Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Merasa Kehilangan


__ADS_3

Raffi memberhentikan mobilnya ketika sampai di depan stasiun kereta api. Raffi turun dari mobilnya dengan tergesa gesa lalu berlari menuju loket.


"Permisi pak, apa kereta api yang menuju Klaten sudah datang?" tanya Raffi kepada penjaga loket itu.


"Sudah pak, sebentar lagi keretanya berangkat" sahut penjaga loket sambil menunjuk ke arah kereta api yang akan menuju Klaten.


Raffi menoleh ke arah kereta api yang ditunjuk penjaga loket lalu berlari menghampirinya. Raffi masuk dan menyusuri setiap gerbong kereta api tersebut untuk mencari Esha. Raffi meliarkan matanya ke berbagai arah. Raffi berharap bisa menemukan sosok Esha sebelum dia benar benar pergi meninggalkannya. Tapi Raffi tidak menemukan Esha di dalam kereta api tersebut. Lalu Raffi turun dari keteta api dan mencari di sekitar stasiun.


Raffi berlari kesana kemari seperti orang gila. Dia tidak peduli pada puluhan pasang mata yang memperhatikannya dengan heran. Saat itu yang ada di pikirannya cuma satu, yaitu menemukan Esha. Setelah mencari kesana kemari, Raffi tak kunjung menemukan sosok yang dicarinya. Raffi mulai putus asa. Raffi menghela nafas panjang lalu menghembuskannya lewat mulutnya. Keringatnya mulai bercucuran. Kerongkongannya terasa kering. Raffi pun terduduk lemas di sebuah kursi.


"Alesha kamu dimana? Ya Tuhan... aku mohon jangan Kau pisahkan aku dengannya. Aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya Tuhan" gumam Raffi dalam hati.


Setengah jam berlalu, Raffi masih duduk di kursi sambil meliarkan matanya. Raffi berharap akan ada keajaiban. Raffi memandang kereta api yang bergerak perlahan meninggalkan stasiun sampai kereta itu hilang dari pandangannya. Kini suasana di stasiun semakin sepi.


"Sebenarnya kamu dimana sayang? Kenapa aku tidak menemukanmu di sini? Apa mungkin sebenarnya kamu tidak pulang ke kampungmu? Lalu kamu dimana?" gumam Raffi dalam hati.


Raffi bingung memikirkan keberadaan Esha. Perlahan Raffi bangkit dari duduknya lalu beranjak meninggalkan stasiun dengan rasa kecewa. Raffi mengemudikan mobilnya menuju apartemen Esha. Sampai di apartemen, Raffi membuka pintu dengan kunci yang sudah dia bawa lalu masuk ke dalam. Raffi melangkahkan kakinya menuju kamar Esha. Raffi mendekati lemari pakaian Esha lalu membukanya. Lemari itu kosong. Koper Esha juga tidak ada. Ada kesedihan yang terpancar dari wajah Raffi. Raffi menutup kembali lemari itu.


Perlahan Raffi beranjak menuju tempat tidur dan ingin menjatuhkan tubuhnya di sana karena ia merasa sangat lelah. Tenaganya seolah terkuras habis. Tapi tiba tiba Raffi melihat ada selembar kertas di atas meja di samping tempat tidur Esha. Diraihnya kertas itu lalu dibacanya.


Maafkan aku kak Raffi, aku terpaksa meninggalkanmu...


Aku sangat mencintaimu, tapi Aulia juga sangat mencintaimu...


Aulia dan bayi dalam kandungannya lebih membutuhkanmu daripada aku...


Aku mohon jangan mencariku....


Alesha


Setelah membaca surat itu, Raffi terduduk lemas di tepi ranjang. Kelopak matanya terasa penuh. Raffi pun tidak bisa membendung air matanya lagi. Air matanya mengalir deras dan jatuh ke atas surat yang ada di tangannya itu. Kini Raffi benar benar merasa kehilangan.


Drrrttt drrrttt drrrtttt....


Tiba tiba ponsel Raffi bergetar. Raffi merogoh ponsel dari saku celananya. Ternyata staff kantor yang menelpon. Raffi menyeka air matanya kemudian menjawab telponnya.


Raffi : "Ada apa Hans?"


Hans : "Selamat pagi Pak Raffi, bapak dimana? Pagi ini kita ada meeting urgent Pak. Semua staff sudah menunggu bapak di ruang meeting. Bu Alesha juga belum datang. Saya sudah menelponnya tapi ponsel bu Alesha tidak aktif"


Raffi : "Bu Alesha sudah mengundurkan diri. Saya ke kantor sekarang Hans"


Selesai bicara Raffi langsung menutup telponnya. Raffi melipat surat Esha dan memasukkan surat itu ke dalam saku jasnya. Raffi bangkit dari duduknya lalu beranjak meninggalkan apartemen Esha.


*********


Aulia mencoba menghubungi Alesha berkali kali tapi nomor Alesha tidak aktif. Aulia ingin menemui Alesha dan meminta penjelasan darinya. Akhirnya Aulia memutuskan untuk datang ke kantor untuk mencarinya.


Setibanya di kantor, Aulia langsung menuju meja kerja Alesha. Tapi meja kerja Alesha kosong. Aulia bertanya kepada salah satu staff.


"Maaf, apa Alesha hari ini tidak masuk kantor?" tanya Aulia.


"Wah kurang tau bu. Kami sudah menghubunginya tapi nomornya tidak aktif" jawab staff itu.


"Apa kak Raffi ada di ruang kerjanya?" tanya Aulia lagi.


"Bapak Raffi juga belum datang bu" sahut staff itu.


"Kenapa Alesha dan kak Raffi jam segini belum datang?" gumam Aulia dalam hati.

__ADS_1


Kemudian Aulia masuk ke ruang kerja Raffi. Aulia melihat ada sesuatu di lantai. Aulia mengambil benda itu, selembar kertas yang sudah berbentuk menyerupai bola. Aulia kemudian membuka dan membacanya.


"Alesha mengundurkan diri?? Kenapa tiba tiba Alesha mengundurkan diri??" seru Aulia sambil membelalakkan matanya saking terkejutnya.


Aulia mengambil ponsel di dalam tasnya lalu mencoba menghubungi Alesha lagi. Ponsel Alesha masih tidak aktif. Lalu Aulia menghubungi Raffi tapi Raffi tidak menjawab telponnya.


"Sial! Sebenarnya dimana kalian berdua?"


Aulia jadi kesal karena tidak menemukan orang yang dia cari.


**********


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 12 jam, Amar dan Esha akhirnya sampai di terminal Klaten. Mereka turun dari bus. Esha melirik jam di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Amar mengeluarkan koper Esha dari bagasi bus. Mereka pun naik ojek online menuju kampung mereka.


Tukang ojek menurunkan mereka tepat di depan rumah Esha. Bu Dahlia langsung keluar rumah begitu mendengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Bu Dahlia terkejut saat melihat Esha dan juga Amar.


"Eshaaaaa..." teriak bu Dahlia. Bu Dahlia langsung berlari menghampiri putri semata wayangnya itu.


"Ibu.. assalamu'alaikum" tutur Esha lalu mencium tangan ibunya.


"Assalamu'alaikum bu Dahlia" tutur Amar.


"Wa'alaikumsalam... kenapa kamu pulang nggak bilang sama ibu dulu sayang?" ucap bu Dahlia lalu memeluk dan mencium kening putrinya. Esha membalas pelukan ibunya.


"Esha kangen sama ibu" tutur Esha.


"Ibu juga kangen sekali sama kamu sayang. Kenapa kamu bisa pulang sama nak Amar?" tanya bu Dahlia.


"Nak Amar kenapa kamu pulang lagi? Bukankah kamu baru kemarin pamit sama ibu mau ke Jakarta?" tanya Bu Dahlia lagi dengan heran.


"Saya telat interview bu, makanya saya balik lagi" sahut Amar.


"Panjang ceritanya bu, nanti Esha ceritakan. Biarkan Amar pulang dulu, kasian dia. Dia pasti sangat capek setelah sehari semalam naik bus." sahut Esha.


"Kalau begitu, saya pamit dulu bu Dahlia, Sha.. assalamu'alaikum" tutur Amar.


"Wa'alaikumsalam" sahut Esha dan bu Dahlia.


Amar pun beranjak pulang ke rumahnya. Esha dan bu Dahlia masuk ke dalam rumah. Bu Dahlia ke dapur untuk membuatkan minuman dan menyiapkan makan malam untuk putrinya. Sementara Esha masuk ke kamar lalu mandi dan ganti pakaian. Setelah menunaikan sholat Isya, Esha menghampiri ibunya di meja makan.


"Sayang kamu makan dulu, ibu tadi sudah makan. Ibu bawa rendang daging dari tempat catering. Ibu juga bikinin kamu susu jahe biar badanmu hangat" tutur bu Dahlia.


"Terima kasih bu" sahut Esha.


Esha pun duduk dan mengambil makanan. Bu Dahlia duduk menemani putrinya makan.


"Kamu kenapa bisa pulang sama nak Amar tadi?" tanya bu Dahlia dengan penasaran.


"Esha tadi nggak sengaja ketemu sama Amar di terminal bu. Esha tadi pingsan di terminal terus Amar nolongin Esha" sahut Esha.


"Pingsan?? Kenapa kamu bisa pingsan sayang?" seru bu Dahlia dengan penuh kecemasan.


"Esha tadi belum sempat sarapan soalnya bu, terus kepala Esha pusing tiba tiba Esha pingsan"


"Tapi kamu nggak pa pa kan sayang?"


"Esha nggak pa pa bu"


"Terus kenapa kamu pulang naik bus? Rosi sama tantenya mana? Apa mereka nggak ikut kamu pulang?"

__ADS_1


"Esha sudah berhenti kerja di butik bu. Esha mau cari kerja di sini aja biar deket sama ibu" sahut Esha.


"Berhenti? Tapi kenapa sayang? Bukankah kamu betah kerja di sana?" tanya bu Dahlia dengan heran.


"Emh.. Esha cuma pengen deket sama ibu. Esha nggak mau ninggalin ibu sendirian lagi" imbuh Esha.


Bu Dahlia merasa aneh dengan jawaban Esha. Bu Dahlia merasa kalau Esha menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kamu sebenarnya ada masalah apa sayang? Cerita sama ibu!"


"Esha nggak ada masalah apa apa kok bu"


"Kenapa ibu merasa kalau kamu menyembunyikan sesuatu dari ibu?"


Deg!


Jantung Esha berdebar debar. Ternyata naluri seorang ibu tidak bisa dibohongi. Esha bingung harus berkata apa. Apa dia harus menceritakan semuanya pada ibunya. Bu Dahlia menatap Esha dengan tajam membuat Esha merasa takut. Esha pun menundukkan pandangannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..........


Notes :


Apakah Raffi akan mencari Esha ke kampungnya??


Lalu bagaimana reaksi bu Dahlia ketika mengetahui kalau Esha ternyata sudah menikah tanpa sepengetahuannya??


Nantikan episode selanjutnya...


Jangan lupa tekan LIKE, LOVE, dan komentarnya setelah membaca...!!

__ADS_1


Terima kasii 😊


__ADS_2