
Esha sangat menikmati masa-masa kehamilannya. Usia kandungnnya kini sudah menginjak lima bulan. Perutnya sudah kelihatan membuncit. Berat badannya juga naik drastis karena porsi makannya bertambah dua kali lipat dari biasanya. Ditambah lagi suasana hatinya yang selalu bahagia karena mendapat perlakuan yang istimewa dari suami tercinta selama dia hamil.
Raffi menepati janjinya untuk menjadi suami dan ayah siaga bagi istri dan calon bayinya. Dia selalu memenuhi apa pun yang diinginkan istrinya. Raffi juga melarang keras Esha untuk melakukan pekerjaan rumah. Dia meminta kepada para ART-nya untuk mengawasi Esha setiap saat. Pokoknya, Esha diperlakukan seperti seorang ratu selama dia hamil.
Pagi itu Raffi menemani Esha ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Raffi sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi mereka. Dia sangat menginginkan bayi perempuan. Bahkan dia juga sudah menyiapkan nama yang bagus untuk calon bayinya itu.
Dokter pun melakukan USG 4 dimensi pada kandungan Esha. Raffi dan Esha tersenyum melihat gambar calon bayi mereka yang terpampang di layar komputer. Bayi itu sudah terbentuk sempurna dengan ukuran yang masih kecil.
"Janin Bapak dan Ibu sangat sehat. Usianya sudah menginjak 21 minggu dengan berat 340 gram," ucap dokter menjelaskan.
"Alhamdulillah," ucap Raffi dan Esha.
"Jenis kelaminnya apa Dok?" tanya Raffi ingin tau.
"Laki-laki, Pak. Bapak dan Ibu bisa melihatnya sendiri. Bukankah bentuknya mirip seperti monas?" tanya Dokter sambil tersenyum.
Raffi terkejut mendengar ucapan dokter. Raut wajahnya berubah seketika. Esha dapat melihat kekecewaan di raut wajah suaminya itu.
"Papa kecewa ya karena ternyata bayi kita laki-laki?" tanya Esha.
Raffi menggeleng perlahan sambil memaksakan senyumnya. Dia berusaha menepiskan kekecewaannya itu di depan istrinya. Raffi tidak mau membuat Esha bersedih.
"Enggak Ma, Papa seneng kok. Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting bayi kita sehat."
"Iya Pa," sahut Esha sambil tersenyum.
"Pak, Bu, lain kali ganti gaya ya!" seru bu Dokter dengan nada bercanda.
Mereka bertiga pun tertawa.
"Iya Dok, pasti," sahut Raffi kemudian.
***
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Bulan pun silih berganti. Tak terasa usia kandungan Esha sudah menginjak sembilan bulan. Dalam hitungan hari, dia akan segera melahirkan.
Karena usia kandungan Esha sudah menginjak sembilan bulan, Raffi pun memutuskan untuk mengambil cuti sampai istrinya melahirkan. Begitu pula dengan pak Salman dan bu Debby. Mereka memutuskan untuk pulang ke Indonesia karena ingin menyaksikan kelahiran cucu kedua mereka.
Sore itu mereka semua berkumpul di ruang keluarga sambil berbincang-bincang. Zayn asyik mengelus-elus dan menciumi perut ibunya. Dia sudah tidak sabar lagi menanti kelahiran adiknya.
"Ma, kapan dedek bayi akan lahir Ma?" tanya Zayn yang saat itu sudah berusia tiga tahun.
"Insya Allah sebentar lagi, Sayang. Zayn sudah nggak sabar ya pengen ketemu sama dedek bayi?"
"Iya Ma. Kalau dedek bayi sudah lahir, Zayn pengen ngajak dia main bola."
Mereka semua pun tertawa mendengar ucapan Zayn.
__ADS_1
"Esha, apa kamu sama sekali belum merasakan kontraksi?" tanya bu Debby kemudian.
"Sebenarnya sudah Ma, tapi cuma sebentar ilang sebentar ilang, dan frekuensinya juga belum terlalu sering," sahut Esha.
"Oohh ... berarti dalam waktu dekat kamu akan segera melahirkan."
"Raffi, kamu harus ekstra menjaga istri kamu ya! Bisa jadi malam ini atau besok pagi Esha akan melahirkan."
"Tenang aja Ma! Raffi selalu siaga 24 jam kok Ma," sahut Raffi.
***
Menjelang tengah malam, Esha merasakan kontraksi yang hebat. Dia merasakan sakit yang luar biasa di bagian pinggang dan perutnya. Dia juga mengeluarkan lendir bercampur darah dari ***********.
"Aaaahhh ... sakiiittt!" Esha berteriak sambil memegangi perutnya.
Raffi sontak terbangun begitu mendengar teriakan istrinya.
"Ada apa Ma? Apa Mama akan segera melahirkan?" tanya Raffi dengan panik.
"Sepertinya iya, Pa. Tolong bawa Mama ke rumah sakit!" seru Esha sambil menahan rasa sakitnya.
Raffi pun segera membopong tubuh istrinya dan membawanya keluar kamar.
Pak Salman, bu Debby dan para ART ikut bangun karena mendengar teriakan Esha. Mereka pun keluar dari kamar masing-masing lalu bergegas menghampiri kamar Esha dan Raffi.
"Raffi, apa Esha akan segera melahirkan?" tanya bu Debby.
"Kami ikut Raffi." Bu Debby dan pak Salman pun kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Bi Nanik, tolong ambilkan perlengkapan bayi yang sudah kami siapkan di dalam tas!" titah Raffi.
"Baik, Tuan." Bi Nanik pun bergegas melaksanakan perintah majikannya.
"Bi Fatimah, tolong jaga Zayn selama kami di rumah sakit ya!"
"Iya Tuan," sahut Bi Fatimah sambil menganggukkan kepala.
***
Raffi mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang menuju RS Pondok Indah. Sampai di rumah sakit, Raffi langsung membawa Esha menuju ruang IGD. Pak Salman dan bu Debby mengikuti mereka dari belakang.
"Dokter, suster, tolong istri saya mau melahirkan!" seru Raffi kepada para dokter dan suster yang sedang berjaga.
Dokter dan suster pun segera memeriksa kondisi Esha. Setelah itu mereka segera memindahkan Esha ke ruang persalinan.
Raffi setia mendampingi istrinya selama berada di ruang persalinan. Sementara Pak Salman dan bu Debby menunggu mereka di luar.
__ADS_1
"Semoga cucu kita lahir dengan selamat ya Pa," ucap bu Debby dengan cemas.
"Aamiin. Kita berdoa saja yang terbaik untuk mereka Ma," sahut pak Salman.
Karena melahirkan anak kedua, proses persalinan Esha pun lebih cepat dari yang pertama. Dalam waktu tiga jam saja, bayi itu pun lahir ke dunia dengan selamat.
"Oeeekkk ... Oeeekkk ...." Tangisan bayi itu terdengar sangat kencang memenuhi ruang persalinan.
Rasa sakit yang Esha rasakan seolah hilang seketika begitu mendengar suara tangisan bayinya.
"Alhamdulillah ya Allah," ucap Esha seraya menitikkan air matanya. Dia begitu terharu mendengar suara tangisan bayinya. Begitu juga dengan Raffi. Dia sampai melakukan sujud syukur begitu bayinya lahir. Akhirnya mereka berhasil melewati drama persalinan itu.
"Selamat ya Pak, Bu, bayinya laki-laki," ucap suster sambil menunjukkan bayi itu kepada Raffi dan Esha.
Raffi dan Esha tersenyum senang melihat bayi mereka yang sangat gemuk dan sehat.
"Terima kasih Ma, kamu telah memberiku bayi laki-laki yang sangat tampan dan lucu," ucap Raffi kemudian mengecup kening istrinya.
"Sama-sama Pa," sahut Esha sambil tersenyum.
***
Bu Debby dan pak Salman sangat bahagia saat menggendong cucu kedua mereka untuk pertama kalinya. Mereka bergantian menggendong dan menciumi pipi tembam cucunya itu.
"Raffi, Esha, terima kasih kalian sudah memberi kami cucu lagi," ucap pak Salman.
"Sama-sama, Pa," sahut Raffi dan Esha.
"Raffi, Esha, apa kalian sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian?" tanya bu Debby.
"Sudah Ma, namanya Wildan, Wildan Bastian Anggara," sahut Raffi.
"Dan kita akan memanggilnya Willy," imbuh Esha.
"Willy? Nama yang sangat bagus," sahut bu Debby.
Mereka sangat bahagia. Tidak lupa mereka mengucap syukur kepada Allah SWT atas anugerah dan kebahagiaan berlimpah yang telah mereka dapatkan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
(SELESAI)
Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca ya! Terima kasih ... 🙏