Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Menyesal


__ADS_3

Pak Imam menghentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit. Aulia, Pak Mirza dan Bu Kania turun dari mobil kemudian bergegas menuju ruang IGD.


"Amar!!" teriak Aulia begitu melihat Amar yang sedang terbaring di atas troli pasien.


Aulia, Pak Mirza dan Bu Kania pun menghampiri Amar.


"Amar bagaimana kondisimu? Kamu nggak apa apa kan?" tanya Aulia dengan begitu cemas.


"Lia, kaki kiriku sakit sekali... Tadi dokter sudah meronsen kaki kiriku tapi hasilnya belum keluar" sahut Amar.


"Amar, sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana kamu bisa kecelakaan?" tanya Pak Mirza.


"Tadi waktu Amar mau berangkat kerja ada sebuah mobil yang mengikuti Amar Om. Lalu mobil itu sengaja menyerempet motor Amar hingga Amar terjatuh..."


"Lalu siapa yang sengaja menyerempet motor kamu Mar?" tanya Aulia dengan penasaran.


"Aku juga nggak tau Lia. Sepertinya ada orang yang sengaja mau mencelakaiku"


"Apa ada saksi mata di tempat kejadian?" tanya Pak Mirza.


"Seingat Amar tadi banyak orang yang menolong Amar Om. Mungkin ada yang melihat detail kejadiannya"


"Mudah-mudahan polisi segera menangkap pelakunya..." imbuh Pak Mirza.


Beberapa saat kemudian, dokter pun datang membawa hasil ronsen.


"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Amar dengan penasaran.


"Menurut hasil ronsen, tulang kaki Anda normal, tidak ada yang patah, retak ataupun bergeser. Semuanya baik-baik saja..."


"Alhamdulillah..." ucap Amar, Aulia, Bu Kania dan Pak Mirza.


"Tapi kenapa kaki kiri saya rasanya sakit sekali Dok?" tanya Amar.


"Itu disebabkan karena benturan yang terlalu keras. Saya akan memberikan obat anti nyeri dan juga antibiotik. Dalam waktu dekat kaki Anda akan mengalami pembengkakan dan memar. Untuk sementara waktu Anda akan kesulitan menggerakkan kaki kiri Anda maupun berjalan. Saran saya sebaiknya Anda dirawat di rumah sakit dulu. Kami akan memberikan fisioterapi sampai kaki Anda benar-benar pulih..."


"Baik Dok" sahut Amar.


Kemudian suster memindahkan Amar ke ruang rawat. Aulia, Bu Kania dan Pak Mirza mendampingi Amar setelah menyelesaikan administrasi pendaftaran.


Satu jam kemudian, ada dua orang polisi yang mendatangi Amar di ruang rawatnya.


"Selamat siang, apa Anda Saudara Amar Maulana, korban tabrak lari di jalan raya tadi pagi?" tanya salah seorang polisi.


"Iya Pak, saya Amar Maulana" sahut Amar.


"Kami ingin memberitahukan bahwa kami telah berhasil menangkap pelaku tabrak lari. Kebetulan ada saksi mata yang melihat kejadian tadi dan mencatat nomor plat mobil pelaku. Dan sekarang pelaku sudah kami amankan di kantor polisi beserta mobil pelaku dan motor Anda sebagai barang bukti"


"Alhamdulillah..." ucap Amar, Aulia, Pak Mirza dan Bu Kania.


"Lalu siapa pelakunya Pak?" tanya Amar dengan penasaran.


"Pelaku bernama Doni Iskandar dan dia mengaku kalau dia telah disuruh oleh seseorang yang bernama Evan Adijaya. Kami juga sudah menangkap Evan Adijaya"


"Apa?? Evan Adijaya??" seru Aulia seraya membulatkan kedua matanya. Aulia seolah tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.


"Apa Evan Adijaya produser kamu itu Lia?" tanya Amar.


"Apa kalian mengenalnya?" tanya Pak polisi.


"Iya Pak. Evan Adijaya adalah produser saya" jawab Aulia.


"Tega sekali Evan melakukan semua ini. Tapi kenapa Evan mau mencelakai kamu Mar?" Aulia bingung.


"Mungkin Evan sakit hati karena kamu menolak lamarannya lalu bertunangan sama Amar sayang..." Pak Mirza menimpali.


"Bisa jadi..." sahut Bu Kania.


"Aku nggak akan pernah memaafkan Evan. Hukum dia seberat-beratnya Pak!!" seru Aulia kepada Pak polisi.


"Sudahlah Lia, nggak baik menyimpan dendam. Yang penting aku selamat dan kakiku baik-baik saja..." sahut Amar.

__ADS_1


"Tapi Mar... dia sudah mencelakaimu. Dia harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya itu"


"Tidak Lia! Biar Allah yang menghukumnya..."


"Pak bebaskan saja Evan Adijaya. Saya tidak mau menuntutnya..." seru Amar kepada Pak Polisi.


"Apa Anda yakin? Jika tidak ada tuntutan dari pihak korban, kami akan membebaskan pelaku dan menutup kasusnya"


"Saya yakin Pak"


"Baiklah. Kalau begitu, kami permisi dulu. Anda bisa mengambil motor Anda di kantor polisi. Selamat siang..."


"Selamat siang Pak"


"Amar, aku nggak ngerti kenapa kamu melepaskan orang yang sudah mencelakaimu begitu saja..." gerutu Aulia sambil memanyunkan bibirnya.


"Kejahatan dibalas dengan kejahatan itu biasa Lia. Tapi kejahatan dibalas dengan kebaikan itu baru luar biasa..." sahut Amar sambil tersenyum.


"Amar, kamu adalah laki-laki yang baik. Tante bangga sama kamu. Aulia beruntung mendapatkan laki-laki sebaik kamu" ucap Bu Kania.


"Betul Amar. Jarang ada laki-laki seperti kamu yang mau memaafkan orang yang telah mencelakaimu" Pak Mirza menimpali.


"Terima kasih Om, Tante"


Mau tidak mau, akhirnya Aulia pun menyetujui keputusan Amar. Aulia bangga pada sikap Amar yang tidak menyimpan dendam pada orang yang telah menyakitinya.


"Amar, apa kamu nggak mau mengabari kedua orang tua kamu?" tanya Aulia tiba-tiba.


"Mereka baru saja pulang kampung Lia. Aku nggak mau membuat mereka cemas. Sebentar lagi kakiku juga pasti sembuh..."


"Baiklah. Terserah kamu saja"


"Amar minta maaf karena sudah merepotkan kalian..."


"Tidak apa apa Amar. Kamu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri. Iya kan Pa?" tutur Bu Kania.


"Iya Amar, kami nggak merasa direpotkan..." sahut Pak Mirza.


*****


Berita tentang kasus tabrak lari Amar menjadi viral karena pelakunya ternyata adalah orang suruhan Evan Adijaya, produsernya Aulia. Netizen pun menghujat Evan atas tindakannya tersebut. Netizen berasumsi bahwa Evan sakit hati karena Aulia menolak lamarannya lalu bertunangan dengan Amar.


Evan pun telah ditangkap polisi tapi dibebaskan kembali karena tidak ada tuntutan dari pihak korban. Evan merasa malu pada dirinya sendiri. Evan juga merasa bersalah pada Amar dan menyesali perbuatannya.


Setelah dinyatakan bebas, Evan pun memberanikan diri pergi ke rumah sakit untuk menemui Amar. Dia ingin minta maaf pada Amar dan mengakui kesalahannya.


Tok... Tok... Tok...


Evan mengetuk pintu ruang rawat Amar lalu perlahan membuka pintunya. Amar, Aulia, Bu Kania dan Pak Mirza menoleh ke arah pintu. Mereka terkejut saat melihat Evan memasuki ruang rawat Amar.


"Assalamu'alaikum" sapa Evan.


"Wa'alaikumsalam" sahut semua yang ada di ruangan itu.


"Ngapain kamu ke sini Van? Puas kamu setelah mencelakai Amar?"


"Maafkan aku Lia..."


"Kalau terjadi apa apa sama Amar, aku nggak akan pernah memaafkanmu!!" seru Aulia.


Evan pun melangkah mendekati Amar.


"Amar bagaimana kondisimu? Aku datang ke sini mau minta maaf. Tolong maafkan aku. Tidak seharusnya aku mencelakaimu. Aku benar benar khilaf..."


"Aku baik-baik saja. Alhamdulillah Allah masih melindungiku. Aku juga sudah memaafkanmu..." sahut Amar.


"Aku benar benar bodoh. Aku sudah dibutakan oleh cinta. Aku sakit hati setelah tau Lia bertunangan sama kamu. Makanya aku menyuruh orang untuk mencelakaimu. Sekali lagi aku minta maaf. Aku sangat menyesali perbuatanku. Dan aku sangat berterima kasih karena kamu tidak menuntutku..."


"Sekarang aku tau kenapa Lia lebih memilihmu daripada aku. Karena kamu laki-laki yang baik Amar. Aku sangat malu pada diriku sendiri. Aku memang nggak pantas mendapatkan Lia. Kamulah yang pantas mendapatkannya..." ucap Evan seraya menitikkan air matanya.


Evan cepat cepat menyeka air mata yang jatuh ke pipinya kemudian melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Amar, izinkan aku membayar semua biaya rumah sakitmu dan juga memperbaiki motormu untuk mengurangi rasa bersalahku padamu..."


"Terima kasih Evan...."


"Semoga kamu segera sembuh"


"Aamiin" sahut Amar.


"Evan... boleh Om memberikan nasehat sama kamu?" tanya Pak Mirza.


"Silahkan Om..."


"Evan... kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus membuat orang itu bahagia. Dan kamu seharusnya bahagia jika melihat orang yang kamu cintai bahagia. Meskipun kebahagiaannya itu bersama dengan orang lain..." kata Pak Mirza.


"Makasih Om... Insya Allah saya akan selalu ingat nasehat dari Om"


Pak Mirza pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian Evan menghampiri Aulia dan berdiri di hadapannya.


"Lia.. kamu sangat beruntung karena kamu mendapatkan laki-laki sebaik Amar. Aku akan mendoakan kebahagiaan kalian..." ucap Evan.


"Thanks Van" ucap Aulia seraya menitikkan air matanya karena terharu.


"Semoga kamu menemukan perempuan yang lebih baik daripada aku Van. Perempuan yang mencintai kamu dan yang kamu cintai" imbuh Aulia.


"Aamiin... makasih Lia"


Aulia sangat bersyukur pada Tuhan karena Evan telah menyadari kesalahannya dan mau minta maaf pada Amar. Evan juga sudah mengikhlaskan kebahagiaan Aulia bersama dengan Amar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...........


Notes :


Maaf ya baru bisa update. Soalnya 3 hari ini Author superrr sibuk...


Jangan lupa dukung Author dan novel favorit kamu ini dengan VOTE POIN sebanyak-banyaknya...!!!


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...!!!


Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2