
Berita kehamilan Aulia telah sampai ke telinga kedua orang tua Raffi dan juga Aulia. Mereka sangat gembira mendengar kabar kalau sebentar lagi mereka akan punya cucu dan menjadi seorang kakek dan nenek. Pak Salman dan bu Debby menyuruh Raffi untuk menjaga Aulia dengan baik karena bayi dalam kandungan Aulia adalah penerus keluarga Anggara.
Di satu bulan usia kehamilannya, Aulia mendapatkan tawaran lagi untuk main film layar lebar. Sebelum menikah Aulia sempat menolak tawaran itu karena akan segera menikah. Dan kali ini Aulia pun menolak karena sedang hamil muda. Tapi karena si produser film ngotot hanya menginginkan Aulia yang menjadi pemeran utamanya, Aulia pun mempertimbangkannya. Dia ingin minta izin kepada suaminya dulu. Berita kehamilan Aulia pun kini diketahui oleh publik.
MALAM ITU
Raffi sedang berkutat dengan laptopnya di ruang kerjanya. Mukanya terlihat serius dengan kaca mata bening yang tersemat di kedua matanya. Sejak berpisah dengan Esha, Raffi lebih banyak diam dan menghabiskan waktunya dengan bekerja dan bekerja. Ia berfikir jika dengan bekerja dia bisa sedikit melupakan Esha. Tapi Raffi keliru, semakin ia berusaha melupakan Esha, semakin ia mengingatnya. Aulia masuk ke ruang kerja Raffi lalu mendekatinya. Aulia berdiri di samping Raffi.
"Kak Raffi Lia ingin bicara sebentar"
"Ada apa Lia?" sahut Raffi tanpa menoleh ke arah Aulia.
"Lia dapat tawaran lagi untuk main film layar lebar. Apa Lia boleh mengambil job itu?"
Raffi melepas kaca matanya lalu menatap Aulia dengan tajam.
"Tapi kamu kan sedang hamil Lia"
"Lia awalnya juga sudah menolak tawaran itu. Tapi produsernya kekeh kalau hanya Lia yang pantas jadi peran utama dalam filmnya. Lia akan mendapatkan kontrak kerja secara exclusif dengan honor yang besar"
"Lia sebenarnya aku juga tidak mau menghalangi karirmu. Tapi mengingat kondisimu yang sedang hamil, lebih baik kamu tidak menerima tawaran itu. Tunggu sampai kamu melahirkan"
"Lia mohon izinkan Lia kak. Lia akan berhati hati. Lia akan jaga kondisi Lia" ucap Aulia sambil menggenggam tangan Raffi.
"Kalau begitu terserah kamu saja. Lagipula aku tidak mau menjadi penghalang karirmu, karena itu impianmu sejak kecil. Tapi aku harap kamu bisa jaga diri, jangan terlalu capek"
"Terima kasih kak Raffi, I love you" ucap Aulia lalu mencium pipi Raffi.
Raffi hanya membisu tanpa membalas ucapan Aulia. Rasanya berat bagi Raffi membuka hatinya untuk Aulia. Karena dalam hatinya cuma ada satu nama, yaitu Alesha.
Setelah menandatangani kontrak, Aulia pun kini disibukkan dengan aktivitas syutingnya. Selama dua bulan ini, Aulia lebih banyak menghabiskan waktunya di lokasi syuting. Kadang Aulia pulang sampai larut malam saat Raffi sudah tertidur. Mereka jarang berkomunikasi karena kesibukan masing masing.
**********
Di tempat lain...
Setelah bercerai dari Raffi, Esha menyibukkan dirinya dengan bekerja di tempat catering bersama ibunya. Karena kebetulan di tempat catering sedang membutuhkan tambahan tenaga. Esha membantu bu Dahlia menjadi juru masak karena Esha juga pandai memasak sama seperti ibunya.
Esha melewati hari harinya bersama ibunya di tempat catering. Kalau libur Amar sering mengajaknya jalan jalan. Esha sudah menceritakan semuanya kepada Amar termasuk soal perceraiannya dengan Raffi. Waktu itu Amar melihat ada taxi di halaman rumah Esha. Setelah Raffi dan Aulia pergi, Amar bertanya kepada Esha. Amar sangat terpukul mendengar cerita Esha. Amar kecewa dengan sikap Raffi yang telah menduakan Esha. Tapi Amar merasa lega karena Esha memutuskan untuk bercerai dari suaminya itu. Kini Amar merasa punya kesempatan lagi untuk memiliki gadis pujaan hatinya. Amar akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan hati Esha.
Pada hari Minggu, Amar berkunjung ke rumah Esha. Amar ingin memberitahu bahwa dia mendapat panggilan lagi untuk interview. Nanti sore dia akan berangkat ke Jakarta.
Tok... tok... tok...
"Assalamu'alaikum" ucap Amar setelah mengetok pintu.
"Wa'alaikumsalam..." sahut bu Dahlia dari dalam rumah.
Ceklek!
Bu Dahlia membukakan pintu.
"Nak Amar.." sapa bu Dahlia sambil menepiskan senyumnya.
"Esha ada bu?" tanya Amar.
"Esha masih tidur, katanya kepalanya pusing" sahut bu Dahliam
"Benarkah? Apa dia sudah minum obat?" tanya Amar dengan cemas.
"Sudah tadi. Nak Amar silahkan masuk" jawab bu Dahlia.
Amar pun masuk lalu duduk di kursi ruang tamu setelah dipersilahkan.
__ADS_1
"Sebenarnya saya cuma mau pamit bu. Rencananya nanti sore saya mau berangkat ke Jakarta. Alhamdulillah saya dapat panggilan interview"
"Alhamdulillah... ibu doakan semoga kamu diterima"
"Aamiin... makasih bu"
Tiba tiba Esha keluar dari kamarnya sambil berlari menuju kamar mandi...
"Ueekkk... ueekkk..."
Esha memuntahkan semua isi perutnya.
Bu Dahlia dan Amar langsung berlari mendekati Esha dengan cemas.
"Esha kamu kenapa?" tanya bu Dahlia.
"Esha nggak apa apa bu, cuma mual sedikit" sahut Esha lalu keluar dari kamar mandi.
"Ayo aku antar ke dokter Sha.. muka kamu sangat pucat" Amar menimpali.
"Nggak usah Mar, aku baik baik saja"
Bu Dahlia mengernyitkan dahinya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan kondisi Esha. Bu Dahlia takut jangan jangan Esha...
"Esha apa kamu sedang hamil?" tanya bu Dahlia tiba tiba.
Esha dan Amar terkejut mendengar pertanyaan bu Dahlia.
"Hamil??" seru Amar.
"Tidak bu, Esha tidak hamil" sahut Esha.
"Apa kamu yakin?" tanya bu Dahlia.
"Ya Allah... apa memang benar aku sedang hamil?" gumam Esha dalam hati.
"Esha sekarang kamu ikut ibu!"
"Kemana bu?"
"Kamu ikut saja, nanti kamu juga akan tau"
Bu Dahlia membawa Esha ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Esha. Dokter mengambil sample darah Esha untuk diperiksa di laboratorium. Setelah hasilnya keluar, dokter memanggil Esha dan bu Dahlia masuk ke ruangannya.
"Bagaimana hasilnya dok, putri saya sakit apa?" tanya bu Dahlia dengan penasaran.
"Selamat bu, ibu Alesha positif hamil" ucap dokter sambil menepiskan senyumnya.
Deg!
Esha dan bu Dahlia terkejut mendengar kata kata dokter barusan. Ternyata dugaan mereka benar bahwa Esha sedang hamil.
"Apa dokter yakin? Mungkin saja hasilnya keliru dok?" tanya bu Dahlia.
"Ini pemeriksaan laboratorium bu. Hasilnya seratus persen akurat, tidak mungkin keliru"
"Ibu Esha hamil bu..." tutur Esha.
"Untuk lebih jelasnya ibu bisa melakukan USG" kata dokter.
Esha pun langsung melakukan USG untuk memastikan kandungannya. Bu Dahlia menemani Esha.
"Ibu ini suara detak jantung bayi ibu. Usianya sudah menginjak 12 minggu" kata dokter.
__ADS_1
Ada butiran air bening yang mengalir dari sudut mata Esha saat mendengar suara detak jantung bayinya.
"Kak Raffi... Esha hamil. Ini suara detak jantung anak kita" gumam Esha dalam hati.
Bu Dahlia pun menitikkan air matanya saking terharunya mendengar suara detak jantung calon cucunya itu.
**********
Esha dan bu Dahlia tiba di rumah. Sejak tadi Amar mondar mandir menunggu mereka di teras rumah dengan cemas. Begitu melihat Esha dan bu Dahlia pulang, Amar langsung menghampiri mereka.
"Ibu.. bagaimana kondisi Esha?"
"Kamu baik baik saja kan Sha?"
Esha dan bu Dahlia hanya membisu. Mereka masuk ke dalam rumah lalu duduk di kursi dengan lesu. Amar mengikuti mereka.
"Sha apa kamu benar benar hamil?" tanya Amar dengan penasaran.
"Jawab aku Sha!"
Amar menatap Esha dengan tajam. Esha pun menganggukkan kepalanya. Amar terduduk lemas di kursi setelah mengetahui kenyataannya...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........
Notes :
Hi readers... author mau nanya nih. Dalam imajinasi kalian, siapa sih cast yang cocok memerankan sosok Alesha, Raffi, Aulia dan Amar itu???
Tulis di kolom komentar ya...
Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...!!!
__ADS_1
Tengkyu 😊