Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Memberi Tahu


__ADS_3

Pagi ini, Esha sedang duduk di sofa menonton TV sambil menikmati puding buah buatan ibunya. Hari ini Bu Dahlia kebetulan sedang libur. Jadi Bu Dahlia ingin memasak makanan favoritnya yaitu soto ayam. Bu Dahlia tidak membiarkan Esha untuk membantunya karena dia kasihan melihat kondisi putrinya yang sedang hamil tua.


Seperti biasa, Esha melihat acara infotainment di TV. Saat melihat berita perceraian Aulia Safina dan suaminya, Esha benar benar syok. Spontan sendok yang dia pegang jatuh ke lantai. Esha menutup mulutnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih memegang mangkuk puding buah.


"Kak Raffi dan Aulia bercerai???"


Esha benar benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Ibuuuuuu......" teriak Esha.


Bu Dahlia yang sedang memasak di dapur tiba tiba panik karena mendengar teriakan Esha. Dia pun berlari menghampiri putrinya.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu berteriak??" tanya Bu Dahlia dengan panik.


"Itu Bu, di TV ada berita perceraian kak Raffi dan Aulia" kata Esha sambil menunjuk ke arah TV.


"Apa??"


Bu Dahlia terkejut mendengar ucapan Esha lalu ia menoleh ke arah TV. Bu Dahlia memperhatikan berita di TV dengan seksama.


"Alhamdulillah... Allah sudah mengabulkan doa ibu sayang..."


"Apa maksud ibu?" Esha bingung.


"Bukankah bagus kalau mereka berdua bercerai? Itu artinya Allah telah memberi jalan untuk kamu dan Raffi agar kalian bisa rujuk kembali sayang"


Esha terdiam sejenak untuk mencerna kata kata ibunya. Apa ini adalah jawaban dari sholat istikharahnya selama ini? Di satu sisi Esha merasa senang, tapi di sisi lain Esha teringat pada Amar. Esha tidak ingin mengecewakan Amar untuk yang kedua kalinya. Amar sudah terlalu baik padanya selama ini.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?"


"Bagaimana dengan Amar Bu? Esha nggak ingin mengecewakan Amar lagi Bu. Selama ini Amar sudah terlalu baik sama Esha. Esha nggak tega melukai hatinya Bu"


"Nanti kita bicara baik baik pada nak Amar. Insya Allah dia pasti mau mengerti"


"Iya Bu"


**********


Di tempat lain...


Raffi benar benar merasa sendirian semenjak berpisah dengan kedua istrinya. Kini hidup Raffi terasa hampa. Dia tidak punya semangat hidup lagi. Dia selalu melamun dan termenung di kantor maupun di rumahnya. Dia pun tidak bisa fokus saat bekerja. Akhirnya dia memutuskan pergi ke villanya di Cipanas untuk menenangkan diri sementara waktu. Semua urusan kantor ia serahkan kepada orang kepercayaannya.


Raffi mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan sedang menuju villanya. Di sepanjang perjalanan dia selalu teringat pada Esha.


"Sayang bagaimana kabarmu sekarang? Mungkin kamu sudah tau soal perceraianku dan Aulia. Andai saja kita belum bercerai, aku pasti akan menjemputmu dan kita bisa memulai semuanya dari awal..."


"Tapi nasi telah menjadi bubur. Aku sudah terlanjur menceraikanmu..."


Raffi menghela nafas panjang dan menghembuskannya melalui mulutnya. Ada penyesalan yang mendalam di hati Raffi. Seluruh pikirannya hanya dipenuhi oleh bayangan Esha.


"Aku tidak tau apa kelak kita bisa bersatu kembali... Rasanya tidak akan mungkin..."


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya Raffi sampai di villanya. Bi Ijah dan Pak Rahmat kebetulan sedang berada di taman untuk memberi makan ikan. Melihat kedatangan Raffi, mereka pun menghampiri majikannya itu. Raffi turun dari mobilnya.


"Assalamu'alaikum Bi Ijah, Pak Rahmat" sapa Raffi.


"Wa'alaikumsalam tuan Raffi" jawab Bi Ijah dan Pak Rahmat.


"Tuan Raffi, apa benar tuan sudah bercerai dengan non Aulia?" tanya Bi Ijah.


"Iya Bi. Kami sudah bercerai"


"Alhamdulillah ya Allah... Ternyata Tuhan sudah mendengarkan doa bibi"


"Apa maksud bibi?"


"Eh, tidak apa apa tuan"

__ADS_1


Raffi merasa aneh dengan ucapan Bi Ijah. Tapi Raffi tidak mau ambil pusing. Ia pun berjalan memasuki villanya. Bi Ijah dan Pak Rahmat saling berpandangan.


"Kamu hampir saja keceplosan Jah" tutur Pak Rahmat.


"Iya Pak. Tapi Ijah ingin sekali memberi tahu tuan Raffi soal non Esha. Ijah kasihan Pak sama non Esha. Mungkin sebentar lagi dia akan melahirkan"


"Tapi non Esha sudah berpesan pada kita untuk tidak memberi tau tuan Raffi, Jah..."


"Ijah tau Pak, tapi Ijah tidak tega melihat non Esha nanti melahirkan tanpa tuan Raffi di sisinya. Tuan Raffi berhak tau Pak kalau non Esha sedang mengandung anaknya. Kita harus memberi tau tuan Raffi sebelum semuanya terlambat Pak"


"Ya sudah, kita beri tau saja tuan Raffi"


"Iya Pak, ayo Pak!"


Bi Ijah dan Pak Rahmat pun masuk ke dalam villa. Bi Ijah ke dapur dulu untuk membuatkan kopi hitam untuk Raffi. Lalu mereka pun mengantarnya ke kamar majikannya itu.


Tok.. tok.. tok...


Bi Ijah mengetok pintu kamar Raffi.


"Tuan Raffi, bibi buatkan kopi hitam untuk tuan Raffi"


Ceklek!


Raffi membuka pintu kamarnya.


"Terima kasih Bi" ucap Raffi seraya mengambil secangkir kopi dari nampan yang dibawa Bi Ijah.


"Maaf tuan Raffi, kami ingin menbicarakan sesuatu pada tuan Raffi"


"Ada masalah apa Bi, Pak Rahmat?"


"Emh.. boleh kita bicara sambil duduk tuan?"


"Baiklah, kita duduk di sana saja" sahut Raffi sambil menunjuk ke arah sofa di ruang tengah.


"Begini tuan, waktu kami menghadiri pemakaman bayi tuan Raffi tempo hari, kami nggak sengaja ketemu sama non Esha tuan" kata Bi Ijah.


"Apa??"


"Apa kalian yakin itu Esha??"


"Kami yakin sekali tuan. Walaupun pada saat itu non Esha memakai cadar tapi bibi bisa mengenalinya tuan. Waktu itu kami berpapasan dengan non Esha di depan area pemakaman" sahut Bi Ijah.


"Kenapa waktu itu kalian nggak bilang sama Raffi?"


"Soalnya non Esha melarang kami untuk memberi tau tuan Raffi"


"Tapi kenapa? Kenapa dia tidak mau menemuiku?"


"Soalnya..."


Bi Ijah dan Pak Rahmat saling berpandangan. Pak Rahmat menganggukkan kepalanya seolah memberi tanda kepada Bi Ijah untuk melanjutkan kalimatmya.


"Soalnya apa Bi?" tanya Raffi makin penasaran.


"Soalnya non Esha... non Esha sedang hamil tuan. Dia sedang mengandung anak tuan Raffi?"


"Apa??"


Raffi seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Esha hamil??"


"Iya tuan. Usia kandungannya waktu itu sudah delapan bulan. Mungkin sebentar lagi non Esha akan melahirkan tuan"


"Kenapa Esha tidak memberi tahuku kalau dia hamil? Kenapa selama ini dia merahasiakannya dariku?"

__ADS_1


"Non Esha bilang dia tidak mau merusak rumah tangga tuan Raffi dan non Aulia"


"Ya Tuhan.... Kenapa dia begitu bodoh? Kenapa dia menanggung semuanya sendirian?"


"Tuan Raffi harus menemui non Esha secepatnya tuan, sebelum semuanya terlambat. Kalian masih bisa rujuk sebelum non Esha melahirkan"


Raffi terdiam sejenak mencerna kata kata Bi Ijah.


"Iya Bi, Raffi akan segera menemuinya"


"Non Esha sekarang ngontrak bersama ibunya di daerah Pulo Gadung tuan. Ini alamat dan nomor telponnya. Waktu itu bibi sempat minta alamat dan nomor telpon non Esha"


Bi Ijah menghulurkan secarik kertas bertuliskan alamat dan nomor telpon Esha kepada Raffi. Raffi pun menerimanya.


"Terima kasih banyak Bi. Raffi akan menemuinya sekarang juga"


"Alhamdulillah ya Allah... Bibi doakan semoga kalian bisa rujuk kembali tuan"


"Aamiin. Terima kasih Bi"


Raffi pun bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. Setelah itu Raffi keluar villa. Bi Ijah dan Pak Rahmat mengantar Raffi sampai depan villa. Raffi pun langsung melompat ke dalam mobil sportnya yang terbuka.


"Raffi pergi dulu Bi Ijah, Pak Rahmat, assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam..." sahut Bi Ijah dan Pak Rahmat.


Raffi pun mengemudikan mobil sportnya dengan kecepatan penuh meninggalkan villanya. Dia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Esha.


"Tunggulah aku sayang, aku akan segera datang untuk menjemputmu. Kamu tidak tau betapa rindunya aku sama kamu..." gumam Raffi dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..........


Notes :


Jangan lupa tekan LIKE di setiap episode yaa! Yang belum tekan LIKE mohon turunkan jempol kalian di tiap episode-nya, tolong dukung dan hargai karya author..!!!


Jangan lupa juga komentarnya setelah membaca... Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2