
Pada trimester pertama kehamilannya, Aulia mengalami morning sickness yang cukup parah sehingga Amar menyuruhnya untuk bedrest. Tiap pagi begitu bangun tidur Aulia selalu muntah-muntah. Amar merasa prihatin melihat kondisi istrinya.
"Sayang apa kamu baik-baik saja?" tanya Amar kepada Aulia yang sedang muntah di kamar mandi.
"Aku nggak pa pa. Ini wajar kok sayang, nggak usah terlalu mencemaskanku" teriak Aulia dari kamar mandi.
Amar menghampiri Aulia di kamar mandi. Aulia sedang membersihkan mulutnya dengan tisyu.
"Tapi aku nggak tega melihatmu seperti ini terus sayang"
"Aku nggak pa pa. Kalau udah muntah, nanti juga baikan"
"Kalau begitu kamu istirahat saja di kamar, biar aku yang bikin sarapan"
"Memangnya kamu bisa masak?"
"Kalau cuma bikin nasi goreng sama telor mata sapi aku masih bisa"
"Oya? Aku nggak sabar pengen nyobain masakan kamu" ucap Aulia dengan muka yang berseri-seri.
"Okey. Kamu tunggu di sini ya, biar chef Amar beraksi dulu"
Aulia hanya tersenyum mendengar celotehan suaminya. Amar melangkah ke dapur setelah mengantar Aulia ke tempat tidur.
"Awas ya kalau nggak enak, aku nggak mau makan!!" teriak Aulia.
"Kita lihat saja nanti, pasti masakanku jauh lebih enak daripada masakanmu"
"What?"
Sampai di dapur, Amar mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak. Pertama-tama dia mencuci beras dan memasaknya menggunakan rice cooker. Sambil menunggu nasinya matang, dia pun meracik bumbu-bumbu kemudian menumbuknya dengan cobek. Ternyata Amar jago masak juga. Dulu waktu masih ngontrak, dia sering masak sendiri.
Teng... Teng... Teng...
Terdengar suara wajan dan spatula beradu.
Mendengar suara berisik di dapur, Aulia jadi penasaran. Dia pun bangun dan melangkahkan kakinya ke dapur dengan senyap-senyap. Aulia mengintip Amar dari balik dinding. Melihat suaminya yang tengah berperang di dapur sambil mengenakan celemek, Aulia tertawa geli. Aulia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya agar Amar tidak mendengar tawanya.
"Hey, ngapain kamu di situ?" tanya Amar saat melihat Aulia sedang bersembunyi di balik dinding sambil cekikikan.
'Ups... rupanya dia mendengarku' batin Aulia.
Aulia pun melangkah menghampiri Amar.
"Emm... wanginyaaa... aku jadi lapar"
"Kenapa kamu ke sini? Aku kan belum memanggilmu"
"Aku penasaran. Soalnya kamu masaknya ala ala chef sih, berisik banget"
"Hahaha... aku kan memang chef"
Ceklik!
Amar mematikan kompor dan mulai menyajikan nasi gorengnya ke dalam dua buah piring. Kemudian memberinya topping telor mata sapi, daun selada dan irisan tomat.
"Taraaa... nasi goreng spesial ala chef Amar siap disantap. Ayo sayang kita sarapan dulu, mumpung masih panas!"
Amar meletakkan dua piring nasi goreng itu di atas meja makan kemudian duduk di kursi. Aulia mengikutinya dan duduk di samping Amar. Mereka pun mulai sarapan bersama.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya?"
"Emm... Sama sekali nggak enak"
Mendengar ucapan Aulia, Amar spontan mengerutkan bibirnya.
"Hahaha... aku cuma bercanda. Enak kok sayang. Aku nggak nyangka kamu jago juga masak nasi goreng. Tau gini kamu aja yang masakin aku tiap hari"
"Berani bayar berapa?"
"Emm... aku bayar dengan seluruh jiwa dan ragaku. Gimana? Apa masih kurang?"
"Hemm... udah pinter gombal ya kamu sekarang"
"Hahaha..."
"Sayang gimana kalau kita cari asisten rumah tangga untuk membantu kita mengurus pekerjaan rumah?"
"Aku rasa nggak perlu sayang, aku masih bisa handle semuanya sendiri kok. Lagian rumah ini juga nggak terlalu besar"
"Tapi aku nggak mau kamu kecapean sayang"
Aulia terdiam sejenak untuk mencerna kata-kata Amar. Aulia tau Amar sangat mencemaskan dia dan calon bayinya.
"Baiklah. Kalau itu keputusan kamu, aku nurut aja. Tapi kita panggil Bi Minah sama Pak Imam aja untuk membantu kita di sini. Gimana?"
"Terus rumah Papa sama Mama gimana?"
"Kita suruh Pak Imam gembok aja rumah itu. Lagian Papa sama Mama juga jarang pulang. Nanti tiap hari Minggu kita suruh mereka ke sana buat bersih-bersih"
"Baiklah, terserah kamu saja sayang"
"Ya udah, aku mandi dulu sayang. Udah siang nih"
"Iya, piringnya biar aku yang cuci"
Amar pun beranjak ke kamar sementara Aulia mengemasi meja makan dan mencuci piring.
Setelah mandi dan berpakaian, Amar pun mengambil tas dan kunci mobilnya kemudian melangkah menghampiri Aulia yang sedang menyapu lantai.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu istirahat saja di kamar. Jangan capek-capek"
"Iya sayang aku cuma nyapu doang kok. Hati-hati ya!"
"Assalamu'alaikum" Amar mengecup kening Aulia.
"Wa'alaikumsalam"
***
Saat jam makan siang, Amar tidak pernah lupa mengirim pesan via whatsapp kepada Aulia.
Cling!
Aulia meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Aulia pun membaca pesan dari Amar kemudian membalasnya.
Amar : Sayang, udah makan belum?
Aulia : Belum.
__ADS_1
Amar : Kenapa belum? Makan gih... kasian bayi kita.
Aulia : Iyaaa...
Amar : Udah sholat belum?
Aulia : Ini baru mau sholat.
Amar : Ya udah, kamu sholat gih.. abis itu langsung makan ya!
Aulia : Siap Pak!
Aulia sangat bahagia mendapat perhatian penuh dari suaminya. Rasa bahagia itu tidak bisa ditebus dan digantikan dengan apapun.
'Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberiku suami yang begitu baik dan penuh perhatian seperti Amar. Aku sangat bahagia' gumam Aulia dalam hati.
***
Malam itu hujan turun dengan begitu derasnya. Hawa dingin seolah menusuk tulang. Tiba-tiba Amar menginginkan sesuatu. Dia menoleh ke arah Aulia yang sudah memejamkan matanya.
"Sayang apa kamu sudah tidur?" tanya Amar.
"Belum. Kenapa?" sahut Aulia dengan mata terpejam.
"Aku pikir kamu sudah tidur. Emm.. boleh nggak aku minta itu"
"Minta apa?" sahut Aulia masih enggan membuka matanya.
"Ya itu. Masak kamu nggak tau sih?"
Aulia sengaja mengerjai Amar. Padahal dia tau betul apa yang diinginkan suaminya itu.
"Itu apa?"
"Sudahlah lupakan saja!" Amar pun memiringkan tubuhnya membelakangi Aulia kemudian memejamkan matanya.
'Yesss... berhasil' batin Aulia.
Aulia pun membuka matanya. Dia tersenyum senang karena berhasil mengerjai suaminya. Aulia menggeser tubuhnya mendekati Amar kemudian memeluk Amar dari belakang. Amar sontak membuka matanya. Ada senyuman yang terukir di bibirnya. Dia pun membalikkan tubuhnya menghadap Aulia.
"Sayang apa kamu sudah siap?" tanya Amar.
Aulia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Tapi pelan-pelan saja ya. Aku takut anak kita kenapa-kenapa. Dia kan masih sangat kecil"
"Iya sayang. Aku akan melakukannya dengan perlahan"
Amar mulai melepas pakaiannya satu per satu dan mencampakkannya ke lantai. Kemudian Amar melepas semua pakaian Aulia. Malam itu mereka menyatukan tubuh mereka. Kini mereka tidak kedinginan lagi walaupun tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka. Mereka hanya merasakan kehangatan dan kenikmatan yang luar biasa.
- - -
Notes :
Aku kasih extra part lagi yaa...
Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...!!!
Terima kasih 😊
__ADS_1