Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Ancaman


__ADS_3

Raffi mengemudikan mobil sport nya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Bu Debby sudah menunggu Raffi di ruang tamu. Begitu masuk rumah, bu Debby langsung menghujani Raffi dengan banyak pertanyaan.


"Raffi kamu dari mana saja? Kenapa kamu semalam nggak pulang? Mama telfon kamu, handphone kamu nggak aktif. Giliran aktif kamu nggak mau angkat. Mama coba telfon ke kantor, kata orang kantor kamu nggak ke kantor," ujar bu Debby panjang kali lebar.


"Kan sudah Raffi bilang, Raffi ada urusan Ma," sahut Raffi.


"Apa kamu sibuk mengurus perempuan ini?" seru bu Debby lalu melempar beberapa lembar foto ke atas meja.


Raffi mengambil foto-foto itu. Raffi terkejut melihat foto-foto dirinya dan Esha di tanah lapang waktu mengajari Esha nyetir mobil tadi pagi.


"Dari mana Mama dapat foto-foto ini Ma? Apa Mama memata-matai Raffi?" tanya Raffi dengan tatapan tajam ke arah mamanya.


"Nggak penting Mama dapat dari mana foto-foto itu. Yang Mama mau tau siapa perempuan dalam foto itu Raffi?"


"Dia ... dia sekretaris Raffi di kantor Ma."


"Jangan bohong kamu!"


"Raffi nggak bohong Ma. Dia memang sekretaris Raffi."


"Mama sudah tau semuanya Raffi. Kamu nggak bisa membohongi Mama!"


"Apa maksud Mama?"


"Kamu harus menikah sama Aulia secepatnya Raffi! Mama hanya mau Aulia yang menjadi menantu Mama. Bukan perempuan kampung itu. Kalau kamu nggak mau menikah dengan Aulia, Mama akan berbuat sesuatu kepada perempuan itu. Mama


nggak main-main dengan ucapan Mama, Raffi!"


"Mama ... Mama jangan sakiti dia Ma! Baiklah Raffi akan menikahi Aulia tapi Mama jangan pernah sekalipun mengusik dia Ma! Raffi mohon."


"Oke, asal kamu mau menikah dengan Aulia, Mama nggak akan mengusik perempuan itu."


Raffi mengepalkan kedua tangannya. Mukanya merah menahan amarah. Dengan geram Raffi beranjak meninggalkan mamanya lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Braakkkkk!


Raffi menutup pintu kamarnya dengan kasar. Lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan keras.

__ADS_1


'Sial! Tega teganya mama memata mataiku dan mengancamku!' ucap Raffi dalam hati.


***


Keesokan paginya ....


Raffi masuk kembali ke kantor seperti biasa. Semua staff menyapanya. Raffi melihat Esha sudah duduk di meja kerjanya. Esha pun menyapa Raffi sambil mengukir senyuman.


"Selamat pagi Pak Raffi," sapa Esha.


"Pagi," jawab Raffi singkat lalu masuk ke ruangannya.


Ketika di kantor mereka bersikap layaknya atasan dan bawahan.


Pagi itu bu Debby mengajak Aulia ke kantor Raffi. Bu Debby sengaja ingin bertemu dengan sekretaris Raffi yang ada di foto itu. Tapi bu Debby tidak menceritakan soal foto itu kepada Aulia. Aulia sangat senang setelah tau kalau Raffi setuju untuk menikah dengannya.


Akhirnya bu Debby menemukan orang yang dicari. Bu Debby dan Aulia berjalan mendekati meja kerja Esha.


"Apa kamu sekretarisnya Raffi?" tanya bu Debby.


"Iya saya Alesha, sekretarisnya bapak Raffi. Ada yang bisa saya bantu?" tutur Esha ramah.


"Perkenalkan, saya adalah Nyonya Debby, mamanya Raffi. Dan ini Aulia Safina, calon istrinya Raffi," ucap bu Debby sinis.


Bu Debby sengaja mengatakan itu semua agar Esha tau diri kalau Raffi sudah punya calon istri.


Deg!


Esha terkejut mendengar kata-kata bu Debby.


'Calon istri? Apa kak Raffi akan menikah dengan Aulia?' batin Esha. Raut muka Esha tiba-tiba berubah pucat.


"Aulia Sayang, ayo kita masuk ke ruangan Raffi!" ajak bu Debby.


"Iya Tante," sahut Aulia.


Mereka pun meninggalkan Esha dan masuk ke ruangan Raffi. Raffi terkejut melihat mamanya dan Aulia datang.

__ADS_1


"Mama, Lia, ada apa kalian kemari?" tanya Raffi dengan heran.


"Raffi, Mama kan sudah lama nggak main ke sini. Mama sengaja ajak Aulia untuk nemenin Mama," sahut bu Debby.


"Morning Kak Raffi," sapa Aulia.


"Morning," jawab Raffi singkat.


Entah kenapa semenjak tau kalau dirinya dijodohkan sama Aulia, Raffi jadi tidak senang tiap kali bertemu dengan Aulia.


***


Malam itu Esha tidak bisa tidur. Dia teringat kata-kata bu Debby.


'Apa benar kak Raffi akan menikahi Aulia Safina? Kenapa kak Raffi nggak bilang apa-apa? Tapi apa hakku untuk bertanya? Bukankah aku ini hanyalah istri simpanan kak Raffi. Aku nggak punya hak nuntut apa-apa dari kak Raffi. Aku juga nggak punya hak menuntut kesetiaan dari kak Raffi,' ucap Esha dalam hati.


Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Esha membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang mencari posisi yang nyaman, namun tetap saja matanya sulit terlelap.


'Kenapa rasanya mataku sulit sekali terlelap? Padahal aku besok harus bangun pagi dan harus ke kantor.'


Esha mencoba memejamkan matanya dan mulai menghitung domba. Satu ekor domba ... dua ekor domba ... tiga ekor domba ... dan seterusnya sampai ia terlelap. Itulah kebiasaan Esha sejak kecil jika dia tidak bisa tidur.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG ...................


Notes :


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya**** setelah membaca!

__ADS_1


Terima kasih .... 😊


__ADS_2