Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Pernikahan Rahasia


__ADS_3

Raffi yang melihat Esha menangis, spontan langsung memeluknya.


Esha terkesiap.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Esha berusaha melepaskan diri dari pelukan Raffi.


Entah apa yang merasuki Raffi. Tiba-tiba saja gejolak nafsu menguasai dirinya. Raffi tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Esha meronta-ronta minta dilepaskan. Tapi Raffi malah semakin bergairah. Dia pun mendekatkan bibirnya ke bibir Esha dan berusaha untuk menciumnya.


Dan malam itu Raffi memperkosa Esha untuk yang kedua kalinya. Esha tidak berdaya melawan. Tenaga Raffi lebih kuat. Esha hanya bisa menangis meratapi nasibnya.


***


Suara adzan subuh menggema. Perlahan Esha membuka matanya. Dia terkejut melihat tubuhnya yang hanya berbalut selimut saja. Dia berusaha mengingat kejadian tadi malam.


"Astaghfirullahaladzim ... apa yang sudah aku lakukan semalam? Ampuni aku ya Allah!" Esha menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Dimana lelaki brengsek itu?" Esha meliarkan matanya mencari sosok Raffi namun Raffi tidak ada di kamarnya.


Tiba-tiba saja Esha melihat ada beberapa lembar uang dan selembar surat di atas meja dekat tempat tidurnya. Esha pun mengambil kemudian membaca surat itu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Maafkan aku untuk kejadian tadi malam. Aku pergi dulu. Aku ada meeting urgent pagi ini dan aku harus segera ke kantor.


Aku tinggalkan sedikit uang untuk membeli keperluanmu ....


Raffi.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Melihat uang itu, Esha semakin kesal.


"Apa dia pikir aku ini seorang *******? Yang habis ditiduri lalu dikasih uang dan ditinggal pergi? Dasar laki-laki brengsek!" teriak Esha dengan penuh emosi.


'Ya Tuhan ... kenapa aku begitu bodoh? Hanya gara-gara seekor kecoak aku telah berbuat dosa lagi.' Esha menitikkan air matanya.


'Sejak kecil aku benar-benar phobia pada kecoak. Tapi kenapa di villa sebagus ini bisa ada kecoak?' Esha benar-benar heran.


Esha beranjak ke kamar mandi lalu mengguyur seluruh tubuhnya dengan air shower yang hangat. Selesai mandi, Esha sholat Subuh lalu ke dapur untuk memasak.


Pagi-pagi Bi Ijah sudah datang. Bi Ijah langsung ke dapur membantu Esha memasak. Mereka pun memasak sambil berbincang-bincang. Esha pun menceritakan semua yang dialaminya kepada Bi Ijah sambil menangis.


"Sabar ya Non!" Bi Ijah memeluk Esha kemudian mengusap lembut punggungnya.


"Sekarang apa yang harus Esha lakukan Bi? Esha nggak mau terus-terusan berbuat dosa," ucap Esha sambil menangis di pelukan bi Ijah.


"Bicaralah baik-baik sama tuan Raffi Non! Mudah-mudahan saja tuan Raffi mau bertanggung jawab dan menikahi Non Esha!"


Esha merasa lebih lega setelah mencurahkan seluruh isi hatinya kepada bi Ijah.


***


Hari Sabtu kemudian ....


Raffi melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul lima sore. Raffi menutup laptop-nya lalu keluar dari kantor. Dia berniat langsung pergi ke villa pribadinya di Cipanas. Entah kenapa sejak ada Esha, Raffi tidak ingin lagi pergi ke Starlight Club. Dalam pikirannya selalu ada Esha.

__ADS_1


Perjalanan dari kantor ke villa pribadinya cukup jauh. Bisa memakan waktu lebih dari dua jam perjalanan. Raffi sampai di villanya pukul tujuh malam.


Tok ... Tok ... Tok ....


Raffi mengetok pintu dengan keras.


'Siapa yang datang malam-malam begini? Apa bi Ijah dan pak Rahmat? Atau kak Raffi?' gumam Esha dalam hati.


Ceklek!


Esha pun membukakan pintu. Esha terkejut saat tau kalau ternyata Raffi lah yang datang.


"Kak Raffi ... kenapa datang malam-malam begini?"


"Memangnya kenapa? Terserah aku mau datang kapan pun aku mau. Ini kan villaku," sahut Raffi dengan ketus.


Tanpa mengucap salam, Raffi langsung masuk ke dalam villa lalu berbaring di sofa untuk melepas lelah.


"Buatkan aku kopi hitam!" titah Raffi.


"Iya Kak sebentar." Esha bergegas ke dapur untuk membuat kopi hitam.


Beberapa menit kemudian Esha kembali dengan membawa secangkir kopi hitam di tangannya.


"Ini Kak kopi hitamnya." Esha meletakkan cangkir itu di atas meja lalu duduk di kursi berhadapan dengan Raffi. Raffi pun duduk lalu meneguk kopinya.


"Kak Raffi, boleh Esha minta sesuatu?" tanya Esha dengan sedikit takut.


"Minta apa?"


"Emh ... maukah Kak Raffi menikahi Esha?"


"Apa? Menikah? Memangnya siapa kamu? Berani-beraninya kamu memintaku untuk menikahimu!"


"Kamu itu hanyalah perempuan pemuas nafsu ku. Kamu nggak pantas menjadi istriku!" seru Raffi sambil menunjuk muka Esha.


Esha terperanjat mendengar kata-kata Raffi. Kata-kata Raffi sungguh menyakitkan. Esha tak kuasa menahan air matanya. Air matanya pun mengalir deras membasahi kedua pipinya.


"Esha mohon Kak! Esha nggak mau terlalu jauh berbuat dosa. Menikah siri juga nggak apa-apa. Esha janji Esha nggak akan nuntut apa-apa dari Kak Raffi. Esha cuma mau menghalalkan hubungan kita."


Esha bersimpuh di kaki Raffi sambil menangis. Tapi Raffi tidak menghiraukannya. Raffi pun berlalu masuk ke kamarnya.


Braakkk!


Raffi membanting pintu kamarnya dengan keras. Lalu masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Tanpa melepas pakaiannya, Raffi mengguyur seluruh tubuhnya. Pikirannya menjadi kacau. Kata-kata Esha terngiang kembali di telinganya.


Malam ini Raffi tidak bisa tidur. Dia membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman namun tetap saja matanya tidak mau terlelap. Pikirannya melayang-layang memikirkan kata-kata Esha tadi.


'Ada apa denganku? Kenapa aku jadi merasa bersalah? Seharusnya aku tidak bicara seperti itu padanya. Aku harus minta maaf,' gumam Raffi dalam hati.


Raffi beranjak dari tempat tidurnya. Lalu keluar hendak menemui Esha. Pintu kamar Esha masih terbuka lebar. Raffi melihat Esha sedang mengaji. Suaranya begitu merdu. Sesaat Raffi tertegun mendengarkan Esha mengaji.


Tak lama kemudian Raffi kembali ke kamarnya kemudian menghubungi sekretaris pribadinya.


***

__ADS_1


Pagi itu ....


Esha berniat ke dapur hendak membantu bi Ijah memasak. Ketika membuka pintu kamarnya, Esha terkejut melihat Raffi sudah berdiri di depan kamarnya pagi-pagi begini. Jantung Esha berdegup kencang. Esha takut kalau Raffi akan memakinya lagi.


"Esha kita harus bicara!" seru Raffi.


"Ada apa Kak?"


"Aku minta maaf soal semalam."


"Lupakan saja Kak! Seharusnya Esha tau diri, Esha memang nggak pantas ...."


"Aku akan menikahimu." Raffi memotong pembicaraan Esha.


Esha sontak membulatkan kedua matanya.


"Apa?"


"Kak Raffi serius?"


"Aku serius. Sekarang kamu siap-siap! Kita akan ke Bali."


"Bali?"


"Ya. Kita akan menikah di Bali. Tapi ini rahasia. Nggak ada siapa pun yang boleh tau. Kita berangkat ke bandara setelah sarapan. Kamu bersiaplah!"


Esha menganggukkan kepalanya, lalu masuk kembali ke kamarnya untuk packing dan mandi.


Selesai sarapan, Raffi dan Esha berpamitan kepada B Ijah dan Pak Rahmat yang sedang bersih-bersih di teras depan.


"Bi Ijah, Pak Rahmat saya mau mengajak Esha liburan ke Bali untuk beberapa hari. Tolong jaga villa!" titah Raffi.


"Baik Tuan."


Pak Rahmat pun memasukkan koper majikannya ke dalam bagasi mobil.


"Assalamu'alaikum Bi Ijah, Pak Rahmat," ucap Esha.


"Wa'alaikumsalam, Non."


Raffi dan Esha pun masuk ke dalam mobil. Raffi mengemudikan mobil sport-nya dengan kecepatan sedang menuju bandara.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG .......................


Notes :

__ADS_1


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca!


Terima kasih .... 🙏


__ADS_2