
Flashback
Setelah sukses dengan film perdananya, Aulia menjadi semakin terkenal. Di sosial media followersnya meningkat pesat. Dia banyak mendapatkan tawaran endorse, jadi bintang iklan di TV maupun brand ambassador berbagai macam produk. Dia juga mendapat tawaran untuk main film lagi.
Sejak menikah, Aulia tinggal bersama Amar di rumah barunya. Mereka berdua sangat bahagia. Aulia selalu mengajak Amar jika dia menerima undangan ke berbagai acara, begitu juga sebaliknya. Aulia tidak pernah malu menunjukkan kemesraannya dengan Amar di hadapan publik biarpun Amar bukan dari kalangan atas seperti dirinya. Mereka pun mendapat julukan couple goals dari para fans Aulia. Fansnya bilang mereka pasangan yang sangat serasi, pasangan yang saling mendukung dan mau menerima kekurangan masing-masing.
***
Pagi itu begitu membuka mata, Aulia merasa perutnya mual dan ingin muntah. Dia pun segera bangun dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Hueeekkkk.... hueeeekkk...."
Amar pun terbangun begitu mendengar Aulia muntah-muntah di kamar mandi.
"Kamu kenapa sayang?"
Namun tidak ada sahutan dari Aulia. Amar pun bergegas menghampiri Aulia yang masing membungkuk di depan kloset sambil muntah-muntah.
"Apa kamu sakit?" tanya Amar dengan penuh kecemasan.
Aulia masih diam. Amar menyibakkan rambut Aulia ke samping lalu memicit tengkuknya perlahan. Aulia pun memuntahkan semua isi perutnya yang hanya berupa cairan dan terasa begitu pahit di kerongkongannya.
"Sudah cukup" seru Aulia. Amar pun berhenti memicit tengkuknya.
Aulia memutar kran lalu menarik beberapa lembar tisu di dinding untuk membersihkan mulutnya.
"Ada apa denganku? Apa aku hamil? Dulu saat aku hamil Rifat rasanya juga seperti ini" gumam Aulia dalam hati.
"Sayang kalau kamu sakit, aku akan mengantarmu ke dokter"
"Nggak perlu sayang, kamu kan harus ke kantor"
"Apa kamu yakin?"
"Iya. Aku nggak papa, jangan mencemaskanku. Kamu keluarlah aku mau mandi dulu"
Amar pun keluar dari kamar mandi lalu Aulia segera menutup pintunya. Aulia kemudian mengelus elus perutnya perlahan sambil mengukir senyuman manis di wajahnya.
"Ya Allah, mudah-mudahan aku hamil. Nanti aku akan ke apotek untuk membeli tespack" batin Aulia.
***
Setelah mandi dan sarapan, Amar pun berangkat ke kantor. Aulia mengantarnya sampai di depan pintu.
"Aku pergi dulu sayang, assalamu'alaikum" ucap Amar kemudian mengecup kening Aulia lembut.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati sayang"
Aulia melambaikan tangannya sambil menepiskan senyumnya. Amar pun membalasnya kemudian masuk ke dalam mobil. Mobil itu pun bergerak perlahan memecah jalan kota.
Begitu Amar pergi, Aulia segera masuk ke dalam untuk ganti pakaian dan mengambil tasnya. Dia tidak lupa untuk memakai cadar agar tidak ada seorang pun yang mengenalinya di luar sana. Aulia pun keluar dan menaiki motor matic Amar untuk pergi ke apotek terdekat.
Sampai di depan apotek, dia pun memarkir motornya lalu melangkah masuk.
"Mbak saya mau beli tespack yang paling bagus"
"Iya Bu, tunggu sebentar"
Setelah mendapatkan tespack yang diinginkan dan membayarnya, Aulia pun langsung tancap gas pulang ke rumah. Dia sudah tidak sabar lagi untuk melakukan tes urin.
__ADS_1
Sampai di rumah, Aulia pun langsung masuk ke kamar mandi dan melakukan tes urin.
Dag dig dug...
Jantungnya berdebar-debar menunggu hasilnya keluar. Satu menit kemudian, muncul dua garis merah di tespack tersebut. Aulia pun tersenyum lebar.
"Alhamdulillah ya Allah... aku positif hamil. Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikanku kepercayaan untuk hamil lagi" gumamnya dalam hati.
Dia pun mengelus-elus perutnya perlahan.
"Ayah kamu pasti sangat bahagia mendengar berita bahagia ini sayang. Ibu sudah tidak sabar untuk memberitahunya"
"Tidak! Tidak sekarang! Biarkan ayahmu pulang dulu. Nanti ibu akan memberikannya surprise" gumam Aulia.
***
Sore itu, Aulia menunggu kepulangan Amar di ruang tamu. Begitu mendengar suara mesin mobil, dia pun langsung berlari masuk ke kamar lalu berbaring di tempat tidur dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Aulia sengaja tidak memakai make-up supaya mukanya terlihat pucat.
Ceklek!
Terdengar suara pintu dibuka.
"Assalamu'alaikum sayang"
Namun tidak ada sahutan.
"Apa Aulia tidak ada di rumah?" pikirnya.
Kemudian Amar pun beranjak ke kamar dan membuka pintunya. Dia terperanjat saat melihat Aulia terbaring di tempat tidur dengan selimut yang menutupi sekujur tubuhnya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Tidak panas" batinnya.
"Surpriiiiise....!!!" teriak Aulia tiba-tiba seraya membuka kedua matanya. Jantung Amar hampir copot saking terkejutnya.
"Surprise??" Amar bingung.
Aulia pun bangun lalu menekuk kedua lututnya di tempat tidur menghadap Amar. Aulia meraih tangan kanan Amar lalu meletakkannya di atas perutnya. Amar mengernyitkan alisnya.
"Apa maksudnya sayang?" Amar masih tidak mengerti.
Aulia pun mengelua-eluskan tangan Amar di perutnya. Amar mulai paham. Dia pun sontak melebarkan senyumnya.
"Kamu hamil?"
Aulia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Yesss...!!" seru Amar sambil mengepalkan kedua tangannya ke atas.
"Alhamdulillah ya Allah...." Amar pun memeluk tubuh Aulia dengan erat.
"Terima kasih sayang. Aku sangat bahagia. Sebentar lagi aku akan jadi seorang ayah"
"Iya sayang, alhamdulillah. Aku juga sangat bahagia"
Aulia pun menunjukkan tespack-nya kepada Amar. Amar tersenyum senang melihatnya. Aulia pun meraih ponselnya kemudian melakukan selfie bersama Amar sambil memamerkan tespack yang menunjukkan dua garis merah itu. Aulia pun langsung mempostingnya di akun instagram pribadinya tanpa caption apa pun. Dalam sekejap saja, foto mereka banjir komentar dari para netizen. Mereka memberi ucapanan selamat kepada pasangan pengantin baru itu.
Semenjak mengetahui kehamilan Aulia, Amar jadi over protektif terhadap Aulia. Amar melarang Aulia untuk syuting lagi. Dan Aulia pun menuruti suaminya. Aulia tau Amar melakukan ini semua demi kebaikannya. Aulia juga tidak mau janinnya kenapa-kenapa. Dia trauma pada kehamilan pertamanya dulu.
__ADS_1
"Sayang kamu ingin anak perempuan atau laki-laki?" tanya Aulia malam itu saat mereka berbaring di tempat tidur.
"Laki-laki atau perempuan sama saja bagiku. Yang penting anak kita sehat" jawab Amar seraya mengelus-elus perut Aulia.
"Aamiin. Kalau aku sih sebenarnya ingin anak perempuan. Tapi laki-laki atau perempuan nggak masalah, aku akan menerimanya dengan senang hati"
"Oya sayang, by the way kamu ingin punya anak berapa?" tanya Aulia ingin tau.
"Sebelas"
"What?? Apa kamu mau bikin tim sepak bola?" tanya Aulia seraya mencubit lengan suaminya.
"Hahaa... aku cuma bercanda sayang. Dua saja cukup, laki-laki dan perempuan. Tapi ya... sedikasihnya sama Allah saja sayang. Berapa pun akan aku terima"
"Besok aku akan pulang awal dan mengantarmu ke dokter kandungan"
"Em" sahut Aulia seraya menganggukkan kepalanya.
Amar dan Aulia sangat bahagia. Mereka tidak sabar menanti kelahiran bayi mereka ke dunia ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........
Notes :
Hai pembaca setia "Kesucian Alesha",
Author berikan BONUS CHAPTER kepada kalian semua nih...
Minta dukungan LIKE dan VOTE nya yaa!! Agar aku makin semangat lagi nulisnya... Terima kasih 😊
__ADS_1