Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Hampa


__ADS_3

( Flashback on )


Usia kandungan Aulia sudah memasuki bulan ke empat. Pak Salman, bu Debby, bu Kania dan Pak Mirza pulang ke Indonesia untuk mengadakan syukuran 4 bulan kehamilan Aulia. Bu Debby dan bu Kania sibuk membuat persiapan. Mereka menyewa jasa event organizer termahal. Mereka juga membayar salah satu stasiun televisi swasta untuk menyiarkan acara tersebut secara live. Mereka juga memanggil beberapa wartawan dari berbagai media untuk meliput acara tersebut. Raffi merasa tidak senang dengan rencana mamanya itu.


"Ma, aku rasa mama sudah berlebihan. Untuk apa semua ini ma?"


Raffi terlihat sangat kesal.


"Kamu ini kenapa sayang? Aulia ini kan seorang model, artis terkenal. Jadi acaranya harus besar besaran, mewah dan harus disiarkan secara live di tv. Biar semua orang tau kalau sebentar lagi keluarga Anggara akan mempunyai penerus..." seru bu Debby.


"Sudahlah Raffi, kamu turuti saja keinginan mama kamu. Ini semua demi nama baik keluarga kita" Pak Salman menimpali.


Raffi dan Aulia pun tidak bisa membantah keinginan orang tua mereka. Raffi dan Aulia hanya bisa bersandiwara seperti keluarga yang bahagia dan harmonis di depan semua orang demi menjaga nama baik keluarganya.


Yang Raffi rasakan selama menjalani pernikahannya bersama Aulia adalah kehampaan. Raffi tidak bisa mencintai Aulia karena di dalam hati dan pikirannya hanya ada Esha. Entah kenapa sampai sekarang Raffi belum bisa melupakan Esha dan membuka hatinya untuk Aulia meskipun Aulia sedang mengandung anaknya. Raffi hanya menjalankan kewajibannya sebagai calon ayah yang menjaga dan melindungi ibu dan calon bayinya.


Setelah acara selesai, Raffi langsung keluar rumah dan tancap gas meninggalkan acara itu. Raffi sudah muak dengan sikap kedua orang tuanya. Raffi muak harus terus bersandiwara. Raffi pergi tanpa sepengetahuan mereka.


Raffi mematikan ponselnya agar tidak ada seorang pun yang bisa menghubunginya. Raffi ingin menenangkan diri untuk sementara waktu. Raffi mengemudikan mobil sportnya dengan kencang menuju villanya di Cipanas. Setelah bercerai dari Esha, setiap minggu Raffi pergi ke villanya untuk menenangkan diri.


Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari dua jam, Raffi pun sampai di villanya. Bi Ijah dan Pak Rahmat keluar dari villa dengan tergopoh gopoh saat mendengar suara mesin mobil. Raffi turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya menuju villa.


"Assalamu'alaikum Bi Ijah, Pak Rahmat" sapa Raffi sambil memaksakan senyumnya.


"Wa'alaikumsalam tuan Raffi" sahut bi Ijah dan pak Rahmat.


Raffi pun masuk ke dalam villa dan melangkah menuju kamarnya. Raffi menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Raffi meliarkan matanya memandang setiap sudut kamar itu. Lagi lagi Raffi teringat pada Esha. Banyak sekali kenangan bersama Esha di kamar itu. Raffi melihat bayangan Esha di setiap sudut kamar itu.


"Bagaimana kabarmu sayang? Aku sangat merindukanmu. Apa kau juga merasakan apa yang aku rasakan?" batin Raffi.


Raffi menghela nafas panjang.


"Selama tiga bulan ini tidak ada satu hari pun aku lewati tanpa memikirkanmu... Aku merindukan senyumanmu. Aku merindukan pelukanmu. Aku merindukan kasih sayangmu..." gumam Raffi dalam hatinya.


Tok... tok... tok...


Bi Ijah mengetok pintu kamar Raffi yang terbuka. Raffi menoleh ke arah sumber suara lalu mengubah posisinya dengan duduk di tepi ranjang.


"Masuk bi.."


"Ini tuan, bibi buatkan kopi hitam"


"Terima kasih bi"


Bi Ijah pun meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja di sebelah tempat tidur Raffi.


"Apa tuan ingin makan? Biar bibi siapkan"


"Nanti saja bi"


"Baiklah tuan. Tuan Raffi ingin makan apa untuk makan malam? Biar bibi masakin"


Raffi hanya membisu. Tiba tiba Raffi teringat masakan Esha. Dulu di villa ini, setiap hari Esha memasak untuknya. Masakan Esha sangat enak dan membuatnya ketagihan.


"Tuan Raffi?" seru bi Ijah karena melihat Raffi yang sejak tadi melamun.

__ADS_1


"Eh iya bi. Aku ingin makan ayam rica rica"


"Apa tuan Raffi teringat non Esha? Non Esha sangat pandai memasak ayam rica rica. Masakan non Esha sangat enak"


"Iya bi. Aku kangen sekali sama dia. Entah bagaimana keadaannya sekarang. Sejak aku menceraikannya, aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya"


"Sebenarnya bibi juga kangen sama non Esha tuan. Bibi kasihan sama non Esha. Non Esha adalah gadis yang baik dan sholehah. Ujian demi ujian seolah tidak pernah habis menimpanya..."


"Bibi selalu berdoa agar non Esha berjodoh dengan tuan Raffi dan orang tua tuan Raffi mau menerima pernikahan kalian. Bibi sangat sedih saat tuan Raffi bilang kalau tuan Raffi sudah menceraikan non Esha" ucap bi Ijah sambil terisak.


"Aku terpaksa melakukannya bi. Ibunya terus mendesakku untuk menceraikannya. Aku tidak ada pilihan lain karena Lia sedang hamil"


"Sebenarnya aku juga tidak mau menceraikan Esha karena aku sangat mencintainya bi. Tapi aku tidak mau membuatnya lebih tersiksa lagi dengan terus mempertahankannya. Selama ini dia sudah cukup menderita...."


"Semoga non Esha menemukan kebahagiaannya tuan. Bibi masih berharap suatu saat nanti kalian bisa bersatu kembali karena bibi tau kalian saling mencintai"


"Aamiin bi. Aku merasa bibi lebih mengerti aku daripada ibu kandungku sendiri. Seandainya aku memiliki ibu seperti bibi, mungkin aku akan sangat bahagia" ucap Raffi dengan mata yang berkaca kaca.


"Boleh aku memeluk bibi?"


"Apa tuan?"


Bi Ijah terkejut mendengar permintaan Raffi.


"Tolong peluk aku bi. Sebentar saja. Aku membutuhkannya. Aku merasa di dunia ini aku hanya sendirian. Tidak ada yang mau mengerti apa keinginanku"


"Ba.. baik tuan"


Dengan ragu ragu bi Ijah pun menghampiri Raffi yang tengah duduk di tepi ranjang lalu memeluk kepalanya. Tangis Raffi pecah di pelukan bi Ijah. Bi Ijah pun tak kuasa menahan sebak di dadanya. Ada butiran air bening yang mengalir dari pelupuk mata bi Ijah. Bi Ijah mengusap kepala Raffi dengan lembut untuk menguatkannya.


**********


"Aulia dimana Raffi?"


"Lia tidak tau ma. Sejak acara selesai Lia belum melihatnya"


"Coba kamu hubungi dia!"


Aulia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi Raffi.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar service area..." ( suara operator )


"Nggak aktif ma..."


"Kemana dia pergi? Apa jangan jangan dia menemui perempuan itu?" ketus bu Debby.


"Perempuan yang mana ma?" tanya Aulia dengan penasaran.


"Emh.. bukan siapa siapa sayang. Mama cuma asal bicara tadi"


"Apa yang mama maksud Alesha, istri pertama kak Raffi?"


Bu Debby sontak membulatkan matanya karena terkejut mendengar pertanyaan Aulia.


"Da... darimana kamu tau Lia?"

__ADS_1


"Lia sudah tau semuanya ma. Lia kecewa sama mama karena mama sudah menutupi semuanya dari Lia. Alesha dan kak Raffi saling mencintai ma. Kalau dari awal Lia tau kalau kak Raffi sudah menikah dengan Alesha, Lia akan membatalkan perjodohan Lia dan kak Raffi ma"


"Asal mama tau.. gara gara Lia mereka telah bercerai ma. Kak Raffi sudah menceraikan Alesha demi bayi yang ada dalam kandungan Lia. Lia merasa bersalah pada mereka ma"


"Bagus dong kalau mereka sudah bercerai" tutur bu Debby.


"Mama benar benar egois! Apa mama tidak memikirkan perasaan kak Raffi dan perasaan Lia ma? Kak Raffi hanya mencintai Alesha ma. Selama ini Lia sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuat kak Raffi jatuh cinta pada Lia tapi kak Raffi tetap tidak bisa membuka hatinya untuk Lia. Hati Lia sakit ma... Hampir tiap malam Lia menangis tanpa sepengetahuan kak Raffi. Batin Lia tersiksa ma. Selama ini Lia bertahan hanya demi bayi ini ma..."


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Pak Salman yang sudah berdiri di belakang mereka.


Bu Debby dan Aulia terkejut saat mendengar suara pak Salman. Mereka pun membalikkan badan mereka menghadap Pak Salman.


"Bukan apa apa kok pa" sahut bu Debby.


"Ma, papa sudah dengar semuanya dengan jelas. Jadi Raffi sudah pernah menikah dengan perempuan lain sebelum menikah dengan Aulia? Kenapa kalian semua tidak memberi tahu papa soal ini?"


"Pa, perempuan itu hanya perempuan simpanan Raffi pa. Mereka hanya menikah di bawah tangan. Raffi juga sudah menceraikannya. Lagipula perempuan itu cuma perempuan kampung yang tidak sederajat dengan keluarga kita pa. Jadi lupakan saja perempuan itu"


"Kenapa mama sama papa selalu saja menilai orang dari kekayaannya ma, pa? Padahal kekayaan tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Asal kalian tau, kak Raffi dan Lia tidak bahagia ma, pa" seru Aulia lalu beranjak meninggalkan kedua mertuanya.


( Flashback off )


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung............


Notes :

__ADS_1


Masih setia dengan novel ini???


Jangan lupa tekan LIKE, LOVE dan komentarnya setelah membaca....!!!Tengkyu 😊


__ADS_2