Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Aku hamil?


__ADS_3

Setelah puas bercinta, Raffi terkulai di pelukan Esha. Malam itu pikiran Esha tidak tenang. Bayangan Aulia selalu mengganggu pikirannya.


"Kak Raffi boleh Esha tanyakan sesuatu?" tanya Esha tiba-tiba.


"Apa?" tanya Raffi.


"Apa Kak Raffi tidak sedikitpun mencintai Aulia?"


"Kenapa kau tanyakan itu?"


"Aku ingin tau."


"Sejak dulu aku hanya menganggap Lia itu seperti adikku sendiri."


"Tapi Aulia sangat mencintai Kak Raffi. Aku bisa melihatnya. Apa Kak Raffi nggak bisa sedikit saja mencintainya? Aku merasa kasihan padanya. Seolah-olah aku adalah penghalang kebahagiaannya."


"Kamu ini bicara apa Sayang? Hanya kamu lah perempuan yang aku cintai. Aku nggak mau mencintai perempuan lain selain dirimu."


"Lebih baik Kak Raffi lepaskan saja aku! Biar Aulia hidup bahagia bersama Kak Raffi."


"Sampai kapan pun aku nggak akan melepaskanmu, karena aku sangat mencintaimu. Sudahlah jangan bicarakan Lia lagi!"


Raffi memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Sementara Esha tidak bisa tidur. Dia terus saja memikirkan Aulia.


***


Tiga hari telah berlalu, Aulia telah kembali dari Singapura. Siang itu Raffi menjemput Aulia di bandara. Seperti biasa, di bandara sudah banyak fans, wartawan, dan reporter dari berbagai media yang berkumpul.


Aulia pun muncul dari pintu arrival sambil menarik kopernya. Dia melangkah menghampiri Raffi sambil melebarkan senyumnya di hadapan para wartawan dan fansnya. Dia pun memeluk dan mencium pipi Raffi. Para wartawan mengambil gambar mereka berdua dengan jepretan kameranya masing-masing.


Setelah menjawab pertanyaan dari para wartawan, Aulia pun berpamitan kepada para wartawan dan fansnya dengan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Dia menggandeng lengan Raffi lalu beranjak meninggalkan bandara.


Raffi memasukkan koper Aulia ke dalam bagasi mobil. Aulia masuk ke dalam mobil diikuti oleh Raffi. Mereka pun duduk berdampingan. Raffi mengemudikan mobil sport-nya perlahan menuju rumahnya.


"Kak Raffi how are you? I miss you so much," ucap Aulia manja sambil memeluk lengan Raffi dan menyandarkan kepalanya di pundak laki-laki yang amat dicintainya itu.


"I'm fine, Lia. Bagaimana pekerjaanmu di Singapura?"


"Semuanya oke. Oh ya Kak, Lia bawa oleh-oleh buat kak Raffi. Lia juga bawa buat Alesha."


"Alesha?" Raffi terkejut mendengar Aulia menyebut nama Alesha. Raffi sontak menatap Aulia sambil mengernyitkan dahinya.


"Iya Alesha, sekretarismu di kantor."


"Sejak kapan kamu berteman dengan Alesha?" tanya Raffi dengan heran.


"Belum lama sih. Lia merasa nyaman berteman dengan dia."

__ADS_1


Raffi terdiam sejenak. Tiba-tiba pikirannya terganggu dengan kata-kata Aulia baru saja. Kenapa Esha tidak pernah cerita kalau dia berteman dengan Aulia?" gumamnya dalam hati.


***


Raffi dan Aulia telah sampai di rumah. Begitu keluar dari mobil, mereka disambut dengan hangat oleh para asisten rumah tangganya di depan rumah.


"Selamat datang Nyonya Aulia, Tuan Raffi" sapa semua asisten rumah tangganya dengan begitu kompak.


Raffi langsung masuk ke dalam rumah. Pak Imron pun mengeluarkan koper majikannya dari bagasi mobil.


"Pak Imron, Bi Nanik, Bi Fatimah, apa kalian tau sesuatu tentang Kak Raffi? Selama tiga hari ini, apa dia keluar menemui seseorang di luar jam kantornya?" tanya Aulia kepada para asisten rumah tangganya.


Mereka tidak berani menjawab pertanyaan Aulia. Mereka pun saling berpandangan satu sama lain.


"Kalian dengar nggak apa yang saya tanyakan?" Aulia meninggikan suaranya karena mereka hanya diam saja.


"Emh ... anu Nyonya ... sejak Nyonya Aulia pergi, Tuan Raffi nggak pulang ke rumah Nyonya. Kami juga nggak tau dia pergi kemana," jawab Bi Nanik dengan rasa takut.


"What?" seru Aulia seraya melototkan kedua matanya. Dia pun bergegas masuk ke dalam rumah, lalu mencari Raffi di kamarnya. Saat itu Raffi sedang beristirahat di atas tempat tidur sambil mengotak-atik ponselnya.


"Kak Raffi, Kak Raffi pergi kemana selama Lia nggak ada?" tanya Aulia dengan penuh amarah.


"Kamu kenapa Lia? Kenapa kamu marah-marah?" Raffi beranjak dari tempat tidur lalu berdiri menghadap Aulia.


"Jawab pertanyaan Lia Kak! Apa Kak Raffi pergi menemui perempuan itu sampai Kak Raffi nggak pulang ke rumah?" teriak Aulia.


Bi Nanik dan Bi Fatimah terkejut mendengar keributan di kamar majikannya. Mereka pun datang mendekat.


Raffi mencoba menghentikan Aulia. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aulia dari belakang, hingga istrinya itu sulit bergerak.


"Lepaskan aku Kak! Lepas!" teriak Aulia sambil meronta-ronta. Dia tidak mampu lagi menahan air matanya.


Aulia terduduk lemas. Dia pun menangis sejadinya di pelukan Raffi. Lalu tiba-tiba pandangannya menjadi kabur. Seketika semuanya menjadi gelap.


Raffi panik setengah mati melihat Aulia pingsan. Dengan cepat dia membopong tubuh Aulia dan berlari keluar kamar. "Pak Imrooon ...!" teriak Raffi.


Pak Imron lari tergopoh-gopoh menghampiri majikannya. "Iya tuan Raffi," sahut Pak Imron.


"Cepat siapkan mobil! Nyonya Aulia pingsan. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," titah Raffi.


"Baik Tuan." Pak Imron bergegas menyiapkan mobil sesuai arahan majikannya.


***


Pak Imron menghentikan mobilnya ketika sampai di depan Rumah Sakit Pondok Indah. Raffi pun membopong Aulia keluar dari mobil lalu berlari menuju ruang IGD.


"Suster tolong istri saya! Dia pingsan," seru Raffi kepada suster yang berjaga di sana. Suster pun menyuruh Raffi membaringkan Aulia di tempat tidur.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dokter datang memeriksa kondisi Aulia. Sementara Raffi menuju tempat pendaftaran.


Aulia perlahan membuka kelopak matanya. "Aku dimana?" tanyanya lirih.


"Ibu ada di rumah sakit. Tadi Ibu pingsan. Suami Ibu membawa Ibu ke rumah sakit ini," jawab dokter.


"Lalu dimana suami saya Dok?"


"Suami Ibu sedang mengurus administrasi pendaftaran."


"Lalu bagaimana kondisi saya Dok?"


"Apa Ibu tau kalau Ibu sedang hamil?" Dokter balik bertanya.


"Apa? Hamil?" Aulia tersentak kaget.


"Iya Bu. Ibu sedang hamil. Kapan terakhir Ibu datang bulan?" tanya dokter lagi.


Aulia terlihat berfikir. "Emh ... seingat saya, hari terakhir saya datang bulan sehari sebelum saya menikah."


"Lalu sudah berapa lama Ibu menikah?"


"Baru tiga minggu."


"Berarti usia kandungan Ibu sekarang tiga minggu. Untuk lebih akuratnya lagi, Ibu bisa melakukan USG," kata dokter.


Ternyata sejak tadi Raffi berdiri di belakang dokter dan mendengarkan semua pembicaraan dokter dan Aulia. "Istri saya hamil Dok?"


Dokter membalikkan badannya menghadap Raffi. "Iya Pak, istri Anda sedang hamil. Tolong dijaga kondisinya! Jangan terlalu capek! Saya akan berikan obat penambah darah dan vitamin untuk istri Bapak. Tunggu ya, saya akan tuliskan resepnya!" kata dokter lalu beranjak meninggalkan Raffi dan Aulia.


"Kak Raffi, Lia hamil anak kita Kak," ucap Aulia sambil tersenyum. Tak terasa ada butiran air bening yang mengalir dari sudut matanya. Dia sangat bahagia saat tau kalau dirinya sedang mengandung anak Raffi.


Raffi diam tak bergeming. Dia tidak tau lagi harus berkata apa. Pikirannya tiba-tiba kacau.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG ..........................


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca!

__ADS_1


Terima kasih .... 😊


__ADS_2