Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Perceraian Kedua


__ADS_3

Keesokan harinya, keadaan Aulia sudah berangsur membaik. Aulia sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya. Kini Aulia sudah bisa mengikhlaskan kepergian bayinya karena semalam Aulia bermimpi melihat bayinya sedang tersenyum kepadanya. Kini Aulia yakin kalau bayinya lebih bahagia berada di sisi-Nya. Raffi dan orang tua Aulia pun membawa Aulia pulang ke rumah. Sebelum pulang ke rumah, Aulia meminta Raffi untuk mengantarnya mengunjungi makam bayinya.


"Kak Raffi, Lia ingin ke makam Rifat. Sebelum pulang ke rumah, tolong bawa Lia ke sana kak" pinta Aulia.


"Baiklah, aku akan membawamu ke sana"


Raffi pun menghentikan mobilnya di depan area pemakaman. Bu Kania membantu Aulia turun dari mobil lalu menuntun Aulia memasuki area pemakaman. Aulia dan Bu Kania berjalan mengikuti Raffi dan Pak Mirza yang sudah mendahului mereka. Ketika sampai di makam bayinya yang masih basah, Aulia pun tak kuasa menahan sebak di dadanya. Aulia duduk bersimpuh di samping makam bayinya. Raffi duduk di samping Aulia.


"Rifat, mama datang sayang... Semoga kamu tenang di sisi-Nya. Mama tau Allah lebih menyayangimu daripada mama. Mama sudah mengikhlaskanmu sayang..."


Air mata Aulia jatuh membasahi pipinya. Raffi terharu melihat ketegaran Aulia. Raffi pun menenggelamkan kepala Aulia di dadanya. Aulia menangis sepuasnya di dada Raffi. Bu Kania dan Pak Mirza pun terharu menyaksikannya.


Setelah Aulia tenang, Raffi pun membawa Aulia pulang ke rumah. Sampai di rumah, Bu Debby dan Pak Salman keluar menyambut kedatangan mereka.


"Aulia..." seru bu Debby lalu menghampiri dan memeluk Aulia.


"Selamat pulang ke rumah sayang" imbuh bu Debby. Aulia hanya memaksakan senyumnya.


Raffi menuntun Aulia masuk ke dalam rumah diikuti oleh orang tua mereka. Raffi membantu Aulia duduk di sofa. Mereka sekeluarga pun kini duduk berkumpul di ruang tamu.


"Bagaimana keadaanmu Aulia?" tanya Pak Salman.


"Lia sudah lebih baik Pa. Lia sudah ikhlas menerima kepergian Rifat" jawab Aulia.


"Tidak apa apa sayang, kamu dan Raffi bisa mencoba lagi. Mama yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa hamil lagi" Bu Debby menimpali.


Raffi terkejut mendengar ucapan mamanya. Aulia paham saat melihat reaksi Raffi.


"Tidak ma. Lia memutuskan untuk berpisah dengan kak Raffi" seru Aulia.


"Apa??" seru semua yang ada di ruangan itu.


"Kamu bilang apa Lia? Pi.. pisah?" tanya Raffi setengah tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Aulia.


"Iya kak. Lebih baik kita akhiri saja pernikahan ini. Untuk apa kita mempertahankan sebuah pernikahan tanpa cinta?"


"Sayang, kamu nggak sedang bercanda kan? Apa kamu serius dengan ucapanmu?" sahut bu Kania.


"Lia serius ma"


"Selama ini Lia sudah berusaha semaksimal Lia untuk memenangkan hati kak Raffi. Tapi Lia selalu gagal. Kak Raffi tetap nggak bisa move on dari Alesha. Apalagi sekarang Allah sudah mengambil bayi kita, satu satunya harapan Lia untuk mempertahankan pernikahan kita. Mungkin ini sudah jalan dari Allah. Jadi Lia mohon ceraikan Lia kak!"


"Lia apa yang kamu katakan sayang?" tanya Pak Mirza.


"Ini kenyataannya Pa, Ma. Lia sudah nggak sanggup lagi untuk terus bersandiwara di depan semua orang kalau Lia baik baik saja. Selama ini Lia menderita Pa, Ma"


"Maafkan aku Lia, aku nggak bermaksud membuatmu menderita" tutur Raffi.


"Lia nggak menyalahkan kak Raffi. Lia yang seharusnya minta maaf karena Lia sudah egois kak. Lia sudah memaksa kak Raffi untuk menikahi Lia walaupun Lia tau sejak awal kalau kak Raffi mencintai perempuan lain. Karena Lia pikir, seiring berjalannya waktu Lia pasti bisa membuat kak Raffi mencintai Lia dan melupakan perempuan itu. Tapi ternyata Lia salah... Lia baru sadar kalau cinta itu nggak bisa dipaksakan"


"Selama ini hanya ada Alesha di hati kak Raffi. Jadi sekali lagi Lia mohon, ceraikan Lia kak! Biar Lia cari kebahagiaan Lia sendiri"

__ADS_1


"Tidak! Mama tidak setuju kalau kalian bercerai! Mama hanya mau Aulia yang jadi menantu mama, bukan orang lain!" seru bu Debby.


"Kalau kalian bercerai mau ditaruh dimana muka papa sama mama? Apa kata orang orang nanti? Apa kalian mau membuat kami malu?" tanya Pak Salman.


"Sekarang Lia nggak peduli apa kata orang Ma, Pa. Kali ini Lia mohon pengertian mama sama papa. Biarkan kak Raffi bahagia Ma, Pa! Apa mama sama papa nggak ingin melihat anak satu satunya mama sama papa bahagia? Kak Raffi selama ini sudah cukup menderita karena keegoisan kita ma. Kasihan kak Raffi. Lia juga ingin bahagia meskipun tanpa kak Raffi. Lia akan berusaha sekuat tenaga untuk membuang jauh jauh perasaan Lia"


"Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, papa tidak akan menghalangimu sayang... Papa hanya ingin melihat kamu bahagia" kata Pak Mirza.


"Iya sayang.. mama juga ingin kamu bahagia" sahut bu Kania.


"Tapi Mirza, Kania.." seru Pak Salman.


"Kita harus menghormati keputusan anak anak kita Salman. Mereka sudah dewasa, biarkan mereka menentukan masa depan mereka sendiri!" sahut Pak Mirza.


Pak Salman dan bu Debby pun tidak bisa berkata apa apa lagi setelah mendengar keputusan Pak Mirza dan bu Kania.


"Tolong segera urus perceraian kita kak!" seru Aulia sambil menitikkan air matanya.


"Jika itu yang kamu inginkan, baiklah Lia aku akan menceraikan kamu. Semoga kamu menemukan laki laki yang lebih baik daripada aku Lia. Laki laki yang mencintai kamu dengan sepenuh hati. Tidak seperti diriku yang hanya bisa membuatmu menderita. Kamu pantas bahagia Lia. Sekali lagi maafkan aku..." sahut Raffi dengan menundukkan kepalanya.


Tanpa terasa, ada butiran air bening yang menetes dari pelupuk mata Raffi dan jatuh ke lantai. Raffi segera menyeka air matanya.


"Maaf, Raffi permisi ke kamar dulu"


Raffi pun berdiri lalu beranjak menuju kamarnya. Raffi menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi tengkurap. Air mata Raffi pun mengalir makin deras. Raffi menenggelamkan wajahnya ke bantal. Pikiran Raffi kacau. Raffi merasa gagal menjadi seorang suami. Ia telah menyakiti dua orang perempuan sekaligus yang sangat ia sayangi.


( suara hati Raffi )


**********


Aulia meminta bu Kania membantunya berdiri dan menyusul Raffi ke kamar. Sampai di depan pintu kamar, Aulia meminta bu Kania meninggalkannya agar ia bisa bicara berdua dengan Raffi. Aulia pun masuk menghampiri Raffi dan duduk di tepi tempat tidur.


"Kak Raffi.." seru Aulia sambil menyentuh punggung Raffi.


Raffi pun membalikkan badannya lalu duduk menghadap Aulia.


"Ada apa Lia?"


"Selama proses perceraian kita, Lia akan tinggal sama mama dan papa Lia kak. Boleh kan?"


Raffi menganggukkan kepalanya lalu mendekap tubuh Aulia. Raffi merasa bersalah karena telah membuat Aulia menderita selama ini.


"Maafkan aku Lia, aku bukanlah suami yang baik. Aku telah menyakitimu dan juga Alesha"


"Kembalilah pada Alesha kak. Lia tau kalian masih saling mencintai. Lia doakan agar kalian bisa bersatu kembali"


"Tapi kami sudah bercerai Lia. Kami tidak mungkin bisa bersama lagi"


"Jika kalian berjodoh, Lia yakin kalian akan bersatu lagi suatu hari nanti"


"Kamu perempuan yang baik Lia. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu"

__ADS_1


"Terima kasih kak"


Raffi pun melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Aulia dengan lembut.


Aulia meminta Raffi untuk membantunya mengemasi pakaian dan barang barangnya ke dalam koper. Setelah selesai, Raffi membawakan koper Aulia dan menuntun Aulia keluar kamar menemui orang tuanya.


"Ma, Pa, maafkan Lia kalau selama menjadi menantu di rumah ini Lia ada kekurangan dan kesalahan. Lia pamit Ma, Pa" ucap Aulia lalu mencium tangan bu Debby dan Pak Salman.


"Mama mohon jangan pergi sayang!" seru bu Debby.


"Maaf ma, tapi Lia harus pergi. Assalamu'alaikum Ma, Pa"


"Wa'alaikumsalam" sahut bu Debby dan Pak Salman.


Raffi pun mengantar Aulia pulang ke rumah orang tuanya. Bu Debby dan Pak Salman dengan berat hati membiarkan Aulia pergi meninggalkan rumahnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..........


Notes :


Jangan lupa tekan LIKE, LOVE, dan komentarnya setelah membaca...!!!

__ADS_1


Tengkyu 😊


__ADS_2