
"Apaaa"Teriak Lena di dalam kamar mandi"Siaalll"Sambungnya lagi.
"Kenapa harus rusak sih testpacknya"Umpat Lena kesal melihat tidak ada tanda garis satu maupun garis dua.
"Masak aku harus balik lagi ke Apotek, yang tadi aja penuh perjuangan"Ucapnya mengingay kejadian ketika masih di apotek.
Lena turun ke bawah untuk sarapan dan tiba-tiba saja mual terasa di perutnya"Huweek, Huweek" Lena berlari ke kamar mandi "Aduh bik, bibik masak apa sih kenapa bau sekali.
"Anu non maaf, tadi bibik goreng jengkol sama ikan asin, mungkin bau nya masih ada "Bik Nah dengan tertunduk memberitahukan apa yang sudah dia masak.
"Aduh Bik, Bibik khan tau aku nggak suka sama bau jengkol"Ucap Lena kesal.
"Maaf Non"Ucap Bik Nah lagi.
"Ya udah deh, aku sarapan diluar aja nanti"Ucap Lena naik ke atas dan bersiap untuk pergi ke kafe.
Bik Nah pun kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena majikannya sambil ngedumel"Belum pernah nyoba sih rasanya jengkol sama ikan asin, apa lagi di cocol ke sambal blacan di tambah nasi hangat, rasanya Ahhh mantap" Ucapnua sambil menaikkan kedua jempolnya.
"Apa yang mantap"Ucap Lena saat menuruni tangga dan tidak sengaja mendengar Bik Nah berbicara sendiri.
"Itu Non jengkolnya, Ahh mantap..Papalle papapppaa" Bik Nah latah sambil joget-joget karena terkejut dengan kedatangan Lena yang tiba-tiba bertanya.
"Ha,ha,ha" Lena tertawa melihat tingkah Bik Nah "Dasar pembantu jaman Now, hobinya tikt*k an doang"Sambungnya sambil berjalan keluar menuju garasi.
Bik Nah hanya tersenyum malu-malu karena kedapatan latah di depan Lena.
__ADS_1
***
Di ruang yang sederhana namun tertata rapi Diani sedang menggambar sketsa desain baju muslimah yang akan di buatnya.
Drrtt Drrtt Drrtt
Ponsel yang ada di depannya bergetar ia mengalihkan pandangannya ke layar dan tertera nama Lena, ia ragu untuk mengangkatnya karena Diani masih ingat dengan jelas apa yang Lena katakan saat di kafe nya.
"Ada apa Lena tiba-tiba menghubungiku ya" Gumamnya dalam hati.
Drtt Drttt Drrtt
Panggilan ke dua akhiranya Diani menggeser tombol hijau "Assalamualaikum"Ucap Diani begitu telponnya dia angkat.
"Waalikumsalam, Di kamu kok nggak pernah mampir ke kafe lagi sih"Ucap Lena.
"Oh, begitu baiklah,tapi kamu harus janji ya kalau nggak sibuk kamu harus main-main ke sini, aku kangen tau nggak"Kata Lena sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
"In shaa allah Len, aku pasti main ke sana kalau ada waktu senggang".
"O.k aku tunggu ya Beb, By"Lena langsung mematikan telpon nya tanpa mendengar jawaban Diani.
"Kebiasaan deh ni anak, main langsung di tutup aja telponnya"Diani kesal karena kebiasaan Lena tidak pernah berubah.
"Tapi kenapa ya, Lena mau ketemu aku, tumben banget dia hubungi aku"Gumam Diani penasaran motif apa yang membuat Lena ingin beetemu dengan nya. Karena Lena sendiri yang mengatakan tidak ingin berteman lagi dengan nya.
__ADS_1
FLASHBACK ON
Keesokan harinya setelah Lena mengetahui bahwa Rian adalah suami dari Diani, Diani mendatangi Lena ke kafenya sendiri namun saat bertemu justru Lena acuh tak acuh padanya dan membuat Diani sedikit tidak nyaman.
"Len, aku minta maaf ya, aku benar-benar tidak tahu kalau Mas Rian adalah cinta pertama kamu"Diani merasa bersalah.
"Nggak apa-apa kok Di, kamu nggak perlu minta maaf"Ucap Lena sinis.
"Apa kamu marah sama aku"Ucapnya lagi
"Nggak"Jawab Lena singkat.
"Len aku..." Ucapan Diani terhenti karena Lena menyahut.
"Sudah lah Di, aku tidak mau mendengar apapun lagi, aku sudah cukup kecewa mendengar pengakuan Rian Suami Kamu"Lena dengan sengaja menekankan kata Suami kamu pada perkataannya "Kecuali" sambungnya lagi.
Diani terdiam sesaat "Kecuali apa Len"Ucapnya lirih.
" Kecuali kamu mau meninggalkan Mas Rian dan membantuku untuk mendapatkannya"Lena berkata dengan tidak ada rasa bersalah di raut mukanya.
"Apaa"Diani terkejut mendengar permintaan Lena, dia tidak percaya kalau sahabatnya ini begitu terobsesi dengan suaminya.
"Kamu nggak salah bicara kan Len, manah mungkin...." Ucapan Diani lagi-lagi terpotong oleh Lena.
"Cukup Di, aku sudah muak mendengar semuanya, kamu nggak mau meninggalkan Rian, berarti kita adalah saingan dan persahabatan diantara kita cukup sampai disini"Lena berkata dengan membelakangi Diani menhadap keluar jendela
__ADS_1
Diani hanya terdiam dan menangis mendengar apa yangbdiucapkan oleh Lena, ia tidak menyangka bahwa hanya karena laki-laki persahabatan yang terjalin selama beberapa tahun kandas begitu saja.
FLASHBACK OFF