Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Pindah


__ADS_3

Setelah mengetahui kenyataan bahwa Esha hamil, Amar jadi syok. Baru saja dia mempunyai harapan baru untuk memiliki Esha tapi harapan itu kini kembali sirna.


"Ujian apa lagi ini Tuhan?" gumam Amar dalam hatinya.


"Bagaimana ini bu? Apa yang harus Esha lakukan sekarang? Apa Esha harus memberi tau kak Raffi tentang kehamilan Esha?" tanya Esha kepada ibunya.


"Ibu juga bingung sayang. Kenapa jadi begini? Seolah Tuhan tidak ingin memisahkan kalian berdua" sahut bu Dahlia.


Bu Dahlia terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu lalu melanjutkan kalimatnya.


"Tapi nak Raffi tetap harus tau soal kehamilanmu sayang. Bagaimanapun juga dia adalah ayah dari bayi yang kamu kandung"


"Tidak bu. Kak Raffi tidak boleh tau kalau Esha sedang mengandung anaknya. Lagipula kami juga sudah bercerai. Esha tidak mau merusak kebahagiaan kak Raffi dan Aulia lagi"


"Tapi sayang, kamu masih bisa kembali rujuk dengan nak Raffi demi bayi dalam kandungan kamu. Bagaimana kamu akan melewati masa masa kehamilanmu tanpa seorang suami di sisimu? Apa kata tetangga kita nanti? Mereka kan tidak tau kalau kamu sudah pernah menikah. Kamu pasti akan dianggap perempuan nggak bener yang hamil di luar nikah"


"Esha nggak mau rujuk dengan kak Raffi bu. Esha nggak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka lagi. Belum tentu juga kak Raffi mau menerima anak ini. Apalagi ibunya, yang jelas jelas membenci Esha. Esha akan pergi jauh dari sini bu. Esha akan berjuang sendiri untuk membesarkan anak ini tanpa kak Raffi. Esha yakin Esha pasti bisa bu"


"Apa?? Apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu sayang? Kamu mau pergi kemana? Apa kamu akan meninggalkan ibu lagi?"


"Ibu boleh ikut Esha kalau ibu mau. Esha juga tidak mau meninggalkan ibu sendirian lagi"


"Ibu pasti akan ikut kemanapun kamu pergi sayang. Ibu tidak tega melihat kamu melewati semuanya sendirian"


"Lalu kita mau kemana bu?"


Esha terdiam sejenak untuk berfikir. Amar yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.


"Sha nanti sore aku mau ke Jakarta. Aku baru dapat panggilan untuk interview. Kalau kalian mau, kalian bisa ikut bersamaku ke Jakarta. Aku akan mencarikan kontrakan untuk kalian agar kalian bisa memulai hidup yang baru"


Esha terdiam sejenak mencerna kata kata Amar.


"Baiklah Mar, kami akan ikut denganmu" sahut Esha.


"Kalau begitu kalian bersiaplah. Aku cari tiketnya dulu. Assalamu'alaikum" tutur Amar.


"Wa'alaikumsalam" jawab Esha dan bu Dahlia.


Esha dan bu Dahlia pun mengemasi pakaian dan barang barang yang perlu dibawa ke dalam koper. Setelah selesai packing, bu Dahlia mengajak Esha ke rumah pemilik tempat catering untuk berpamitan.


"Assalamu'alaikum bu hajah" sapa Esha dan bu Dahlia kepada bu hajah Siti yang sedang duduk santai di kursi teras rumahnya.


"Wa'alaikumsalam. Eh bu Dahlia dan nak Esha.. tumben. Ada perlu apa? Mari silakan duduk"


Esha dan bu Dahlia pun duduk.


"Begini bu hajah, kami mohon maaf mulai besok kami tidak bisa bekerja lagi di tempat bu hajah. Kami sekalian mau pamit, nanti sore kami mau pindah ke Jakarta"


"Ke Jakarta? Kenapa mendadak sekali kalian mau pindah ke Jakarta?"


"Iya bu hajah. Ada alasan penting yang tidak bisa kami jelaskan"


"Ooh... kalau begitu tunggu sebentar. Saya ambilkan gaji kalian dulu.


Bu hajah Siti pun masuk ke dalam rumahnya. Beberapa menit kemudian, dia keluar sambil membawa dua amplop berisi uang.

__ADS_1


"Ini bu Dahlia, nak Esha gaji terakhir kalian. Ibu sudah tambahkan sedikit sebagai bonus buat kalian"


Bu hajah Siti menyodorkan amplop tersebut kepada Esha dan bu Dahlia. Esha dan bu Dahlia pun menyambutnya.


"Terima kasih banyak bu hajah. Kami mohon maaf kalau selama kami kerja di tempat bu hajah kami ada kesalahan"


"Sama sama, ibu juga mohon maaf kalau ibu ada salah"


"Kalau begitu kami permisi bu hajah. Sampaikan salam kami kepada semua rekan rekan. Maaf kami tidak sempat berpamitan dengan mereka semua"


"Iya bu, insya Allah akan saya sampaikan"


"Assalamu'alaikum" ucap Esha dan bu Dahlia.


"Wa'alaikumsalam"


Esha dan bu Dahlia juga berpamitan kepada tetangga dekat mereka termasuk bu Aisyah dan Pak Usman, orang tua Amar.


"Assalamu'alaikum pak Usman, bu Aisyah..." sapa Esha dan bu Dahlia setelah sampai di teras rumah mereka.


"Wa'alaikumsalam" jawab mereka sambil melangkah keluar rumah.


"Eh bu Dahlia, nak Esha. Mari silakan masuk" tutur bu Aisyah.


Mereka pun duduk di ruang tamu.


"Sebenarnya kedatangan kami ke sini cuma mau pamit. Nanti sore kami mau pindah ke Jakarta" kata bu Dahlia.


"Iya bu. Tadi Amar sudah bilang pada kami kalau bu Dahlia dan nak Esha mau ikut Amar ke Jakarta" sahut pak Usman.


"Ooh... kalau begitu kami titip Amar ya bu Dahlia" bu Aisyah menimpali.


"Baik bu Aisyah. Nak Amar juga sudah saya anggap seperti anak saya sendiri"


"Terima kasih bu Dahlia"


"Kalau begitu kami permisi pak Usman, bu Aisyah. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


**********


Sore itu, Esha, Amar dan bu Dahlia menaiki bus menuju Jakarta. Esha dan bu Dahlia duduk berdampingan. Sementara Amar duduk di sebelah mereka bersama seorang laki laki tua. Selama perjalanan Esha sering mabuk perjalanan, mungkin karena faktor kehamilannya. Karena tidak biasanya Esha mabuk perjalanan seperti itu. Bu Dahlia dan Amar merasa iba melihat kondisi Esha. Muka dan bibir Esha terlihat sangat pucat.


"Sayang apa kamu tidak apa apa?" tanya bu Dahlia dengan mimik muka cemas.


"Aku baik baik saja bu. Jangan khawatirkan Esha. Mungkin ini bawaan bayi" sahut Esha.


Hari sudah malam. Esha pun memejamkan matanya mencoba untuk tidur agar tidak merasa mual lagi. Amar memperhatikan wajah Esha yang sedang terlelap.


"Sha... kamu gadis yang baik. Kenapa ujian seolah tidak ada habisnya menimpamu? Sebenarnya setelah masa iddah mu habis, aku ingin segera menikahimu dan membuatmu bahagia. Tapi seolah takdir tiada hentinya mempermainkan hidup kita..." gumam Amar dalam hatinya.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 12 jam, bus mereka pun sampai di Jakarta. Perlahan Esha membuka matanya. Esha melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 5 pagi. Esha pun membangunkan ibunya yang masih tidur. Mereka bertiga pun turun lalu mencari sebuah mushola untuk menunaikan sholat subuh.


Setelah sholat subuh, Amar mengajak Esha dan bu Dahlia ke warung terdekat untuk sarapan sambil beristirahat sejenak. Setelah selesai sarapan, mereka bertiga naik taxi untuk mencari kontrakan.

__ADS_1


"Esha dan ibu mau cari kontrakan yang seperti apa?" tanya Amar.


"Yang murah saja Mar, yang penting bersih dan nyaman" sahut Esha.


"Baiklah"


"Maaf apa kalian mau mencari kontrakan?" tanya sopir taxi tiba tiba.


"Iya pak. Apa bapak tau kontrakan yang murah di sekitar sini pak? Kalau ada sih dua kontrakan yang bersebelahan" tanya Amar.


"Saya tau pak. Kebetulan pemiliknya adalah tetangga saya. Di sana masih ada beberapa kontrakan yang kosong"


"Kalau begitu bisa antar kami kesana pak?"


"Bisa pak. Dengan senang hati"


Setengah jam kemudian mereka sampai di kontrakan yang dimaksud. Sopir taxi tersebut mengantar Amar, Esha, dan bu Dahlia menemui pemilik kontrakan. Setelah melihat kontrakannya dan berbincang bincang soal harga sewanya, Amar, Esha dan bu Dahlia pun menyetujuinya. Akhirnya mereka mendapatkan kontrakan yang murah dan sederhana. Amar sengaja menyewa dua kontrakan yang bersebelahan agar dia bisa menjaga Esha dan bu Dahlia. Amar, Esha dan bu Dahlia pun berterima kasih kepada sopir taxi itu karena telah membantu mereka.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.........


Notes :


Dear my readers... mohon maaf ya atas keterlambatan update-nya. Soalnya author ada urusan di real life yang tidak bisa ditinggalkan. Mohon maaf juga belum bisa memenuhi permintaan untuk crazy up. Soalnya author juga punya keluarga yang harus diurus, jadi waktunya gak cuma buat novel... 😁


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca...!!!

__ADS_1


Terima kasih 😊


__ADS_2