Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Silaturahmi


__ADS_3

Aulia, Bu Kania dan Pak Mirza telah sampai di rumah.


Tiiiiiiiinnnn.... Tiiiiiinnnn....


Pak Imam membunyikan klakson beberapa kali. Tak lama kemudian, Bi Minah membukakan pintu. Bi Minah pun keluar untuk menyambut majikannya. Bu Kania, Pak Mirza dan Aulia keluar dari mobil. Pak Imam mengeluarkan koper dari bagasi mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Selamat datang tuan, nyonya, non Aulia" sapa Bi Minah.


"Assalamu'alaikum Bi Minah" sahut Aulia, Bu Kania dan Pak Mirza.


"Wa'alaikumsalam"


Aulia, Bu Kania dan Pak Mirza pun masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa sambil berbincang bincang. Bi Minah beranjak ke dapur untuk membuatkan minuman.


"Sayang, apa benar yang kamu katakan tadi kalau kamu mencintai seseorang? Atau kamu cuma cari alasan untuk menolak produser kamu itu?" tanya Pak Mirza.


"Lia memang mencintai seseorang Pa, Ma. Dan sudah satu bulan ini Lia menjalani ta'aruf sama dia"


"Ta'aruf?? Kenapa kamu nggak pernah cerita sama kami sayang?" tanya Bu Kania.


"Maaf kalau Lia belum sempat cerita sama papa dan mama"


"Lalu siapa laki laki yang beruntung itu sayang?" tanya Pak Mirza.


"Namanya Amar Pa. Dia adalah temannya Alesha, istri kak Raffi"


"Oh ya Ma, Pa, Lia belum cerita sama mama dan papa kalau kak Raffi telah kembali bersama Alesha. Mereka sudah meresmikan pernikahan mereka Ma, Pa. Dan Lia turut menjadi saksi pernikahan mereka..."


"Dulu waktu kak Raffi menceraikan Alesha, ternyata Alesha sedang hamil. Dan Alesha merahasiakannya dari kak Raffi. Sampai akhirnya Allah telah mempertemukan mereka kembali. Lalu mereka berdua rujuk. Dan sekarang mereka sudah punya seorang bayi laki laki Ma, Pa..." imbuh Aulia.


"Apa??" seru Bu Kania dan Pak Mirza.


Bu Kania dan Pak Mirza terkejut mendengar kata kata Aulia.


"Lalu apa Debby dan Salman tau soal ini?" tanya Pak Mirza.


"Mereka belum tau Pa. Kak Raffi melarang Lia untuk memberi tahu mereka. Kak Raffi berencana membawa Alesha dan bayinya menemui tante Debby dan Om Salman kalau mereka pulang ke Jakarta"


"Semoga Debby dan Salman mau menerima menantu dan juga cucunya" ucap Pak Mirza.


"Aamiin" sahut Aulia dan Bu Kania.


Bi Minah muncul sambil membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat lalu meletakkan teh tersebut di atas meja.


"Bibi buatkan teh hangat tuan, nyonya, non Aulia, silahkan diminum"


"Makasih Bi"


Kemudian Bi Minah kembali ke dapur. Aulia, Pak Mirza dan Bu Kania pun meminum tehnya.


"Oh ya sayang, lalu apa pekerjaan Amar? Dimana dia tinggal?" tanya Pak Mirza.


"Amar bekerja sebagai marketing manager di PT Tiga Berlian Pa. Dia... tinggal di... kontrakan Pa" ucap Aulia dengan agak ragu.


"Apa?? Kontrakan??" seru Pak Mirza dan Bu Kania.


"Apa dia tidak punya tempat tinggal?" tanya Bu Kania.


"Sebenarnya Amar datang dari kampung Ma, Pa. Dan untuk sementara waktu Amar ngontrak di daerah Pulo Gadung. Tapi dia berniat untuk membeli sebuah rumah Pa. Dia sedang mengumpulkan uang"


"Sayang, apa kamu benar benar mencintainya? Apa kamu akan bahagia hidup dengan laki laki biasa sepertinya? Papa nggak rela kalau kamu hidup menderita sayang. Sudah cukup penderitaan kamu dulu bersama Raffi" Pak Mirza menimpali.


"Lia mencintai Amar karena Allah Pa, karena Amar adalah laki laki yang baik dan juga sholeh. Lia mohon restuilah kami Pa, Ma. Insya Allah Lia akan bahagia bersama Amar. Amar pasti bisa menjadi imam yang baik bagi Lia"


Pak Mirza dan Bu Kania terdiam untuk beberapa saat. Mereka mencerna kata kata Aulia. Sebenarnya mereka hanya ingin putri semata wayangnya itu bahagia. Akhirnya Pak Mirza pun membuka suaranya.


"Kalau begitu besok ajaklah Amar ke sini. Papa ingin bertemu dengannya..."


Aulia tersenyum senang mendengar ucapan Pak Mirza.


"Iya Pa. Besok Lia akan suruh Amar datang ke sini untuk menemui papa dan mama. Terima kasih Pa"


"Iya sayang"


Setelah berbincang bincang mereka pun masuk ke kamar masing masing untuk istirahat. Aulia masuk ke kamarnya lalu mandi dan ganti pakaian. Setelah itu, Aulia mengambil ponsel di dalam tasnya lalu duduk di tepi tempat tidur. Aulia pun mengirim pesan whatsapp kepada Amar.

__ADS_1


Aulia : Assalamu'alaikum...


Amar : Wa'alaikumsalam. Ada apa Lia?


Aulia : Amar, orang tuaku baru saja kembali dari Amerika. Aku sudah memberi tahu mereka soal hubungan ta'aruf kita. Dan mereka memintamu untuk datang menemui mereka besok. Apa besok kamu bisa datang ke sini?


Amar : Insya Allah besok aku datang ke rumahmu Lia...


Aulia : Baiklah, sampai jumpa besok.


Amar : Lia, apa benar tadi Evan melamarmu di lokasi syuting? Aku baru saja melihat vidionya. Ada seseorang yang mengunggahnya di instagram.


Aulia : Iya Mar, itu memang benar. Tapi aku telah menolak lamarannya.


Amar : Ternyata Evan sangat mencintaimu Lia. Buktinya dia berani melamarmu di hadapan semua orang.


Aulia : Tapi aku nggak mencintainya Mar. Aku sudah memilihmu.


Amar : Makasih Lia. Aku benar benar bersyukur pada Tuhan karena kamu lebih memilih laki laki biasa sepertiku. Ya sudah Lia, sampai jumpa besok. Assalamu'alaikum.


Aulia : Wa'alaikumsalam.


*****


Keesokan harinya...


Tepat pukul 18.00, Raffi dan Amar sampai di rumah Aulia. Amar sengaja mengajak Raffi untuk menemaninya menemui orang tua Aulia. Raffi pun dengan senang hati menemani Amar.


Tok... Tok... Tok...


Raffi mengetok pintu beberapa kali. Jantung Amar berdebar debar karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Aulia dan juga kedua orang tuanya. Amar merasa gugup tapi dia berusaha tetap tenang.


Ceklek!


Aulia membukakan pintu. Aulia terlihat sangat cantik memakai long dress dan hijab berwarna ungu. Jantung Amar makin berdegup kencang saat dia bertatapan dengan Aulia.


"Assalamu'alaikum" sapa Raffi dan Amar.


"Wa'alaikumsalam. Kak Raffi, Amar ayo silahkan masuk. Mama sama papa sudah menunggu di dalam" sahut Aulia sambil menepiskan senyumnya.


"Assalamu'alaikum Om, tante.." sapa Raffi dan Amar.


"Wa'alaikumsalam" Pak Mirza dan Bu Kania pun berdiri.


Raffi memperkenalkan Amar pada Pak Mirza dan Bu Kania.


"Kenalkan ini Amar Om, tante"


"Amar, ini om Mirza dan tante Kania"


Amar pun bersalaman dengan Pak Mirza dan Bu Kania. Lalu mereka duduk di kursi setelah dipersilahkan.


"Bagaimana kabar Om dan tante?" tanya Raffi.


"Ya... seperti yang kamu lihat Raffi. Kami baik baik saja" sahut Pak Mirza.


"Mama sama papa apa kabar om? Kenapa mereka nggak ikut pulang?"


"Mungkin mereka masih marah sama kamu Raffi soal perceraian kamu sama Lia..."


"Oh ya Raffi, Om dengar dari Lia kamu sudah rujuk sama Alesha dan kalian juga sudah punya anak. Apa benar begitu?"


"Iya Om. Alhamdulillah kami sudah punya anak laki laki"


"Selamat ya Raffi... kapan kapan ajak mereka main ke sini. Tante pengen kenalan sama istri kamu" sahut Bu Kania.


"Makasih tante. Insya Allah kapan kapan Raffi ajak mereka ke sini..."


Bi Minah muncul sambil membawa nampan berisi 5 cangkir teh hangat. Bi Minah meletakkan teh tersebut di atas meja lalu kembali ke dapur.


"Ayo silahkan diminum tehnya!" seru Bu Kania.


"Makasih tante"


Mereka pun meminum tehnya.

__ADS_1


"Oh ya Om, tante, maksud Raffi dan Amar datang ke sini kami ingin bersilaturahmi sama Om dan tante. Om dan tante pasti sudah tau dari Lia kan kalau Lia dan Amar sedang menjalani proses ta'aruf?"


"Iya Raffi. Makanya Om ingin mengenal Amar lebih dekat lagi"


"Kalau begitu sekarang Om dan tante bisa bertanya apa saja pada Amar. Insya Allah Amar akan menjawab semua pertanyaan Om dan tante dengan jujur"


"Baiklah Raffi"


Kemudian Pak Mirza pun bertanya kepada Amar soal pekerjaannya, tempat tinggalnya, orang tuanya, latar belakang keluarganya dan masih banyak lagi. Amar pun menjawab semua pertanyaan Pak Mirza dengan jujur tanpa ada yang ditutup tutupi. Pak Mirza dan Bu Kania merasa senang saat berbincang bincang dengan Amar karena Amar orangnya jujur dan juga santun.


Dan pada saat mendengar suara adzan, Amar pun langsung minta izin untuk melaksanakan sholat isya. Pak Mirza dan Bu Kania kagum sama Amar karena selain jujur, Amar juga pemuda yang sholeh. Mereka pun sholat isya berjamaah dan Pak Mirza meminta Amar untuk menjadi imamnya. Pak Mirza sengaja mengetes Amar. Amar pun menyanggupinya. Pak Mirza dan Bu Kania bertambah kagum saat mendengar bacaan sholat Amar yang begitu bagus dan sedap didengar. Sekarang Pak Mirza dan Bu Kania yakin kalau Amar adalah orang yang tepat untuk Aulia.


Setelah sholat isya, Bu Kania mengajak mereka untuk makan malam bersama. Bu Kania dan Bi Minah sudah menyiapkan menu yang spesial untuk menjamu mereka. Setelah selesai makan malam, Raffi dan Amar pun pamit pulang. Aulia, Pak Mirza dan Bu Kania mengantar mereka sampai depan rumah.


Setelah Amar dan Raffi pergi, Aulia berbincang bincang dengan orang tuanya di ruang tamu.


"Bagaimana Pa, Ma, apa kalian menyukai Amar?" tanya Aulia dengan penasaran.


"Papa nggak suka sama dia sayang"


Aulia terkejut mendengar jawaban Pak Mirza. Raut mukanya tiba tiba berubah.


"Papa cuma bercanda sayang. Papa sangat menyukainya. Amar pemuda yang santun, jujur dan juga sholeh. Dia pantas menjadi suamimu"


Senyum Aulia melebar setelah mendengar kata kata Pak Mirza.


"Alhamdulillah... Makasih Pa" seru Aulia seraya memeluk papanya dengan erat.


"I love you Pa"


"I love you too sayang"


Aulia sangat bersyukur pada Tuhan karena orang tuanya merestui hubungannya dengan Amar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...........


Notes :


Hi readers, masih setia sama novel "Kesucian Alesha"??


Ayo dukung author dan novel favorit kamu ini dengan cara VOTE poin sebanyak banyaknya...!!!


( Biar masuk ranking 20 besar lagi minggu ini 😁 )


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2