Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Extra Part 5 (Raffi Esha)


__ADS_3

Beberapa hari ini, Esha merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Dia gampang capek, kepalanya sering pusing, perutnya juga suka mual. Namun dia tidak berani mengatakan semua itu kepada Raffi. Esha tidak mau membuat suaminya itu khawatir.


Pagi itu seperti biasa, Esha dan Zayn mengantar Raffi yang akan berangkat ke kantor sampai di depan pintu rumah.


"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya." Raffi mengecup lembut kening Esha lalu Esha mencium punggung tangan suaminya.


"Zayn, Papa berangkat dulu ya. Kamu baik-baik ya di rumah, temenin Mama!" Raffi pun mencium kedua pipi tembam putranya.


Saat itu Zayn sudah berusia dua tahun. Dia sudah bisa berbicara walaupun masih belum terlalu rancak.


"Zayn, salim sama Papa!" seru Esha. Zayn pun menuruti perintah ibunya.


"Pinter anak Mama." Esha dan Raffi tersenyum.


"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap Raffi kemudian melangkah menuju mobilnya.


"Wa'alaikumsalam Papa, hati-hati di jalan," sahut Esha.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Raffi membalikkan badan lalu melambaikan tangan ke arah anak dan istrinya sambil tersenyum. Esha dan Zayn pun membalasnya. Setelah itu Raffi masuk ke dalam mobil lalu tancap gas menuju kantor.


Setelah Raffi pergi, tiba-tiba saja Esha merasakan perutnya mual lagi. Kali ini mualnya sudah tidak tertahankan lagi. Sepertinya dia mau muntah.


Esha bergegas lari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur. Dia pun menurunkan Zayn di depan pintu kamar mandi, lalu bergegas masuk.


"Howeeeekkk ... howeeekkk ...." Esha membungkuk dan memuntahkan semua isi perutnya di WC.


Bi Nanik dan Bi Fatimah merasa heran melihat majikannya muntah-muntah di kamar mandi. Mereka berdua pun saling memandang.


"Fatimah, itu nyonya kenapa ya? Sepertinya dia muntah-muntah di kamar mandi," tanya Bi Nanik.


"Entahlah. Mungkin nyonya masuk angin kali," sahut Bi Fatimah seraya mengangkat kedua bahunya.


"Hush ... kamu ini. Apa jangan-jangan nyonya hamil lagi ya?"


"Iya juga ya, bisa jadi," sahut Bi Fatimah sambil manggut-manggut.


Setelah Esha keluar dari kamar mandi, mereka berdua pun menghampiri majikannya itu. Mereka selalu kepo dengan urusan majikannya. Tapi Esha tidak pernah marah. Dia sudah menganggap semua ART-nya seperti keluarganya sendiri.


"Nyonya kenapa Nyah? Apa Nyonya sakit?" tanya Bi Nanik dengan penasaran.


"Aku juga nggak tau Bi. Belakangan ini perutku sering mual, kepalaku juga sering pusing."


"Jangan-jangan Nyonya hamil lagi," celetuk Bi Fatimah.


Apa mungkin aku hamil lagi ya? Esha membatin.


"Mungkin juga Bi. Soalnya bulan ini aku juga belum datang bulan."


"Kalau begitu kenapa nggak dites aja pakai tespack, Nyah?" saran Bi Nanik.


"Iya Bi. Tolong belikan aku testpack di apotik ya Bi!"

__ADS_1


"Siap, Nyah!" sahut Bi Nanik dan Bi Fatimah dengan kompak sambil hormat. Esha hanya tertawa melihat tingkah kocak para ART-nya.


***


Setengah jam kemudian, Bi Nanik kembali dari apotik sambil membawa bungkusan plastik berisi beberapa tespack pesanan Esha. Dia pun menghampiri Esha yang saat itu sedang menemani Zayn bermain di halaman belakang.


"Ini Nyah, tespack pesanan Nyonya." Bi Minah memberikan bungkusan plastik itu kepada Esha.


"Makasih ya, Bi. Tolong jaga Zayn sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu!"


"Baik, Nyah."


Esha pun beranjak ke kamar mandi untuk melakukan tes urin.


Ya Allah, mudah-mudahan saja aku benar-benar hamil lagi, doanya dalam hati.


Dengan mengucap basmallah, Esha pun mulai mencelupkan tespack tersebut ke dalam sample urinnya.


Dag ... dig ... dug ....


Jantungnya berdebar-debar. Kedua matanya tidak berkedip menatap ke arah tespack itu. Perlahan muncullah dua garis merah yang terlihat begitu jelas. Senyuman manis pun mengembang di bibir perempuan itu.


"Alhamdulillah ya Allah, aku hamil."


Esha bergegas keluar dari kamar mandi dan menujukkan hasil tes itu kepada Bi Nanik dan Bi Fatimah. Mereka sangat bersyukur dan bahagia.


"Alhamdulillah, selamat ya Nyah," ucap mereka.


"Tuan Raffi pasti seneng banget mendengar kabar gembira ini, Nyah," imbuh Bi Nanik.


"Iya Bi. Aku akan memberinya kejutan setelah dia pulang kerja nanti."


"Kenapa nggak tengah malam nanti saja, Nyah? Kebetulan besok kan hari ulang tahunnya Tuan Raffi. Jadikan saja tespack ini sebagai hadiah ulang tahunnya. Pasti Tuan Raffi seneng banget," saran Bi Nanik.


"O iya ya, Bi. Kalau gitu aku akan memberikan dia surprise tengah malam nanti. Sekarang aku mau bikin kue ulang tahun dulu buat Kak Raffi," ucap Esha dengan wajah yang berseri-seri.


"Biar Bibi saja yang bikinin, Nyah," kata Bi Fatimah.


"Enggak Bi. Aku mau bikin sendiri kue ulang tahun yang spesial buat suamiku. Kalian tolong jaga Zayn saja ya!"


"Baik Nyah."


Esha pun memasukkan tespack tersebut ke dalam kotak kado kecil dan menyimpannya di laci dalam lemarinya. Setelah itu dia pun kembali ke dapur untuk membuat kue ulang tahun.


***


Tepat jam dua belas tengah malam, Esha membuka kedua matanya. Dia melihat Raffi sudah tertidur dengan pulas di sampingnya. Kemudian dia pun bangun dari tempat tidur lalu melangkah keluar kamar.


Esha mengambil kue ulang tahun buatannya tadi di dapur lalu menyalakan dua buah lilin yang membentuk angka 3 dan 0. Hari ini adalah hari ulang tahun Raffi yang ke-30. Esha pun membawa kue tersebut masuk ke kamarnya.


Esha berjalan mendekati Raffi sambil menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuk suaminya.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun, Papa. Semoga panjang umur ...."


Perlahan Raffi pun membuka kedua matanya. Dia terkejut begitu melihat Esha sudah duduk di sampingnya sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin yang menerangi kamar mereka yang gelap.


"Surpriiiissseee!" seru Esha.


Raffi pun langsung bangun dan duduk menghadap istrinya sambil mengukir senyuman.


"Selamat ulang tahun, Suamiku," ucap Esha.


"Makasih, Sayang. Apa kamu yang bikin kue ini?"


Esha mengangguk pelan.


"Sekarang Papa make a wish lalu tiup lilinnya!"


Raffi menghela nafas lalu mulai berdoa. "Semoga pernikahan kita langgeng dan harmonis. Semoga kita selalu bersama hingga kita menua nanti. Dan semoga kita dikarunia banyak anak yang lucu-lucu," ucap Raffi.


"Aamiin," sahut mereka berdua.


Raffi pun meniup semua lilin itu lalu memotong kuenya. Potongan pertama ia suapkan ke bibir istrinya. Kemudian Esha gantian menyuapi Raffi. Mereka berdua terlihat sangat bahagia.


"Sekarang waktunya untuk memberi hadiah." Esha pun berdiri lalu mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Setelah itu, Esha pun memberikan hadiah itu kepada Raffi.


"Apa ini Ma?"


"Buka saja!"


Raffi pun membuka kotak itu. Laki-laki itu sontak mengerutkan dahi setelah mengetahui isinya. Raffi mengambil benda itu dan memperhatikannya dengan seksama.


"Ini apa Ma?" Ternyata Raffi begitu polos. Dia tidak tau benda apa yang ada di tangannya itu. Esha pun menepuk dahinya.


"Papa benar-benar nggak tau ini apa?" tanya Esha. Raffi menggeleng dengan cepat.


"Ini tespack atau tes kehamilan, Pa. Dan hasilnya positif. Mama hamil lagi," ucap Esha sambil tersenyum.


"Apa? Mama hamil lagi?" Raffi benar-benar terkejut mendengar ucapan Esha.


"Iya Pa."


"Alhamdulillah ya Allah ...." Raffi pun menarik Esha ke dalam pelukannya.


"Makasih, Sayang. Ini adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan sepanjang hidupku."


"Sama-sama, Pa."


Raffi pun mengecup puncak kepala istrinya. Mereka berdua sangat bahagia karena sebentar lagi mereka akan punya anak lagi.


- - -


Aku kasih extra part lagi ya buat pembaca kesayanganku... 😍😍

__ADS_1


__ADS_2