Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Baby Zayn


__ADS_3

Raffi memberhentikan mobilnya ketika sampai di depan ruang IGD RS Pondok Indah.


"Aaaaahhh... kontraksi lagi kak... sakiiiittt..." jerit Esha.


Esha pun melakukan tehnik pernafasan setiap kali perutnya kontraksi. Esha menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya melalui mulutnya sampai berbunyi, "huuuuhhh"


"Sayang kita sudah sampai. Kamu bertahanlah..."


Raffi cepat cepat turun dari mobil lalu membopong tubuh Esha memasuki ruang IGD.


"Suster tolong istri saya, sepertinya dia mau melahirkan..." seru Raffi.


Suster bergegas membawa mereka ke ruang observasi. Raffi membaringkan tubuh Esha ke tempat tidur lalu suster mulai memeriksa kondisi Esha. Raffi diminta keluar untuk mengurus pendaftaran.


Bu Dahlia, Amar dan Aulia sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang IGD.


"Nak Raffi dimana Esha?" tanya Bu Dahlia dengan cemas.


"Esha ada di ruang observasi Bu. Suster sedang memeriksanya. Raffi mau mengurus pendaftaran dulu" sahut Raffi.


"Baiklah nak Raffi"


Di ruang observasi, suster hendak melakukan pemeriksaan dalam. Suster menyuruh Esha untuk melepas celana dalamnya. Suster pun memakai glove kemudian memasukkan dua jarinya ke dalam serviks sampai ke mulut rahim Esha.


"Aaahhh..." Esha sedikit menjerit karena terasa perih.


"Sudah pembukaan 3 Bu. Kami akan memindahkan ibu ke ruang bersalin"


Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi saat suster memindahkan Esha ke ruang bersalin. Suster pun memasangkan infus. Setelah selesai melakukan pendaftaran, Raffi menyusul Esha ke ruang bersalin untuk menemaninya. Bu Dahlia, Amar dan Aulia menunggu mereka di luar.


Esha berbaring dengan posisi miring ke kiri supaya pembukaannya cepat bertambah. Raffi duduk di sampingnya.


"Kak Raffi... sakiiiiitttt...." jerit Esha ketika perutnya kontraksi lagi.


"Kamu harus kuat sayang... kamu harus berjuang demi anak kita" seru Raffi seraya menggenggam tangan Esha.


Esha pun mengajak bicara bayi di dalam perutnya.


"Sayang kita sama sama berjuang ya... biar kamu cepat lahir ke dunia ini" ucap Esha seraya mengelus perutnya.


Satu jam pun berlalu, Esha merasakan kontraksi yang makin hebat. Pinggangnya serasa mau putus. Sakitnya hanya dia dan Tuhan yang tau.


"Kak Raffiiii.... sakiiiiitttt.... tolong panggilkan ibu!"


"Iya sayang akan ku panggilkan ibu. Aku juga harus pulang dulu untuk mengambil pakaian dan perlengkapan bayi"


Raffi pun keluar untuk memanggil Bu Dahlia.


"Ibu, Esha memanggil ibu. Tolong temani Esha dulu karena Raffi mau pulang sebentar untuk mengambil pakaian dan perlengkapan bayi"


"Iya nak Raffi, hati hati ya!"


"Lia, Amar, sebaiknya kalian pulang dulu untuk istirahat. Kalian pasti capek kan? Esha juga baru pembukaan 3, kata suster masih lama lagi karena harus menunggu sampai pembukaan 10 baru bisa melahirkan"


"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu Bu. Nanti kami ke sini lagi. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Raffi, Amar dan Aulia pun pulang dulu, sementara Bu Dahlia masuk untuk menemani Esha.


"Ibuuu... perut Esha sakit sekali Bu. Esha nggak kuat Buuu..." jerit Esha.


"Istighfar sayang. Kamu harus kuat, kamu harus berjuang demi bayi kamu"


Esha pun memperbanyak istighfar saat perutnya kontraksi. Dalam hati Esha selalu berdoa kepada Tuhan demi kelancaran persalinannya.


"Ibuuu... kenapa rasanya sakit sekali Bu? Astaghfirullah aladziiim... " rintih Esha.

__ADS_1


Esha tak mampu menahan air matanya lagi. Esha pun menangis sambil merintih kesakitan. Bu Dahlia pun ikut menitikkan air matanya melihat putrinya yang tengah kesakitan.


"Ya Allah, berikanlah kemudahan serta kelancaran pada putriku dalam persalinannya... semoga bayinya segera lahir dengan selamat dan sehat. Aamiin" doa Bu Dahlia dalam hati.


Pukul 12 siang, suster datang untuk mengantar makan siang pasien. Sementara suster yang lain datang untuk melakukan pemeriksaan dalam.


"Sudah pembukaan 5 Bu" kata suster.


"Ya Allah, kenapa lama sekali suster? Sakiiiiiittt..." jerit Esha.


"Biasanya kalau anak pertama memang relatif lama Bu. Beda kalau ibu melahirkan anak kedua atau ketiga, pasti akan lebih cepat"


"Berapa lama lagi susteer? Aku sudah nggak tahaaan... sakiiiitttt...."


"Istighfar sayang, sabar ya!" seru Bu Dahlia.


"Memang sakit Bu, tapi rasa sakit itu seketika akan hilang saat bayi ibu lahir nanti, percayalah..." kata suster berusaha menghibur Esha.


"Betul apa yang dikatakan suster sayang. Sekarang kamu makan dulu, ayo biar ibu suapi!" ucap Bu Dahlia seraya meraih makanan di atas meja.


"Esha nggak mau makan Bu, Esha nggak berselera. Perut Esha sakit sekali Bu"


"Tapi kamu tetap harus makan sayang, kamu butuh tenaga untuk melahirkan bayi kamu nanti. Kamu juga harus banyak minum!"


Esha terdiam sejenak mencerna kata kata ibunya.


"Betul kata ibu, aku harus makan demi bayiku" ucap Esha dalam hati.


Perlahan Esha membuka mulutnya. Bu Dahlia pun menyuapi putrinya. Esha memaksa makanan itu masuk ke dalam perutnya.


"Ibu juga harus makan. Pasti ibu lapar kan?"


"Nanti saja sayang. Tunggu suami kamu datang, setelah itu ibu pergi makan dan sholat"


Pukul 13.30, Raffi kembali ke rumah sakit membawa pakaian, perlengkapan bayi, juga makanan dan minuman. Raffi pun gantian menjaga Esha sementara Bu Dahlia sholat dan makan.


"Sabar sayang... berjuanglah demi anak kita!"


Esha pun menangis saking sakitnya. Raffi juga turut menangis melihat istrinya yang kesakitan.


Pukul 15.00 dokter datang untuk memeriksa Esha. Dokter pun melakukan pemeriksaan dalam. Esha mengeluarkan lendir bercampur darah yang semakin banyak.


"Sudah pembukaan 9, kami akan memindahkan ibu ke ruang bersalin. Suster siapkan segala peralatan yang diperlukan untuk persalinan"


"Baik dok"


Perut Esha semakin sakit dan mulas karena kontraksinya semakin hebat dan lama. Pinggang dan punggungnya terasa sangat pegal. Ada dorongan ingin mengejan seolah mau BAB.


"Aaaaahhh... sakit sekali dokteeerr... rasanya aku ingin mengejan"


"Tahan dulu Bu, jangan mengejan sekarang! Pembukaannya belum lengkap. Kasihan nanti bayi ibu bisa terjepit"


"Tapi aku sudah tidak tahan lagi dokteeerrrr... sakiiiiitttt..."


"Tahan sayang, kasihan bayi kita nanti terjepit" seru Raffi.


"Kak Raffiii... sakiiiiiitttt... astaghfirullah aladziiimm..." teriak Esha sambil terus beristighfar.


Suster pun memindahkan Esha ke ruang bersalin yang lebih privat. Raffi setia mendampinginya.


Pukul 15.30 dokter melakukan pemeriksaan dalam lagi. Dokter pun tersenyum.


"Sudah lengkap Bu. Rambut bayinya sudah kelihatan. Nanti ibu ikuti instruksi dari saya! Kalau saya suruh mengejan ibu harus mengejan dengan sekuat tenaga dan jangan menutup mata ibu!"


"Alhamdulillah... baik dokter"


Ada beberapa dokter dan beberapa suster yang akan membantu persalinan Esha. Dokter melakukan pengguntingan agar tidak terjadi perobekan besar di area perineum (area sekitar alat genital dan anus) akibat dorongan janin. Esha tidak merasa sakit, karena rasa sakit akibat kontraksi jauh lebih besar.

__ADS_1


Setelah selesai, dokter pun memberi aba aba kepada Esha.


"Tarik nafas dalam dalam Bu! Tahaaan! Ngejan Bu, ngejan yang kuat!"


Esha pun mengejan sekuat tenaganya. Esha mencengkeram tangan Raffi hingga tangan Raffi kesakitan. Tapi Raffi tidak peduli, karena istrinya pasti lebih sakit lagi.


"Ya Allah... selamatkanlah istriku dan juga bayi kami" doa Raffi dalam hati.


Muka Raffi terlihat pucat melihat banyaknya darah yang keluar. Raffi merasa kasihan melihat istrinya yang berjuang mempertaruhkan nyawa demi melahirkan anaknya. Dokter beberapa kali memberi instruksi kepada Esha untuk mengejan, sampai akhirnya...


"Oeeeekkkk... Oeeeeeekkkk...."


Baby Zayn pun lahir ke dunia dengan selamat pada pukul 16.00. Dokter segera menyerahkan bayi itu kepada suster. Esha dan Raffi merasa lega dan bahagia mendengar suara tangisan bayinya. Mereka pun menitikkan air mata saking bahagianya. Akhirnya drama persalinan itu pun selesai juga. Semua rasa sakit Esha seolah hilang seketika setelah bayinya lahir.


"Selamat Pak, Bu, bayinya laki laki" kata suster itu sambil memperlihatkan bayi itu kepada Raffi dan Esha.


Suster pun segera meletakkan bayi itu ke dada Esha untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Bayi itu pun menyusu dengan kuat selama 45 menit, sembari dokter mengeluarkan plasenta dari rahim Esha kemudian menjahit lukanya. Suster kemudian mengambil bayi itu untuk dimandikan.


Setelah dimandikan dan dipakaikan baju, suster menyerahkan bayi itu kepada Raffi. Raffi pun segera mengadzani bayinya di telinga kanan, kemudian mengiqomahinya di telinga kiri. Esha sangat terharu menyaksikannya. Raffi pun sangat bahagia saat menggendong dan mencium bayinya. Bayi mereka sangat tampan, lucu dan menggemaskan. Bayi itu juga memiliki lesung pipit di kedua pipinya sama seperti Esha.


"Oh ya sus, berapa berat badan bayinya?" tanya Raffi.


"3,3 kg Pak"


"Terima kasih suster"


"Sama sama Pak"


Suster pun memindahkan Esha dan bayinya ke ruang rawat dengan bantuan kursi roda. Raffi dan Bu Dahlia menemani mereka. Bu Dahlia sangat bersyukur akhirnya cucunya lahir ke dunia dengan selamat dan sehat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..........


Notes :


Ayo tunjukkan rasa cintamu pada author dan novel kesayangan kamu ini dengan cara klik VOTE pada halaman depan novel.


Vote bisa menggunakan koin ataupun poin. Vote menggunakan poin hanya bisa melalui versi terbaru NovelToon ya! Ayo VOTE sekarang juga!!!

__ADS_1


Jangan lupa tekan LIKE setelah membaca...!!! Terima kasih 😊


__ADS_2