Kesabaran Hati Seorang Istri

Kesabaran Hati Seorang Istri
BAB 46


__ADS_3

Sesampai nya di mobil Icha masih terus diam sampai Diani bingung akan melakukan apa pada Icha.


"Icha, sayang kamu kenapa Nak, cerita sama bunda Icha mau apa" Tanya Diani lembut sambil membelai kepala Icha yang tertutup hijab nya.


Icha hanya menggeleng dan terus mengalihkan pandangan nya keluar jendela melihat jalanan yang penuh dengan kendaraan.


"Icha masih mau ke makam mama papa nggak" Ujar Diani dan di angguki oleh Icha. "Ya udah besok kita pergi berangkat pagi-pagi ya sayang" Sambung Diani namun Icha hanya membalas dengan anggukan kepala nya.


Tiba-tiba Hp Lena berdering menandakan ada panggilan masuk, tertera nama Lena di layar ponsel milik Diani namun saat Diani ingin menjawab telephone dari Lena Icha segera menghentikan tangan Diani. Icha menggelengkan kepala nya.


"Kenapa Sayang, kok kamu nggak mau Bunda angkat telephone tante Lena" Tanya Icha penasaran dengan tingkah Icha yang tiba-tiba murung dan melarang nya mengangkat telephone Lena.


"Bunda, Tante Lena jahaaaat" Icha akhir nya mengeluarkan unek-unek nya sambil menangis.


"Lho kok kamu nangis sayang" Ucap Diani dan mencoba menenangkan Icha sambil memeluk nya. " Ayo cerita sama bunda" Sambung nya.

__ADS_1


" Tante Lena bilang kalau Bunda sudah punya dedek bayi Icha bakalan di buang" Ucap Icha sambil sesenggukan.


"Ya Allah sayang, kamu jangan mikir kayak gitu Bunda sudah anggap Icha anak Bunda, jadi sampai kapan pun Icha akan tetap jadi anak Bunda"Terang Diani dan membuat Icha tersenyum.


" Len apa yang sudah kamu katakan pada Icha, anak sekecil ini hanya butuh kasih sayang, kenapa kamu belum berubah" Gumam Icha dalam hati sambil mengelus kepala Icha dengan lembut.


Sesampai nya di rumah Diani menggandeng turun Icha, dan Icha segera berlari masuk ke dalam kamar.


"Icha kenapa sayang" Tanya Rian.


"Oh, biarkan dia istirahat" Ucap Rian lagi sambil mengusap kepala Diani lembut.


Diani hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, ia berniat untuk menghampiri Icha nanti saat makan malam, karena Icha tidak sempat makan saat di mall.


"Mas bagaimana kalau kita coba program bayi tabung" Ujar Diani saat sedang memakai skincare malam rutin nya di depan cermin kamar nya.

__ADS_1


"Sayang, bukan nya aku nggak mau cepat punya anak, tapi apakah lebih bagus kalau kita menunggu sambil ikhtiar aja" Usul Rian ke Diani.


"Tapi kan Mas, kita juga butuh pengorbanan, bagaimana kalau kita periksa ke dokter yang lain, siapa tahu ada solusi yang lain juga" Diani pun tak mau kalah.


"Baiklah, kalau begitu besok kebetulan aku nggak ada acara, kita pergi ke Kota Y aja, disana kata nya ada dokter obgyn lulusan luar negeri, Dokter Bian Alexander" Ucap Rian akhir nya mengalah.


"Bian Alexander, kok kayak nya nggak asing ya, coba deh ingat-ingat lagi Mas"


"Ya sih Bun, aku juga familiar" Ucap Rian membenarkan perkataan Diani. " Mungki nggak sih Anak nya Om Budi Alexander" Sambung Rian.


"Kalau benar berarti dia teman masa kecil mu bukan Mas" Tanya Diani penasaran.


"Iya, kalau benar sudah hampir 20 tahun nggak pernah ketemu, karena Bian dan orang tua nya pindah ke luar negeri waktu berumur 7 tahun" Ujar Rian mengingat teman lama nya.


"Bian Alexander, apakah itu kamu" Guman Diani dalam hati mengingat nama seseorang yang dulu pernah hadir di masa lalu nya.

__ADS_1


Apakah benar Bian Alexander adalah teman lama Rian, dan ada hubungan apa Diani dan Bian.


__ADS_2