan yang kena batunya"Fendi tiba-tiba nyeletuk. "Untung saja bu Diani baik dan kamu tidak langsung dipecat" sambungnya.

__ADS_1


"Ia Fer, ini menjadi pelajaran berharga buatku".Meri terlihat begitu menyesal dengan apa yang telah dilakukannya tadi.


TBC


__ADS_2