Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Sebuah Rasa


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Baby Zayn sudah tidur dengan pulas di box bayinya. Malam itu Raffi dan Esha berbaring di atas tempat tidur sambil berbincang bincang. Raffi memiringkan tubuhnya menghadap Esha.


"Sayang besok pagi kita siap siap untuk pindah. Kamu mau pindah ke rumahku atau ke apartemen?"


Esha pun memiringkan tubuhnya menghadap Raffi. Kini mereka saling berhadapan.


"Kita pindah ke apartemen saja kak. Aku belum siap untuk tinggal di rumahmu. Aku takut kalau sewaktu waktu orang tuamu pulang dan melihatku di sana. Mereka pasti akan mengusirku"


"Kamu jangan takut sayang, kan ada aku. Aku akan selalu melindungimu dan juga Zayn"


"Tapi aku benar benar belum siap kak"


"Ya sudah terserah kamu saja, besok kita pindah ke apartemen"


Raffi dan Esha saling bertatapan sambil menepiskan senyuman. Raffi pun menarik Esha ke dalam pelukannya.


"Kak Raffi... apa benar yang kak Raffi katakan tadi kalau Amar dan Aulia itu saling jatuh cinta? Terus dari mana kak Raffi tau?" tanya Esha dengan penasaran.


"Aku yakin sekali sayang. Aku tadi sempat melihat Amar melirik Lia beberapa kali saat Lia sedang makan. Lia juga sempat melirik Amar. Dan pada saat tatapan mereka bertemu, mereka langsung menundukkan pandangan mereka. Mereka jadi salah tingkah. Lucu sekali..." sahut Raffi sambil terkekeh.


"Mudah mudahan kak Raffi benar. Aku akan mendoakan mereka agar mereka berdua berjodoh. Suatu saat aku ingin melihat Amar dan Aulia menikah kak. Pasti mereka berdua sangat serasi. Aku ingin mereka hidup bahagia..."


"Iya sayang, aku juga ingin melihat Lia bahagia. Selama ini aku sudah cukup membuatnya menderita"


"Tapi aku takut kalau Amar minder sama Aulia kak. Secara Aulia kan seorang artis, model terkenal, cantik, kaya raya. Pasti banyak laki laki yang mengejarnya. Sementara Amar, dia hanya laki laki biasa..."


"Kamu jangan khawatir sayang, Lia bukanlah orang yang mementingkan harta dan kekayaan. Kalau Lia memang mencintai Amar, dia pasti bisa menerima Amar apa adanya..."


"Tapi aku rasa Amar tidak akan berani mengungkapkan perasaannya pada Aulia kak. Aku tau betul sifat Amar. Jadi kita harus membantu mereka kak, agar mereka bisa bersatu"


"Iya sayang... nanti kita cari cara untuk menyatukan mereka"


"Sebenarnya hati kamu terbuat dari apa sih sayang? Kenapa kamu begitu baik hm? Aku jadi makin tergila gila sama kamu...." ucap Raffi sambil membelai lembut wajah istrinya.


"Gombal!"


"Aku serius sayang... aku benar benar tergila gila padamu. I love you so much" ucap Raffi setengah berbisik ke telinga Esha.


Raffi pun mencium kening Esha perlahan. Esha tersenyum bahagia mendengar ucapan Raffi.


"I love you too"


"Aku sangat merindukanmu sayang. Apa kamu sudah selesai?"


"Selesai apanya?"


Esha pura pura tidak tau. Padahal ia tau apa yang dimaksud Raffi. Dia paham betul apa yang diinginkan oleh suaminya itu.


"Masak kamu nggak paham apa maksudku??" tanya Raffi dengan kesal sambil memanyunkan mukanya.


Esha tertawa melihat tingkah Raffi. Esha puas karena berhasil menggoda suaminya itu.


"Kenapa kamu tertawa? Aku tidak sedang bercanda sayang..."

__ADS_1


"Habis muka kak Raffi lucu sekali..."


Esha pun menghentikan tawanya lalu melanjutkan kalimatnya.


"Maaf kak, tapi aku belum selesai nifasnya. Nifas kan biasanya 40 hari atau 6 minggu. Ini kan baru satu minggu. Masih lama sayaaang..." ucap Esha seraya mencubit hidung suaminya.


Raffi tersenyum senang saat Esha memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Tadi kamu bilang apa? Coba ulangi sekali lagi!" seru Raffi.


"No replay" sahut Esha lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Raffi sambil tersenyum.


Raffi pun melingkarkan tangannya ke pinggang Esha. Kemudian Raffi mencium leher Esha perlahan. Esha pun memejamkan matanya.


"Aku suka kalau kamu memanggilku sayang... coba ulangi sekali lagi! Pleaseee...!!!" ucap Raffi setengah berbisik ke telinga Esha.


"Tidurlah sayang... aku sudah ngantuk" sahut Esha dengan mata terpejam.


Raffi tersenyum bahagia mendengar ucapan istrinya.


"Terima kasih sayang. Aku sangat mencintaimu"


Raffi pun mengeratkan pelukannya lalu mulai memejamkan matanya.


************


Malam itu Amar tidak bisa tidur. Amar mencoba memejamkan matanya namun ia tetap tidak bisa terlelap. Pikirannya terganggu. Amar terngiang ngiang kata kata Raffi tadi.


"Apa benar aku sudah jatuh cinta


"Aku memang mengagumi dia. Dia perempuan yang sangat cantik, baik hati dan... entah kenapa sejak dia memakai hijab hatiku terasa adem saat memandangnya..."


Amar pun membolak balikkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman.


"Ahh... apa yang aku pikirkan? Siapalah aku ini jika dibandingkan dengan Aulia? Aku hanyalah laki laki biasa. Sementara Aulia... dia seorang model, artis terkenal, kaya raya, anak pengusaha sukses. Pasti banyak laki laki yang suka sama dia. Jangan mimpi kamu akan mendapatkan dia Mar! Kamu dan Aulia bagaikan bumi dan langit, mana mungkin kalian bisa bersatu?"


Amar menghela nafas panjang lalu menghembuskannya melalui mulutnya.


"Aku tidak mau patah hati lagi untuk ke sekian kalinya. Aku tidak akan sanggup. Luka yang kemarin saja masih membekas sampai sekarang. Lebih baik lupakan saja dia Mar! Aulia bukanlah jodohmu!"


Pikiran Amar dipenuhi oleh bayangan Aulia hingga ia tidak bisa tidur. Amar melirik jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Amar mencoba memejamkan matanya lagi. Kemudian Amar mulai menyebutkan nama nama binatang sampai dia terlelap.


**********


Di tempat lain di jam yang sama...


Aulia pun sama. Dia juga tidak bisa tidur. Pikirannya kacau. Tidak biasanya ia seperti itu.


"Ada apa denganku ini? Kenapa jantungku berdebar debar setiap kali Amar menatapku? Apa aku ada rasa sama dia? Tapi mana mungkin? Aku baru saja mengenalnya. Aku juga baru beberapa kali bertemu dengannya. Mana mungkin secepat itu aku jatuh cinta padanya??"


Banyak sekali pertanyaan dalam pikiran Aulia hingga matanya sulit sekali untuk terlelap.


"Tapi... Amar memang laki laki yang berbeda. Selain tampan dia juga baik dan juga sholeh. Dia adalah tipe suami idaman. Dia pasti bisa menjadi suami dan imam yang baik dalam keluarga. Meski dia hanya laki laki biasa dan bukan orang kaya. Lagi pula harta tidak menjamin kebahagiaan seseorang...."

__ADS_1


"Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk move on dari kak Raffi. Dan sekarang aku harus mencoba membuka hatiku untuk orang lain, karena aku juga ingin bahagia. Aku juga ingin mencintai dan dicintai oleh seseorang dengan sepenuh hati"


"Tidak Aulia. Ini bukan waktu yang tepat. Kamu baru bercerai. Masa iddahmu juga belum habis. Apa kata orang orang nanti kalau tiba tiba kamu menjalin hubungan dengan seorang laki laki?"


"Sekarang kamu harus fokus pada karirmu. Sebentar lagi kamu akan melanjutkan syuting film kamu. Ya... itu yang paling penting sekarang. Tidak usah memikirkan yang lainnya. Kalau kamu dan Amar memang berjodoh, suatu saat Tuhan pasti juga akan menyatukan kalian..."


Batin Aulia seolah olah sedang berperang. Pikirannya makin kacau.


"Ya Tuhan... kenapa pikiranku sekacau ini? Aku jadi nggak bisa tidur. Padahal besok aku harus bangun pagi karena aku ada janji sama Evan untuk bertemu di kantornya" gumam Aulia.


Aulia melirik jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Aulia mencoba memejamkan matanya lagi. Lalu ia pun mulai berhitung hingga ia benar benar terlelap.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...........


Notes :


Author sangat berterima kasih bagi para readers yang sudah memberikan vote minggu lalu sehingga novel favorit kalian ini menduduki ranking 19 😊


Yang ngaku cinta sama Author dan novel "Kesucian Alesha", buruan tunjukkan rasa cintamu pada author dan novel favorit kamu ini dengan cara klik VOTE pada halaman depan novel.


Vote menggunakan poin hanya bisa melalui versi terbaru NovelToon.


Ayo VOTE sebanyak banyaknya..!!!

__ADS_1


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...!!! Terima kasih 😊


__ADS_2