Kesabaran Hati Seorang Istri

Kesabaran Hati Seorang Istri
BAB 50


__ADS_3

"Makasih ya Len, aku pulang dulu takut nya Icha nyariin,"Pamit Diani.


"Aduh Di, sama anak pungut aja perduli,"Ujar Lena membuat Diani sedikit sakit hati mendengar ucapan Lena. Ia segera berlalu tanpa menoleh lagi.


"Ups, aku salah ngomong mungkin, tapi biarlah, biar Diani sadar," Ucap Lena dan kembali ke meja kerjanya.


Saat Lena membayangkan Rian bersama nya ia tersenyum " Sebentar lagi kamu pasti akan jatuh ke pelukan ku Yan,"Tekad nya. Lena meraih HP nya dan menelpon asisten nya, ia menitipkan Kafe nya untuk beberapa hari karena ia ingin ke luar kota.


"Kata Diani, Rian bakalan ke Malang," Gumam nya dan langsung memesan tiket pesawat. "Bukankah cinta butuh perjuangan dan pengorbanan," Sambung nya dan langsung mengambil tas serta berangkat ke bandara menggunakan taksi online.


Saat sampai di bandara ia segera Cek In, setelah selesai ia pun segera memasuki ruang tunggu menunggu jadwal keberangkatan nya. Dan setelah menunggu beberapa menit petugas bandara pun mengumumkan pesawat yang menuju ke Malang akan segera berangkat.


Saat akan masuk ke pesawat Lena tak sengaja melihat Rian juga memasuki pesawat yang sama, alangkah bahagia nya ia mengetahui kalau Rian satu pesawat dengan nya.


"Akhir nya, pucuk di cinta ulam pun tiba," Seru nya sambil duduk dan terus memperhatikan Rian dari belakang.


Dua jam perjalanan, akhir nya mereka sampai di bandara Abdul Rahman Saleh di Malang, Lena sengaja mempercepat jalan nya agar bertemu dengan Rian. Lena sangat antusias ia pun mengikuti mobil Rian sampai ke hotel.


"Lo, Rian," Ujar Lena pura-pura kaget saat melihat Rian.


"Lena, Hai, apa kabar," Rian mencoba basa-basi meskipun agak canggung.


"Baik, kamu gimana?" Tanya Lena, "Kamu ada urusan apa disini," Sambung nya dengan tersenyum manis.


"Aku baik juga, biasalah pekerjaan," Tukas Rian santai.


"Oh ia Yan, aku turut prihatin ya atas apa yang menimpa Diani," Ucap Lena dan membuat Rian agak terkejut.


"Maksud kamu,".


"Bukan kah Diani menderita PCOS," Ucap Lena tanpa merasa bersalah.


Rian agak risih tapi ia mencoba menyembunyikan nya dwngan senyum miring, "Terima kasih, saya permisi" Ucap nya kemudian dan meninggalkan Lena sendirian yang senyam-senyum seperti orang gila.


"Ah Rian, kamu sangat tampan,"Ucap nya dalam hati sambil terus memandangi punggung Rian yang menjauh.


"Mbak, mbak," Ucap receptionis sambil melambaikan tangan di depan wajah Lena.


"Eh, ia mbak," Ujar Lena gugup.

__ADS_1


"Ini kunci kamar no 1342," Kata pegawai receptionis hotel yang bernama sari itu, di ketahui dari name tag yang terpasang di dada sebelah kiri.


"Terima kasih," Ucap Lena dan berlalu meninggalkan meja receptionis dengan senyum yang tak dapat di artikan.


Di dalam kamar Rian menghubungi Diani namun tak menjawab panggilan Rian, Ia pun menelpon ke rumah dan diangkat oleh pembantu nya, Bik Jum memberi tahukan Rian kalau Diani belum pulang dari pagi.


"Kemana Diani pergi, nggak biasa nya ia begini," Gumam Rian kesal dengan istri nya, karena telpon nya tak kunjung di angkat Rian pun keluar kamar ingin mencari angin sekaligus mencari lestoran untuk makan siang. Ia pun memilih Kafe bernuansa Italia yang terdapat di dalam hotel itu.


Rian duduk di pojok ruangan, Ia pun memesan kopi hitam dan steak daging sapi kesukaan nya tidak lupa air mineral, saat Rian tengah memeriksa beberapa Email yang masuk dari asisten maupun para karyawan nya.


"Hai, aku boleh duduk di sini ngga," Tanya seorang perempuan yang ternyata adalah Lena, Rian memandang ke seluruh ruangan restoran dan tak ada tempat kosong.


"Silahkan," Ujar Rian mempersilahkan Lena tapi sedetik kemudian ia kembali menatap layar laptop nya.


"Terima kasih," Kata Lena sungkan namun ia sangat senang bisa makan berdua bersama Rian.


Saat Rian tak terlalu memperhatikan sekitar nya, diam-diam Lena memotret momen kebersamaan nya yang tak sengaja itu.


"Ehm, kamu sibuk banget ya,"Tegur Lena karena merasa di abaikan, padahal.ia sudah berdandan cantik, untuk merebut perhatian Rian.


Rian pun sontak mengankat kepala nya " Ah, nggak kok, maaf ya," Sahut Rian dan mematikan laptop nya.


"Nggak apa-apa, kalau sibuk lanjut aja," Imbuh lena lagi.


"Oh ia, aku boleh minta tolong nggak sama kamu," Pinta Lena gugup.


"Selama aku bisa membantu, kenapa nggak,".


"Aku mau cari kado buat adek aku, tapi aku bingung milih nya," Ungkap Lena pasang wajah memelas.


"Memang nya kamu mau kasi apa?" Tanya Rian.


"Aku sih mau nya kasih gelang, tapi aku bingung beli nya dimana karena ini pertama kali nya aku kesini," Kata Lena, membuat Rian heran memgernyitkan dahi nya.


"Emm, begitu ya, bagaimana kalau kita ke mall dekat sini saja," Usul Rian, dan ekspresi Lena tentu saja sangat bahagia.


"Yes, akhir nya kamu masuk perangkap ku Rian," Ucap Lena dalam hati.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih ya Yan,"Papar Lena dengan senyum yang sangat manis, Rian sampai tertegun melihat kecantikan Lena.

__ADS_1


Rian memalingkan wajah nya seraya menganggukkan kepala dan menyerahkan sebuah nomor, "Ini nanti kamu hubungi aku saja,"Ucap Rian dan berlalu meninggalkan Lena yang hati nya sedang berbunga-bunga.


Lena pergi meninggalkan kafe dengan senyum yang terlihat di bibir nya, ia pun akan menjalankan rencana yang jauh hari sudah ia pikirkan.


Lena berjalan ke arah belakang Gedung hotel dan bertemu dengan seseorang yang akan membantu nya, ia adalah Jodi pegawai hotel di tempat mereka menginap.


"Bagaimana ada nggak obat nya?" Tanya Lena.


"Tenang saja mbak Lena, ini sudah saya siapkan," Sahut lelaki berperawakan tinggi dan berkulit hitam manis itu.


"Bagus, ini bayaran kamu, ingat ya setelah ini anggap saja kita tidak pernah bertemu," Ucap Lena sambil menyerahkan amplop coklat yang lumayan tebal.


Jodi pun mengangguk sambil mencium amplop yang di serahkan Lena, namun tanpa ia ketahui seseorang telah memvidiokan pertemuan mereka, dan Jodi pun telah merekam seluruh percakapan nya.


Lena membuka amplop yang di serahkan oleh Jodi dan ia pun tersenyum puas, di dalam nya terdapat serbuk putih yang merupakan obat tidur dengan dosis tinggi.


"Malam ini akan menjadi momen yang begitu indah sayang," Ucap Lena dan berjalan kembali ke kamar nya.


Rian mencoba menghubungi Diani, dan saat panggilan ke dua akhir nya Diani mengankat telpon nya.


"Dek, kamu.kemana sih sayang," Cecar Rian ke Diani.


"Maaf Mas, tadi aku ketiduran di butik," Terang Diani, merasa bersalah.


"Oh, ya sudah kamu sudah makan," Tanya Rian basa basi.


"Udah kok Mas, kamu sendiri bagaimana,".


"Udah juga, Oh ia sayang aku pulang hari kamis ya, kamu baik-baik di sana," Jelas Rian.


"Ia, Mas jangan lupa sholat ya," Ucap Diani.


"Ia sayang, miss you,".


" Miss you too,".


Telephone pun terputus dan saat Rian ingin merbahkan diri di kasur, ketukan di pintu pun terdengar, akhir nya Rian dengan malas bangkit dan membuka pintunya.


Saat Rian membuka pintu Ia sangat terkejut melihat orang yang mengganggu istrahat nya.

__ADS_1


Siapa ya kira-kira yang datang.


TBC ia bestie


__ADS_2