Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Ta'aruf


__ADS_3

Di lokasi syuting, Aulia tidak tenang karena memikirkan kata kata Esha di telfon tadi. Dia penasaran dengan orang yang ingin bertemu dengannya di apartemen Esha. Aulia jadi tidak fokus waktu menjalani syuting. Dia tidak bisa menghafal dialognya dengan benar. Sampai sampai dia kena semprot sama sutradara karena harus take berulang kali.


"Cut cut cut..!!!" teriak sang sutradara.


"Aulia ada apa denganmu? Kenapa kamu lupa terus? Fokus Aulia!!!"


"Maaf mas" sahut Aulia lirih.


"Ya sudah kita break dulu" teriak sang sutradara dengan agak kesal.


Evan yang sejak tadi memperhatikan Aulia langsung menghampirinya sambil membawakan minuman.


"Lia kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Evan seraya menyodorkan air mineral kepada Aulia. Aulia pun menerimanya lalu segera meminumnya.


"Thanks Van. Aku baik baik saja"


"Apa kamu lagi ada masalah? Sepertinya kamu sedang banyak pikiran"


"Van bisa nggak syutingnya kita lanjut besok saja? Aku lagi nggak bisa konsen"


"Baiklah kalau itu mau kamu. Kita lanjutkan besok"


"Thanks Van"


"Lia, biar aku antar kamu pulang"


"Nggak perlu Van, makasih. Biar sopirku saja yang menjemputku. Aku nggak mau ada gosip lagi tentang kita"


Evan agak kecewa dengan penolakan Aulia. Tapi dia juga tidak mau memaksa Aulia.


"Baiklah Lia. Sampai jumpa besok"


Aulia pun menelfon sopirnya untuk menjemputnya di lokasi syuting.


Tut... Tut... Tut... (menghubungkan)


Sopir : "Hallo non"


Aulia : "Pak Imam, tolong jemput saya di lokasi syuting sekarang Pak!"


Sopir : "Baik non"


Aulia pun mengakhiri panggilannya kemudian masuk ke ruang make up untuk ganti pakaian. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian tertutup dan juga hijab.


Tak lama kemudian sopirnya pun datang. Aulia langsung naik ke dalam mobilnya.


"Pak Imam antar saya ke Pondok Indah Residences"


"Baik non"


Pak Imam pun mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan lokasi syuting.


*****


Di apartemen, Raffi mengajak Amar bermain catur untuk menghilangkan rasa bosan. Esha asyik memperhatikan permainan mereka sambil memangku baby Zayn. Ternyata Raffi sangat jago bermain catur. Berulang kali Amar kalah dari Raffi.


"Payah kamu Mar, sebenarnya kamu bisa nggak sih main catur? Kenapa kamu kalah terus? haha..." ledek Raffi sambil mentertawakan Amar.


"Awas saja kamu Raffi, kali ini aku pasti bisa mengalahkanmu" seru Amar.


"Siapa takut?" sahut Raffi.


"Ayo Om Amar semangat!! Om Amar pasti bisa mengalahkan papa Raffi" seru Esha sambil menggerakkan tangan baby Zayn.


Mereka pun asyik bermain catur sementara Bu Dahlia sibuk memasak di dapur. Amar beberapa kali melirik jam di dinding. Sebenarnya sejak tadi Amar merasa cemas karena menunggu kedatangan Aulia.


"Kamu kenapa dari tadi lihat jam terus Mar? Apa kamu cemas menunggu Aulia?" tanya Esha.


"Enggak Sha. Siapa yang cemas?"


Raffi dan Esha hanya tersenyum memperhatikan sikap Amar. Amar jadi salah tingkah.


Kriiinggg... kriiiinggg....


Tiba tiba ponsel Esha berdering. Esha masuk ke dalam kamarnya untuk melihat siapa yang menelponnya. Esha melihat nama Aulia tertera di layar ponselnya. Esha pun segera menjawabnya.


Esha : "Assalamu'alaikum Aulia"


Aulia : "Wa'alaikumsalam Alesha, aku lagi on the way ke apartemen kamu. Sebentar lagi aku sampai"


Esha : "Oya? Baiklah Aulia, kami akan menunggumu"


Aulia : "Ya sudah Alesha, aku tutup dulu telponnya. Assalamu'alaikum"


Esha : "Wa'alaikumsalam"

__ADS_1


Esha pun keluar kamar lalu kembali ke ruang tamu menemui Raffi dan Amar.


"Siapa yang menelpon sayang?" tanya Raffi.


"Aulia" jawab Esha.


Amar terkejut saat Esha menyebut nama Aulia. Jantungnya berdegup kencang.


"Dia bilang apa?" tanya Raffi.


"Dia bilang dia lagi on the way ke sini. Sebentar lagi dia sampai"


Jantung Amar makin dag dig dug tidak karuan. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan Aulia setelah dua bulan lamanya.


*****


Tak lama kemudian, Aulia pun sampai di apartemen Esha. Aulia menyuruh sopirnya untuk menunggunya di parkiran. Lalu Aulia naik ke lantai 12 menggunakan lift. Sampai di depan apartemen Esha, Aulia menghentikan langkahnya. Jantungnya berdebar debar tidak karuan. Aulia masih penasaran dengan orang yang ingin bertemu dengannya. Perlahan Aulia pun menekan bel pintu.


Ting tong... Ting tong...


Ceklek!


Esha membukakan pintu. Esha senang akhirnya yang ditunggu tunggu pun datang.


"Assalamu'alaikum Alesha" sapa Aulia seraya menepiskan senyumnya.


"Wa'akaikumsalam Aulia, ayo silahkan masuk"


Esha pun menggandeng tangan Aulia masuk ke dalam apartemen. Aulia terkejut saat melihat Amar ada di apartemen Esha. Jantungnya makin berdegup kencang saat tatapan mereka bertemu.


"Apakah orang yang mau bertemu denganku itu Amar?" gumam Aulia dalam hati.


Aulia pun duduk di sofa berdampingan dengan Esha.


"Assalamu'alaikum kak Raffi, Amar" sapa Aulia lirih.


"Wa'alaikumsalam" jawab Raffi dan Amar.


"Akhirnya yang ditunggu tunggu datang juga" imbuh Raffi.


"Apa kabar Aulia?" tanya Amar.


"Aku baik. Kamu sendiri?"


"Alhamdulillah. Aku juga baik baik saja"


"Orangnya ada di hadapan kamu" sahut Esha.


Aulia dan Amar pun saling berpandangan. Jantung mereka makin berdebar debar. Amar jadi malu. Amar pun menundukkan pandangannya.


"Ternyata memang Amar orangnya. Kenapa dia ingin bertemu denganku?" batin Aulia.


"Oh ya Lia, kami tadi lihat berita kamu di TV. Apa kamu ada hubungan spesial dengan produser kamu itu?" tanya Raffi dengan penasaran.


"Aku dan Evan nggak ada hubungan apa apa kak. Kami cuma berteman biasa"


"Tapi produser kamu bilang kalau dia mencintai kamu dari SMA. Apa benar begitu Aulia?" imbuh Esha.


"Emh... dia memang pernah bilang begitu padaku. Tapi aku nggak mencintainya. Aku cuma menganggap dia sebagai atasanku saja. Nggak lebih..."


"Syukurlah kalau begitu" sahut Esha.


Amar lega mendengar jawaban Aulia. Tadinya Amar mengira kalau Aulia juga menyukai produsernya itu.


"Oh ya Aulia, kenapa di TV tadi kamu nggak memakai hijab?"


"Emh... Sebenarnya aku terpaksa melepas hijabku karena tuntutan peran Alesha. Aku sudah terikat kontrak dan mau nggak mau aku harus konsekuen untuk menyelesaikan film itu. Setelah ini, aku janji pada diri aku sendiri kalau aku akan lebih selektif dalam memilih peran. Aku ingin istiqomah berhijab Alesha"


"Alhamdulillah... aku senang mendengarnya Aulia"


Amar pun lega setelah mengetahui alasan Aulia melepas hijabnya.


"Lia, kami sengaja menyuruhmu ke sini karena kami ingin membicarakan sesuatu yang penting" kata Raffi.


"Ada apa kak Raffi?" tanya Aulia dengan penasaran.


"Amar, kamu mau bilang sendiri atau aku yang harus mengatakannya?" tanya Raffi.


"Emh... biar aku saja Raffi"


"Baiklah"


Amar pun mengumpulkan segenap keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya pada Aulia. Amar menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya melalui mulutnya untuk menghilangkan nervous.


"Emh... begini Aulia. Sebenarnya... sebenarnya aku... aku suka sama kamu Aulia"

__ADS_1


Akhirnya kata kata itu keluar juga dari mulut Amar. Amar merasa lega setelah mengatakan isi hatinya.


Deg!


Jantung Aulia serasa mau copot mendengar pengakuan Amar. Aulia tidak menyangka kalau Amar berani mengungkapkan perasaannya. Ternyata selain tampan dan sholeh, Amar juga laki laki yang gentle. Aulia tidak menyangka kalau Amar juga menyukainya. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Aulia... maukah kamu ta'arufan sama aku?" tanya Amar.


Aulia terkejut mendengar pertanyaan Amar. Tapi Aulia sangat bahagia. Akhirnya Amar mengajaknya ta'aruf. Saking bahagianya dia tidak bisa berkata kata.


"Bagaimana Aulia? Apa kamu mau ta'arufan sama Amar?" tanya Esha.


Aulia masih diam membisu. Lidahnya seolah kelu.


"Lia apa kamu tidak menyukai Amar?" tanya Raffi.


"Bukan begitu kak Raffi. Sebenarnya... aku... aku juga menyukai Amar"


"Alhamdulillah..." kata Amar, Raffi dan Esha.


Amar, Raffi dan Esha tersenyum bahagia mendengar kata kata Aulia.


"Betul kan apa kataku. Mereka berdua memang saling mencintai" kata Raffi.


Aulia dan Amar menundukkan pandangannya karena merasa malu. Tapi mereka berdua merasa lega setelah mengungkapkan perasaan masing masing.


"Lalu apa jawabanmu Aulia? Kamu mau kan ta'arufan sama Amar?"


Aulia perlahan menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah...."


Esha pun memeluk Aulia dengan erat.


"Selamat ya Aulia. Mudah mudahan kamu dan Amar berjodoh. Aku akan mendoakan agar kalian bisa menikah secepatnya" ucap Esha.


"Thank you Alesha"


"Selamat ya Mar" ucap Raffi seraya menghulurkan tangannya.


"Makasih Raffi" sahut Amar seraya menjabat tangan Raffi.


Amar dan Aulia pun saling bertukar nomor ponsel. Mereka saling bertanya soal keluarga masing masing. Mereka juga berbincang bincang soal visi dan misi dalam pernikahan. Amar sangat bersyukur kepada Tuhan karena ternyata Aulia memiliki perasaan yang sama dengannya. Amar tidak pernah menyangka kalau Aulia menyukai laki laki biasa seperti dirinya.....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..........


Notes :


Yang ngaku cinta sama Author dan novel "Kesucian Alesha", buruan tunjukkan rasa cintamu pada author dan novel favorit kamu ini dengan cara klik TIP/VOTE pada halaman depan novel.


Bagi yang menggunakan aplikasi MangaToon klik TIP koin seikhlasnya.


Bagi yang menggunakan aplikasi NovelToon klik VOTE poin sebanyak banyaknya...!!!


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...!!!

__ADS_1


Terima kasih 😊


__ADS_2