Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Dilema


__ADS_3

Semenjak mengetahui kalau bayi Raffi dan Aulia meninggal setelah dilahirkan, tiap malam Esha tidak bisa tidur dengan tenang. Semakin mendekati HPL, Esha semakin takut membayangkan kalau dia nanti juga akan mengalami hal yang sama seperti yang dialami Aulia. Untung ada bu Dahlia yang selalu menenangkannya. Sejak saat itu, Bu Dahlia tidur di kamar Esha untuk menemaninya dan menjaganya jika sewaktu waktu Esha akan melahirkan.


Setiap habis sholat, Esha selalu berdoa pada Tuhan agar melindungi bayi yang ada dalam kandungannya hingga ia lahir ke dunia dengan sehat dan selamat. Setiap malam Esha juga melaksanakan sholat sunnah istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah soal dilema yang ada di hatinya.


( Flashback on )


Setelah kembali dari pemakaman, Esha membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian. Esha pun mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat ashar. Setelah sholat Esha menengadahkan tangannya ke atas lalu berdoa.


"Ya Allah... sepertinya aku bisa merasakan apa yang dirasakan kak Raffi dan Aulia yang baru saja kehilangan bayinya. Aku mohon pada-Mu, lindungilah bayi yang ada dalam kandunganku ini ya Allah. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya. Karena dialah semangat hidupku. Berikanlah aku kemudahan dan kelancaran dalam persalinanku nanti. Semoga bayiku lahir dengan sehat dan selamat. Aamiin..."


Selesai sholat, Esha membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi miring ke kiri. Esha mencoba memejamkan matanya untuk tidur, tapi ia tidak bisa tidur. Dia pun mengubah posisi tidurnya dengan miring ke kanan, tapi tetap saja dia tidak bisa terlelap. Esha perlahan mengelus perutnya. Karena kandungannya sudah semakin besar, bayi dalam perutnya pun semakin aktif bergerak. Esha sering mengajak bayinya bicara.


"Sayang, kamu lagi apa di dalam sana? Sebentar lagi kamu akan lahir ke dunia ini sayang. Ibu selalu mendoakan agar kamu kelak lahir dengan lancar, sehat dan selamat..."


"Maafkan ibu karena ibu telah menjauhkanmu dari ayahmu. Tapi ibu terpaksa melakukannya sayang. Ibu akan berusaha sekuat tenaga untuk membesarkanmu meski tanpa ayahmu"


Esha mencoba memejamkan matanya lagi. Tiba tiba ada suara seseorang yang membuka pintu rumahnya.


"Assalamu'alaukum. Esha, ibu pulang sayang"


Ternyata bu Dahlia baru pulang dari restoran.


"Wa'alaikumsalam bu" sahut Esha lalu beranjak keluar dari kamarnya.


"Tumben jam segini ibu sudah pulang"


"Iya sayang, kebetulan tadi ramai pembeli, jadi restoran tutup lebih awal"


"Alhamdulillah... kalau begitu ibu mandilah, biar Esha buatkan teh hangat untuk ibu"


"Makasih sayang, ibu mandi dulu"


Setelah mandi dan ganti pakaian, bu Dahlia menemui Esha di ruang tamu. Esha sedang bersandar di sofa sambil mengelus elus perutnya yang semakin besar.


Bu Dahlia pun duduk di samping Esha lalu mengelus perut Esha perlahan.


"Ibu, Esha ingin bicara sesuatu sama ibu"


"Ada apa sayang? Kenapa kamu kelihatan sangat cemas?"


"Bayi Aulia dan kak Raffi baru saja meninggal bu, Esha tadi lihat beritanya di TV. Setelah itu Esha pergi menghadiri pemakamannya"


"Apa?? Meninggal?? Innalillahi wainnailaihi raji'un... Kenapa bisa meninggal sayang?"


"Esha kurang tau sebab pastinya bu, Esha dengar di TV tadi setelah dilahirkan kondisi jantung bayinya lemah dan bayi itu meninggal setelah tujuh jam dilahirkan"


"Masya Allah... kasian sekali bayi itu. Lalu apa kamu tadi bertemu dengan Raffi di pemakaman?"


"Tidak bu. Kak Raffi nggak melihat Esha tadi. Kak Raffi hanya duduk di samping makam bayinya sambil menundukkan kepalanya. Esha kasihan sama kak Raffi bu. Dia kelihatan sangat sedih"


"Itu mungkin sudah kehendak Allah sayang. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka"


"Iya bu. Tapi Esha jadi takut bu. Esha takut kalau nanti Esha juga mengalami hal yang sama seperti Aulia"


"Kamu jangan bicara seperti itu sayang. Kamu harus positif thinking. Kamu dan bayi kamu pasti akan baik baik saja. Kita berdoa saja, ya?"


"Iya bu"


Bu Dahlia pun meminum tehnya lalu melanjutkan bicaranya.


"Esha.. apa kamu benar benar sudah yakin kalau kamu tidak mau rujuk dengan Raffi? Mungkin ini adalah jalan dari Allah sayang, agar kamu dan Raffi bisa bersatu kembali"


"Tidak bu. Esha tidak mau kembali pada kak Raffi. Esha kasihan sama Aulia bu. Dia pasti sangat sedih karena baru saja kehilangan bayinya. Tidak mungkin Esha menambah kesedihannya dengan merebut kak Raffi darinya bu"


"Tapi kamu juga harus memikirkan bayimu sayang. Raffi berhak tau karena dia adalah ayahnya. Apa kamu akan membiarkan dia lahir tanpa seorang ayah? Apalagi dia akan lahir dari pernikahan yang tidak sah secara hukum. Bagaimana statusnya nanti?"


Esha terdiam sejenak untuk mencerna kata kata ibunya.


"Assalamu'alaikum"

__ADS_1


Esha dan bu Dahlia terkejut karena tiba tiba Amar datang.


"Wa'alaikumsalam" sahut Esha dan bu Dahlia.


"Amar?" seru Esha.


"Nak Amar, baru pulang kerja?" tanya bu Dahlia.


"Iya bu"


"Ayo silakan duduk nak Amar, biar ibu buatkan minum"


"Terima kasih bu"


Amar pun duduk berhadapan dengan Esha, sementara bu Dahlia ke dapur untuk membuat minuman.


"Sha, maaf aku tadi nggak sengaja mendengar pembicaraanmu sama bu Dahlia. Aku juga sudah dengar soal berita kematian bayinya Aulia dan Raffi sewaktu di kantor tadi.


"Maaf Sha, kalau boleh tau kenapa kamu nggak mau rujuk sama Raffi? Apa kamu sudah nggak mencintainya lagi?"


Esha hanya diam membisu. Dia tidak tau harus menjawab apa. Sejujurnya dia masih sangat mencintai Raffi. Tapi dia tidak mau menyakiti Aulia lagi. Selama ini dia berusaha keras untuk melupakan Raffi. Tapi semakin dia berusaha, dia malah semakin mengingatnya.


"Sha? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Amar lagi.


"Bukan apa apa Mar. Aku cuma..."


Bu Dahlia pun muncul dari dapur sambil membawa secangkir kopi.


"Nak Amar, ibu buatkan kopi. Ayo silahkan diminum" kata bu Dahlia sambil meletakkan kopi itu di atas meja lalu kembali duduk di samping Esha.


"Terima kasih bu"


Amar pun meminum kopinya. Lalu dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, Amar pun mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.


"Sha, ibu.. aku ingin mengatakan sesuatu"


Bu Dahlia jadi penasaran karena melihat muka Amar yang serius.


"Kalau diizinkan, Amar ingin menikahi Esha bu setelah dia melahirkan nanti"


Deg!


Jantung Esha dan bu Dahlia serasa mau copot setelah mendengar kata kata Amar.


"Nak Amar apa kamu serius dengan ucapanmu itu?"


"Amar serius bu. Amar janji, Amar akan membuat Esha bahagia. Karena sejak dulu Amar sangat mencintai Esha bu. Amar juga akan menyayangi dan menganggap anak ini seperti anak kandung Amar sendiri jika Esha dan ibu mengizinkan..."


Bu Dahlia menitikkan air matanya saking terharunya mendengar kata kata Amar yang baru saja melamar putrinya.


"Nak Amar, ibu betul betul terharu karena kamu mau menikahi Esha yang sedang mengandung anak orang lain. Ibu benar benar tidak menyangka kalau kamu ternyata sangat mencintai putri ibu..." ucap bu Dahlia sambil terisak.


"Ibu serahkan semua keputusan di tangan Esha" imbuh bu Dahlia.


"Bagaimana Sha? Apa kamu mau menikah denganku?"


Esha tidak tau harus menjawab apa. Esha bingung. Di satu sisi Esha masih mencintai ayah dari bayinya, tapi di sisi lain Esha tidak ingin mengecewakan Amar untuk yang kedua kalinya....


"Maaf Mar, beri aku sedikit waktu untuk memikirkannya. Aku ingin melaksanakan sholat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah"


"Baiklah Sha, aku akan menunggu jawabanmu. Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam" jawab Esha dan bu Dahlia.


Amar pun pergi meninggalkan Esha dan bu Dahlia.


"Esha, nak Amar adalah pemuda yang baik dan sholeh. Ibu yakin nak Amar pasti bisa membahagiakanmu dan juga bayi kamu. Jika kamu tidak mau rujuk dengan Raffi, menikahlah dengan nak Amar demi bayi kamu. Tapi semua keputusan ada di tanganmu sayang. Ibu akan selalu mendukung apapun keputusanmu"


Malam itu sebelum tidur, Esha melaksanakan dua rakaat sholat sunnah istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah.

__ADS_1


Setelah sholat istikharah, Esha pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi miring ke kiri. Esha memejamkan matanya mencoba untuk tidur. Tapi Esha tidak bisa terlelap. Hatinya sangat gelisah, pikirannya tidak tenang. Esha pun bangun lalu menemui ibunya di kamar.


Ceklek!


Esha membuka pintu kamar ibunya.


"Esha.. Kamu belum tidur? Ada apa sayang?" seru bu Dahlia yang sedang memakai lotion anti nyamuk.


Esha pun menghampiri ibunya.


"Ibu, Esha merasa gelisah. Esha nggak bisa tidur bu. Maukah ibu tidur di kamar Esha? Esha takut bu"


"Kamu takut apa sayang?"


"Esha takut kalau sewaktu waktu Esha akan melahirkan"


Bu Dahlia tersenyum mendengar ucapan putrinya. Tapi bu Dahlia paham karena ini adalah pengalaman pertama Esha, jadi wajar saja kalau Esha merasa takut.


"Bukankah waktunya masih satu bulan lagi? Tapi baiklah sayang, ibu akan menemanimu, ayo!"


Bu Dahlia pun menemani Esha tidur di kamarnya.


( Flashback off )


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...........


Notes :


Apakah Esha akan menerima lamaran Amar??


Ataukah dia akan rujuk sama Raffi??


Nantikan episode selanjutnya...


Jangan lupa tekan LIKE, LOVE, dan komentarnya**** setelah membaca...!!!


Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2