
Raffi begitu semangat mengambil foto bayinya yang baru lahir menggunakan kamera ponselnya. Baby Zayn sedang tidur dengan nyenyak setelah menyusu ibunya. Dalam tidur pun bayi itu bisa tersenyum menampakkan lesung pipitnya. Raffi begitu gemas melihatnya.
"Baby boy papa, ganteng banget sih kamu... anak siapa dulu?" ucap Raffi seraya mengambil foto bayinya dari berbagai arah.
Esha dan Bu Dahlia hanya memperhatikan tingkah Raffi sambil tersenyum.
"Kak Raffi hubungilah Aulia sama Amar, kasih tau mereka kalau bayi kita sudah lahir!" seru Esha.
"Oh iya aku sampai lupa. Baiklah aku akan menghubungi mereka sekarang"
Raffi melakukan vidio call kepada Aulia untuk memberi surprise kalau bayinya sudah lahir. Raffi pun mengarahkan kameranya tepat ke wajah bayinya.
Tut... Tut... Tut...
Raffi : "Assalamu'alaikum onty Lia"
Aulia : "Wa'alaikumsalam, oh my God apa itu bayi Alesha kak?"
Raffi : "Iya onty, ini baby Zayn anak papa Raffi yang ganteng"
Aulia : "Baby Zayn? Nama yang bagus. Selamat ya kak Raffi, Alesha... bayi kalian lucu sekali"
Raffi : "Thank you onty"
Aulia : "Onty akan segera ke sana. Onty udah nggak sabar pengen gendong kamu"
Raffi : "Okey onty, baby Zayn tunggu. Assalamu'alaikum onty"
Aulia : "Wa'alaikumsalam"
Raffi pun mengakhiri panggilannya, kemudian menghubungi Amar.
Tut... Tut... Tut...
Amar : "Assalamu'alaikum Raffi, gimana apa bayinya sudah lahir?"
Raffi : "Wa'alaikumsalam, alhamdulillah sudah Mar, jam 4 sore tadi"
Amar : "Alhamdulillah... laki laki atau perempuan?"
Raffi : "Baby boy"
Amar : "Alhamdulillah... selamat ya Raffi. Aku akan segera ke sana. Assalamu'alaikum"
Raffi : "Wa'alaikumsalam"
Raffi pun menutup telponnya.
Pukul 18.30, Aulia sampai di RS Pondok Indah. Tanpa sengaja, Aulia bertemu dengan Amar di depan rumah sakit. Aulia datang membawa dua kantong plastik besar berisi makanan dan minuman yang baru dia beli dari restoran.
"Amar!" seru Aulia.
Aulia berjalan mendekati Amar sambil menepiskan senyumnya.
"Aulia..." sahut Amar.
Deg!
Jantung Amar tiba tiba berdebar kencang saat melihat Aulia yang terlihat begitu cantik dengan memakai hijab dengan motif bunga bunga. Hatinya terasa adem saat memandangnya.
"Assalamu'alaikum Aulia..." sapa Amar.
"Wa'alaikumsalam. Kamu mau jenguk bayinya Alesha kan?"
"Iya, by the way kamu bawa apa itu?"
"Oh ini, aku bawa makanan dan minuman untuk Alesha dan yang lainnya"
"Oohh... sini biar aku bantu bawakan"
Aulia pun menyerahkan satu kantong plastik berisi makanan kepada Amar. Mereka pun berjalan beriringan memasuki rumah sakit. Mereka menanyakan nomor kamar Esha kepada suster jaga karena mereka lupa tidak menanyakannya tadi. Setelah diberi tau, mereka pun menuju kamar rawat Esha.
Tok... Tok...Tok...
Aulia mengetok pintu kamar rawat Esha lalu membukanya. Raffi, Esha, dan Bu Dahlia menoleh ke arah pintu.
"Assalamu'alaikum" ucap Aulia dan Amar.
"Wa'alaikumsalam" jawab Esha, Raffi dan Bu Dahlia.
"Lia, Amar kok kalian bisa barengan?" tanya Raffi dengan heran.
"Tadi kami nggak sengaja ketemu di depan rumah sakit kak" sahut Aulia.
"Oh ya kak, ini Lia bawain makanan dan minuman untuk kalian semua. Kalian pasti belum makan kan?" imbuh Aulia.
"Thanks Lia"
"Terima kasih nak Aulia" sahut Bu Dahlia.
"Makasih Aulia" sahut Esha.
__ADS_1
Aulia dan Amar meletakkan makanan dan minuman tersebut di atas meja. Kemudian Aulia mendekati baby Zain yang tengah tidur di box bayi.
"Halloo... ini pasti baby Zayn... lucu sekali kamu" ucap Aulia seraya menyentuh pipi baby Zayn.
"Baby Zayn??" tanya Amar.
"Iya Mar, namanya Zayn Bastian Anggara" Esha menimpali.
"Wow... nama yang bagus, sesuai untuk bayinya yang ganteng" tutur Amar.
"Iya Mar, Zayn kan artinya tampan" sahut Esha.
"Anak siapa dulu?? Papa Raffi..." celetuk Raffi.
Semua pun tertawa mendengar ocehan Raffi.
"Alesha boleh aku menggendongnya?" tanya Aulia.
"Iya Aulia"
Aulia pun menggendong bayi itu lalu perlahan mencium pipinya. Tiba tiba dia teringat pada Rifat. Seketika kelopak matanya penuh dengan genangan air. Aulia pun tak mampu membendung air mata yang jatuh ke pipinya. Aulia segera menyeka air matanya.
"Aulia kenapa kamu menangis?" tanya Esha dengan heran.
"Nggak apa apa Alesha. Aku cuma teringat sama Rifat. Kamu beruntung Alesha, bayi kamu terlahir sehat. Kamu bisa menggendongnya, menciumnya, menyusuinya... sementara aku..."
Air mata Aulia tumpah lagi. Esha, Amar, dan Bu Dahlia iba melihat Aulia menangis. Raffi segera mendekati Aulia lalu menyentuh pundaknya.
"Rifat sudah tenang di sisiNya Lia. Aku berdoa semoga kamu menemukan seseorang yang kamu cintai dan mencintai kamu sepenuhnya. Dan kamu bisa memulai semuanya dari awal lagi. Aku yakin kelak kamu pasti akan punyai anak lagi dan hidup bahagia..." ucap Raffi berusaha menenangkan Aulia.
"Iya kak. Terima kasih" sahut Aulia sembari menyeka air matanya.
Aulia pun mengembalikan baby Zayn ke tempat tidurnya. Lalu mereka menikmati makanan yang Aulia bawakan tadi. Setelah makan, Aulia melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 19.50.
"Kalau begitu Lia pamit dulu Bu. Waktu berkunjung sudah hampir habis. Lia pamit Alesha, kak Raffi. Assalamu'alaikum"
"Amar juga sekalian pamit Bu, Esha, Raffi. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" sahut Raffi, Esha dan Bu Dahlia.
"Makasih ya Aulia, Amar. Hati hati di jalan" imbuh Esha.
Aulia dan Amar pun keluar dari kamar rawat Esha. Mereka berjalan beriringan sampai di depan rumah sakit. Sampai di depan rumah sakit ternyata turun hujan rintik rintik.
"Yaahh... hujan Mar" seru Aulia.
"Iya hujan, aku lupa bawa payung lagi"
"Naik ojol"
"Gimana kalau aku anterin kamu pulang? Lagian hujan begini mana ada ojek yang mau narik?"
"Nggak usah Aulia. Ini udah malem. Kontrakanku jauh dari sini"
"It's okey, aku sama Pak Imam kok, sopir aku. Daripada kamu kehujanan nanti, kamu sakit lagi"
"Nggak usah Aulia. Aku nggak mau ngrepotin kamu. Kita kan baru kenal"
"Kamu kan teman baiknya Alesha. Teman Alesha teman aku juga"
"Baiklah kalau kamu memaksa"
"Tunggu biar aku hubungi Pak Imam dulu, dia ada di parkiran"
Tut... Tut... Tut... (menghubungkan)
Sopir : "Iya non"
Aulia : "Pak Imam aku dah di depan rumah sakit. Pak Imam cepat kesini ya!"
Sopir : "Baik non"
Aulia pun menutup telponnya. Tak lama kemudian Pak Imam sampai di depan rumah sakit. Aulia dan Amar pun masuk ke dalam mobil.
"Pak kita antar temanku pulang dulu ya Pak, di daerah Pulo Gadung"
"Baik non"
Pak Imam mengemudikan mobilnya perlahan meninggalkan rumah sakit. Amar merasa canggung saat duduk berdampingan dengan Aulia di dalam mobil. Di sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Mereka hanya memandang ke luar jendela melihat rintik rintik hujan yang turun membasahi bumi.
Tiba tiba di tengah perjalanan, Aulia membuka suara untuk memecah keheningan...
"Oh ya Mar, katanya kamu berteman dengan Alesha sejak kecil. Berarti sama dong seperti aku dengan kak Raffi. Kami juga berteman sejak kecil. Kami selalu bermain bersama. Rumah kami dekat. Bahkan sejak dulu aku mencintai kak Raffi tapi kak Raffi hanya menganggapku seperti adiknya. Apa kamu juga seperti itu Mar?"
"Apa maksud kamu Aulia?"
"Apa kamu juga mencintai Alesha?"
Deg!
Amar terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Aulia. Amar bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Sepertinya dugaanku benar. Kamu mencintai Alesha kan? Berarti nasib kita sama..."
Amar masih membisu. Dia enggan menanggapi pertanyaan Aulia yang menyangkut soal perasaannya.
"Pasti hati kamu sakit kan melihat Alesha bersama kak Raffi?"
"Aulia... Aku memang mencintai Esha sejak dulu. Bahkan aku sempat melamarnya dua kali"
Akhirnya Amar membuka suaranya.
"Dua kali?" Aulia terkejut mendengar ucapan Amar.
"Iya. Yang pertama aku melamarnya saat dia pulang kampung. Tapi dia menolakku karena dia bilang dia sudah menikah di Jakarta. Dan yang kedua belum lama ini aku melamarnya. Aku ingin melindungi dia dan bayi dalam kandungannya. Tapi tiba tiba Raffi muncul... Lalu aku menyuruh mereka berdua rujuk"
"Masya Allah... begitu besarnya rasa cintamu pada Alesha. Aku salut sama kamu Mar. Kamu rela mengorbankan perasaanmu untuk kebahagiaan mereka berdua"
"Aku sudah cukup bahagia jika melihat Esha bahagia..."
"Alesha beruntung dicintai oleh dua lelaki baik seperti kamu dan kak Raffi... tidak seperti aku..."
"Kamu perempuan yang baik Aulia. Kamu juga cantik, kaya, terkenal... pasti banyak laki laki yang suka sama kamu"
"Kamu juga laki laki yang baik Mar, pasti kelak kamu juga akan menemukan perempuan yang baik"
"Aamiin"
Pak Imam memberhentikan mobilnya saat sampai di depan kontrakan Amar. Hujan pun sudah mulai reda.
"Sudah sampai Aulia, aku turun dulu. Terima kasih banyak ya, assalamu'alaikum"
"Sama sama Mar. Wa'alaikumsalam"
Amar pun turun dari mobil.
"Kita pulang Pak" ucap Aulia kepada Pak Imam.
"Baik non"
Pak Imam pun mengemudikan mobilnya perlahan meninggalkan Amar. Amar menatap kepergian Aulia sampai mobilnya hilang dari pandangannya.
Amar pun masuk ke kontrakannya. Ia bergegas mandi dan ganti pakaian. Setelah itu, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi telentang. Matanya memandang langit langit. Tiba tiba dia teringat pada Aulia.
"Aulia... nggak ku sangka, ternyata hatinya begitu baik. Aku kagum padanya. Awalnya aku mengira kalau dia itu perempuan yang jahat dan egois. Perempuan yang tega menghancurkan kebahagiaan Esha. Tapi ternyata aku salah..." gumam Amar dalam hati.
Perlahan Amar meraih ponselnya lalu membuka akun instagram miliknya. Kemudian Amar membuka profil Aulia Safina. Dilihatnya foto foto unggahan Aulia di instagram satu per satu.
"Aulia Safina... dia perempuan yang sangat cantik. Lebih cantik lagi saat dia memakai hijab" ucap Amar sambil tersenyum melihat foto foto Aulia di instagramnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...........
Notes :
Yang ngaku cinta sama Author dan suka sama novel "Kesucian Alesha", buruan tunjukkan rasa cintamu pada author dan novel favorit kamu ini dengan cara klik VOTE pada halaman depan novel.
Vote bisa menggunakan koin ataupun poin. Vote menggunakan poin hanya bisa melalui versi terbaru NovelToon.
Ayo VOTE sekarang juga...!!!
Jangan lupa tekan LIKE setelah membaca... Terima kasih 😊
__ADS_1