Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Aulia Safina


__ADS_3

Sore itu Esha dan Raffi sedang duduk santai di tepi kolam sambil memberi makan ikan.


"Kak Raffi, apa boleh Esha mencari pekerjaan? Esha bosan lama-lama hanya duduk diam di vila?" tanya Esha kepada suaminya.


"Kamu nggak boleh bekerja! Aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu."


"Tapi Esha ingin bekerja, Kak. Esha ingin membantu Ibu. Kasihan Ibu. Dia kan taunya Esha ke Jakarta untuk bekerja di butik."


"Nanti aku kasih kamu uang buat ibumu. Walau bagaimanapun dia kan ibuku juga."


"Tapi Esha ingin menghasilkan uang dari jerih payah Esha sendiri Kak buat ibu."


Raffi terdiam sejenak untuk berfikir.


"Kalau begitu kamu jadi sekretaris pribadiku saja di kantor, gimana?"


"Esha mau, Kak. Tapi kantor Kak Raffi kan jauh dari sini?"


"Itu bisa diatur."


***


Satu minggu kemudian ....


Raffi membelikan Esha sebuah apartemen yang dekat dengan kantornya. Dan Esha tidak mampu menolaknya. Pagi itu mereka bersiap untuk pindah ke apartemen itu. Esha memasukkan semua baju dan barang-barangnya ke dalam koper berukuran besar. Dengan berat hati, dia harus berpisah dengan Bi Ijah dan Pak Rahmat yang sudah dianggap seperti orang tuanya.


"Bi Ijah, Pak Rahmat Esha pamit ya. Terima kasih telah banyak membantu Esha selama Esha di sini. Esha akan sangat merindukan kalian. Insya Allah Esha akan menyempatkan waktu ke sini untuk mengunjungi kalian," ucap Esha.


"Kami juga pasti akan sangat merindukan Non Esha. Hati hati ya, Non! Jaga diri Non Esha!" sahut Bi Ijah.


"Iya Bi. Assalamu'alaikum Bi Ijah, Pak Rahmat." Esha pun mencium tangan Bi Ijah dan juga Pak Rahmat.


"Wa'alaikumsalam Non," jawab Bi Ijah dan Pak Rahmat.


"Tolong jaga vila ya Bi, Pak Rahmat! Kami pergi dulu," ucap Raffi.


"Baik, Tuan."


Pak Rahmat memasukkan koper majikannya ke bagasi mobil. Raffi dan Esha pun masuk ke dalam mobil. Tak lama setelah itu, mobil pun bergerak perlahan meninggalkan vila.


***


Raffi dan Esha telah sampai di sebuah apartemen mewah di Pondok Indah Residences, Jakarta Selatan. Setelah memarkir mobilnya, Raffi mengajak Esha naik ke apartemennya di lantai dua belas menggunakan lift.


Sampai di depan pintu apartemen, Raffi menyuruh Esha untuk menutup kedua matanya. Dia sengaja ingin memberikan kejutan kepada istrinya. Lalu Raffi pun membukakan pintu dan menuntun Esha masuk ke dalam apartemen.


"Sekarang buka matamu, Sayang!" titah Raffi, dan Esha pun membuka matanya.


"Surpriiise!" seru Raffi.


"Subhanallah ... bagus sekali Kak apartemennya. Terima kasih banyak. Kenapa Kak Raffi begitu baik sama Esha?" sahut Esha seraya memeluk suaminya.


"Apa kamu menyukainya, Sayang?"


"Sangat."

__ADS_1


"Anggap ini sebagai hadiah pernikahan kita, karena dulu waktu kita menikah aku tidak memberikanmu apa-apa."


"Nggak pa-pa, Kak. Kak Raffi mau menikahi Esha saja, Esha sudah sangat bersyukur. Esha nggak akan menuntut apa-apa dari Kak Raffi."


"Besok pagi aku akan membawamu ke kantor. Tapi ingat, tidak ada seorang pun yang boleh tau soal pernikahan kita!" tegas Raffi. Esha pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


***


Keesokan harinya, Raffi membawa Esha ke kantornya. Setelah memarkir mobil, mereka berjalan beriringan memasuki lobi. Semua staf yang berpapasan, menyapa Raffi dengan ramah sambil menyunggingkan senyuman. "Selamat pagi, Pak Raffi."


"Pagi," sahut Raffi membalas senyuman mereka.


Semua staf heran melihat gadis yang berjalan di samping Raffi. Esha melempar senyuman manisnya kepada semua staf yang ditemuinya.


Raffi pun mengumpulkan semua staf di kantornya. Mereka semua heran melihat bosnya membawa seorang gadis ke kantor. Mereka pun saling berbisik-bisik membicarakan gadis itu.


"Selamat pagi semuanya," sapa Raffi dengan sangat berwibawa. Semua staf pun terdiam setelah bos mereka membuka suara.


"Selamat pagi, Pak Raffi," jawab mereka serentak.


"Perkenalkan, ini Alesha Hanania. Dia akan menjadi sekretaris pribadi saya mulai hari ini," lanjut Raffi.


"Assalamu'alaikum. Saya Alesha. Mohon kerja samanya ya," sapa Esha sambil tersenyum.


"Wa'alaikumsalam. Selamat bergabung, Nona Alesha."


"Itu saja. Silahkan kembali bekerja!" perintah Raffi. Mereka semua pun bubar.


Raffi menunjukkan meja kerja Esha yang terletak di luar ruangannya. Dia pun mengutus salah seorang staf untuk menjelaskan kepada Esha soal pekerjaannya. Esha pun cepat belajar. Dalam waktu singkat, dia bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik.


***


Ibu Debby, ibunya Raffi telah kembali dari Amerika. Sore itu sepulang dari mengantar Esha ke apartemen, Raffi terkejut saat melihat ibunya sudah ada di rumah.


"Mama? Kapan Mama pulang? Kenapa nggak ngasih tau Raffi dulu, Ma? Biar Raffi jemput," ucap Raffi kemudian memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri ibunya.


"Mama sengaja ngasih kejutan sama kamu, Sayang. Mama juga baru sampai, Pak Imron yang jemput tadi."


"Mama apa kabar? Kenapa Papa nggak ikut pulang, Ma?"


"Papamu sibuk, Sayang. Dia nggak bisa ikut."


"Papa selalu saja sibuk. Kapan nggak sibuknya?" Raffi berdecak kesal.


"Oh ya sayang, Aulia besok pulang ke Indonesia. Dia kemarin telfon Mama. Makanya Mama sama tante Kania (ibunya Aulia) langsung pulang. Mama udah kangen sama kalian berdua. Besok kita jemput Aulia di bandara ya?"


"Iya, Ma," jawab Raffi singkat.


***


Aulia Safina, gadis cantik berusia dua puluh tiga tahun. Anak seorang pengusaha kaya, tetapi tidak tertarik dengan dunia bisnis. Dia lebih suka dunia modelling dan dunia acting. Waktu masih SMA, dia sudah menjadi seorang model yang cukup terkenal di Indonesia. Aulia sering mendapat tawaran menjadi bintang iklan di televisi dan pernah menjadi model cover sebuah majalah remaja. Dia juga pernah memenangkan beberapa penghargaan bergengsi.


Setelah lulus SMA, karirnya terhenti karena dia memutuskan untuk kuliah di London menyusul Raffi yang lebih dulu kuliah di sana. Aulia adalah sahabat Raffi sejak kecil. Bahkan Raffi sudah menganggap Aulia seperti adik kandungnya sendiri. Namun tidak dengan Aulia, dia mencintai Raffi sejak dulu. Raffi pun tau kalau Aulia selalu mengejarnya.


Orang tua mereka pun bersahabat. Sekarang mereka bekerja sama menjalankan bisnis restoran di Amerika. Mereka berniat menjodohkan Raffi dan Aulia kalau Aulia sudah menyelesaikan kuliahnya di London.

__ADS_1


Kini Aulia telah mendapatkan gelar sarjananya dan akan kembali ke tanah air. Aulia menelfon Raffi untuk menjemputnya di bandara.


"Halo, Lia."


"Halo, Kak Raffi. Besok jemput Lia di bandara ya! Lia besok pulang ke Indonesia."


"Oke Lia, Mama tadi udah kasih tau. Pukul berapa pesawatmu landing?"


"Sekitar pukul dua siang, Kak. Oh ya Kak Raffi mau Lia bawain oleh-oleh apa?"


"Nggak perlu, Lia."


"Ya sudah Lia tutup dulu telfonnya ya, Kak. See you tomorrow!"


***


Aulia mendarat dengan selamat di tanah air. Di bandara sudah banyak fans, wartawan dan reporter dari berbagai media berkerumun menunggu kepulangan Aulia Safina. Raffi, bu Debby dan bu Kania juga sudah datang untuk menjemput Aulia.


Tak lama kemudian yang ditunggu pun muncul. Aulia muncul dari pintu arrival. Aulia terlihat sangat cantik dengan kaca matanya. Rambutnya ikal panjang berwarna cokelat. Senyuman manis terukir di bibir merahnya. Aulia menyapa para fans, wartawan dan reporter dengan melambaikan tangannya. Para wartawan pun menyerbu Aulia dengan berbagai pertanyaan.


"Mbak Aulia, apa Anda sudah menyelesaikan kuliah Anda di London?" tanya salah seorang wartawan.


"Mbak Aulia, apa Anda akan kembali menjadi model?" tanya wartawan lainnya.


"Mbak Aulia apa Anda akan segera menikah?" tanya yang lainnya.


Aulia pun menjawab pertanyaan para wartawan sambil menebarkan senyuman ramahnya. Lalu tiba-tiba mata gadis itu menangkap sosok Raffi, Bu Debby dan juga ibunya yang berdiri tidak jauh darinya. Aulia pun meninggalkan para wartawan itu, lalu berjalan menghampiri mereka.


"Mama, Kak Raffi, Tante Debby, apa kalian sudah lama menunggu? I'm so sorry," tutur Aulia seraya memeluk mamanya, Bu Debby, kemudian Raffi.


"It's okay Lia. How are you?" tanya Raffi.


"Very good. I miss you so much, Kak" jawab Lia sambil tersenyum manja.


"You are very very beautiful, Aulia," puji Bu Debby.


"Thank you, Tante," sahut Aulia.


Aulia pun melambaikan tangannya sambil tersenyum kepada para wartawan yang sedang mengambil gambarnya. Lalu ia menggandeng lengan Raffi dan berjalan keluar dari bandara. Bu Debby dan Bu Kania mengikuti anak-anak mereka dari belakang.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG ...................


Notes :


Jangan lupa tekan LIKE, LOVE, dan komentarnya setelah membaca! Terima kasih .... 😊

__ADS_1


__ADS_2