Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Villa


__ADS_3

Esha masih tertidur pulas di mobil Raffi ketika mereka sampai di sebuah villa. Raffi membawa Esha pulang ke villa pribadinya di daerah Cipanas. Villa itu dibeli Raffi tanpa sepengetahuan orang tuanya karena orang tua Raffi jarang pulang ke Indonesia. Tiap akhir pekan Raffi pulang ke villanya untuk menyegarkan pikiran setelah penat bekerja.


Ada dua orang suami istri yang diberi tugas untuk menjaga villa milik Raffi. Mereka adalah pak Rahmat dan bi Ijah. Pak Rahmat bekerja sebagai tukang kebun dan bi Ijah sebagai pembantu rumah tangga. Mereka tinggal di belakang villa Raffi. Setiap hari mereka datang untuk membersihkan villa Raffi.


Karena setiap hari Minggu Raffi pulang ke villa, pagi-pagi bi Ijah sudah memasak untuk majikannnya. Saat mendengar suara mobil majikannya, bi Ijah pun keluar untuk menyambut kedatangan majikannya. Begitu juga dengan pak Rahmat.


"Selamat pagi Tuan Raffi," sapa bi Ijah dan pak Rahmat ketika melihat Raffi keluar dari mobilnya.


"Pagi," balas Raffi singkat.


Bi Ijah dan pak Rahmat heran melihat majikannya membawa pulang seorang gadis. Tapi mereka tidak berani bertanya.


Raffi tidak tega membangunkan Esha yang masih tertidur pulas di mobilnya. Raffi pun mengangkat tubuh Esha dengan hati-hati kemudian membawanya masuk ke dalam villa.


Tubuh Esha terasa hangat. Raffi membawa Esha masuk ke kamarnya lalu menidurkannya di atas ranjang. Raffi menyentuh kening Esha dengan telapak tangannya. Telapak tangan Raffi terasa panas.


'Pantas saja gadis ini terlihat sangat pucat, badannya panas sekali,' gumam Raffi dalam hati.


Kemudian Raffi memanggil Bi Ijah.


"Bi Ijah!" teriak Raffi.


"Iya Tuan." Bi Ijah berlari menghampiri Raffi di kamarnya.


"Cepat panggilkan dokter!" titah Raffi.


"Iya Tuan. Itu siapa Tuan?" Bi Ijah memberanikan diri bertanya karena penasaran.


"Sudah jangan banyak tanya! Lakukan saja perintahku!"


Bi Ijah tersentak mendengar teriakan majikannya.


"Ba ... baik Tuan." Bi Ijah pun berlalu pergi memanggil Dokter.


Setengah jam kemudian Dokter datang lalu memeriksa kondisi Esha.


"Bagaimana keadaan dia, Dok?" tanya Raffi.


"Dia hanya demam biasa, mungkin karena kelelahan atau kurang tidur. Saya akan memberikan obat penurun panas dan juga vitamin," kata dokter menjelaskan.


"Oke, terima kasih dokter," ucap Raffi.


Setelah memberikan obat, kemudian dokter itu pun pamit. Raffi mengantar dokter itu sampai ke depan villa. Setelah itu Raffi kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


***

__ADS_1


Ketika Raffi keluar dari kamar mandi, Esha masih tertidur. Raffi mendekati Esha kemudian duduk di sampingnya. Raffi sejenak memandang wajah Esha.


'Saat tidur dia terlihat begitu cantik' gumam Raffi dalam hati.


Raffi pun melirik tas Esha. Karena penasaran dia pun membuka tas itu untuk mencari sesuatu. Setelah menemukan dompet Esha, dia pun membuka dompet itu dan mengambil KTP Esha.


'Alesha Hanania ... nama yang cantik,' gumamnya dalam hati.


Kemudian Raffi mengambil ponsel Esha. Raffi melihat di wallpaper ponsel itu ada gambar Esha bersama dengan seorang lelaki dan seorang perempuan paruh baya.


'Mungkin mereka adalah orang tuanya,' pikir Raffi.


Raffi juga melihat ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab di ponsel itu. Tapi ponsel itu terkunci dan untuk membukanya harus memakai pola.


Tiba-tiba saja Esha membuka matanya. Raffi cepat-cepat mengembalikan ponsel itu ke dalam tas Esha dan menutup kembali tas itu.


Begitu membuka mata, Esha terkejut karena ia berada di tempat asing.


"Dimana aku?"


"Kamu di villaku," sahut Raffi.


Esha makin terkejut saat ada seorang laki-laki di kamar itu. Esha pun duduk dan menggeser tubuhnya menjauhi laki-laki itu. Kemudian dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Esha teringat kejadian tadi malam. Esha ingat kalau laki-laki itu yang sudah merenggut kesuciannya.


"Jangan ... aku mohon jangan sentuh aku! Aku bukan *******!" Esha menggigil ketakutan.


'Sepertinya dia trauma atas kejadian tadi malam' pikir Raffi.


Raffi mendekati Esha. Dia berniat menenangkannya.


"Pergi kamu! Jangan dekati aku!" teriak Esha.


Raffi pun memundurkan langkahnya.


"Maaf atas kejadian tadi malam. Tadi malam aku benar-benar hilang kendali."


"Ya sudah aku keluar. Kamu istirahatlah! Jangan lupa makan lalu minum obatnya!" Raffi pun beranjak keluar meninggalkan Esha sendirian di kamar.


Krucuk ... Krucuk ....


Perut Esha berbunyi. Dia baru ingat kalau sejak kemarin dia belum makan apa-apa. Karena merasa sangat lapar, Esha pun meraih piring di atas meja kemudian menghabiskan makanannya. Setelah itu dia pun meminum obatnya.


Lalu tiba-tiba Esha teringat pada ibunya. Cepat-cepat ia mengambil ponsel di dalam tasnya.

__ADS_1


"Banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan dari ibu dan juga Amar. Pasti mereka mengkhawatirkan aku karena semalam aku tidak menghubungi mereka," gumam Esha.


Esha pun segera menghubungi ibunya.


Tut ... Tut ... Tut .... (menghubungkan)


"Assalamu'alaikum Esha."


"Wa'alaikumsalam Bu."


"Sayang, apa kamu sudah sampai di Jakarta? Kenapa kamu nggak menghubungi Ibu? Ibu khawatir sekali sama kamu, Sayang."


"Iya maafkan Esha Bu, kemarin Esha terlalu capek dan ketiduran. Jadi Esha nggak sempet ngabarin ibu. Kemarin Esha sampai di stasiun jam setengah sepuluh malam Bu. Lalu sampai kontrakan sudah tengah malam."


"Ibu semalaman nggak bisa tidur karena mencemaskanmu, Sayang. Ibu takut kamu kenapa-kenapa"


"Esha baik-baik saja Bu. Sekali lagi maafin Esha, Esha nggak sempet ngabarin Ibu. Sekarang Esha ada di kontrakan bersama Rosi dan tante Erna. Sebentar lagi kami mau berangkat ke butik."


"Ya sudah, kamu jaga diri kamu baik-baik ya! Ibu sayang kamu. Jika ada apa-apa langsung hubungi Ibu!"


"Esha juga sayang Ibu, Esha tutup dulu ya Bu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Esha pun mengakhiri panggilan dengan ibunya, kemudian menghubungi Amar. Esha pun berbohong kepada Amar seperti dia berbohong kepada ibunya.


"Maafin Esha Bu, maafin Esha Mar. Esha sudah berbohong pada kalian. Esha terpaksa. Esha nggak mau kalian tau apa yang sebenarnya terjadi pada Esha di sini. Esha nggak mau kalian mencemaskan Esha." Tanpa terasa ada butiran air bening yang jatuh dari pelupuk mata Esha.


.


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG ...............


Notes :

__ADS_1


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca!


Terima kasih 🙏🙏


__ADS_2