Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Bertemu Kembali


__ADS_3

Terminal Lebak Bulus


Taxi online yang dinaiki Esha telah sampai di terminal Lebak Bulus. Esha membayar ongkos taxi lalu keluar dari taxi tersebut sambil mengangkat kopernya. Esha mengayunkan langkahnya menuju loket untuk membeli tiket bus tercepat yang menuju ke Klaten. Setelah mendapatkan tiket, Esha pun duduk menunggu kedatangan busnya.


Tiba tiba kepala Esha terasa pusing. Perutnya keroncongan karena dia tadi belum sempat sarapan. Esha pun berjalan untuk mencari makanan di sekitar terminal itu. Tiba tiba pandangan mata Esha agak kabur, segalanya tampak berputar putar, dan seketika semuanya menjadi gelap. Banyak orang yang berlari mengerumuni Esha.


"Tolooong... ada orang pingsan!!!" teriak salah seorang dari mereka.


Melihat ada orang berkerumun, seorang laki laki muda tampak penasaran. Dia pun mendekat ke arah kerumunan orang tersebut untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Dia terkejut saat melihat seorang perempuan pingsan dan sepertinya dia mengenali perempuan itu. Dia pun mendekati perempuan itu.


"Esha?" seru laki laki itu saat mengetahui bahwa yang dilihatnya itu memang benar orang yang sangat dikenalnya.


"Bapak bapak ibu ibu ini teman saya. Tolong bantu saya angkat dia" seru laki laki itu.


Mereka pun mengangkat tubuh Esha dan membaringkannya di sebuah kursi panjang yang berdekatan dengan tempat Esha pingsan.


"Terima kasih bapak bapak" ucap Amar kepada orang orang yang telah membantu mengangkat Esha. Kemudian mereka pun bubar.


"Esha.. bangun Sha!" seru laki laki itu sambil menepuk nepuk pipi Esha.


Perlahan Esha membuka matanya. Esha terkejut saat melihat seorang laki laki yang amat dikenalnya ada di hadapannya. Esha mengucek ngucek matanya mencoba memastikan apa yang dilihatnya.


"Amar?? Kenapa kamu bisa ada di sini?" seru Esha sambil membulatkan kedua matanya.


"Minum dulu Sha" titah Amar sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Esha. Esha pun duduk dan meminum air itu.


"Kamu kenapa ada di sini Sha? Kamu mau kemana? Dan kenapa kamu bisa pingsan? Muka kamu terlihat sangat pucat. Apa kamu sakit? Ayo aku antar kamu ke rumah sakit" tanya Amar dengan panjang kali lebar karena saking paniknya.


"Emh... aku mau pulang kampung Mar. Tadi aku belum sempat sarapan jadi aku pingsan" sahut Esha lirih.


"Lalu dimana suamimu Sha?" tanya Amar lagi.


Esha diam tanpa menjawab pertanyaan dari Amar.


"Suamimu mana Sha? Apa kau ada masalah dengan suamimu?" tanya Amar makin penasaran karena Esha sejak tadi hanya diam saja.


"Enggak. Aku nggak ada masalah dengan suamiku" tutur Esha dengan sedikit gugup.


"Kamu jangan bohong Sha. Aku sangat mengenalmu.. aku tau kalau kamu sedang berbohong" sahut Amar sambil menatap wajah Esha dengan tajam.


"Panjang ceritanya Mar. Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Esha berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Sebenarnya aku kemarin dapat panggilan interfiew. Aku pun langsung pesan tiket dan berangkat tadi malam"


"Alhamdulillah... Semoga kamu berhasil Mar. Tapi kenapa kamu nggak memberitahuku kalau kamu mau ke Jakarta?"


"Aku sengaja nggak memberitahumu. Aku ingin memberitahumu nanti kalau aku sudah diterima bekerja"


"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi Sha.." imbuh Amar.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Esha pura pura lupa.


"Apa kamu sedang ada masalah dengan suamimu?"


"Maaf Mar aku nggak bisa menceritakannya padamu"


"Kenapa Sha? Apa kamu nggak menganggapku sebagai temanmu lagi?"


"Bukan begitu Mar..."


"Apa suamimu menyakitimu?"


"Enggak" jawab Esha dengan cepat.


Amar menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan keras.


"Ayo kita cari makanan dulu! Kamu tadi belum sarapan kan?" tanya Amar. Esha pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan menuju warung terdekat. Amar membawakan koper Esha. Sampai di warung, mereka memesan dua mangkok soto ayam dan dua gelas teh manis. Mereka pun makan bersama sambil berbincang bincang.


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini Mar..." ucap Esha.


"Iya.. Itu berarti kita jodoh Sha" sahut Amar.


Sontak Esha menatap Amar dengan tajam setelah mendengar kata kata Amar barusan.


"Aku hanya bercanda Sha" celetuk Amar


Mereka berdua pun tertawa.


"Ayah ibumu apa kabar Mar? Apa mereka sehat?"


"Alhamdulillah... semua sehat. Oh ya, mereka titip salam buat kamu"


"Alhamdulillah... kirimkan salamku untuk mereka" sahut Esha. Amar menganggukkan kepalanya.


"Kamu tau Sha, ibumu sangat merindukanmu. Dia pasti senang kalau tau kamu pulang"


Amar pun melanjutkan kalimatnya.


"Sha, by the way apa kamu sudah memberi tahu ibumu kalau kamu sudah menikah?"


"Belum Mar... aku belum siap"


"Kenapa Sha? Walau bagaimanapun ibumu harus tau masalah ini"


"Entahlah Mar, aku nggak tau harus bagaimana memberi tahu ibu" ucap Esha dengan tatapan sedih.


"Sha sebenarnya kamu punya masalah apa sama suamimu sehingga kamu mau pulang kampung sendirian seperti ini? Terus mobil kamu mana? Kenapa kamu mau naik bus?" tanya Amar dengan rasa penasaran yang menggebu.


"Aku nggak bisa menceritakannya di sini Mar. Di sini banyak orang. Lain kali saja aku ceritakan"


Amar terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sha apa kamu sudah beli tiket?" tanya Amar tiba tiba.


"Boleh aku pinjam tiketmu?"


Esha pun mengeluarkan selembar tiket bus dari dalam tasnya dan menyodorkannya kepada Amar. Amar pun menyambutnya.


"Kamu tunggu di sini sebentar" kata Amar lalu bangkit dari duduknya kemudian beranjak meninggalkan Esha.


"Kamu mau kemana Mar?" tanya Esha dengan heran. Tapi Amar tidak menggubris pertanyaan Esha.


Beberapa menit kemudian Amar kembali menghampiri Esha.


"Kamu dari mana saja Mar?" tanya Esha lagi. Tapi Amar masih saja diam.


"Ini tiketmu Sha... Ayo aku antar, busnya sudah datang" tutur Amar sambil mengembalikan tiket Esha. Esha pun menerimanya dengan agak bingung.


"Berapa semuanya Pak?" tanya Amar kepada pemilik warung.


"Biar aku saja yang bayar Mar" seru Esha.


"Biar aku saja. Aku ini kan laki laki, masak perempuan yang bayar" celetuk Amar.


"Terima kasih Mar" sahut Esha sambil tersenyum manis menampakkan lesung pipitnya.


Deg!


Jantung Amar berdegup kencang melihat senyuman itu. Senyuman yang selalu menghantuinya setiap malam.


"Astaghfirullah aladzim... ingat Mar dia sudah jadi istri orang" gumam Amar dalam hati.


Setelah membayar makanannya, mereka pun beranjak meninggalkan warung tersebut. Amar berjalan mendahului Esha sambil membawakan kopernya. Esha mengikuti Amar dari belakang. Esha masih bingung dengan sikap Amar tadi.

__ADS_1


"Untuk apa dia tadi meminjam tiketku?" gumam Esha dalam hati.


Sampai di bus, Amar memasukkan koper Esha ke dalam bagasi.


"Terima kasih banyak Mar. Aku doakan semoga kamu berhasil. Jaga dirimu. Assalamu'alaikum" ucap Esha.


"Wa'alaikumsalam" jawab Amar.


Esha pun masuk ke dalam bus lalu mencari nomor kursinya. Setelah ketemu, Esha pun duduk di kursi yang kebetulan ada di tepi jendela. Esha memutar kepalanya ke arah luar jendela mencari sosok Amar.


"Dimana Amar tadi? Cepat sekali dia menghilang" gumam Esha dalam hatinya karena Amar sudah tidak ada di tempat terakhir kali dia melihatnya tadi.


Bus sebentar lagi berangkat. Tiba tiba ada seseorang yang duduk di samping Esha. Sontak Esha menoleh ke arah orang tersebut.


"Amar?" Esha terkejut melihat Amar duduk di sampingnya. Amar menepiskan senyumnya.


"Kenapa kamu naik ke dalam bus ini Mar? Bukankah kamu mau interview?" tanya Esha dengan heran.


"Aku nggak jadi interview. Aku sudah terlambat" ucap Amar.


"Apa? Kenapa bisa terlambat? Apa gara gara kamu nolongin aku tadi makanya kamu terlambat interview? Aku minta maaf Mar" tutur Esha. Esha merasa sangat bersalah pada Amar.


"Sudahlah Sha, nggak apa apa. Masih ada lain kesempatan" imbuh Amar.


"Terus kamu mau langsung balik lagi ke kampung? Apa kamu nggak capek setelah semalaman naik bus?" tanya Esha dengan heran.


"Sedikit" jawab Amar singkat.


"Pantesan kamu tadi meminjam tiket ku. Rupanya kamu sengaja mau beli tiket yang sama denganku lalu duduk di sebelahku?" celetuk Esha.


"Hehe... iya Sha" ucap Amar dengan sedikit malu.


Sebenarnya Amar merasa khawatir kepada Esha karena wajah Esha terlihat sangat pucat. Amar takut terjadi apa apa pada Esha di tengah perjalanan nanti. Makanya Amar sengaja membatalkan jadwal interview-nya dan memilih untuk mengantar Esha kembali ke kampung. Amar juga masih penasaran ada masalah apa sebenarnya antara Esha dan suaminya sehingga Esha memutuskan untuk pulang kampung sendirian. Bus mereka pun bergerak perlahan meninggalkan terminal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..........


Notes :

__ADS_1


Jangan lupa tekan LIKE, LOVE, dan** komentarnya** setelah membaca...!!!!


terima kasii 😊


__ADS_2