Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Pemakaman


__ADS_3

Dalam sekejap berita kematian bayi Raffi dan Aulia telah diketahui oleh publik. Banyak wartawan dan reporter dari berbagai media yang mendatangi rumah sakit tempat Aulia melahirkan untuk mengorek keterangan lebih lanjut. Karena Raffi dan keluarganya enggan menanggapi mereka, mereka pun mengorek keterangan dari pihak rumah sakit. Mereka bertanya kepada dokter dan suster yang menangani Aulia. Berita itu pun telah menyebar dan menjadi trending topik di sosial media.


Banyak fans dan rekan Aulia yang mengucapkan kalimat bela sungkawa di akun instagram pribadinya. Ponsel Raffi pun penuh dengan pesan ucapan bela sungkawa dari para staff dan koleganya. Tapi Raffi maupun Aulia enggan menanggapi itu semua. Mereka masih merasakan duka yang mendalam atas kepergian bayi mereka.


Siang itu Raffi menggendong jenazah bayinya dan melangkah perlahan menuju tempat pemakaman. Air mata Raffi mengalir deras saat mengantarkan bayinya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Pak Salman dan Pak Mirza sudah mengatur tempat pemakaman untuk cucunya. Saudara, para staff dan kolega hadir ke tempat pemakaman itu. Banyak sekali karangan bunga yang bertuliskan ucapan turut berduka cita dari para fans, staff dan rekan bisnis yang menghiasi pemakaman.


Bu Debby dan bu Kania menemani Aulia di rumah sakit karena kondisinya masih lemah pasca operasi. Aulia tiada hentinya menangisi kepergian bayinya. Sampai Aulia tidak sadarkan diri beberapa kali di ruang rawatnya.


"Aulia kamu harus kuat sayang. Yang sabar ya. Kamu harus ikhlas.." kata bu Kania berusaha menenangkan putrinya.


"Kenapa Tuhan mengambil bayi Lia ma? Kenapa harus Lia yang mengalami semua ini? Apa salah Lia ma?" seru Aulia di sela isak tangisnya.


"Tenang sayang.. Kamu pasti bisa hamil lagi nanti" kata bu Debby.


"Enggak ma. Lia nggak akan bisa hamil lagi karena kak Raffi nggak pernah mencintai Lia ma. Bayi itu adalah satu satunya harapan Lia agar kak Raffi bisa membuka hatinya untuk Lia. Bayi itulah yang akan menjadi pengikat kami untuk selamanya ma. Tapi Tuhan sudah mengambilnya. Sekarang Lia sudah nggak punya harapan lagi ma.." Aulia makin terisak.


"Kamu tenang sayang, nanti mama yang akan bicara sama Raffi" imbuh bu Debby.


Bu Kania dan bu Debby sangat prihatin melihat kondisi Aulia saat ini yang seolah belum bisa menerima kenyataan. Mereka pun sangat terpukul dengan kepergian cucu pertama mereka. Saat ini mereka hanya bisa saling menguatkan satu sama lain.


**********


Di tempat lain...


Siang itu Esha sibuk membersihkan kontrakannya. Bu Dahlia sedang bekerja di restoran. Perut Esha kian membuncit karena usia kehamilannya sudah menginjak delapan bulan. Tapi Esha malah makin bersemangat menjalani aktivitasnya. Esha mengepel lantai menggunakan mop yang dia pegang dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menopang pinggangnya. Karena suasana terasa sunyi, Esha pun mengambil remote kontrol lalu menghidupkan televisi. Seperti biasa, Esha mengepel sambil menonton acara infotainment di TV.


Tiba tiba Esha terkejut saat mendengar berita kematian bayi Aulia Safina di TV. Esha menghentikan aktivitas mengepelnya lalu menatap tajam ke layar televisi. Esha mengambil remote kontrol untuk mengeraskan volume TV. Esha bagai disambar petir mendengar berita yang disampaikan reporter itu.


"Ya Tuhan... innalillahi wa innailaihi raji'un"


Esha menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena syok. Mop yang dia pegang spontan jatuh ke lantai.


"Kak Raffi, Aulia... pasti kalian sangat terpukul menghadapi kenyataan ini"


Di layar televisi nampak Raffi yang berurai air mata sedang menggendong bayinya menuju tempat pemakaman. Esha tak kuasa menahan sebak di dadanya menyaksikan berita itu. Ada butiran air bening yang menetes dari pelupuk mata Esha.


"Bayi yang malang..."


Tiba tiba saja seperti ada yang mendorong Esha untuk datang ke pemakaman itu. Esha mematikan TV lalu mengambil ponselnya untuk memesan taxi online. Setelah itu Esha masuk ke kamarnya untuk ganti pakaian. Esha memakai pakaian serba hitam. Esha juga memakai cadar atau penutup wajah agar tidak ada seorangpun yang mengenalinya. Kini hanya sepasang mata Esha yang terlihat. Esha mengambil tasnya lalu keluar kontrakan untuk menunggu taxi.


Beberapa menit kemudian, taxi yang dipesan Esha pun datang. Esha segera menaiki taxi menuju tempat pemakaman. Di sepanjang perjalanan, hati Esha tidak tenang. Jantung Esha berdebar debar. Dada Esha terasa sesak.


"Ya Allah... sepertinya aku bisa merasakan apa yang sedang dirasakan kak Raffi dan Aulia saat ini" gumam Esha dalam hati.


Setengah jam kemudian, Esha sampai di depan area pemakaman. Esha menyuruh sopir taxi untuk menunggunya sebentar. Esha pun turun dari taxi lalu melangkah memasuki area pemakaman setelah mengucapkan salam. Esha melihat banyak sekali orang yang menghadiri pemakaman. Banyak juga wartawan dan reporter yang sedang menjalankan tugasnya. Esha juga melihat banyak sekali karangan bunga bertuliskan ucapan turut berduka cita di sekitar area pemakaman itu.


Esha melangkahkan kakinya mendekati makam bayi Raffi dan Aulia yang bertuliskan Rifat Bastian Anggara bin Raffi Bastian Anggara. Esha dapat melihat Raffi yang sedang duduk di samping makam bayinya sambil menundukkan kepalanya. Esha dapat melihat kesedihan yang mendalam yang terpancar dari raut wajah Raffi. Esha tak kuasa menahan sebak di dadanya. Air mata Esha pun jatuh membasahi cadarnya.


"Ya Allah tempatkanlah bayi ini di surgamu. Berikanlah kekuatan dan ketabahan pada kak Raffi dan Aulia dalam menghadapi ujian-Mu ini" doa Esha dalam hati.


Beberapa lama kemudian, orang orang pun berangsur meninggalkan area pemakaman.


"Kak Raffi ingin rasanya aku berada di sampingmu saat ini, memelukmu dan menguatkanmu. Tapi itu semua tidak mungkin" batin Esha.


Esha pun melangkah meninggalkan tempat itu. Saat sampai di depan area pemakaman, tanpa sengaja Esha berpapasan dengan Bi Ijah dan Pak Rahmat yang hendak memasuki area pemakaman.

__ADS_1


Deg!


Jantung Esha berdebar debar saat Bi Ijah tiba tiba menatapnya. Seketika tatapan mereka bertemu.


"Non Esha..." seru Bi Ijah.


Bi Ijah pun mendkati Esha lalu menatap mata Esha dengan tajam.


"Kamu non Esha kan?" tanya Bi Ijah.


"Assalamu'alaikum Bi Ijah, Pak Rahmat" ucap Esha lalu mencium tangan Bi Ijah dan Pak Rahmat.


"Masya Allah non... Wa'alaikumsalam. Bibi kangen sekali sama non Esha" kata Bi Ijah.


"Wa'alaikumsalam. Apa kabar non?" tanya Pak Rahmat.


"Alhamdulillah, baik Pak" sahut Esha.


Tiba tiba Bi Ijah memperhatikan perut Esha yang buncit.


"Non.. apa non Esha sedang hamil?" tanya Bi Ijah.


"Emh.. iya Bi" jawab Esha.


"Masya Allah... sudah berapa bulan non?"


"Delapan bulan Bi"


"Apa tuan Raffi tau kalau non Esha sedang hamil?" tanya Pak Rahmat.


"Tapi kenapa non? Tuan Raffi berhak tau non. Dia kan ayahnya" sahut Bi Ijah.


"Esha mohon Bi jangan kasih tau kak Raffi. Kami juga sudah bercerai Bi"


"Bibi tau non. Tuan Raffi sudah cerita semuanya sama bibi. Tapi kalau non Esha sedang hamil, kalian masih bisa rujuk non sebelum bayi ini lahir"


"Tidak Bi. Esha nggak akan rujuk dengan kak Raffi. Esha nggak mau merusak rumah tangga kak Raffi dan Aulia Bi"


"Tapi tuan Raffi hanya mencintai non Esha. Bibi tau itu non. Tuan Raffi sering cerita sama bibi kalau tuan Raffi tidak bahagia bersama non Aulia karena tuan Raffi hanya mencintai non Esha"


Esha terdiam sejenak mencerna kata kata Bi Ijah.


"Bibi mohon kembalilah pada tuan Raffi non! Kasian bayi ini"


Bi Ijah mengelus perut Esha perlahan.


"Maaf Bi, tapi Esha nggak bisa. Esha harus pergi Bi, sebelum kak Raffi melihat Esha. Esha mohon jangan kasih tau kak Raffi soal kehamilan Esha. Dan jangan kasih tau kak Raffi soal pertemuan kita ini Bi"


"Tapi non.. Sekarang non Esha tinggal dimana?"


"Esha ngontrak di daerah Pulo Gadung bersama ibu Bi"


"Boleh bibi minta alamat sama nomer telpon non Esha?"


Esha terdiam sejenak seperti sedang berfikir.

__ADS_1


"Biar bibi dan Pak Rahmat bisa mengunjungi non Esha jika non Esha melahirkan nanti" imbuh Bi Ijah.


"Iya Bi. Tapi Esha mohon jangan kasih tau kak Raffi"


"Iya non"


Esha pun menuliskan alamat dan nomor ponselnya di secarik kertas lalu memberikannya pada Bi Ijah.


"Ini Bi"


"Terima kasih non"


Esha pun memeluk Bi Ijah. Mereka pun sejenak saling berpelukan.


"Esha pergi dulu Bi, Pak Rahmat. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" jawab Bi Ijah dan Pak Rahmat.


Esha pun beranjak meninggalkan area pemakaman menuju taxinya. Bi Ijah dan Pak Rahmat memandang kepergian Esha sampai taxinya hilang dari pandangan mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..........


Notes :


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...!!!

__ADS_1


Tengkyu 😊


__ADS_2