
Raffi telah menyerahkan urusan perceraiannya kepada kuasa hukumnya. Malam itu, Pak Salman dan Bu Debby berusaha membujuk Raffi untuk membatalkan niatnya untuk menceraikan Aulia.
"Raffi apa kamu benar benar akan menceraikan Aulia?" tanya Pak Salman.
"Iya Pa, Raffi sudah menyerahkan semuanya kepada pengacara Raffi."
"Tidak Raffi, mama tidak setuju kamu bercerai sama Aulia. Apa kata orang orang nanti? Apa kamu mau mempermalukan keluarga kita Raffi?" imbuh Bu Debby.
"Maaf Pa, Ma, ini sudah menjadi keputusan Raffi dan Lia. Orang tua Lia juga sudah setuju. Mama sama papa tidak bisa menghalanginya!"
"Raffi sejak kapan kamu melawan perintah Mama sama Papa? Apa kamu mau jadi anak durhaka Raffi?" seru bu Debby.
Raffi tidak menggubris kata kata Bu Debby. Ia pun berlalu meninggalkan kedua orang tuanya. Pak Salman dan Bu Debby tidak bisa berbuat apa apa lagi. Mereka juga tidak bisa membujuk Aulia maupun Pak Mirza dan Bu Kania untuk membatalkan perceraian ini.
"Pa, lebih baik kita kembali ke Amerika saja Pa. Mama tidak mau dipermalukan Pa. Semua orang pasti akan membicarakan keluarga kita. Cucu kita baru saja meninggal, ditambah lagi dengan perceraian Raffi dan Aulia. Pasti keluarga kita akan jadi sorotan awak media Pa."
"Iya Ma, kita kembali ke Amerika besok."
Keesokan harinya, Pak Salman dan Bu Debby pun kembali ke Amerika. Sementara Pak Mirza dan Bu Kania masih di Jakarta untuk mendampingi Aulia sampai proses perceraiannya dengan Raffi selesai.
***
Satu minggu pasca operasi caesar, kondisi Aulia sudah mulai pulih. Aulia sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Sejak kehilangan bayinya, Aulia menjadi pribadi yang pendiam dan tidak banyak bicara. Aulia pun tidak pernah keluar rumah. Ia lebih suka berdiam diri di rumah untuk menenangkan pikirannya. Aulia pun enggan untuk membuka akun sosial medianya. Ia sengaja mengunci kolom komentar akun instagramnya. Aulia berencana untuk ikut orang tuanya ke Amerika setelah proses perceraiannya selesai.
Siang itu Raffi menjemput Aulia di rumahnya. Raffi hendak menemani Aulia untuk kontrol jahitan. Raffi mengemudikan mobilnya perlahan menuju rumah sakit.
"Bagaimana kondisimu Lia? Apa bekas luka operasimu masih terasa sakit?" tanya Raffi memecah keheningan.
"Lia sudah merasa lebih baik, Kak."
"Syukurlah ...."
"Setelah proses perceraian kita selesai, Lia berencana untuk ikut mama sama papa ke Amerika, Kak."
"Kenapa tiba tiba kamu mau ke Amerika Lia? Bukankah kamu akan melanjutkan syuting film kamu yang sempat tertunda?"
"Lia ingin menenangkan diri dulu untuk sementara waktu, Kak. Lia ingin melupakan semua kesedihan Lia. Lia juga ingin move on dari kak Raffi."
"Terserah kamu Lia. Aku minta maaf atas semua kesedihan yang telah kamu alami selama menjalani pernikahan kita."
"Ini semua bukan salahmu, Kak. Ini mungkin hukuman yang harus aku terima karena telah memisahkan kamu dan Alesha. Tidak seharusnya aku memaksamu untuk menikahiku, Kak. Sekarang aku sadar, kalau cinta tidak bisa dipaksakan. Maafkan aku kak!"
__ADS_1
Mendengar Aulia menyebut nama Alesha, wajah Raffi tiba tiba berubah murung.
'Seandainya saja aku dan Esha belum bercerai, kami pasti akan hidup bahagia sekarang. Kenapa takdir seolah mempermainkan hidupku Tuhan?' gumam Raffi dalam hati.
***
Dua minggu kemudian ....
Raffi dan Aulia telah resmi bercerai. Berita perceraian mereka telah diketahui oleh publik dan menjadi perbincangan hangat di dunia entertaintment. Berita tersebut juga menjadi trending topic di sosial media. Aulia dan Raffi enggan menanggapi pertanyaan dari para netizen sehubungan dengan penyebab perceraian mereka.
Netizen berasumsi bahwa penyebab utama perceraian mereka adalah karena ketidakharmonisan rumah tangga mereka sejak awal pernikahan. Ada juga yang berasumsi bahwa perceraian mereka disebabkan adanya orang ketiga. Namun dari pihak Raffi maupun Aulia, tidak ada yang mau mengklarifikasinya.
Keesokan harinya, Aulia pergi menemui Evan di kantornya untuk membicarakan soal kontrak film sebelum berangkat ke Amerika. Evan merasa senang setelah mengetahui Aulia sudah bercerai dari Raffi. Dia merasa punya kesempatan untuk mendapatkan hati Aulia.
"Lia, aku turut berduka cita atas meninggalnya bayi kamu."
"Terima kasih Van. Aku ke sini untuk membicarakan soal kontrak film. Maaf Van, untuk saat ini aku masih belum bisa melanjutkannya. Hari ini aku berencana akan ke Amerika untuk sementara waktu. Aku ingin menenangkan diri."
"It's okey, Lia, aku paham kalau kamu masih berduka. Aku akan menunggumu sampai kamu siap untuk lanjut syuting"
"Terima kasih, Van."
"Aku senang akhirnya kamu memutuskan untuk bercerai dari suami kamu Lia. Untuk apa kamu mempertahankan orang yang nggak mencintai kamu? Kamu berhak bahagia Lia. Kamu pantas untuk dicintai."
"Aku senang mendengarnya Lia. Dan aku berharap kalau aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan cintamu."
Aulia terkejut mendengar ucapan Evan.
"Apa maksud kamu, Van?"
"Lia, sudah lama aku mencintai kamu. Bahkan sejak pertama kali aku melihatmu waktu kita masih SMA dulu. Tapi aku nggak berani mengungkapkan perasaanku sama kamu karena aku tau sejak dulu kamu hanya mencintai Raffi ...."
"Aku memilih untuk mengubur perasaanku itu Lia. Aku berusaha untuk move on sejak tau kalau kamu akan menikah dengan Raffi. Tapi aku nggak bisa melupakanmu Lia. Aku tau kalau Raffi nggak pernah mencintai kamu. Aku tau kamu nggak bahagia dengan pernikahanmu Lia. Oleh sebab itu, izinkan aku untuk membuatmu bahagia Lia. Aku akan mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Aku nggak akan pernah membuatmu menangis, karena aku sangat mencintaimu."
Mata Aulia berkaca-kaca mendengar ungkapan perasaan Evan.
"Maafkan aku, Van. Untuk saat ini aku belum bisa membuka hatiku untuk orang lain. Aku baru bercerai Van."
"Aku akan menunggumu Lia, sampai kamu bisa move on dari Raffi."
Aulia melirik jam di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.
__ADS_1
"Maaf Van, aku harus pulang. Aku harus bersiap-siap. Orang tuaku pasti sudah menungguku di rumah."
"Baiklah Lia. Take care!"
Aulia pun beranjak meninggalkan kantor Evan.
"Ingat Lia, aku akan selalu menunggumu," seru Evan.
***
Setelah menemui Evan, Aulia pulang ke rumah dan bersiap siap untuk berangkat ke Amerika. Raffi datang untuk mengantar Aulia, Pak Mirza dan Bu Kania. Raffi mengemudikan mobilnya perlahan menuju bandara Soekarno Hatta.
"Kak Raffi, Lia pergi dulu. Jaga diri kak Raffi!" ucap Aulia sambil berusaha mengukir senyuman di bibirnya.
"Kamu juga Lia, jaga diri kamu baik baik. Semoga kamu selalu bahagia." sahut Raffi.
Aulia menganggukkan kepalanya. Raffi pun memeluk Aulia. Aulia membalas pelukan Raffi. Pak Mirza dan Bu Kania jalan duluan meninggalkan mereka berdua.
"Sampai jumpa, Kak," ucap Aulia seraya menitikkan air matanya.
"Sampai jumpa, Lia."
Aulia pun menyeka air matanya lalu melepaskan pelukannya. Aulia mulai berjalan meninggalkan Raffi untuk menyusul orang tuanya. Raffi menatap kepergian Aulia dengan mata yang berkaca kaca. Aulia membalikkan badannya menghadap Raffi kemudian melambaikan tangannya sambil tersenyum. Raffi pun membalasnya.
"Lia, aku nggak nyangka kamu tumbuh menjadi wanita yang tegar dan berfikiran dewasa. Aku salut padamu Lia. Dulu kamu hanya gadis kecil yang cengeng dan manja," gumam Raffi dalam hati.
Tanpa terasa ada butiran air bening yang jatuh dari pelupuk mata Raffi. Raffi pun cepat-cepat menyeka air matanya dan beranjak meninggalkan bandara.
.
.
.
.
.
Bersambung........................
Notes :
__ADS_1
Jangan lupa tekan LIKE, LOVE, dan komentarnya setelah membaca!
Terima kasih .... 😊