
Sheraton Bali Kuta Resort
Pesawat Garuda Indonesia yang ditumpangi Raffi dan Esha tiba di bandara Ngurah Rai, Bali pada pukul 15.00 waktu setempat. Sampai di depan bandara, sudah ada mobil yang menjemput mereka. Lina belas menit kemudian mereka sampai di Sheraton Bali Kuta Resort.
Raffi sudah booking kamar sebelumnya secara online. Raffi sengaja memilih kamar deluxe king ocean view, kamar dengan satu tempat tidur king size dengan pemandangan laut. Sheraton Bali Kuta Resort merupakan hotel bintang lima yang berjarak 50 meter dari pantai Kuta. Jadi kalau mau ke pantai Kuta tinggal jalan kaki saja.
"Masya Allah ... bagus sekali pemandangannya," gumam Esha ketika sampai di kamar hotel.
Esha langsung berlari ke tepi jendela melihat pemandangan laut yang indah.
"Apa kamu suka?" tanya Raffi yang sudah berdiri di sebelah Esha.
"Emh ... iya. Terima kasih telah mengajak Esha ke sini. Ini pertama kalinya Esha ke Bali."
"Kamu istirahatlah! Aku mandi dulu," ucap Raffi sambil berlalu masuk ke kamar mandi.
Esha pun melihat seisi kamarnya. Esha baru sadar kalau di kamar itu cuma ada satu tempat tidur.
"Kenapa cuma ada satu ranjang?" gumam Esha.
Jantung Esha berdebar kencang. Dia teringat saat Raffi memperkosanya secara kasar sebanyak dua kali. Dia tidak mau kejadian itu terulang kembali.
Malam itu Esha memilih tidur di sofa. Dia tidak mau tidur satu ranjang dengan Raffi sebelum mereka halal. Kali ini Raffi hanya bisa menuruti kemauan Esha. Dia tidak mau memaksa Esha untuk malam ini.
'Sabar Raffi, toh perempuan ini mulai besok akan jadi milikmu seutuhnya,' gumam Raffi dalam hati.
***
Keesokan harinya ....
Esha terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya dan hijab serba putih. Raffi terpesona dengan kecantikan calon istrinya. Raffi tidak berkedip memandang Esha dari ujung kaki hingga ujung kepala. Esha hanya menunduk. Jantungnya berdebar kencang karena Raffi terus saja memperhatikannya.
"You look so beautiful," puji Raffi.
Esha diam saja.
Raffi pun terlihat sangat tampan dengan kemeja putih dan setelan jas hitamnya. Mereka terlihat sangat serasi.
Raffi membawa Esha ke sebuah masjid. Mereka akan menikah di sana. Esha sangat berterima kasih karena Raffi telah mewujudkan impiannya untuk menikah di masjid. Pak penghulu dan para saksi juga sudah menunggu di dalam. Raffi sudah mengatur semuanya.
Prosesi ijab qobul pun dimulai. Karena Esha hidup sebatang kara dan hanya punya ibu, maka wali nikahnya diserahkan kepada wali hakim.
Prosesi ijab qobul pun berjalan dengan lancar. Kini Esha telah sah sebagai istri Raffi secara agama. Esha mencium tangan Raffi kemudian Raffi mencium kening Esha. Pernikahan itu berlangsung secara singkat dan sederhana tanpa diketahui oleh keluarga dari kedua belah pihak.
Esha menitikkan air mata karena teringat kepada ayah dan ibunya.
'Ayah, ibu... Esha sudah menikah dengan kak Raffi. Maafkan Esha bu, di hari pernikahan Esha ibu nggak bisa menyaksikannya,' gumam Esha dalam hati.
***
Sore itu ....
__ADS_1
Esha berdiri di dekat jendela kamarnya menikmati keindahan pantai Kuta. Raffi berbaring santai di tempat tidur sambil memperhatikan istrinya.
"Apa kamu sangat suka pantai?" tanya Raffi.
Esha mengangguk.
"Dulu Esha sering main ke pantai sama teman-teman Esha waktu masih kuliah di Jogja."
"Apa sekarang kamu mau ke pantai?"
Esha mengangguk sambil tersenyum menampakkan lesung pipitnya.
Deg!
Jantung Raffi tidak karuan saat melihat senyuman itu. 'Senyuman yang sangat mengagumkan' pikirnya.
Mereka berjalan beriringan menikmati keindahan pantai Kuta. Banyak wisatawan dari dalam maupun luar negri di pantai itu. Esha terlihat sangat senang. Dia asyik berlarian dan bermain ombak di tepi pantai. Kerudungnya melambai lambai terkena angin pantai yang sepoi-sepoi. Raffi hanya tersenyum memperhatikan tingkah Esha sambil duduk di hamparan pasir yang putih.
Bene Italian Kitchen
Hari sudah senja, matahari sebentar lagi terbenam. Setelah mandi dan sholat Maghrib, Raffi mengajak Esha dinner di sebuah restoran.
"Ikut aku ke suatu tempat!"
"Kemana Kak?" tanya Esha sambil mengernyitkan dahinya.
"Sudah jangan banyak tanya, ikut saja!"
Mereka pun sampai di sebuah restoran Italy bernama Bene Italian Kitchen. Restoran yang mewah dengan pemandangan laut di sekelilingnya. Raffi memilih duduk di luar agar bisa makan sambil menikmati keindahan sunset.
"Masya Allah ... indah sekali pemandangannya." Esha terkagum-kagum melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Raffi sambil melihat daftar menu.
"Terserah Kak Raffi saja."
"Oke."
Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Mata Esha terbelalak melihat banyaknya makanan yang Raffi pesan. Sampai-sampai meja mereka penuh dengan makanan.
"Banyak sekali Kak. Siapa yang akan menghabiskan semua ini? "
"Sudah makan saja!"
Mereka menikmati makanannya sambil melihat keindahan sunset di tepi pantai Kuta. Suasananya begitu romantis.
"Hmm ... enak sekali makanannya Kak. Tapi sayangnya perut Esha sudah kenyang. Padahal makanannya masih banyak. Sayang kan kalau nggak dimakan. Semua makanan ini pasti mahal."
"Kalau sayang habiskan saja semuanya!"
Esha pun memaksa semua makanan itu masuk ke perutnya hingga perutnya kekenyangan. Raffi hanya tersenyum melihat tingkah Esha.
__ADS_1
***
Sampai di kamar hotel, Raffi menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara Esha masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Esha hendak menunaikan sholat Isya.
"Kak Raffi, boleh Esha tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Apa Kak Raffi bisa sholat?"
"Kenapa memangnya?"
"Esha ingin sekali sholat berjamaah sama kak Raffi. Esha mau Kak Raffi jadi imam Esha"
"Aku nggak pernah sholat, karena orang tuaku nggak pernah menyuruhku untuk sholat. Mereka juga nggak pernah sholat."
"Tapi bukankah Kak Raffi beragama Islam? Sholat itu hukumnya wajib bagi umat muslim Kak."
"Sudahlah kalau kamu mau sholat, sholat saja! Aku nggak mau," seru Raffi kemudian masuk ke kamar mandi.
Esha hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Raffi. Esha pun sholat sendirian. Esha berdoa kepada Allah agar memberikan hidayah kepada suaminya itu.
Raffi berbaring di atas tempat tidur menunggu Esha. Setelah sholat, Esha melepas mukenanya. Dia melirik Raffi yang sejak tadi memperhatikannya. Tanpa basa-basi lagi, Raffi langsung berdiri menghampiri Esha dan membopong tubuh Esha.
"Kak Raffi ... turunkan aku!!" seru Esha sambil meronta ronta.
Raffi pun melempar tubuh Esha ke atas tempat tidur kemudian menindihnya. Raffi mencengkeram kedua tangan Esha hingga Esha tidak bisa berkutik.
"Sekarang kamu sudah jadi milikku, jadi jangan menolak! Nikmati saja!"
Raffi pun ******* habis bibir Esha. Esha hanya bisa pasrah menerima perlakuan suaminya.
Malam itu menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua. Hanya terdengar desahan dan jeritan kecil dari mulut mereka berdua sampai mereka mencapai klimaks berkali-kali.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG ..........................
Notes :
Jangan lupa tekan LIKE, LOVE, dan komentarnya setelah membaca!
Terima kasih .... 😊
__ADS_1