
"Lenaa"Rian bergumam mengingat nama dan wajah yang dijumpainya di kafe tadi. " Apakah kamu wanita yang sama" Rian mencoba mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Alena windari,Aku masih ingat suaramu,ahh tapi nggak mungkin wajahnya aja beda"Rian bangkit dari duduknya menuju dapur lalu mengambil air minum.
***
Diani dan Lena asyik bercerita kesana kemari dan saking asyiknya Diani lupa memberitahukan sahabatnya kalau dia sudah menikah.
Dan tanpa disadari saat melihat jam ternyata sudah 3 jam mereka ngobrol. Diani pun pamit pulang dan sesampainya dirumah.
Ceklek
Pintu terbuka dan Diani masuk tanpa mengucapkan salam karena dia kira tidak ada orang, saat ingin menaiki tangga Diani terkejut mendapati Rian sedang berdiri dan menatapnya dengan tatapan yang ingin memakan seseorang saat itu juga.
"Kapan kamu pulang mas,Maaf aku pergi tidak kasi tau kamu, Aku kira kamu tidak pulang cepat" Ujar Diani dengan wajah tertunduk.
Rian berjalan mendekati Diani,dan dengan perlahan Diani mundur takut suaminya akan memukulnya lagi. Rian memegang pundak Diani keras, Diani meringis saat tangan kekar Rian meremas pundaknya keras.
"Ssssss,maaf mas aku...."Belum selesai Diani berbicara Rian mengangkat dagu Diani yang tertunduk, "Kalau ingin menjelaskan sesuatu tatap mataku, agar aku tau kau berbohong atau tidak.
__ADS_1
Ingin rasanya Diani melebur jadi air saat ditatap oleh Rian dengan tatapan yang ingin membunuh.
"Katakan"Rian berbicara dengan tegas"A-aku pergi ke kafe Flowers untuk bertemu sahabatku"Ujar Diani dengan mata yang menatap manik mata suaminya.
Rian melepaskan cengkraman tangannya di bahu Diani dan pergi begitu saja menaiki tangga tanpa berkata apapun.
"Huuffttt, Diani menghembuskan nafas kasar sambil berjalan mengambil air dan segera menghabiskannya.
"Semoga mas Rian sudah tidak marah lagi" Diani berkata dalam hati dan menaiki tangga kemudian membuka pintu pelan. Diani masuk tapi tidak menemukan Rian di kamar, tidak lama kemudian suara air terdengar didalam kamar mandi pertanda ada orang disana.
"Sedang mandi rupanya"Diani bergegas membuka hijab dan baju yang dikenakan menggantinya dengan baju rumahan yang biasa dia pakai sehari-hari.
Diani bergegas keluar kamar dan menuju dapur untuk memasak masakan kesukaan suaminya yaitu ayam rica-rica, sayur lodeh, sambal goreng petai, dan udang tepung crispy.
"Dek, Mas bantu ya"tawar Rian karena melihat istrinya sedikit kewalahan. "Jangan mas biar aku saja, Mas cukup bantu aku habisinnya aja"Kata Diani sambil tersenyum, lega karena suaminya tidak marah lagi.
Rian mengambil lauk yang baru saja selesai dituang oleh Diani dan meletakkannya ke meja makan. Setelah semua siap Diani menyendokkan nasi dan lauk ke piring Rian lalu dengan hati-hati meletekkannya.
"Semoga kamu suka ya mas"Diani masih takut kalau Rian akan mengamuk seperti tadi pagi. Rian menikmati makannya tanpa bersuara Diani pun demikian.
__ADS_1
Setelah selesai makan Rian berjalan menuju ruang keluarga dan menyalakan TV, sedangkan Diani mencuci piring.
"Dek" Rian memanggil Diani,"Ya mas, tunggu sebentar ini lagi buatin mas kopi" sahut Riani sedikit berteriak.
Diani membawa nampan berisi kopi,potongan buah, dan biskuit kemudian menyuguhkannya didepan Rian.
Rian menyeruput kopi buatan istrinya dan tersenyum "Dek, Kalau kamu capek, bagaimana kalau mas carikan ART, Biar kamu lebih fokus ke program kehamilan yang kamu jalani.
"Ya allah, Seandainya mas selalu bersikap seperti ini, mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia mas" Diani berkata dalam hati.
"Dek, kamu kok melamun?"Rian menggoyangkan tubuh Diani.
"Eh,Maaf mas, apa tidak terlalu berlebihan, aku kan masih bisa mengerjakan semuanya mas" Diani merasa tidak enak karena Rian menyinggung soal anak.
"Ya udah kalau kamu nggak keberatan mengerjakan semuanya, tapi kalau sudah ada juniorku di sini, kamu tidak boleh menolak apapun yang menjadi keputusanku" Rian berkata sambil mengelus perut rata Diani.
"Ya allah, semoga kau segera memberikan keturunan mu kepada kami" Doa Riani didalam hati.
TBC ya
__ADS_1
jangan lupa komen dan dukungannya
Terima kasih