
Bu Kania menghubungi Bu Debby untuk memberi kabar kalau Aulia telah bertunangan dan akan segera menikah. Bu Debby sangat syok mendengarnya.
Debby : "Hallo Kania"
Kania : "Assalamu'alaikum Debby"
Debby : "Wa'alaikumsalam"
Kania : "Debby, aku mau memberi tahumu kalau Aulia baru saja bertunangan dan dua bulan lagi dia akan segera menikah..."
Debby : "Apa? Aulia mau menikah? Sama siapa Kania? Kenapa begitu cepat Aulia menemukan pengganti Raffi?"
Kania : "Iya Debby. Takdir sudah mempertemukan Aulia dengan pemuda yang baik. Dan mereka juga saling mencintai"
Debby : "Lalu siapa calon suami Aulia?"
Kania : "Namanya Amar. Kalau kamu ingin tau, kamu pulanglah ke Jakarta. Sudah lama juga kan kamu nggak ketemu sama Raffi. Apa kamu nggak kangen sama anak kamu?"
Debby : "Sebenarnya aku juga kangen sekali sama Raffi. Nanti biar aku bicarakan sama papanya Raffi dulu..."
Kania : "Okey. Assalamu'alaikum Debby"
Debby : "Wa'alaikumsalam"
*****
Setelah berbicara pada Pak Salman, akhirnya Bu Debby memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Bu Debby sangat penasaran pada calon suami Aulia. Siapa laki-laki yang berhasil menggantikan posisi Raffi di hati Aulia? Bu Debby sebenarnya juga kangen sekali sama Raffi. Sudah lebih dari empat bulan dia tidak bertemu dengan Raffi semenjak Raffi memutuskan untuk bercerai dengan Aulia. Selama ini Bu Debby hanya menanyakan kabar Raffi melalui asisten rumah tangganya ataupun orang kantor.
Sore itu, Bu Debby tiba di rumahnya. Bu Debby dijemput dari bandara oleh Pak Imron. Semua asisten rumah tangga keluar untuk menyambut kedatangan majikannya. Pak Imron mengeluarkan koper Bu Debby dari bagasi mobil lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang Nyonya Debby..." sapa semua asisten rumah tangganya.
"Apa kabar Nyonya?" tanya Bi Nanik.
"Saya baik baik saja. Dimana Raffi?"
Mendengar pertanyaan Bu Debby, semua asisten rumah tangganya menundukkan kepala. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Bu Debby.
"Kenapa kalian semua diam? Dimana Raffi?"
Saking kesalnya, Bu Debby meninggikan suaranya. Bi Nanik dan Bi Fatimah sampai kaget mendengar teriakan Bu Debby.
"E... anu Nyonya... Tuan Raffi... Tuan Raffi tidak ada di rumah nyonya" jawab Bi Nanik dengan mimik muka ketakutan.
"Lalu dimana dia?"
"Kami juga tidak tau Nyonya. Sudah lebih dari empat bulan Tuan Raffi nggak pulang ke rumah Nyonya. Tuan Raffi kadang ke sini cuma ambil baju terus pergi lagi..."
"Apa??" seru Bu Debby seraya membulatkan kedua matanya.
"Kenapa selama ini kalian tidak memberi tahuku? Kalian selalu bilang kalau Raffi di rumah baik-baik saja"
"Tuan Raffi melarang kami semua untuk memberi tahu Tuan Salman dan Nyonya Debby"
Bu Debby naik darah mendengar pernyataan asisten rumah tangganya. Ternyata selama ini semua asisten rumah tangganya telah membohonginya. Ia pun mengambil ponsel di dalam tasnya lalu segera menghubungi Raffi.
*****
Kriiingggg... Kriiiingggg.....
Saat itu Raffi sedang mandi ketika ponselnya berbunyi. Esha pun meraih ponsel Raffi yang tergeletak di atas meja. Esha terkejut setengah mati saat melihat tulisan "MAMA" tertera di layar ponsel Raffi.
"Mama?? Apa Bu Debby sudah pulang dari Amerika??" gumam Esha dalam hati.
Esha meletakkan kembali ponsel itu di atas meja lalu duduk di tepi tempat tidur. Esha tidak berani menjawabnya sampai ponsel itu berhenti berdering.
Saat keluar dari kamar mandi, Raffi heran melihat raut wajah istrinya yang mendadak berubah pucat. Raffi pun berjalan mendekati Esha lalu duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa muka kamu pucat? Apa kamu sakit hm?"
"Itu kak... mama kamu tadi menelpon" sahut Esha lirih.
"Apa?? Mama??"
Raffi segera meraih ponselnya untuk mengecek log panggilan.
"Ternyata benar, mama baru saja menghubungiku. Berarti mama sudah pulang dari Amerika" batin Raffi.
Raffi pun menelpon balik Bu Debby.
__ADS_1
Tut... Tut... Tut.... (menghubungkan)
Debby : "Hallo Raffi, kamu dimana?"
Raffi : "Mama? Kapan mama pulang dari Amerika Ma?"
Debby : "Jawab pertanyaan mama Raffi! Dimana kamu?"
Raffi : "Raffi... Raffi ada di apartemen Ma. Raffi akan segera pulang Ma. Mama tunggu Raffi di rumah ya! Raffi punya kejutan untuk mama"
Debby : "Kejutan apa maksud kamu?"
Raffi : "Pokoknya mama tunggu saja di rumah. Raffi pulang sekarang. Assalamu'alaikum"
Debby : "Wa'alaikumsalam"
Raffi pun mengakhiri panggilannya.
"Sayang kamu siap siap sekarang, aku akan membawamu dan Zayn menemui mama di rumah"
"Tapi kak... aku takut kalau mama kamu nggak nerima aku"
"Kamu nggak usah takut sayang, kan ada aku"
"Baiklah... aku ganti baju dulu"
Esha pun mengganti pakaiannya lalu menggendong baby Zayn. Setelah itu, Raffi dan Esha meminta izin kepada Bu Dahlia yang tengah memasak di dapur.
"Ibu, Raffi minta izin sama ibu untuk membawa Esha dan Zayn menemui mama. Mama Raffi baru saja pulang dari Amerika..."
Bu Dahlia terkejut mendengar ucapan Raffi. Ada ketakutan yang terpancar di raut wajahnya.
"Nak Raffi, tolong jaga Esha dan cucu ibu. Ibu takut kalau mama kamu nggak mau nerima Esha dan Zayn"
"Jangan khawatir Bu. Raffi pasti akan melindungi Esha dan Zayn"
"Kami pergi dulu Bu, assalamu'alaikum" ucap Raffi dan Esha.
"Wa'alaikumsalam, hati hati sayang"
"Iya Bu" sahut Esha.
*****
Bu Debby sudah menunggu di dalam sambil berdiri memandang ke luar jendela. Bu Debby terkejut saat melihat Esha keluar dari mobil Raffi sambil menggendong seorang bayi.
Raffi menggandeng tangan Esha lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum Ma.." sahut Raffi dan Esha begitu melihat Bu Debby.
Bu Debby pun menoleh ke arah Raffi dan Esha lalu menghampiri mereka.
"Kenapa kamu membawa perempuan itu ke rumah ini Raffi? Bukankah kamu sudah menceraikannya?"
"Raffi sudah rujuk sama Esha Ma, karena dulu pada saat Raffi menceraikan Esha ternyata Esha sedang mengandung anak Raffi. Dan sekarang kami sudah punya anak Ma. Lihatlah Ma, ini Zayn, cucu mama..."
"Apa??"
Bu Debby sangat syok begitu mendengar kata-kata Raffi. Ia seolah tidak mau mempercayai kata-kata yang keluar dari mulut Raffi.
"Tidak! Mama tidak mau cucu dari perempuan itu Raffi. Suruh dia pergi dari sini. Mama tidak mau dia jadi menantu mama"
Esha dan Raffi terkejut mendengar penolakan dari Bu Debby. Esha sudah mengira kalau ini bakal terjadi. Ia sudah menyiapkan mentalnya sejak awal. Tapi saat mendengar Bu Debby menolak Zayn, cucu kandungnya sendiri, Esha tak kuasa membendung air matanya lagi.
"Apa yang mama katakan Ma? Zayn ini cucu kandung mama. Bukankah mama sangat menginginkan cucu laki-laki? Esha sudah memberikan mama cucu laki-laki Ma. Dia adalah darah daging mama" imbuh Raffi.
"Mama memang menginginkan cucu laki-laki untuk menjadi penerus keluarga Anggara, tapi bukan dari perempuan kampung itu Raffi"
"Tapi Raffi sangat mencintai Esha Ma. Raffi hanya mau Esha yang menjadi ibu dari anak-anak Raffi dan bukan perempuan lain..."
"Kalau mama tidak mau menerima Esha sebagai menantu mama dan Zayn sebagai cucu mama, kami akan pergi dari sini Ma"
"Raffi... apa kamu lebih memilih perempuan itu daripada mama? Mama yang telah melahirkan dan membesarkan kamu Raffi. Apa ini balasan kamu? Kenapa sejak kenal sama perempuan itu kamu jadi anak yang suka melawan perintah mama?"
"Maafkan Raffi Ma. Sebenarnya Raffi tidak ingin melawan mama. Raffi sayang sama mama. Tapi sekarang Raffi sudah punya anak dan istri Ma. Raffi harus bertanggung jawab pada anak dan istri Raffi"
"Kalau kamu sayang sama mama, tinggalkan perempuan itu Raffi!"
"Maaf, tapi Raffi nggak bisa Ma"
__ADS_1
"Kalau kamu lebih memilih perempuan itu daripada mama, mama tidak akan menganggapmu sebagai anak mama lagi Raffi. Mama akan mengambil semua aset kamu, rumah, perusahaan, mobil, termasuk apartemen kamu Raffi"
"Apa?? Kenapa mama tega bicara seperti itu sama Raffi Ma? Raffi ini anak kandung mama satu satunya Ma"
"Pilihan ada di tangan kamu Raffi"
"Baik Ma, kalau itu sudah menjadi keputusan mama, Raffi akan menyerahkan semuanya sama mama. Raffi lebih baik kehilangan seluruh harta kekayaan Raffi daripada harus kehilangan anak dan istri Raffi Ma..."
Raffi pun meletakkan kunci mobilnya di atas meja.
"Ini kunci mobil Raffi Ma, besok pagi Raffi akan mengosongkan apartemen, dan mulai besok Raffi tidak akan menginjakkan kaki Raffi di kantor Ma..."
"Selamat tinggal Ma, assalamu'alaikum"
Raffi pun menggandeng tangan Esha lalu melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
"Raffi!!!" teriak Bu Debby.
Namun Raffi tidak menghiraukan teriakan Bu Debby. Bu Debby hanya memandang kepergian Raffi tanpa bergeming.
"Kita lihat saja Raffi, sejauh mana kamu bisa bertahan??" gumam Bu Debby dalam hati.
*****
Raffi dan Esha pulang ke apartemen dengan menaiki taxi. Sampai di apartemen, mereka menceritakan semuanya kepada Bu Dahlia. Bu Dahlia sudah menduga kalau semua ini akan terjadi.
"Lalu sekarang bagaimana kak? Kita mau tinggal dimana?" tanya Esha.
"Besok Raffi akan membawa kalian ke villa pribadi Raffi di Cipanas. Mama sama papa tidak tau kalau Raffi punya villa pribadi di Cipanas. Bagaimana sayang?"
"Terserah kak Raffi saja" sahut Esha.
"Bagaimana menurut ibu?"
"Terserah kalian saja, ibu akan ikut kemanapun kalian pergi" sahut Bu Dahlia.
Keesokan paginya, mereka pun mengosongkan apartemen itu. Raffi menyewa sebuah mobil pick-up untuk mengangkut semua barang-barangnya. Kemudian Raffi membawa Esha, Zayn dan Bu Dahlia ke villa pribadinya di Cipanas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung............
Notes :
Jangan lupa dukung author dan novel favorit kamu ini dengan VOTE POIN sebanyak-banyaknya...!!!
Jangan lupa juga tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...
Terima kasih 😊
__ADS_1