Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Ngidam


__ADS_3

Usia kehamilan Esha sudah menginjak bulan ke lima. Malam itu Esha terbangun dari tidurnya. Tiba tiba saja dia ingin sekali makan martabak manis rasa coklat kacang. Esha menelan ludahnya membayangkan martabak itu. Esha melirik jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 9 malam. Perlahan Esha beranjak dari tempat tidurnya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar ibunya. Esha membuka pintu kamar ibunya. Dilihatnya bu Dahlia telah tidur dengan nyenyak. Terdengar dengkuran halus dari mulutnya. Esha tidak tega membangunkan ibunya.


"Mungkin ibu kecapean setelah seharian bekerja" gumam Esha dalam hati.


Esha pun menutup pintu kamar ibunya lalu kembali ke kamarnya. Esha meraih ponselnya lalu duduk di tepi tempat tidur. Esha mencoba mengirim pesan whatsapp kepada seseorang.


{ Mar apa kamu sudah tidur? }


Esha terlihat senang saat Amar langsung membaca pesannya dan mulai mengetik balasan.


{ Belum Sha. Ada apa? }


{ Kamu mau nggak nemenin aku beli martabak manis? Tiba tiba saja aku ingin makan martabak manis. }


Amar tersenyum membaca pesan Esha lalu mulai mengetik balasan lagi.


{ Okay princess.. Dengan senang hati. }


Amar pun memakai jaket kulitnya lalu melangkah keluar kontrakan. Beberapa menit kemudian Esha pun keluar sambil menepiskan senyumnya kepada Amar.


"Ayo Mar" seru Esha.


"Kenapa kamu nggak pakai jaket Sha? Nanti kamu kedinginan"


"Nggak pa pa Mar, aku merasa gerah. Mungkin faktor kehamilan"


"Apa kamu sedang ngidam?"


"Mungkin. Tadi aku kebangun dari tidurku. Tiba tiba saja aku ingin sekali makan martabak manis. Tadinya aku ingin ngajak ibu, tapi aku nggak tega membangunkannya"


"Biar aku pesankan taxi online dulu" ucap Amar seraya merogoh ponsel dari saku celananya.


"Nggak usah Mar, kelamaan. Gimana kalau kita jalan kaki saja?"


"Tapi nanti kamu capek Sha"


"Nggak pa pa Mar, aku lagi pingin jalan kaki"


"Baiklah.. terserah kamu saja"


Mereka pun berjalan beriringan menuju jalan raya sambil berbincang bincang.


"Sha... boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa?"


"Apa kamu masih mencintai ayah dari bayi dalam kandungan kamu?"


Tiba tiba Esha menghentikan langkahnya dan menatap Amar dengan tajam.


"Jangan bahas soal dia lagi Mar, selama ini aku sudah berusaha untuk melupakannya. Jangan kamu ingatkan aku lagi"


"Maafkan aku Sha"


Esha menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan perjalanannya. Setelah berjalan selama 20 menit mereka pun sampai di tempat penjual martabak.


"Martabak manisnya satu pak, original rasa coklat kacang" seru Esha.


"Baik neng"


Esha memperhatikan tukang itu membuat martabak. Esha sesekali menelan air ludahnya. Amar memperhatikan Esha tanpa berkedip.


"Kamu wanita yang hebat Sha. Dengan keadaanmu yang sekarang, kamu masih terlihat tegar dan bersemangat. Aku semakin mengagumimu" gumam Amar dalam hati.


Beberapa menit kemudian...


"Sudah neng... ini" ucap tukang martabak sambil menyodorkan pesanan Esha. Esha pun menyambutnya.


"Berapa pak?"


"Delapan belas ribu neng"


"Biar aku saja Sha" sahut Amar sambil menghulurkan selembar uang dua puluh ribuan kepada tukang martabak.


"Ambil saja kembaliannya pak" kata Amar.


"Terima kasih. Semoga Allah melimpahkan kebahagiaan dalam rumah tangga kalian"


Esha dan Amar terkejut mendengar perkataan si tukang martabak.


"Maaf pak, tapi kami bukan suami istri" sahut Esha.


"Ooh.. maaf, saya kira kalian suami istri. Soalnya kalian kelihatan sangat serasi" ucap tukang martabak sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


Esha dan Amar sejenak saling berpandangan. Ada desiran di jantung mereka. Lalu Esha mengalihkan pandangannya. Esha mulai berjalan hendak pulang. Amar mengikutinya. Mereka pun berjalan beriringan.


Tiba tiba ada titik titik air yang jatuh dari langit.


"Sepertinya mau hujan Mar"


"Iya Sha, aku lupa nggak bawa payung tadi. Ayo cepat sedikit!"


Hujan makin deras.

__ADS_1


"Kita berteduh dulu Sha, hujannya makin deras"


Amar menarik tangan Esha untuk berteduh di depan sebuah toko di tepi jalan. Amar melihat tubuh Esha menggigil kedinginan. Amar merasa kasihan lalu membuka jaket kulitnya.


"Kamu pakai jaketku Sha!" seru Amar sambil memakaikan jaketnya ke tubuh Esha.


"Nggak usah Mar, nanti kamu kedinginan"


"Nggak pa pa Sha, aku nggak mau kamu sakit. Kasihan bayi kamu nanti"


15 menit kemudian...


"Hujannya sudah berhenti Mar, ayo kita pulang"


"Iya Sha, ayo!"


Mereka pun melanjutkan perjalanan. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di kontrakan.


"Cepat masuk Sha. Ganti baju kamu, biar nggak masuk angin"


"Iya Mar, kamu juga. Ini jaket kamu"


Esha melepas jaketnya lalu mengembalikannya kepada Amar.


"Terima kasih Mar"


"Sama sama. Masuklah!"


Esha dan Amar masuk ke kontrakan masing masing. Esha mengganti pakaiannya yang agak basah lalu ke dapur untuk bikin teh hangat. Esha membuka bungkusan martabaknya dan memakannya. Tiba tiba Esha teringat pada Amar.


Esha mengambil ponselnya lalu mengirim pesan whatsapp kepada Amar.


{ Mau menemaniku makan martabak? }


{ Keluarlah! }


Amar tersenyum saat membaca pesan dari Esha lalu mulai mengetik balasan.


{ Okey princess! }


Amar pun keluar dari kontrakannya lalu berjalan ke kontrakan Esha. Esha keluar sambil membawa nampan berisi martabak dan dua cangkir teh hangat.


"Duduklah! Aku buatkan teh hangat supaya badan kamu anget"


"Tengkyu Sha.."


Mereka pun duduk sambil menikmati teh hangat dan martabak manis. Esha makan dengan lahap sampai martabaknya habis. Amar hanya memperhatikannya sambil tersenyum. Amar merasa bahagia saat bersama dengan Esha. Seandainya dia bisa menghentikan waktu, ingin rasanya dia selalu berada di samping Esha seperti itu.


**********


Setelah sholat subuh, Amar kembali menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Amar menyentuh keningnya dengan telapak tangannya. Telapak tangannya terasa panas.


"Sepertinya aku demam" gumam Amar dalam hati.


Amar pun menarik selimut lalu memejamkan matanya dan kembali tidur.


**********


Setelah sholat subuh berjamaah, Esha dan bu Dahlia ke dapur untuk memasak. Mereka memasak sup ayam, sambal terasi, dan bakwan goreng. Karena masakan mereka cukup banyak, tiba tiba Esha teringat pada Amar.


"Bu, boleh Esha antar sarapan buat Amar? Hari ini kita masak cukup banyak"


"Tentu boleh sayang. Ibu juga kasihan sama nak Amar, dia tinggal sendirian nggak ada yang masakin"


Esha pun memgantarkan sarapan ke kontrakan Amar.


Tok.. tok.. tok...


Esha mengetok pintu beberapa kali namun Amar tidak membukakan pintu. Esha heran, apa Amar tidak ada di kontrakannya? Esha pun mencoba membuka pintu.


Ceklek!


Rupanya pintunya tidak dikunci. Esha pun masuk ke dalam.


"Assalamu'alaikum... Amar?" seru Esha.


Esha makin heran karena tidak ada sahutan. Esha menaruh nampan berisi sarapan di atas meja ruang tamu lalu melangkah menuju kamar Amar.


Tok.. tok.. tok...


Esha mengetok pintu kamar Amar beberapa kali.


"Amar... apa kamu di dalam?"


Karena tidak ada sahutan, perlahan Esha membuka pintu kamar Amar. Esha terkejut saat melihat Amar masih tidur dengan selimut yang menutupi sekujur tubuhnya.


"Amar... "


Esha melangkah masuk ke kamar Amar. Esha terkejut saat melihat muka dan bibir Amar begitu pucat. Esha pun menyentuh kening Amar. Panas sekali.


"Amar kamu demam..." seru Esha.


Perlahan Amar membuka matanya. Amar terkejut melihat Esha ada di kamarnya.

__ADS_1


"Esha? Kenapa kamu ada di sini?"


"Mar, aku ke sini untuk mengantarkan sarapan untukmu. Kebetulan aku sama ibu tadi masak banyak. Tadi aku udah mengetuk pintu dan mengucap salam tapi nggak ada sahutan, jadi aku masuk"


"Apa kamu lagi sakit Mar? Muka kamu sangat pucat"


"Kepalaku agak pusing Sha"


"Pasti karena kehujanan semalam. Apa kamu sudah minum obat?"


"Belum"


"Apa kamu ada persediaan obat? Biar aku ambilkan"


"Nggak ada Sha"


"Kalau begitu kamu tunggu dulu biar aku ambilkan di rumahku"


Esha pun bergegas keluar kontrakan Amar lalu kembali ke kontrakannya untuk mengambil obat.


"Kamu kenapa sayang kok buru buru sekali?" tanya bu Dahlia dengan heran.


"Amar demam bu. Esha mau ambilkan obat"


"Masya Allah... kasihan nak Amar"


Setelah mengambil obat, Esha kembali ke kontrakan Amar. Bu Dahlia mengikuti Esha. Bu Dahlia merasa iba melihat kondisi Amar.


"Ibu.." sapa Amar.


Bu Dahlia menepiskan senyumnya.


"Ini Mar, obatnya kamu minum dulu" ucap Esha sambil menyodorkan obat dan segelas air putih.


Amar pun bangun dan miminum obat itu.


"Nak Amar, sebaiknya kamu nggak usah kerja dulu. Kamu hubungi atasan kamu untuk minta izin, ya"


"Iya bu nanti Amar hubungi boss Amar"


Esha mengambilkan sarapan untuk Amar.


"Ini Mar, kamu sarapan dulu" ucap Esha sambil menyodorkan sepiring nasi beserta sayur dan lauknya kepada Amar. Amar pun menyambutnya.


"Maaf Sha, aku jadi ngrepotin"


"Nggak pa pa Mar, justru aku yang minta maaf soalnya kamu jadi sakit gara gara kehujanan waktu mengantarku beli martabak semalam"


"Nggak pa pa kok Sha, nanti juga sembuh"


"Ya sudah, kamu sarapan dulu. Aku tinggal ya?"


"Iya Sha, makasih"


"Mari nak Amar, semoga lekas sembuh" seru bu Dahlia.


"Terima kasih bu"


Esha dan bu Dahlia pun beranjak meninggalkan Amar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.........


Notes :

__ADS_1


Mana timnya Esha dan Amar?? Ayo komen..!! 😁


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...!!! tengkyu 😘


__ADS_2