Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Melepas Rindu


__ADS_3

Raffi masuk ke dalam apartemen Esha. Apartemen itu terlihat sangat gelap. Ia pun meraba dinding untuk mencari suis lampu lalu menekannya. Seketika ruangan pun menjadi terang. Kemudian Raffi meliarkan pandangannya mencari Esha di setiap ruangan, namun ia tidak menemukannya.


Terakhir Raffi masuk ke kamar Esha. Tiba-tiba matanya tertuju pada koper Esha yang terletak di samping lemari pakaian. Perlahan dia pun membuka lemari pakaian Esha. Raffi tersenyum lega saat melihat lemari Esha telah terisi oleh pakaian.


Berarti kamu sudah kembali dari kampungmu. Tapi kamu pergi kemana Sayang? Mobil kamu juga nggak ada di parkiran, gumam Raffi dalam hati.


Raffi merogoh ponsel di saku celananya lalu mencoba menghubungi Esha lagi.


Tut ... tut ... tut ....


Raffi menunggu beberapa waktu, tapi tidak ada jawaban. Dia mencoba berkali-kali, tapi tetap sama. Lalu dia pun mengirim pesan via whatsapp kepada Esha.


{ Sayang kamu dimana? Kenapa kamu tidak mau membalas pesanku dan tidak mau menjawab telponku? Apa kamu marah padaku? }


Pesan itu dibaca oleh Esha tapi tidak dibalasnya. Raffi semakin kesal. Dia pun melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Laki-laki itu terlihat sangat frustasi.


"Sebenarnya kamu dimana Sayang? Aku bisa gila karena memikirkanmu," gumam Raffi.


Raffi duduk di tepi tempat tidur, lalu mulai berfikir.


"Esha nggak kenal siapa-siapa di Jakarta kecuali aku, Bi Ijah dan Pak Rahmat. Iya, pasti Esha pergi ke villa menemui Bi Ijah dan Pak Rahmat" gumamnya lagi.


Raffi bergegas mengambil ponselnya lalu keluar dari apartemen Esha menuju parkiran. Dia pun mengemudikan mobilnya dengan kencang menuju villanya di Cipanas. Di tengah perjalanan Aulia menelpon Raffi berkali-kali, tapi dia tidak mau menjawabnya. Raffi pun mematikan ponselnya.


Dua jam kemudian, Raffi sampai di villanya. Dia melihat mobil Esha ada di parkiran. Raffi tersenyum lega karena benar dugaannya kalau Esha berada di villa.


Alhamdulillah ... ternyata benar dugaanku, kamu ada di sini Sayang, batin Raffi.


Raffi membuka pintu dengan kunci cadangan yang ia bawa lalu bergegas menuju kamarnya. Raffi membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Dia melihat Esha sudah terlelap dalam tidurnya.


Perlahan Raffi mendekati Esha lalu duduk di sampingnya. Dia pun membelai wajah istrinya dengan lembut, kemudian mengecup pipi kanannya. Tiba-tiba saja Esha membuka matanya. Dia terkejut melihat Raffi ada di depan matanya.


"Kak Raffi." Esha langsung bangun dan duduk berhadapan dengan suaminya.


"Assalamu'alaikum Sayang," ucap Raffi sambil menepiskan senyumnya.


"Wa'alaikumsalam. Kenapa Kak Raffi ada di sini? Bukankah Kak Raffi pergi bulan madu sama Aulia?" tanya Esha dengan heran.


Raffi langsung mendekap tubuh Esha dengan erat. Esha terkejut. Jantungnya berdegup kencang.


"Sayang aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu nggak membalas pesanku dan nggak mengangkat telponku?" tanya Raffi.


"Maaf Kak ... aku ...."


"Apa kamu marah padaku?" tukas Raffi kemudian melepaskan pelukannya.


"Maafkan aku Sayang. Aku telah menikah dengan Aulia. Namun itu bukanlah kemauanku. Itu keinginan keluargaku. Aku hanya mencintai satu perempuan di dunia ini, yaitu kamu Sayang." Raffi memeluk Esha lagi.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu Kak. Aku juga sangat merindukanmu." Esha membalas pelukan Raffi. Dia tidak mampu menahan air matanya lagi. Tangisnya pun pecah di pelukan suaminya.


"Maafkan aku Kak, seharusnya aku nggak seperti ini. Tapi aku ... aku sangat cemburu melihatmu bersama Aulia di TV," ucap Esha di sela isak tangisnya.


Raffi melepaskan pelukannya. Lalu dia menyeka air mata Esha dengan kedua tangannya. "Jangan menangis lagi, Sayang! Kamu nggak salah. Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu," ucap Raffi.


Raffi menangkupkan kedua tangannya ke wajah Esha, lalu mencium keningnya perlahan. Kemudian dia mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya itu, lalu menciumnya dengan lembut. Esha membalas ciuman suaminya. Bibir mereka pun bertautan untuk waktu yang cukup lama.


Malam itu mereka melepas kerinduan yang selama ini menyiksa batin mereka. Mereka saling berpelukan, berciuman, dan bercinta. Tidak ada lagi jarak diantara mereka. Malam itu menjadi malam yang sangat panjang untuk mereka berdua.


***


Adzan subuh menggema. Esha pun membuka kelopak matanya perlahan. Dia tersenyum sambil menatap wajah Raffi yang masih terlelap di pelukannya. Tubuh mereka hanya berbalut selimut saja. Dibelainya rambut Raffi dengan lembut.


Seandainya waktu bisa ku hentikan, ingin rasanya aku selalu berada bersamamu seperti saat ini Kak. Aku sangat mencintaimu, Kak Raffi, gumam Esha dalam hati.


Raffi perlahan membuka matanya. "Good morning, Sayang," ucap Raffi sambil menatap wajah istrinya.


"Good morning," sahut Esha.


"Kak, kenapa Kak Raffi tau kalau Esha ada di sini?" tanya Esha kemudian.


"Kemarin aku hampir gila karena memikirkanmu Sayang. Aku bingung karena kamu nggak mau membalas pesanku dan nggak mau menjawab telponku. Lalu aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan langsung mencarimu ke apartemen. Namun di sana aku tidak menemukanmu. Lalu aku melihat koper dan pakaianmu di lemari. Aku mulai berfikir kalau kamu pasti ke sini menemui Bi Ijah dan Pak Rahmat, karena kamu nggak kenal siapa-siapa di Jakarta."


"Lalu bagaimana dengan Aulia? Apa dia tau kalau kak Raffi pergi mencariku?"


"Lia nggak tau apa-apa. Kamu nggak usah mencemaskannya!"


"Kamu jangan takut, selama ada aku nggak akan ada yang akan menyakitimu." Raffi berusaha menenangkan Esha.


"Lalu Bu Debby?"


"Mama sama papa sudah kembai ke Amerika siang tadi."


"Sekarang ayo kita mandi!" seru Raffi lalu beranjak dari tempat tidur. Lalu ia pun membopong tubuh Esha dan berjalan menuju kamar mandi.


"Kak Raffi turunkan aku!" seru Esha.


"Aku nggak mau," sahut Raffi sambil tersenyum.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Esha mengajak Raffi untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Kali ini Raffi menuruti permintaan Esha. Dia tidak ingin mengecewakan istrinya lagi.


Selesai sholat, Esha keluar dari kamar lalu berjalan menuju dapur untuk membuat kopi hitam kesukaan Raffi. Kebetulan Bi Ijah sudah datang. Dia tengah sibuk memasak di dapur.


"Selamat pagi Non. Non Esha sudah bangun?" sapa Bi Ijah dengan ramah.


"Selamat pagi. Iya Bi. Esha mau bikin kopi untuk kak Raffi. Tadi malam Kak Raffi datang Bi."

__ADS_1


"Iya Non. Bibi tadi lihat mobil Tuan Raffi di parkiran."


Esha pun membuat secangkir kopi hitam untuk Raffi dan mengantarkannya ke kamar. Setelah itu, dia kembali ke dapur lagi untuk membantu Bi Ijah membuat sarapan.


Setelah selesai memasak, Esha pun memanggil Raffi untuk sarapan.


"Kak Raffi ayo kita sarapan dulu! Makanan sudah siap," serunya.


"Iya Sayang," sahut Raffi.


Raffi beranjak dari tempat tidur lalu mereka berjalan menuju ruang makan.


"Selamat pagi Tuan Raffi," sapa Bi Ijah.


"Pagi Bi Ijah. Pak Rahmat mana Bi?" tanya Raffi.


"Pak Rahmat lagi bersih-bersih di luar rumah Tuan."


"Kalau begitu panggil Pak Rahmat masuk, kita sarapan sama-sama!" titah Raffi.


Esha dan Bi Ijah terkejut mendengar ucapan Raffi. Mereka berdua pun saling berpandangan.


"Cepat Bi, panggil Pak Rahmat!" seru Raffi lagi.


"I ... iya Tuan." Bi Ijah pun bergegas keluar untuk memanggil Pak Rahmat. Esha tersenyum senang melihat perubahan suaminya.


Tak lama kemudian Pak Rahmat dan Bi Ijah tiba di ruang makan.


"Silakan duduk Pak Rahmat, Bi Ijah, kita sarapan sama-sama!" seru Raffi.


"I ... iya Tuan," sahut Pak Rahmat agak sedikit bingung dengan perubahan sikap majikannya. Mereka pun duduk lalu sarapan bersama.


Setelah sarapan Raffi dan Esha berpamitan kepada Pak Rahmat dan Bi Ijah untuk pergi ke kantor.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG ............................


Notes :

__ADS_1


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca!


Terima kasih .... 😊


__ADS_2