
Berita soal pertunangan Aulia menjadi viral di sosial media. Foto unggahannya di instagram dengan caption "Semoga lancar sampai hari H" banjir komentar dari para netizen. Netizen bertanya-tanya apakah Aulia baru saja bertunangan? Siapakah sosok laki-laki misterius yang menjadi tunangan Aulia? Namun Aulia tidak merespon pertanyaan dari para netizen.
Sudah tiga hari ini sejak Aulia bertunangan, banyak wartawan dan reporter mendatangi kediamannya untuk mengorek informasi lebih lanjut. Namun Aulia enggan menemui para wartawan dan reporter tersebut. Aulia menyuruh Pak Imam untuk mengunci pintu gerbang rumahnya agar para wartawan itu tidak bisa memasuki halaman rumahnya.
"Aulia, seharusnya kamu tidak mengunggah foto itu di akun sosial media kamu. Sekarang lihat apa akibatnya?" seru Pak Mirza.
"Maafin Lia Pa, Lia betul betul ceroboh..."
"Sekarang kamu temui saja wartawan-wartawan itu untuk mengklarifikasi berita pertunangan kamu, supaya mereka berhenti mendatangi rumah kita. Mereka tidak akan pergi sebelum mendapatkan berita..." titah Pak Mirza.
"Iya sayang, kamu temui saja mereka sebentar, biar mereka cepat pergi!" imbuh Bu Kania.
"Baiklah Pa, Ma, Lia akan temui mereka. Lia juga merasa terganggu dengan kedatangan mereka tiap hari ke rumah kita"
"Papa sama Mama akan menemani kamu..." kata Pak Mirza.
"Thanks Pa, Ma..."
Aulia, Pak Mirza dan Bu Kania pun keluar rumah dan melangkah menuju pintu gerbang. Pak Imam sedang berjaga di dekat pintu gerbang.
"Pak Imam, tolong buka pintu gerbangnya!" titah Aulia.
"Baik Non"
Pak Imam pun membuka gemboknya, lalu menggeser pintu gerbang itu hingga sedikit terbuka. Aulia, Pak Mirza dan Bu Kania melangkah keluar menemui para wartawan itu. Para wartawan pun langsung melontarkan berbagai pertanyaan kepada Aulia.
"Mbak Aulia, apa benar mbak Aulia sudah bertunangan?"
"Ya, itu memang benar" jawab Aulia.
"Lalu siapa laki-laki yang bertunangan dengan mbak Aulia itu?"
"Itu rahasia..."
"Siapa namanya mbak?"
"Nanti kalian juga akan tahu"
"Apa dia orang yang membuat mbak Aulia menolak lamaran mas Evan, produser mbak Aulia?"
Aulia diam saja. Dia enggan menjawab pertanyaan tersebut.
"Lalu kapan mbak Aulia akan menikah?"
"Doain aja... kalau mereka memang berjodoh, insya Allah mereka akan menikah secepatnya" imbuh Pak Mirza.
"Tanggal berapa pernikahannya mbak?"
"Maaf, kami tidak bisa memberitahukannya. Ini masih rahasia... nanti kalian juga akan tahu. Sudah dulu ya, kami permisi dulu" sahut Aulia.
Aulia, Bu Kania dan Pak Mirza pun masuk kembali. Pak Imam bergegas menutup pintu gerbang itu dan menguncinya kembali.
"Mbak, Mbak Aulia tolong jawab pertanyaan kami Mbak!" seru para wartawan.
Namun Aulia tidak menggubris teriakan para wartawan. Mereka merasa kurang puas dengan jawaban Aulia. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun berangsur pergi meninggalkan kediaman Aulia.
*****
(Flashback on)
Evan sangat syok setelah melihat foto unggahan Aulia di akun instagram pribadinya.
"Apa Lia baru saja bertunangan? Siapa laki-laki yang ada di sampingnya itu?" batin Evan.
Ia pun segera menghubungi Aulia untuk menanyakan perihal foto tersebut.
Tut... Tut.... Tut... (menghubungkan)
Aulia : "Assalamu'alaikum Van"
Evan : "Wa'alaikumsalam. Lia, apa benar kamu sudah bertunangan?? Aku baru saja melihat foto unggahan kamu di instagram"
Aulia : "Emh... Iya Van"
Evan : "Kalau boleh tahu, siapa laki-laki itu Lia?"
__ADS_1
Aulia : "Dia... Dia cuma laki-laki biasa"
Evan : "Apa karena laki-laki itu kamu menolak lamaranku Lia? Apa istimewanya dia dibandingkan dengan aku Lia?"
Aulia : "Dia istimewa di hati aku Van, karena aku mencintainya..."
Evan : "Kenapa kamu nggak bisa sedikit saja mencintaiku Lia? Padahal aku sangat mencintaimu sejak dulu. Dan aku rela melakukan apa saja demi kamu Lia"
Aulia : "Maafkan aku Van, tapi hati yang bicara. Dan perasaan nggak bisa dipaksakan. Aku harap kamu mau mengerti. Carilah perempuan lain yang mencintai kamu Van. Aku akan mendoakan kebahagiaan kamu"
Evan : "Tapi aku nggak bisa Lia. Aku terlalu mencintaimu. Dulu aku pernah berusaha move on dari kamu waktu kamu menikah sama Raffi, tapi aku nggak bisa Lia. Aku terus saja memikirkanmu"
Aulia : "Aku sudah bertunangan Van. Dan sebentar lagi aku akan menikah. Jadi aku mohon lupakanlah aku! Kamu pasti bisa. Bukalah hatimu untuk orang lain! Insya Allah kamu akan menemukan cinta sejatimu. Sudah dulu Van, aku nggak bisa berlama-lama. Aku tutup dulu telfonnya. Assalamu'alaikum.
Evan : "Wa'alaikumsalam"
Evan merasa kecewa dan sakit hati. Sejak saat itu, Evan mencari tau siapa sebenarnya laki-laki yang bertunangan dengan Aulia. Evan sangat penasaran, siapa laki-laki yang berhasil mengalahkannya. Dia pun menyuruh orang untuk menyelidikinya.
(Flashback off)
*****
Beberapa hari kemudian, Evan telah mendapatkan semua informasi soal tunangan Aulia dari orang suruhannya. Kini Evan sudah mengetahui nama, tempat tinggal, pekerjaan, asal usul, juga latar belakang keluarganya.
"Amar Maulana... ternyata dia hanyalah pemuda kampung yang datang ke ibu kota dan bekerja sebagai marketing manager di PT Tiga Berlian. Dan dia cuma tinggal di sebuah kontrakan di daerah Pulo Gadung..."
"Kenapa Aulia lebih memilih laki-laki seperti itu daripada aku? Padahal aku lebih segala-galanya dibandingkan dia..."
Brakkk!!!
Evan menggebrak meja kerjanya dengan kedua telapak tangannya. Evan merasa kesal karena Aulia telah menolak lamarannya hanya demi laki-laki seperti Amar.
"Jangan panggil aku Evan Adijaya kalau aku tidak bisa mendapatkan Aulia Safina... Kali ini aku tidak akan membiarkan orang lain mendapatkan Aulia" gumam Evan dalam hati.
Karena Evan penasaran sama Amar, sore itu dia pergi mendatangi kontrakan Amar. Evan ingin tahu seperti apa orang yang berhasil memenangkan hati Aulia dan mengalahkan dirinya. Evan mengintai kontrakan Amar dari dalam mobilnya.
Beberapa menit kemudian, Evan melihat Amar yang baru pulang dari kantor dengan mengendarai motornya. Amar pun turun dari motor lalu masuk ke dalam kontrakan.
Setelah melihat Amar, timbul niat jahat dalam diri Evan. Entah apa yang merasuki Evan. Evan pun menghubungi seseorang lalu menyuruh orang itu untuk mencelakai Amar.
*****
Amar mengeluarkan motornya lalu sejenak memanasi mesinnya. Amar pun mengunci pintu kontrakannya lalu tancap gas menuju kantornya. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari kejauhan. Sepasang mata itu tidak lain adalah milik orang suruhan Evan.
Orang itu menaiki sebuah mobil. Dia pun mengikuti Amar dari belakang. Makin lama orang itu makin dekat. Amar pun lama-lama menyadari kalau ada mobil yang sejak tadi mengikutinya dari belalang. Amar melirik mobil tersebut dari kaca spionnya.
"Kenapa mobil itu terus saja mengikutiku? Sebenarnya siapa dia? Dan apa maunya?" gumam Amar dalam hati.
Amar pun melajukan motornya. Mobil itu pun mengejarnya dengan kecepatan tinggi dan langsung menyerempet motor Amar. Amar pun kehilangan keseimbangan sehingga motornya ambruk. Amar pun terjatuh dan kaki kirinya tertimpa motor. Amar merasakan sakit yang luar biasa pada kaki kirinya.
Begitu melihat Amar jatuh, mobil itu pun langsung tancap gas dan melarikan diri. Amar jatuh di depan sebuah warung makan. Orang-orang yang ada di warung dan sekitar tempat kejadian pun berhamburan mengerumuni Amar. Ada beberapa saksi mata yang melihat kejadian tersebut dan salah satunya sempat mencatat nomor plat mobil yang menyerempet motor Amar. Mereka mengangkat tubuh Amar dan membaringkannya di sebuah kursi panjang yang ada di depan warung. Ada juga yang mengevakuasi motor Amar dan meletakkannya di pinggir warung. Seketika pandangan Amar menjadi gelap. Amar pun tidak sadarkan diri.
"Cepat panggil ambulans!" teriak salah seorang dari mereka.
Beberapa menit kemudian, ambulans pun datang. Mereka pun membawa Amar ke rumah sakit terdekat.
Sampai di rumah sakit, Amar langsung dibawa ke ruang IGD. Dokter dan suster pun segera memeriksa kondisi Amar. Tak lama kemudian, Amar sadarkan diri. Amar terkejut begitu membuka matanya, ia sudah berada di rumah sakit. Amar ingat kalau ia baru saja diserempet oleh sebuah mobil. Amar merasakan nyeri yang luar biasa pada kaki kirinya.
"Dokter, kaki kiriku sakit sekali Dok" jerit Amar.
"Kami akan melakukan ronsen pada kaki Anda"
"Baik Dok"
"Anda sebaiknya menghubungi keluarga Anda secepatnya untuk mengurus pendaftaran dan administrasinya"
Amar bingung harus menghubungi siapa. Amar tidak mungkin menghubungi orang tuanya di kampung karena Amar tidak mau membuat orang tuanya khawatir. Amar pun terpaksa menghubungi Aulia.
Tut... Tut... Tut... (menghubungkan)
Aulia : "Assalamu'alaikum Amar. Tumben kamu menelfonku. Ada apa?"
Amar : "Wa'alaikumsalam Lia, aku baru saja mengalami kecelakaan di jalan raya"
Aulia : "Apa?? Kecelakaan?? Lalu bagaimana kondisimu Mar? Sekarang kamu ada dimana?"
__ADS_1
Amar : "Aku ada di rumah sakit Lia. Aku mohon jangan kasih tau orang tuaku. Aku nggak mau mereka mencemaskanku"
Aulia : "Baiklah, aku akan segera ke rumah sakit. Assalamu'alaikum"
Amar : "Wa'alaikumsalam"
Aulia pun menutup telfonnya lalu segera memberitahu kedua orang tuanya.
"Ma, Pa, Amar baru saja mengalami kecelakaan. Dia sekarang ada di rumah sakit"
"Apa??" Bu Kania dan Pak Mirza terkejut mendengar ucapan Aulia.
"Ayo kita ke rumah sakit sekarang Pa, Ma!"
"Iya Lia"
Mereka pun langsung tancap gas menuju rumah sakit diantar oleh Pak Imam. Di sepanjang perjalanan, Aulia terlihat sangat cemas.
"Ya Allah semoga Amar baik-baik saja" doa Aulia dalam hati.
Bu Kania menggenggam tangan Aulia dan berusaha menenangkannya,
"kamu tenang sayang, Amar pasti baik-baik saja"
"Lia takut sekali Ma. Lia takut Amar kenapa-kenapa"
"Cepat sedikit Pak Imam!" seru Aulia.
"Baik Non"
Pak Imam pun melajukan mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...........
Notes :
Masih setia sama novel ini???
Buruan dukung Author dan novel favorit kamu ini dengan VOTE POIN sebanyak-banyaknya...!!!
Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...
Terima kasih 😊
__ADS_1