Kesabaran Hati Seorang Istri

Kesabaran Hati Seorang Istri
BAB 24


__ADS_3

Tak berselang lama adzan isya berkumandang Rian dan Diani kembali melakukan sholat berjamaah, setelah selesai mereka pun turun untuk makan malam.


"Siti nenek Ijah sama Icha udah bangun belum, tolong di panggilkan ya, biar nanti saya yang lanjutkan" perintah Diani kepada Siti .


"Baik bu" Sitipun langsung bergegas menuju kamar Icha dan nenek Ijah.


tok tok tok ( Siti mengetuk pintu kamar)


Nenek Ijah yang baru saja selesai sholat isya segera berdiri di sela tasbihnya untuk membuka pintu "Ada apa neng" Nenek Ijah heran melihat Siti yang datang.


"Itu bu, ditunggu sama tuan dan nyonya untuk makan malam" Siti pun menyampaikan maksud kedatangannya.


"Ia ,baiklah terima kasih ya Siti" Ucap Nenek Ijah sambil tersenyum.


"Sama-sama bu, kalau begitu saya permisi" Sitipun meninggalkan nenek Ijah setelah mendapat anggukan darinya.


"Icha, yuk nak kita sudah ditunggu sama om dan tante" Ajak nenek Ijah dan diangguki oleh Icha.

__ADS_1


Nenek Ijah dan Icha pun menuju meja makan "Maaf bu, pak kalian jadi menunggu saya dan Icha".


" Tidak apa-apa nek, kami baru saja duduk" Ucap Diani dengan senyum ramahnya.


"Terima kasih sekali lagi ya pak,bu" Nenek Ijah mulai berkaca-kaca.


"Nenek jangan sungkan, sekarang kita adalah keluarga, jadi apapun yang nenek perlukan, katakan saja pada saya atau Diani" Rian berkata pada Nenek Ijah sambil tersenyum.


Icha yang dari tadi diam tiba-tiba berkata "Wahhhh, makanan nya enak-enak ya Nek, tidak seperti di rumah dulu cuma bisa makan tahu"Ucap Icha mengenang kenangan pahit bersama sang nenek.


"Icha tidak boleh begitu, kita harus selalu bersyukur walaupun cuma makan tahu, masih banyak orang yang lebih menderita dari pada kita nak" Sang nenek menasehati Icha agar selalu bersyukur.


"Sini mas piringnya, Icha sama nenek silahkan diambil ya makanannya, jangan malu-malu" Ucap Diani sambil menyendokkan nasi kepiring Rian dan mengisi nya juga dengan aneka lauk pauk yang telah dimasak oleh Siti.


"Ia bu, terima kasih" Nenek Ijah menyendokkan nasi ke piring Icha dan pitingnya kemudian mengambil ayam untuk Icha.


Setelah selesai makan Diani mengajak Icha dan Nenek Ijah ke ruang keluarga untuk menonton TV. Di ruangan itu ada sofa dan karpet tebal super mewah dan empuk yang di gelar dilantai.

__ADS_1



Icha menonton serial kartun anak Upin dan Ipin, dia beberapa kali tertawa melihat adegan lucu si kembar itu. Nenek Ijah tidak bisa menahan air mata melihat kebahagiaan Icha.


Diani yang menyadari nenek Ijah beberapa kali mengusap ujang matanya pun bertanya" Nenek kenapa, apa tidak betah tinggal sama kami".


" Tidak bu, saya sangat bahagia berada disini, saya hanya terharu melihat Kebahagiaan Icha, karena dulu kalau mau nonton Tv kerumah tetangga dulu, kadang Icha sering di usir teman-temannya saat ingin nonton" Kenang Nenek Ijah.


Diani memeluk Nenek Ijah dan mengusap pelan punggungnya"Sekarang nenek Ijah dan Icha sepuasnya nonton TV, kapanpun kalian mau.


Rian yang mendengar nenek Ijah bercerita pun ikut terharu" Ya allah betapa berat hidup yang kamu jalani nak, kamu masih kecil, seharusnya kamu hanya tau bermain saja" Ucap Rian sambil mengusap kepala Icha yang ada di pangkuannya.


"Nek, ada yang mau saya bicarakan sama nenek" Ucap Rian tiba-tiba.


Diani melepas pelukannya pada nenek Ijah " Silahkan pak".


"Saya dan Diani berniat mengangkat Icha sebagai putri kami" Ucapan Rian membuat Nenek Ijah terkejut.

__ADS_1


TBC


__ADS_2