Kesucian Alesha

Kesucian Alesha
Evan Adijaya


__ADS_3

Siang itu saat di lokasi syuting, Aulia tiba tiba pingsan. Semua kru panik dan berlari menghampiri Aulia. Terutama seorang pemuda tampan yang langsung berlari membopong tubuh Aulia dan melarikannya ke rumah sakit terdekat. Laki laki itu tidak lain adalah Evan Adijaya, sang produser muda yang sejak lama menaruh hati pada Aulia bahkan jauh sebelum Aulia menikah dengan Raffi.


Evan dulu adalah teman sekelas Aulia waktu SMA. Dulu waktu SMA banyak cowok yang naksir sama Aulia karena Aulia memang gadis yang sangat cantik. Evan adalah salah satunya. Evan jatuh cinta pada Aulia sejak pertama kali Evan melihatnya. Namun Evan memendam perasaannya terhadap Aulia karena Evan tau kalau sejak kecil Aulia hanya mencintai Raffi. Evan menjadi seorang produser pun karena Aulia. Evan tau kalau Aulia bercita cita menjadi seorang model dan artis terkenal. Dari situlah Evan ingin mewujudkan impian Aulia.


Evan membawa Aulia ke ruang instalasi gawat darurat. Aulia langsung mendapatkan penanganan dari para tenaga medis. Evan pun menghubungi nomor ponsel Raffi.


Tut ... Tut ... Tut .... ( menghubungkan )


Raffi : "Hallo."


Evan : "Hallo selamat siang, apa benar ini dengan bapak Raffi?"


Raffi : "Iya benar. Dengan siapa ini?"


Evan : "Saya Evan Adijaya, produsernya Aulia. Saya cuma mau mengabarkan kalau istri bapak tadi pingsan di lokasi syuting. Saya sudah membawanya ke rumah sakit terdekat."


Raffi : "Apa? Pingsan? Saya akan segera ke sana."


Raffi pun langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat. Sampai di rumah sakit, Raffi langsung bergegas menuju ruang IGD. Evan yang melihat kedatangan Raffi langsung berdiri menghampirinya.


"Bapak Raffi?" sapa Evan.


"Apa anda yang menghubungi saya tadi?" tanya Raffi.


"Iya Pak," jawab Evan.


"Dimana istri saya?" tanya Raffi dengan cemas.


"Aulia masih belum sadar. Dia masih dalam penanganan dokter," sahut Evan.


Raffi tiba tiba mencengkeram kerah baju Evan. Evan terkejut dengan sikap Raffi.


"Kalau terjadi apa apa dengan Lia dan kandungannya, aku tidak akan memaafkan Anda."


"Justru saya yang menolongnya. Apa begini cara anda berterima kasih? Kenapa anda jadi menyalahkan saya?"


"Bukankah kamu yang sejak awal memaksa Lia untuk main film padahal kamu tau kalau Lia sedang hamil? Iya kan?"


"Hati hati kalau bicara. Saya tidak pernah memaksanya. Saya hanya membantunya mewujudkan impiannya."


"Apa? Apa yang kamu tau tentang impian Lia?"


"Saya tau semuanya tentang Lia. Karena saya mencintai Lia sejak pertama kali saya melihatnya. Saya adalah teman sekelas Lia waktu SMA."


"Apa? Cinta? Berani sekali anda bilang cinta pada istri saya?"


"Kenapa? Bukankah Anda tidak pernah mencintai Lia? Lalu kenapa Anda menikahinya kalau Anda tidak mencintainya?"


"Kurang ajar kamu!"


Bug!


Satu pukulan mendarat di pipi Evan hingga ujung bibirnya berdarah.


"Jangan asal bicara kalau kamu tidak tau apa apa!" seru Raffi.


"Aku kasian pada Lia. Kenapa dia bisa mencintai laki laki seperti dirimu?"


"Hey kalian, jangan bikin keributan di rumah sakit! Kalau kalian ingin berkelahi silahkan keluar dari rumah sakit ini!" seru seorang security yang datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Maaf Pak," ucap Evan lalu beranjak meninggalkan rumah sakit.


Tak lama kemudian, dokter yang menangani Aulia keluar.


"Keluarga ibu Aulia?" tanya dokter.


"Saya suaminya Dok. Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya Dok?" sahut Raffi.


"Istri bapak sudah sadar. Kandungannya juga baik baik saja. Tapi kondisinya masih lemah. Dia pingsan karena kelelahan dan kurang cairan. Kami sudah memberinya infus. Sebaiknya istri bapak dirawat di sini dulu sampai keadaannya membaik."


"Baik Dokter. Apa boleh saya menemuinya dokter?"


"Silahkan Pak."


Raffi pun masuk menemui Aulia. Wajah Aulia kelihatan sangat pucat.


"Lia."


"Kak Raffi."


"Kenapa kamu bisa pingsan? Dari awal aku kan sudah melarang kamu untuk main film, sekarang kamu lihat apa akibatnya?"


"Maafin Lia kak."


"Mulai sekarang kamu tidak usah main film lagi. Aku tidak mau mengambil resiko. Dan kali ini kamu harus menurutiku."


"Tapi kak ... Lia sudah terikat kontrak."


"Kamu tunda saja syutingnya sampai kamu melahirkan."


Kali ini Aulia tidak bisa membantah keinginan Raffi. Setelah keluar dari rumah sakit, Aulia menemui Evan untuk menunda proses syuting sampai dia melahirkan nanti. Evan pun mengerti dan menyetujuinya. Apapun akan Evan lakukan demi Aulia.


Di lain tempat ....


Setelah selesai beberes di kontrakan, Amar berpamitan kepada Esha dan bu Dahlia untuk pergi interview.


"Ibu, Esha, Amar pamit dulu. Amar mau pergi interview," kata Amar.


"Good luck, ya Mar!" sahut Esha.


"Ibu doakan semoga kamu diterima, Nak Amar" sahut bu Dahlia.


"Terima kasih Bu, Esha. Assalamu'alaikum," ucap Amar.


"Wa'alaikumsalam," sahut Esha dan bu Dahlia.


Amar pun pergi naik ojek menuju ke sebuah perusahaan.


PT Tiga Berlian


Amar sampai di depan PT Tiga Berlian. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah pengalaman pertamanya untuk interview. Amar hanya mengucap kata 'bismillah' lalu melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang.


Amar melihat tidak ada penjaga keamanan di pintu gerbang. Meskipun pintunya terbuka, grendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat orang yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel. Amar menggeser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan masuk menuju kantor.


Di kedua sisi jalan, Amar melihat taman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun di sekitar situ. Air meluap ke jalan setapak. Amar mematikan kran dan melanjutkan kembali langkahnya.


Amar melangkah menuju resepsionis. Tak ada seorang pun di area resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. Amar perlahan menaiki tangga menuju lantai dua.


Amar melihat lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal hari sudah siang. Amar pun mencari saklar dan mematikan lampu tersebut.

__ADS_1


Di lantai dua di aula besar, Amar melihat banyak calon duduk menunggu giliran. Melihat banyaknya pelamar, Amar bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima?


Amar pun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "WELCOME". Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan.


Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong.


Terdengar suara kipas angin, dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong.


Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara. Amar pun teringat kata kata ayahnya,


"Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu! Bahkan jika kamu tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri!"


Tibalah gilirannya, Amar masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis.


Sesampainya di depan meja, pewawancara tanpa bertanya langsung berkata.


"Kapan Anda bisa mulai bekerja?"


Amar terkejut dan berpikir.


"Apakah ini pertanyaan jebakan? Atau tanda bahwa dia telah diterima untuk bekerja di sini?"


Amar bingung.


Apa yang Anda pikirkan?" tanya sang boss lalu melanjutkan kalimatnya.


"Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini. Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun. Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut. Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon."


"Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat grendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "WELCOME" yang terbalik, kipas atau lampu yang tak perlu."


"Anda satu-satunya yang melakukan.


Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda!"


"Hanya anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima anda bekerja di sini."


"Alhamdulillah ya Allah ... Terima kasih Pak. Saya akan bekerja mulai besok pagi," ucap Amar dengan mimik muka yang berseri seri.


"Baiklah kami tunggu kedatangan Anda besok pagi."


Mereka pun saling berjabat tangan. Amar pun pulang ke kontrakan dengan bahagia. Tidak henti hentinya dia mengucap syukur kepada Allah yang telah memudahkan semua urusannya.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG .................


Notes :


*Cerita Amar ini aku ambil dari salah satu kisah inspiratif yang aku temuin di sosmed.


Jangan lupa tekan LIKE dan komentarnya setelah membaca ya!

__ADS_1


Terima kasih .... 😊


__ADS_2