
"Ke-kenapa kamu bisa tau?"Tanya Rian terkejut, Lena hanya tersenyum, ia melepaskan pelukan nya dari Rian, kemudian berbalik dan menunjukkan sebuah Tatto bebentuk mawar namun terukir nama Reza di bawah nya.
Rian yang melihat Tatto Lena hanya bisa terdiam, memori belasan tahun lalu berputar di kepalanya.
"Sebagai bukti kamu mencintaiku," Ucap Rian dulu, sebelum Lena pindah ke luar negeri.
"Ia yan, aku Lena, Lena Arista Putri!" Ujar Lena, Rian pun semakin terpaku dengan pernyataan nya.
"Ba-bagaimana kamu bisa berubah? Ma-maksud ku wajah mu sangat berubah sehingga aku tak mengenalimu," Tanya Rian masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui.
"Panjanh cerita nya, kalau boleh aku tanya, sekarang bagaimana yan? Aku sudah tidak suci lagi," Ucap Lena bertanya.
"Aku akan bertanggung jawab, sesampai nya kita di Lombok, aku akan segera menikahimu," Putus Rian tanpa memikirkan Diani, ia seakan lupa tentang istri nya.
"Tapi bagaimana dengan Diani," Tanya Lena, ia sengaja menanyakan hal itu ke Rian, karena Lena ingin mengetahui reaksi Rian tentang Diani.
"Kamu tenang saja, selama tidak ada yang memberitahukan masalah kita ke Diani, jadi aku jamin semua akan baik-baik saja," Sambut Rian sambil mengusap kepala Lena pelan.
"Baiklah," Ujar Diani, dengan senyum yang sangat bahagia.
"Kamu tunggu di sini ya, aku ada keperluan sebentar, setelah urusan ku selesai, aku akan menghubungimu, dan kita bertemu di bandara," Ucap Rian panjang lebar, dan Lena hanya menganggukkan kepala nya, sebelum Rian meninggalkan Lena ia mencium lembut kening Lena.
Setelah Rian keluar dari kamar nya, dan mendengar perkataan Rian, Lena pun tak sabar ingin pulang ke Lombok, ia pun lupa dengan kehamilan nya.
"Mudah sekali ternyata menjebak seorang Rian Syahreza," Gumam nya sambil berjingkrak kesenangan.
Tak berapa lama perut nya terasa kram, ia pun menghentikan lompatan nya," Auuu, maaf sayang, Mami sampai lupa kalau kamu ada di dalam, kamu akan Mami jadikan senjata buat menghempas kan istri sah yang mandul itu," Ucap Lena tertawa sambil mengelus perut nya yang masih rata. "Maafkan aku Di, aku terpaksa melakukan ini, karena aku sangat mencintai SUAMI MU," Sambung nya lagi.
__ADS_1
Sementara Rian telah selesai dengan meeting nya bersama klien, ia segera menelpon Lena sesuai janji nya dan mereka pun bertemu di Bandara.
Setelah menempuh perjalan selama satu jam dari Malang ke Lombok, mereka pun telah sampai di Bandara Internasional Lombok.
Saat akan berpisah Rian berkata pada Lena kalau minggu besok jam 9, Rian akan datang ke Cafe Bunga untuk membicarakan masalah mereka.
"Besok aku mampir ke Cafe ya jam 9," Ucap Rian.
"Oke, aku tunggu ya," Jawab Lena sambil memasuki taksi nya.
Saat sampai di halaman rumah nya, Rian di buat bingung karena terlihat sangat sepi, namun saat membuka pintu terdengar suara letusan balon serta semua keluarga berkumpul menyambut kedatangan nya.
"Happy birtday to you," Suara semua nya menyanyikan lagu ulang tahun, Rian yang melihat Istri nya telah menyiapkan semua nya pun merasa sedikit bersalah.
"Ayo Mas, tiup lilin nya," Ujar Diani sambil menyodorkan kue tart bentu hati.
"Maaf semua nya, aku ke atas dulu ya," Pamit Rian setelah rangkaian acara keluarga telah selesai.
"Baiklah Mas, kamu istirahat saja," Jawab Diani, ia merasa ada yang berbeda dari Rian, namun ia segera menepis pikiran negatife nya. "Ya Allah, maafkan aku telah berfikiran yang aneh, mungkin suamiku lelah," Gumam nya dalam hati.
"Bun, oleh-oleh buat Icha mana, ayah lupa ya?" Tanya Icha, karena ia tak mendapat boneka Berbie pesanan nya.
"Nanti coba Bunda tanyakan ya," Jawab Diani sambil tersenyum, Icha pun hanya mengangkat kedua jempol nya.
Saat masuk kamar Diani melihat Rian tengah sibuk dengan Gawai nya, ia cukup lama memperhatikan gelagat suami nya, yang terlihat selalu tersunyum saat membalas pesan di ponsel nya.
"Eheemm," Dehaman Diani menyadarkan Rian dari Hp nya, ia pun segera meletakkan ponsel di bawah bantal nya. Diani heran kenapa Suami nya itu seperti gugup, padahal ia tadi terlihat sangat senang.
__ADS_1
"Sini Dek," Ucap Rian menepuk sisi di sebelah , Diani pun menurut dan duduk di dekat Rian. "Aku punya kejutan buat kamu, tapi kamu harus tutup mata dulu ya" Sambung nya, dan Diani pun menuruti perkataan Rian tanpa banyak bicara.
Rian kemudian memasangkan sebuah kalung emas bermata intan berwarna biru ke leher jenjang Diani.
"Ya ampun Mas, ini bagus banget," Puji Diani sambil memeluk Rian, dan Rian pun mencium pipi Diani.
"Semakin cantik,"Ucap Rian memuji istri nya dan itu berhasil membuat Diani merona.
"Oh iya mas, oleh-oleh buat Icha mana? dia nanyain tuj," Tanya Diani.
"Ada kok, tuh di koper," Jawab Rian sambil menunjukkan satu buah koper kecil. "Besok kamu kasih ke Icha ya Dek, Soal aku harus berangkat pagi banget ke kantor," Sambung nya lagi.
"Baiklah Mas," Jawab Diani sambil tersenyum. "Oh iya Mas, kamu pilihin aku kalung ini sama siapa?" Tanya Diani, ia hanya ingin mengetes kejujuran Suami nya.
"Sendirilah sayang, emang sama siapa lagi?" Jawab Rian, namun ia terlihat sangat gugup saat menjawab pertanyaan itu.
"Kamu yakin?" Tanya Diani sekali lagi.
"I-iya lah, kok kamu jadi nggak percaya sama aku sekarang," Ucap Rian ketus.
"Bukan nya aku nggak percaya Mas, tapii," Ujar Diani terpotong, karena Rian menimpali dengan cepat
"Tapi apa lagi, kalau aku bilang sendiri ya sendiri, kamu apa-apaan sih nanya kayak begitu, udah ah aku mau tidur ngantuk," Kilah Rian dan tidur membelakangi Diani membuat Diani semakin kecewa.
"Ya udah Mas, selamat malam,"Ucap Diani kemudian mengambil remote lampu dan mematikan semua lampu di kamar tersebut.
"Kamu bohong Mas, baru kali ini aku kecewa sama sikap kamu, aku nggak tau apa yang telah kamu alami selama di Malang, tapi aku yakin semua nya tidak baik-baik saja, kalau kamu tidak mau memberitahu, biar aku cari tahu sendiri," Tekad Diani.
__ADS_1
Diani tak dapat memejamkan mata nya karena ia kepikiran dengan sikap Rian setelah pulang dari meeting nya, dan malam itu Diani baru pertama kali tidur tanpa pelukan hangat suaminya, sementara Rian telah pulas dengan dengkuran halus nya.