
Dhuaaarrrr ....
Terdengar bunyi petir yang menggelegar. Tak lama kemudian, hujan turun begitu derasnya. Pagi yang cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap.
Pagi itu Amar sedang bekerja di kantor saat tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan nyaring.
Kriiiing ... Kriiiing ....
Amar pun meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Di layar ponsel itu tertulis 'HOME'. Seketika raut wajah Amar terlihat cemas. Dia pun segera menggeser tombolnya dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Hallo," ucapnya.
"Hallo Tuan, nyonya Aulia sepertinya mau melahirkan Tuan. Air ketubannya sudah pecah," sahut Bi Minah di ujung talian.
Amar tersentak kaget.
"Apa? Bi, Bibi dan pak Imam tolong bawa Lia ke rumah sakit terdekat sekarang juga! Saya akan segera ke sana."
"Baik Tuan."
Amar pun mengakhiri panggilannya lalu segera membereskan meja kerjanya. Setelah itu, dia pun meminta izin kepada atasannya untuk pulang lebih awal.
Setelah mendapatkan izin, Amar pun segera berlari keluar dari kantornya.
'Ya Allah, aku mohon selamatkanlah Aulia dan juga bayi kami' doa Amar dalam hati sambil terus berlari.
Di luar hujan turun begitu derasnya. Namun Amar tidak mempedulikannya. Yang ada di pikirannya saat itu cuma Aulia dan juga bayinya. Dia pun berlari menerobos hujan menuju parkiran kemudian masuk ke dalam mobilnya. Amar pun langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Amar langsung turun dari mobil dan berlari menuju ruang IGD. Di sana Amar melihat bi Minah dan pak Imam.
"Bi Minah, Pak Imam dimana Aulia?" tanya Amar dengan cemas.
"Dokter sedang memeriksanya Tuan."
Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dari ruang periksa. Amar segera menghampirinya.
"Dokter bagaimana kondisi istri saya?"
"Air ketuban Ibu Aulia pecah dini Pak. Kami menyarankan agar Ibu Aulia segera dioperasi caesar."
"Lakukan apa saja Dokter! Tapi tolong selamatkan istri dan anak saya!"
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Silahkan tanda tangani surat persetujuannya Pak!"
"Baik Dokter!"
Tanpa berpikir panjang, Amar pun langsung menandatangani surat tersebut. Lalu suster segera membawa Aulia menuju ruang operasi. Amar menggenggam erat tangan Aulia dan mendampinginya sampai di depan ruang operasi.
"Aaahh ... sakit!" jerit Aulia sambil memegangi perutnya dengan tangan kirinya.
"Sayang, bertahanlah! Demi anak kita," tutur Amar.
"Bapak tolong tunggu di luar!" kata suster.
Amar pun melepaskan tangan Aulia. Lalu suster membawa Aulia masuk ke ruang operasi.
Menit demi menit pun berlalu, Amar, bi Minah dan pak Imam menunggu Aulia di depan ruang operasi dengan gelisah. Dalam hati Amar tak henti-hentinya berdoa kepada Allah demi keselamatan istri dan anaknya.
"Tuan, apa Tuan tidak mengabari Tuan Mirza dan Nyonya Kania?" tanya Bu Minah memecah keheningan.
"Iya Bi. Saya akan menelponnya"
Amar pun merogoh ponsel di saku celananya lalu menghubungi nomor Bu Kania.
__ADS_1
Tut ... Tut ... Tut .... (menyambungkan)
"Assalamu'alaikum, Amar," ucap Bu Kania.
"Wa'alaikumsalam. Ma, Lia akan segera melahirkan, Ma. Dia sekarang ada di ruang operasi."
Bu Kania terkejut mendengarnya.
"Apa? Bukankah usia kandungannya belum sembilan bulan?"
"Air ketuban Lia pecah dini Ma. Dan bayinya harus segera dikeluarkan."
"Okey Amar, Mama sama Papa akan segera pulang ke Indonesia."
"Makasih Ma. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Amar pun mengakhiri panggilannya. Setelah itu, Amar menghubungi kedua orang tuanya dan juga Raffi.
***
Setengah jam kemudian bayi Aulia berhasil dikeluarkan. Lalu suster pun keluar menemui Amar.
"Selamat ya Pak. Bayi Anda sudah lahir. Jenis kelaminnya perempuan dan sangat sehat," kata suster.
"Alhamdulillah ya Allah ... akhirnya aku telah menjadi seorang ayah," gumam Amar lalu meraup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
Amar sangat bersyukur karena bayinya telah lahir dengan sehat dan selamat. Amar pun bergegas menemui bayinya dan menggendong bayi tersebut. Kemudian Amar melafazkan adzan di telinga kanan bayinya.
Setelah itu dia pun mencium kedua pipi bayi itu.
"Sayang, ini Papa."
***
Beberapa waktu kemudian, Raffi dan Esha pun tiba di rumah sakit. Mereka berjalan tergesa-gesa menuju ruang operasi.
"Assalamu'alaikum," ucap Raffi dan Esha.
"Wa'alaikumsalam. Raffi, Esha, makasih kalian sudah datang," sahut Amar.
"Amar, bagaimana keadaan Aulia? Apa bayi kalian sudah lahir?" tanya Esha dengan cemas.
"Alhamdulillah sudah Sha," sahut Amar seraya menepiskan senyumnya.
"Alhamdulillah ...." Esha dan Raffi merasa lega.
"Lalu bagaimana dengan kondisi Lia?" tanya Raffi kemudian.
"Alhamdulillah, Lia juga selamat Fi"
"Syukurlah."
Setelah dipindahkan ke ruang rawat, mereka pun menemui Aulia dan juga bayinya.
"Assalamu'alaikum Lia" ucap Raffi dan Esha.
"Wa'aiaikumsalam Esha, Kak Raffi. Makasih ya kalian udah dateng. Oh ya Zayn mana?"
"Zayn di luar sama bibi. Zayn kan masih kecil, jadi nggak boleh masuk ke rumah sakit."
"Oohh ...."
__ADS_1
Esha pun mendekati bayi Aulia yang sedang tidur di dalam box bayi.
"Aulia, Amar, selamat ya! Bayi kalian cantik banget. Persis seperti ibunya," kata Esha. Dia pun menggendong dan menciumi pipi bayi itu.
"Makasih Sha," sahut Amar dan Aulia.
"Selamat ya Lia, Amar" kata Raffi.
"Makasih Kak Raffi."
Kemudian Amar pun menggenggam tangan Aulia lalu mengecup lembut keningnya.
"Makasih ya sayang, kamu sudah memberiku seorang bayi yang sangat cantik dan lucu."
"Sama-sama sayang."
"Aku sangat bahagia."
"Aku juga. Sayang, apa kamu sudah menghubungi Mama sama Papa?"
"Sudah. Mereka akan segera pulang ke Indonesia. Aku juga sudah menghubungi Ayah sama Ibu. Insya Allah siang ini mereka akan berangkat ke Jakarta."
Aulia tersenyum.
"Mereka pasti sangat senang karena sudah menjadi kakek dan nenek."
"Iya sayang mereka sangat bahagia."
"Aulia, Amar, apa kalian sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian?" tanya Esha.
"Sudah Sha. Namanya Felicia Amirah Lashira, yang artinya anak perempuan cerdas yang memiliki berbagai macam kesuksesan hidup dan selalu dapat dipercaya banyak orang," sahut Aulia.
"Masya Allah ... bagus banget namanya Lia."
"Nama panggilannya Amira."
"Amiraaa ...." Esha memanggil bayi itu.
"Bagaimana kalau kita jodohkan Zayn dengan Amira?" celetuk Raffi tiba-tiba.
Esha, Amar dan Aulia terkejut. Mereka pun saling berpandangan sambil mengerutkan dahi.
"Kak Raffi, Amira ini kan baru saja lahir, masak udah dijodoh-jodohin sih!" protes Esha.
"Ya nggak pa-pa Sha. Kelak kalau mereka berjodoh, kita kan bisa jadi keluarga," sahut Amar.
"Tapi aku nggak setuju. Jika sudah besar nanti, biarlah mereka menentukan masa depan mereka masing-masing. Kalau memang mereka ditakdirkan berjodoh, suatu saat nanti mereka juga akan bersatu. Kita nggak perlu jodoh-jodohin mereka. Ya kan Sha?" Aulia menimpali.
"Aku sependapat denganmu, Lia."
"Ya sudahlah. Terserah kalian saja para istri. Kita berdua ngalah aja ya Mar?" tukas Raffi.
"Iya Fi. Lebih baik kita ngalah saja."
Esha dan Aulia pun saling memandang kemudian tertawa.
Raffi dan Amar memang selalu mengalah jika berdebat dengan istri-istri mereka.
- - -
Jangan lupa tekan LIKE ya!
Makasii ... 🙏
__ADS_1