Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Hari Pernikahan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Amar telah keluar dari rumah sakit meskipun kaki kirinya belum pulih sepenuhnya. Berkat fisioterapi yang diberikan, bengkaknya sudah agak berkurang tapi kakinya jadi biru biru karena memar. Jalannya pun masih agak pincang karena lututnya masih terasa nyeri. Dokter pun menyarankan agar Amar tidak bekerja dulu sampai kakinya benar-benar pulih. Dan Amar juga harus kontrol ke rumah sakit.


Untung saja atasannya mau mengerti dengan kondisi Amar sehingga Amar diberikan cuti sampai ia benar-benar sembuh. Atasannya tetap mempertahankan Amar karena Amar adalah salah satu pekerja andalan perusahaan.


*****


Dua minggu kemudian, kaki Amar sudah sembuh. Bengkak dan memarnya sudah hilang. Amar sudah bisa berjalan dengan normal dan bisa bekerja kembali seperti biasanya.


Satu minggu menjelang hari pernikahannya, Amar mendapatkan surprise yang tak terduga dari atasannya. Karena sudah genap setahun bekerja, akhirnya Amar diangkat menjadi pegawai tetap di perusahaannya. Amar juga mendapatkan kenaikan gaji dan juga fasilitas berupa rumah dan mobil dinas. Amar sangat bersyukur kepada Allah atas rezeki yang tak disangka-sangka tersebut. Amar pun menghubungi ayahnya untuk memberi tahu kabar gembira itu.


Tut... Tut... Tut... (menghubungkan)


Usman : "Assalamu'alaikum Nak"


Amar : "Wa'alaikumsalam Ayah, bagaimana kabar Ayah dan Ibu?"


Usman : "Alhamdulillah kami baik-baik saja Nak. Kamu sendiri bagaimana?"


Amar : "Alhamdulillah Amar juga sehat. Amar menelfon Ayah karena ingin memberi tahu sebuah kabar gembira"


Usman : "Kabar apa Nak?"


Amar : "Amar sudah diangkat menjadi pegawai tetap Ayah. Dan Amar juga mendapat fasilitas rumah dan mobil dinas dari perusahaan"


Usman : "Alhamdulillah ya Allah... Ayah senang sekali mendengarnya Nak. Ayah bangga padamu..."


Amar : "Ayah dan Ibu kapan berangkat ke Jakarta? Amar ingin memperlihatkan rumah dan mobil dinas Amar kepada Ayah dan Ibu"


Usman : "Insya Allah lusa kami akan berangkat ke Jakarta Nak"


Amar : "Baiklah Ayah. Lusa Amar jemput kalian di terminal"


Usman : "Baiklah Nak"


Amar : "Kalau begitu Amar tutup telponnya dulu Ayah, Assalamu'alaikum"


Usman : "Wa'alaikumsalam"


Setelah menghubungi ayahnya, Amar pun menghubungi Aulia.


Tut... Tut... Tut... (menghubungkan)


Aulia : "Assalamu'akaikum Amar"


Amar : "Wa'alaikumsalam Lia. Aku mau memberi tahumu sebuah kabar gembira. Aku baru saja diangkat menjadi pegawai tetap dan perusahaan juga memberiku fasilitas rumah dan mobil dinas"


Aulia : "Benarkah? Alhamdulillah ya Allah... Selamat ya Mar, ini semua berkat kerja kerasmu"


Amar : "Iya Lia. Aku juga nggak nyangka. Aku ingin membeli sebuah rumah, tapi perusahaan malah memberikanku rumah dan juga mobil baru. Aku senang sekali Lia"


Aulia : "Aku juga ikut senang mendengarnya Mar"


Amar : "Setelah menikah nanti, insya Allah kita bisa menempatinya bersama Lia"


Aulia : "Insya Allah. Aku akan memberi tahu mama sama papa berita gembira ini. Mereka pasti senang sekali mendengarnya"


Amar : "Kalau begitu aku tutup dulu telponnya Lia. Assalamu'alaikum"


Aulia : "Wa'alaikumsalam"


Aulia pun memberi tahukan kabar gembira tersebut kepada kedua orang tuanya. Pak Mirza dan Bu Kania senang sekali mendengarnya. Mereka sangat bangga pada Amar.

__ADS_1


*****


Tibalah hari yang dinanti-nantikan, yaitu hari pernikahan Amar dan Aulia. Amar dan Aulia terlihat sangat serasi. Mereka menggunakan konsep adat Jawa dengan kebaya putih dan siger rancangan salah seorang designer terkenal Indonesia. Gaya hijabnya yang simple dipercantik dengan adanya mahkota di atas kepalanya dan juga bunga melati khas adat Jawa yang menambah kesan elegan. Warna putih pada kebayanya menggambarkan kesan netral dan anggun. Aulia terlihat sangat cantik bak puteri keraton. Amar juga terlihat sangat tampan bak pangeran.


Amar dan Aulia bersiap untuk melangsungkan prosesi akad nikah di kediaman Aulia. Raffi turut menjadi saksi pernikahan mereka. Tidak banyak tamu yang menghadiri pernikahan tersebut, karena mereka hanya mengundang keluarga dan teman dekat saja. Meskipun tidak disiarkan secara live di TV tapi banyak juga wartawan yang hadir untuk meliput acara tersebut.


Pak Mirza sendiri yang akan menikahkan putrinya dengan Amar. Pak Mirza pun menjabat tangan Amar lalu mulai mengucapkan kalimat ijab qobul,


"Saudara Amar Maulana bin Usman Maulana?" tanya Pak Mirza.


"Saya Amar Maulana bin Usman Maulana" sahut Amar.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan anak kandung perempuan saya yang bernama Aulia Safina dengan engkau, Amar Maulana bin Usman Maulana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 10 gram dibayar tunai" ucap Pak Mirza.


Lalu segera dijawab oleh Amar,


"Saya terima nikah dan kawinnya Aulia Safina binti Mirza Nugraha dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 10 gram dibayar tunai" ucap Amar dengan lancar.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu.


"Sah" jawab para saksi.


"Alhamdulillah" jawab semua yang ada di ruangan itu.


Sekarang Amar dan Aulia telah resmi menjadi suami istri. Mereka terlihat sangat bahagia. Aulia pun mencium tangan Amar lalu Amar mencium kening Aulia. Mereka berdua pun menandatangani buku nikah mereka lalu berfoto sambil memegang buku nikah masing-masing. Kemudian mereka meminta doa restu kepada kedua orang tua mereka secara bergantian.


Setelah prosesi akad nikah selesai, kemudian dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Amar dan Aulia pun ganti baju berwarna silver. Lalu mereka berdua duduk bersanding di pelaminan. Semua tamu yang hadir dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan sambil menikmati lagu yang dibawakan oleh salah seorang penyanyi terkenal. Lalu acara dilanjutkan dengan sesi foto keluarga. Para tamu pun bergantian memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai, termasuk Evan. Amar dan Aulia sengaja mengundang Evan ke pernikahan mereka. Evan pun dengan senang hati menghadirinya.


"Lia, selamat ya.. Amar, selamat ya" ucap Evan seraya menjabat tangan Aulia dan Amar secara bergantian.


"Terima kasih Van" sahut Aulia dan Amar.


"Aamiin..." sahut Aulia dan Amar.


"Semoga kamu segera menyusul kami Van" imbuh Aulia.


"Aamiin..." sahut Evan.


Kemudian Evan pun berfoto bersama kedua mempelai sambil tersenyum. Sepertinya Evan sudah bisa move on dari Aulia dan mengikhlaskan kebahagiaan Aulia bersama dengan Amar.


Tiba-tiba Pak Salman dan Bu Debby pun muncul. Bu Debby terpaksa menghadiri pernikahan Aulia dan Amar atas desakan Pak Salman. Pak Salman harus menghargai Pak Mirza dan Bu Kania sebagai sahabat sekaligus rekan bisnisnya. Pak Salman dan Bu Debby pun memberikan ucapan selamat kepada Aulia, Amar, Pak Mirza dan Bu Kania.


Jantung Esha berdebar-debar saat melihat Pak Salman dan Bu Debby. Begitu juga dengan Raffi yang sedang menggendong baby Zayn. Raffi pun menggenggam tangan Esha untuk menenangkannya.


"Kak Raffi, ada orang tua kamu" kata Esha.


"Jangan takut sayang, ada aku. Kita hadapi mereka bersama-sama" sahut Raffi.


Raffi pun menggandeng tangan Esha lalu menghampiri kedua orang tuanya. Bu Dahlia mengikuti mereka dari belakang.


"Assalamu'alaikum Pa, Ma" sapa Raffi.


Pak Salman dan Bu Debby terkejut saat melihat Raffi sedang menggendong anaknya dan menggandeng istrinya.


"Raffi??" seru Pak Salman dan Bu Debby.


"Apa kabar Pa, Ma?" tanya Raffi.


"Lihat Pa, anak kesayangan Papa! Dia lebih memilih perempuan kampung itu daripada kita orang tuanya sendiri" seru Bu Debby.


Raffi mencoba mengendalikan emosinya saat mendengar ucapan mamanya. Raffi berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


"Pa, kenalkan ini Alesha istri Raffi Pa. Dan ini Zayn, anak laki-laki kami, cucu kandung Papa"


Pak Salman sejenak memandang Esha lalu beralih memandang Zayn. Pak Salman seperti merasakan sesuatu saat menatap wajah cucunya. Bu Debby yang melihat reaksi Pak Salman jadi khawatir kalau Pak Salman akan luluh saat melihat cucunya.


"Ayo kita pergi dari sini Pa! Kita sudah tidak ada urusan lagi di sini" seru Bu Debby lalu menarik tangan Pak Salman meninggalkan tempat itu.


Raffi hanya memandang kepergian orang tuanya dengan perasaan kecewa.


"Tapi Ma... itu cucu kita Ma" sahut Pak Salman.


Namun Bu Debby tidak menggubris ucapan Pak Salman. Bu Debby menarik tangan Pak Salman sampai ke mobil mereka lalu memaksa Pak Salman masuk ke dalam mobil. Kemudian mereka pun tancap gas meninggalkan rumah Aulia.


"Ma, kasihan mereka Ma. Bagaimanapun juga dia adalah menantu dan cucu kandung kita Ma" seru Pak Salman ketika sampai di rumah.


"Sampai kapan pun Mama tidak akan sudi mengakui mereka sebagai menantu dan cucu kita Pa"


"Kalau Raffi hanya mencintai perempuan itu, lalu kita bisa apa Ma? Sudahlah Ma, restui saja mereka. Biarkan mereka hidup bahagia. Mirza dan Kania saja mau merestui Aulia dan suaminya. Kenapa kita tidak Ma?"


"Pokoknya sampai kapan pun mama nggak mau merestui mereka Pa. Mama capek, mama mau istirahat" seru Bu Debby lalu beranjak meninggalkan Pak Salman menuju kamarnya.


Pak Salman hanya geleng-geleng kepala melihat sikap istrinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...........


Notes :


Author sangat berterima kasih bagi yang sudah memberikan VOTE dan ucapan selamat tahun baru untuk Author...


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca!!!


Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2