
Amar sangat syok saat mengetahui berita perceraian Raffi dan Aulia. Diam diam ternyata Amar selama ini mengfollow akun instagram Aulia Safina untuk mengetahui kehidupan sehari harinya bersama Raffi. Amar terkejut saat melihat unggahan terakhir Aulia Safina banjir komentar para netizen yang menanyakan perihal perceraiannya. Tapi sekarang Aulia telah mengunci kolom komentarnya. Amar pun browsing di google dan membuka youtube menggunakan laptopnya di kantor untuk mencari kebenaran beritanya. Ternyata memang benar, mereka telah resmi bercerai.
"Ya Tuhan... Apa ini kenyataan yang harus aku terima? Pasti Esha akan kembali bersama mantan suaminya. Dan aku akan patah hati lagi untuk yang kedua kalinya..."
Ada kekecewaan yang mendalam di hati Amar.
"Tapi aku akan menerima apapun keputusan Esha. Aku akan bahagia jika melihatnya bahagia...." gumam Amar dalam hati.
**********
Di tempat lain...
Di tengah perjalanan, Raffi mendengar suara adzan berkumandang. Raffi pun memberhentikan mobilnya di halaman sebuah masjid untuk menunaikan sholat ashar. Semenjak berpisah dengan Esha, alhamdulillah Raffi semakin rajin beribadah. Dia selalu menyempatkan diri untuk sholat lima waktu di sela sela kesibukannya. Dia ingin memperbaiki diri dan memohon ampun kepada Allah atas semua dosa dosanya di masa lalu.
Sekarang Raffi sadar pentingnya agama dalam kehidupan seseorang. Raffi ingat dulu dia adalah seorang pria arogan yang tidak pernah sholat, apalagi puasa di bulan Ramadhan. Dia hanya mengikuti orang tuanya. Orang tuanya tidak pernah sholat dan puasa, padahal mereka beragama Islam.
Setelah lulus SMA Raffi melanjutkan studinya di London. Kehidupaan ala barat telah melekat dalam dirinya. Tiap akhir pekan dia habiskan waktunya untuk foya foya di klab malam, mabuk mabukan dan bermain wanita. Tapi semuanya berubah sejak dia bertemu dengan Esha. Esha lah satu satunya perempuan yang mampu mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik. Raffi bersyukur kepada Allah karena telah mempertemukannya dengan perempuan berhati baik seperti Esha.
Selesai sholat, Raffi pun berdoa kepada Tuhan.
"Ya Allah... aku mohon pada-Mu, pertemukanlah aku dengan Esha. Dia sedang mengandung anakku. Semoga dia mau kembali padaku dan kami bisa memulai kehidupan yang baru. Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindunginya. Aku tidak akan membuatnya sedih dan menangis lagi. Aku juga akan berusaha membuatnya bahagia. Ya Allah, tolong berikanlah kami kesempatan kedua.... Aamiin"
Selesai sholat, Raffi pun melanjutkan perjalanannya. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua setengah jam, Raffi pun sampai ke alamat yang dituju. Raffi memberhentikan mobilnya tepat di depan kontrakan Esha dan Bu Dahlia. Raffi melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul empat sore. Raffi pun turun dari mobilnya kemudian melangkah menuju pintu.
Tok.. tok.. tok...
Raffi mengetok pintu beberapa kali.
Ceklek!
Bu Dahlia membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum Bu" sapa Raffi sambil menepiskan senyumnya.
Bu Dahlia syok saat mengetahui siapa yang bertamu ke kontrakannya. Dia menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya saking terkejutnya.
"Assalamu'alaikum Bu" ucap Raffi sekali lagi.
"Wa.. wa'alaikumsalam nak Raffi..."
Raffi pun mencium tangan bu Dahlia.
"Siapa yang datang Bu?" tanya Esha yang tiba tiba muncul dari dalam.
Esha pun terkejut saat melihat Raffi datang ke kontrakannya.
"Kak Raffi??" seru Esha seraya membulatkan kedua matanya.
"Esha..."
Raffi pun langsung berhambur masuk kemudian memeluk Esha. Dia sudah tidak mampu menahan gejolak dalam dadanya. Esha hanya diam saja. Esha masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Aku sangat merindukanmu sayang..."
Esha tidak bisa berkata apa apa. Dia hanya membiarkan Raffi memeluk dirinya untuk beberapa waktu. Raffi pun melepaskan pelukannya lalu ia memegang kedua pundak Esha.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sedang mengandung anakku sayang? Kenapa selama ini kamu merahasiakannya dariku? Kenapa?" tanya Raffi seraya menatap Esha dengan tajam.
"Ma.. mafkan aku kak..." ucap Esha dengan terbata.
Raffi melihat perut Esha yang membuncit. Ia pun berjongkok lalu mengelus perut Esha perlahan. Esha pun membiarkan Raffi mengelus perutnya. Raffi dapat merasakan bayi di dalam perut Esha bergerak gerak. Raffi mengukir senyuman di bibirnya dan mulai menitikkan air matanya karena terharu.
"Sayang... ini papa. Maafkan papa karena selama ini papa tidak ada di samping kalian untuk menjaga kalian..."
__ADS_1
Raffi pun mencium perut Esha perlahan. Esha tak kuasa menahan sebak di dadanya. Tangisnya pun pecah. Bu Dahlia pun turut menangis menyaksikan pemandangan yang ada di depannya saat ini.
Raffi berdiri lalu memegang kedua pipi Esha yang basah. Raffi pun menyeka air mata Esha dengan kedua ibu jarinya. Esha pun menenggelamkan kepalanya di dada bidang Raffi. Sejenak mereka saling berpelukan. Mereka melepas kerinduan yang selama ini menyiksa batin mereka.
Tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka.
"Assalamu'alaikum" ucap Amar yang sudah berdiri di ambang pintu.
Esha, Raffi dan Bu Dahlia terkejut saat mendengar suara Amar. Esha pun segera melepaskan pelukannya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Bu Dahlia, Esha dan Raffi.
"Amar... " seru Esha.
"Nak Amar, baru pulang kerja? Ayo silahkan duduk" seru Bu Dahlia.
Raffi merasa heran melihat ada seorang laki laki yang datang ke kontrakan Esha. Bu Dahlia dan Amar pun duduk di kursi tamu.
"Kak Raffi duduklah, biar Esha buatkan minum" ucap Esha kemudian beranjak ke dapur.
Raffi pun duduk di kursi tamu bersama Amar dan Bu Dahlia. Amar dan Raffi sejenak saling bertatapan. Kemudian Amar mengalihkan pandangannya. Bu Dahlia pun memperkenalkan mereka berdua.
"Nak Amar, ini nak Raffi mantan suami Esha.. nak Raffi, ini nak Amar, teman Esha sejak kecil. Nak Amar juga ngontrak di sebelah. Selama ini nak Amar sudah banyak membantu kami"
"Senang bertemu denganmu Raffi" kata Amar.
"Senang bertemu denganmu juga" sahut Raffi sambil menatap Amar dengan tajam.
Suasana di ruangan itu tiba tiba berubah menjadi kikuk. Beberapa saat kemudian Esha pun muncul membawa nampan berisi 3 cangkir teh hangat dan 1 cangkir kopi hitam untuk Raffi. Esha meletakkan minuman tersebut di atas meja.
"Silahkan diminum kak Raffi, Amar" ucap Esha.
"Terima kasih sayang" sahut Raffi.
Ada kecemburuan di hati Amar mendengar Raffi memanggil Esha dengan sebutan sayang. Esha menatap ke arah Amar. Esha merasa tidak enak dengan Amar. Esha pun duduk di samping ibunya.
"Bi Ijah yang memberi tahu Raffi Bu. Dulu Bi Ijah sempat bertemu dengan Esha pada saat pemakaman bayi Raffi"
Lalu tiba tiba Amar membuka suara,
"Sha... kedatanganku ke sini untuk meminta jawabanmu. Aku siap menerima apapun keputusanmu Sha"
Esha dan Bu Dahlia terkejut mendengar pertanyaan Amar. Esha tidak tau harus menjawab apa. Esha benar benar bingung.
"Jawaban apa maksud kamu?" tanya Raffi dengan penasaran.
"Sha... aku ikhlas jika kamu memilih untuk kembali bersama Raffi" imbuh Amar.
"Amar maafkan aku... Aku nggak bermaksud melukai hatimu" tutur Esha.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Raffi makin penasaran.
"Raffi, sejak dulu aku mencintai Esha. Bahkan jauh sebelum kamu mengenal Esha. Dulu waktu di kampung aku sempat melamar Esha, tapi dia bilang dia sudah menikah di Jakarta. Saat itu hatiku benar benar hancur. Tapi setelah kalian berdua bercerai, sekali lagi aku melamarnya. Aku berencana untuk menikahinya begitu masa iddahnya selesai nanti. Tapi semua keputusan ada di tangan Esha" tutur Amar.
Raffi terkejut mendengar ucapan Amar. Raffi tidak menyangka kalau ada laki laki lain yang sangat mencintai Esha dan ingin menikahinya walaupun dia sedang mengandung anak orang lain.
"Lalu apa keputusanmu Sha?" tanya Amar lagi.
Esha masih membisu. Amar pun melanjutkan kalimatnya.
"Jika kalian masih saling mencintai, aku harap kalian bisa bersatu kembali. Insya Allah aku ikhlas. Aku akan bahagia jika melihat Esha bahagia..."
"Raffi, tapi kamu harus janji kalau kamu nggak akan pernah menyakiti hati Esha lagi. Kamu harus membuatnya bahagia. Jangan membuatnya menangis lagi!" seru Amar.
__ADS_1
"Aku janji. Insya Allah aku nggak akan menyakiti Esha lagi. Aku nggak akan membuatnya menangis lagi. Dan aku akan berusaha membuatnya bahagia" sahut Raffi.
"Kalau begitu sekarang rujuklah dia!" seru Amar.
"Alesha Hanania... aku merujukmu. Apa kamu mau menerimaku kembali sebagai suamimu?" tanya Raffi.
Esha terharu mendengar ucapan Raffi. Ada butiran air bening yang jatuh membasahi pipi Esha. Esha pun perlahan menganggukkan kepalanya. Raffi sangat senang. Ia pun menghampiri Esha kemudian memeluknya. Bu Dahlia lega, akhirnya mereka bersatu kembali.
Amar tidak bisa membohongi perasaannya sendiri kalau sebenarnya dia patah hati. Tapi Amar bahagia melihat mereka akhirnya bersatu kembali. Amar merasa lega karena kini sudah ada orang yang menjaga dan melindungi Esha dan bayi dalam kandungannya. Apapun akan Amar korbankan demi kebahagiaan Esha, termasuk kebahagiaannya sendiri.
--------------------------------------
Ya Allah, saat aku kehilangan harapan dan rencana, tolong ingatkan aku bahwa cinta-Mu jauh lebih besar daripada kekecewaanku, dan rencana yang Engkau siapkan untuk hidupku jauh lebih baik daripada impianku.
-Ali bin Abi Thalib-
--------------------------------------
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung............
Notes :
Yang pada minta Raffi rujuk sama Esha, author udah penuhi permintaan kalian...
Yang pada minta up 2 eps, kemarin author juga udah penuhi. Tapi aku tuh sedih jadinya... Why??
Soalnya aku udah capek" up 2 eps tp yg di LIKE cuma eps yg terakhir.
Teganya kaliaaaannnn...... 😬😬
__ADS_1
Jangan lupa tekan LIKE, LOVE dan komentarnya setelah membaca...!!!
Terima kasih.