Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Thalassemia


__ADS_3

Pagi itu Raffi membawa Aulia ke Rumah Sakit Pondok Indah untuk cek rutin kandungan. Raffi dan Aulia menunggu antrian di poli kandungan. Setelah namanya dipanggil, Aulia dan Raffi masuk ke ruang praktek dokter. Dokter kandungan melakukan USG pada kandungan Aulia. Raffi setia mendampingi Aulia. Tiba tiba dokter tersebut mengernyitkan dahinya saat melakukan USG. Sepertinya ada masalah dengan kandungan Aulia. Aulia yang memperhatikan tingkah dokter tersebut merasa khawatir.


"Apa yang terjadi dengan kandungan saya dok? Kandungan saya baik baik saja kan?" tanya Aulia dengan penasaran.


"Boleh kita bicara di sana pak, bu?" tanya dokter itu sambil menunjuk meja kerjanya kepada Raffi dan Aulia.


Dokter itu kemudian duduk di kursi kerjanya. Raffi dan Aulia mengikuti dokter itu lalu duduk berhadapan dengan dokter.


"Usia kandungan ibu Aulia sudah menginjak 24 minggu. Tapi maaf Pak, Bu, sepertinya ada masalah dengan kandungan ibu. Menurut hasil USG, sepertinya saya menemukan ada sedikit cairan di paru-paru dan perut janin ibu"


"Apa??"


Aulia terkejut mendengar kata kata dokter.


"Apa maksudnya dok? Apa yang terjadi pada bayi kami?" tanya Raffi dengan mimik muka cemas.


"Sebaiknya ibu melakukan tes darah dulu untuk mengetahui jumlah Hb ibu" imbuh dokter itu.


Aulia pun mengikuti saran dokter untuk melakukan tes darah di laboratorium. Setelah hasilnya keluar, dokter pun memanggil Raffi dan Aulia ke ruangannya.


Ternyata diagnosa dokter adalah kemungkinan bayi Aulia terkena thalassemia karena jumlah Hb dan MCV darah Aulia di bawah normal dan hasil USG menunjukkan gejala-gejala anemia pada bayi seperti adanya cairan dalam organ tubuh, pembengkakan liver dan tebalnya plasenta.


Raffi dan Aulia bagai disambar petir mendengar penjelasan dari dokter itu.


"Thalassemia?? Apa penyakit bayi kami bisa disembuhkan dok?" tanya Raffi.


"Untuk penanganan lebih lanjut, saya mereferensikan untuk ke klinik fetomaternal atau klinik kehamilan beresiko" imbuh dokter tersebut.


Kata thalassemia sama sekali tidak pernah terlintas di pikiran Raffi dan Aulia sebelumnya. Karena pada awal kehamilan terutama di trimester pertama, Aulia tidak terlalu sering mengalami gejala morning sickness. Aulia masih dapat melakukan aktivitas syutingnya. Aulia juga selalu cek rutin kehamilan ke dokter kandungan. Aulia pun sudah melakukan tes darah sebelumnya dengan hasil yang cukup bagus.


**********


Setelah mencari pendapat ke beberapa dokter lain, akhirnya Raffi dan Aulia mendapat referensi dokter yang sering menangani kasus kehamilan beresiko dengan jalan transfusi darah ke tali pusat janin.


Setelah ditransfusi, kondisi janin membaik dengan berkurangnya cairan dan meningkatnya Hb. Namun liver dan jantung bayi masih mengalami pembengkakan karena anemia.


Di kehamilan yang semakin besar, Aulia mengalami kaki bengkak dan berat badan naik drastis yang disebabkan kurangnya protein dalam darah. Aulia harus diopname di rumah sakit karena mengalami kontraksi tak lama sesudah transfusi yang kedua. Aulia harus bed rest di rumah sakit hingga kondisi Aulia kembali normal dan dapat melakukan transfusi ketiga.


Raffi telah memberi tahu kondisi Aulia dan janinnya kepada kedua orang tua dan mertuanya yang sedang berada di Amerika. Mereka syok mendengar kabar buruk itu. Mereka pun langsung memesan tiket untuk pulang ke Indonesia.


Sesampainya di Indonesia, mereka langsung menuju rumah sakit tempat Aulia dirawat. Mereka bertanya kepada resepsionis nomor kamar Aulia. Setelah diberi tau, mereka langsung menemui Aulia di ruang rawatnya. Raffi setia mendampingi Aulia di ruang rawatnya.


"Aulia.." seru bu Debby dan bu Kania setelah membuka pintu.


"Mama.." sahut Aulia.


Bu Debby dan bu Kania pun memeluk Aulia secara bergantian.


"Raffi bagaimana kondisi Aulia? Kenapa bisa jadi begini?" tanya Pak Mirza dengan cemas.


"Raffi juga tidak tau sebabnya Pa, padahal sebelumnya Lia dan kandungannya baik baik saja. Tiba tiba saja dokter mendiagnosa kalau bayi kami terkena thalassemia" sahut Raffi.


"Padahal keluarga kita tidak ada yang mengidap thalassemia. Kenapa bayi kalian bisa terkena thalassemia?" tanya Pak Salman dengan heran.


"Raffi juga bingung Pa" sahut Raffi.


Setelah keadaan Aulia normal kembali, mereka pun membawa Aulia pulang ke rumah.

__ADS_1


***********


Dua minggu kemudian, tekanan darah Aulia sangat tinggi dan didiagnosa mengalami preeklampsia sehingga Aulia harus diopname lagi. Raffi dan kedua orang tuanya sangat cemas melihat kondisi Aulia. Begitu juga dengan kedua mertuanya. Setelah kondisi Aulia berangsur membaik, Aulia pun dibawa pulang ke rumah.


Sehari sesudah konsultasi dengan dokter dan telah menjadwalkan untuk transfusi darah berikutnya, saat itu usia kandungan Aulia sudah menginjak 35 minggu, tiba-tiba Aulia mengalami kontraksi yang cukup hebat dan air ketubannya pecah di rumah.


Raffi sangat panik dan segera melarikan Aulia ke rumah sakit di daerah Tangerang, yang sudah disetujui dengan dokter untuk menjadi tempat Aulia melahirkan. Aulia langsung dibawa ke ruang IGD untuk diperiksa. Raffi pun mengurus pendaftaran.


"Maaf Pak, istri anda harus segera dioperasi karena air ketubannya sudah pecah. Kita harus secepatnya mengeluarkan bayinya sebelum air ketubannya kering" kata dokter.


"Lakukan apa saja dok, yang penting istri dan anak saya selamat" sahut Raffi.


"Silakan tanda tangani berkasnya Pak" kata salah seorang suster.


"Baik sus" sahut Raffi.


Raffi pun menandatangani berkasnya. Aulia langsung dibawa ke ruang operasi. Raffi beserta kedua orang tua dan mertuanya menunggu di luar ruang operasi dengan cemas.


"Ya Allah... selamatkanlah Lia dan bayi kami" doa Raffi dalam hati.


Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 23.45 Aulia melahirkan bayi laki-laki melalui operasi caesar.


"Kenapa tidak terdengar suara tangisan bayiku?" pikir Aulia.


"Jantung bayinya sangat lemah. Harus segera dibawa ke ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit)" kata dokter yang mengoperasi Aulia.


Aulia terkejut mendengar perkataan dokter itu. Walaupun besar harapan Aulia untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) pada bayinya, tapi keselamatan bayinya adalah yang paling penting. Dokter pun segera membawa bayinya ke ruang NICU.


Di satu sisi Raffi, orang tua, dan mertuanya senang karena bayi Aulia sudah lahir, tapi di sisi lain mereka sangat cemas melihat kondisi bayi itu. Raffi pun mendampingi bayinya selama di ruang NICU. Bu Debby dan Pak Salman menunggu Raffi dan cucunya di depan ruang NICU dengan cemas.


Aulia belum bisa merasa lega karena Aulia terus memikirkan kondisi bayinya yang masih harus berjuang. Aulia tidak dapat beristirahat dengan nyenyak setelah operasi. Bu Kania dan Pak Mirza pun tidak tidur semalaman karena mendampingi Aulia.


"Kamu tenang sayang... bayi kamu pasti baik baik saja" kata bu Kania sambil menggenggam tangan Aulia berusaha menenangkan putrinya itu.


"Kamu yang sabar sayang... semuanya akan baik baik saja" imbuh Pak Mirza.


Firasat Aulia mengatakan ada sesuatu yang terjadi, namun Aulia tetap berdoa kepada Tuhan demi keselamatan bayinya.


"Ya Tuhan... tolong selamatkan bayiku. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya" doa Aulia dalam hati.


Kurang lebih pukul 7 pagi, Raffi datang ke kamar menemui Aulia. Muka Raffi terlihat sangat sedih. Raffi pun mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mengatakan kabar yang paling mengejutkan kepada Aulia.


"Lia, bayi kita..."


"Kenapa dengan bayi kita kak?" tanya Aulia dengan penasaran.


"Ada apa Raffi?" tanya Pak Mirza sama penasarannya.


"Bayi kita telah meninggal Lia... Tuhan telah memanggilnya kembali ke sisi-Nya" ucap Raffi sambil menitikkan air mata.


"Apa??" teriak bu Kania.


"Apa kamu serius Raffi?" tanya Pak Mirza.


Raffi menganggukkan kepalanya.


"Nggak mungkin... Bayiku nggak mungkin meninggal kak. Dia nggak mungkin meninggal..." seru Aulia sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Air mata Aulia bercucuran jatuh ke pipinya. Bu Kania memeluk Aulia dan berusaha menenangkannya. Padahal pada saat itu bu Kania juga sangat rapuh. Tapi dia harus tegar untuk menguatkan putrinya.


"Kita harus mengikhlaskannya Lia. Tuhan lebih menyayanginya. Bayi kita sudah tenang di surga-Nya" imbuh Raffi.


"Nggak mungkin... Aku nggak mau kehilangan bayiku. Aku belum sempat melihatnya kak. Aku belum sempat menggendongnya. Aku juga belum sempat menyusuinya kak..." seru Aulia di sela isak tangisnya.


"Sudah sayang... kamu yang sabar" ucap Bu Kania sambil mengelus rambut Aulia dengan lembut. Bu Kania pun tak kuasa menahan air mata yang jatuh ke pipinya.


**********


Hal yang membuat Aulia sedih adalah Aulia baru bisa melihat dan menggendong bayinya untuk pertama kali saat bayinya sudah terbaring kaku, tetapi wajahnya begitu damai seperti sedang tertidur dengan pulas. Aulia pun mendekap dan menciumi bayinya itu sambil menangis tersedu sedu.


"Kenapa Tuhan memanggilmu secepat ini sayang?" rintih Aulia.


Menurut dokter, setelah lahir kondisi bayi Aulia sangatlah lemah sehingga ia harus dibantu dengan alat untuk bertahan hidup. Tujuh jam setelah dilahirkan, bayi itu pun menghembuskan nafas terakhirnya. Raffi sangat terguncang saat menyaksikan kematian bayinya dengan kedua matanya sendiri. Begitu juga dengan Bu Debby dan Pak Salman.


Bu Debby dan Pak Salman sangat syok karena kehilangan penerus keluarga mereka. Dalam sekejap Allah telah mengambil kebahagiaan keluarga mereka. Kini hanya ada kesedihan dan air mata yang terpancar di wajah mereka sekeluarga.


"Kenapa ini semua terjadi pada keluarga kita Pa? Sekarang semua orang pasti mentertawakan keluarga kita..." tutur Bu Debby di sela isak tangisnya.


"Papa juga sedih ma, kita telah kehilangan penerus keluarga kita" sahut Pak Salman.


Pak Salman memeluk bu Debby yang sedang menangis tersedu sedu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.........


Notes :

__ADS_1


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...


Makacii 😘


__ADS_2