
Hari sudah siang, terdengar suara adzan Dzuhur berkumandang. Esha bergegas menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah selesai sholat, Esha menengadahkan kedua tangannya ke atas, memanjatkan do'a kepada Sang Pencipta.
"Ya Allah jika ini sudah menjadi takdir hamba, hamba ikhlas menerimanya. Berilah hamba kekuatan untuk menjalani segala ujian-Mu. Ampunilah dosa-dosa hamba ya Allah, hamba sudah melakukan dosa besar. Hamba sudah berbuat zina sebelum menikah. Engkau maha tau Tuhan, hamba tidak berdaya. Hamba bertaubat pada-Mu."
Esha tak kuasa menahan air matanya. Tangisnya pun pecah.
"Ampunilah hamba ya Allah! Hamba sudah membohongi ibu dan juga Amar. Tapi hamba terpaksa, hamba nggak mau ibu sampai tau yang sebenarnya. Hamba nggak mau membuat ibu sedih dan kecewa."
"Sekarang hamba harus bagaimana Tuhan? Apa yang harus hamba lakukan? Hamba tidak kenal siapa siapa di sini. Hamba harus kemana?"
Esha makin terisak.
Tanpa Esha sadari, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya. Ternyata Raffi berdiri di ambang pintu kamar sejak tadi mendengarkan Esha.
"Ehem." Raffi berdehem.
Sontak Esha menghentikan tangisnya dan menoleh ke arah sumber suara. Cepat cepat Esha menghapus air matanya. Raffi berjalan mendekati Esha. Jantung Esha berdebar-debar. Esha takut kalau Raffi akan berbuat macam-macam lagi padanya.
Raffi menghentikan langkahnya tepat di depan Esha. Esha menundukkan wajahnya.
"Kamu tinggal saja di sini! Ini villa pribadiku. Aku nggak tinggal di sini. Aku ke sini cuma tiap akhir pekan," ucap Raffi.
"Kalau kamu butuh apa-apa kamu panggil saja bi Ijah atau pak Rahmat. Mereka tinggal di belakang villa ini. Tiap hari mereka datang ke sini untuk bersih-bersih," lanjut Raffi.
Esha hanya diam saja. Dia masih menunduk.
Setelah itu Raffi pun beranjak meninggalkan Esha. Esha merasa lega.
***
Tok ... Tok ... Tok ....
Bi Ijah mengetok pintu kamar Esha yang terbuka.
"Makan siang dulu Non! Bibi sudah siapkan di meja makan," kata Bi Ijah.
"Apa kamu Bi Ijah?" tanya Esha.
"Iya Non. Saya bi Ijah, pembantu di sini."
"Saya Alesha Bi, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Kalau non Alesha butuh apa-apa jangan sungkan, panggil saja Bibi!"
"Makasih Bi."
"Permisi Non, Bibi ke belakang dulu."
Krucuk ... Krucuk ...
Perut Esha tiba-tiba keroncongan. Dia merasa sangat lapar. Esha pun memberanikan diri untuk keluar kamar. Matanya mencari-cari dimana letak ruang makan.
'Villa ini sungguh mewah.' Esha terkagum-kagum memandang seisi ruangan villa itu.
Setelah mencari kesana-kemari, akhirnya Esha menemukan ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.
Deg!
Jantung Esha berdebar-debar saat melihat Raffi duduk di meja makan sambil menikmati makanannya.
Lalu Esha melihat bi Ijah sedang sibuk di dapur. Esha pun menghampiri bi Ijah.
"Bi Ijah lagi ngapain? Biar Esha bantu."
__ADS_1
"Nggak usah Non, Bibi cuma bikin jus alpukat buat tuan Raffi. Non Alesha suka nggak jus alpukat? Biar Bibi bikinin sekalian."
"Makasih Bi."
'Jadi nama laki-laki itu Raffi' gumam Esha dalam hati.
"Non Alesha makan saja sama tuan Raffi!"
"Enggak Bi, nanti saja."
"Hey kamu, kemarilah!" seru Raffi seraya menjentikkan jarinya ke arah Esha.
Esha terkejut. Jantungnya makin berdebar kencang.
"Cepat kemari! Apa kamu nggak dengar?" Raffi meninggikan suaranya.
Esha dan bi Ijah tersentak. Mereka pun saling berpandangan. Bi Ijah menganggukkan kepala seolah menyuruh Esha menuruti perintah majikannya.
Esha pun berjalan ragu-ragu menuju meja makan.
"Duduklah! Temani aku makan!" titah Raffi.
Esha pun duduk agak berjauhan dari Raffi sambil menundukkan wajahnya.
"Makanlah!" seru Raffi.
Esha dengan ragu mulai mengambil makanan kemudian makan sambil menunduk. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Hanya terdengar suara sendok dan piring yang beradu. Sesekali Raffi melirik ke arah Esha.
"Ini Tuan, Non Alesha, jus alpukatnya." Bi Ijah meletakkan dua gelas jus alpukat di atas meja makan.
"Makasih Bi, Bibi nggak makan? Ayo makan sama-sama Bi!" ucap Esha.
"Ehem." Raffi berdehem.
"Nanti saja Non, Bibi masih ada pekerjaan."
Bi Ijah paham jika majikannya tidak biasa makan satu meja dengan pembantu.
"Bi, bawakan jus saya ke kolam renang! Saya mau berenang," seru Raffi kemudian berlalu meninggalkan meja makan.
"Baik Tuan."
Esha heran melihat sikap Raffi yang begitu kasar.
'Apa semua orang kaya bersikap seperti itu? Dasar Mr. Arrogant!' batin Esha kesal.
***
Selesai makan siang, Esha jalan jalan keluar villa untuk menghirup udara segar. Villa itu sungguh besar dan mewah. Halamannya sangat luas. Ada taman bunga yang indah. Ditambah kolam ikan dan air mancur yang menambah keindahan taman itu.
Esha duduk di gazebo menikmati keindahan taman. Tiba tiba Esha melihat seorang pria paruh baya yang sedang memotong rumput liar. Esha mendekati pria itu.
"Assalamu'alaikum. Apa Anda Pak Rahmat?" tanya Esha.
"Wa'alaikumsalam. Iya Non, saya Pak Rahmat, tukang kebun di sini."
"Saya Alesha Pak." Esha memperkenalkan dirinya.
"Pak Rahmat sudah lama kerja di sini?" tanya Esha lagi.
"Sebenarnya sudah puluhan tahun Non saya dan istri saya, Ijah, bekerja di rumah keluarga tuan Salman. Tapi semenjak tuan Raffi membeli villa ini, saya dan Ijah dipindahkan ke sini Non, disuruh jagain villa ini."
"Siapa itu tuan Salman?" Esha penasaran.
__ADS_1
"Tuan Salman, ayah tuan Raffi Non. Tuan Salman dan nyonya Debby tinggal di Amerika. Mereka jarang pulang ke Indonesia"
"Apa Non Alesha ini pacarnya tuan Raffi?" Pak Rahmat ingin tau.
"Bukan Pak. Saya baru kemarin ketemu sama tuan Raffi."
"Saya kira Non pacarnya tuan Raffi," ucap Pak Rahmat sambil tersenyum.
"Memangnya tuan Raffi belum punya pacar Pak?" tanya Esha ingin tau.
"Setau bapak, tuan Raffi belum pernah membawa pulang seorang gadis sebelum ini. Makanya saya kira Non ini pacarnya tuan Raffi"
"Bukan Pak."
"Setau Bapak, tuan Raffi cuma punya satu teman perempuan, yaitu non Aulia. Sejak kecil mereka bermain bersama. Mereka sudah seperti kakak beradik. Tapi non Aulia sekarang masih kuliah di London."
"Oh begitu. Ya udah Pak, makasih. Esha permisi masuk dulu."
"Iya Non."
Esha pun masuk ke dalam villa sementara Pak Rahmat melanjutkan pekerjaannya.
***
Esha kembali masuk ke kamarnya, kemudian menjatuhkan diri di atas ranjang. Esha memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Tapi Esha tidak bisa tidur. Dia berjalan ke jendela kamar untuk melihat pemandangan di luar jendela. Ada kolam renang di luar sana. Esha melihat Raffi yang memakai T-shirt putih dan celana pendek hitam sedang berdiri di tepi kolam renang. Raffi sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
"Hallo."
"Hallo Kak Raffi, how are you? Kakak lagi ngapain?"
"I'm okey, Lia. Aku mau berenang."
"I miss you so much, Kak. Rasanya Lia pengen cepet-cepet pulang ke Indonesia."
"Selesaikan dulu kuliahmu!"
"Lama lama Lia bosan di sini nggak ada Kakak."
"Katanya kamu sangat menyukai London?"
"Iya kalau ada Kak Raffi di sini."
"Makanya belajar yang rajin biar kuliahmu cepat selesai. Ya sudah Lia, aku mau berenang dulu. Bye Lia!"
Raffi mengakhiri panggilan setelah itu meletakkan ponselnya di atas meja. Di meja itu sudah ada segelas jus alpukat dan cemilan yang dibawakan oleh bi Ijah. Esha masih memperhatikan Raffi dari jendela kamarnya.
Raffi melepas T-shirt yang dia pakai, menampakkan postur badannya yang kekar berotot dan perutnya yang six pack. Esha terkejut melihatnya lalu cepat-cepat membalikkan badannya. Esha memegang dadanya. Dia dapat merasakan jantungnya yang berdebar kencang. Esha pun kembali ke tempat tidurnya.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG ............
Notes :
Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca!
__ADS_1
Terima kasih 🙏