KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU

KETUA GENK MOTOR ITU, PACARKU
10


__ADS_3

Satu hari berlalu, Dzoki dan kawan -kawannya seperti biasa sudah duduk di tempat biasa mereka kumpul dan nongkrong bersama sebelum jadwal kuliah masuk.


Satu per satu teman wanita yang lewat dan terlihat bening akan sellau di ganggu dan di d soraki untuk mmebuat suasana ricuh saja.


"Gundik loe mana?" tanya Egi dengan pertanyaan kasar kepada Dzoki.


Dzoki menatap Egi dengan tajam.


"Gundik gue? Siapa? Cyeril?" ucap Dzoki ketus.


"Siapa lagi? Masa iya, Tasya? Gimana, enak kan?" tanya Egi kemudian.


"'Enak apaan?" tanya Dzoki mulai curiga. Jangan -jangan minuman itu benar sudah di campur dengan obat perangsang oleh sahabatnya sendiri.


"Cyeril? Tubuhnya? Gimana? Masih perawan?" tanya Egi bertubi -tubi tanpa ada rasa berdosa.


Dzoki langsung mengepalkan kedua tangannya dan bangkit berdiri . Tanpa basa basi lagi, kepalan tangan Dzoki tepat mengenai wajah Egi dan di lakukan berulang kali, hingga Egi pun berteriak keras.


"Cukup Ki!! Apa -apaan loe? Malah mukulin gue begini?" tanya Egi tak terima.


"Loe yang mulai Gi!! Loe tahu kan? Gue gak suka main perempuan. Dan gara -gara loe, gue harus nikahin dia kalau dia hamil!! Loe gak mikir? Apa yang loe lakukn ke gue itu malah membawa bencana besar buat gue," ucap Dzoki dengan nada suara tinggi dan lantang.


Wajah Dzoki sudah memerah karena marah yang tak lagi bisa terbendung. Ia sudah kesal dan emosi.


Egi hanya menanggapi dengan tertawa keras dan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Loe pusing amat? Loe tinggalin aja, gampang kan? Ngapin juga loe mesti ikutin alurnya dan bertanggung jawab kalau tu gundik hamil," ucap Egi kesal.


"Ehhh ... Jaga omongan loe!! Gue masih sayang sama Bunda, gue gak mau durhaka. Loe tuh lupa? Loe punya adek cewek!! Loe gak kepikiran? Kalau adek loe mengalami nasib yang sama kayak Cyeril? Loe bisa apa?" ucap Dzoki mengingatkan.


Dzoki kesal dan langsung pergi dari tempat tongkrongannya. Srmua orang hanya menatap Dzoki dan Egi bergantian dengan tatapan yang bingung. Mereka tak percaya kedua sahabat itu bisa berdebat dan berakhir pada permusuhan.


Langkah Dzoki semakin cepat berjalan. Ia malas masuk kelas hari ini, ingin menenangkan pikirannya sedikit di dekat danau tempat ia biasa mencari hiburan dan ketenangan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Motor besarnya sudah di nyalakan dan gasnya ia kencangkan hingga knalpot berisik itu mulai membisingkan suaranya di seluruh area parkiran kampus. Wajah Dzoki masih terlihat sangat murka sekali. Satu gigi ia masukkan dan motor besar itu berjalan kencang, setengah perjalanan, Dzoki memasukkan gigi berikutnya dan menambah kecepatannya.


Angin yang sepoi -sepoi tak terasa lagi di kulit tubuhnya yang tertutup jaket kulit dan seluruh wajahnya tertutupi oleh helm full face hitam kesukaannya.


Dzoki sudah berada di danau tempat favoritnya. Ia mematikan mesin motor besarnya dan menstandartkan motor itu lalu berjalan menuju danau indah dekat pinggiran kota besar.


Ia mengambil satu batu kerikil dan melemparkan jauh ke tengah danau. Bunyi air begitu membuat tenang hatinya, pikirannya pun sedikit menjernih. dzoki duduk di pinggiran danau dan merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan ke belakang menyangga kepalanya.


Kedua matanya melihat ke atas dan menatap awan putih yang begitu indah menari di langit biru yang cerah.


Kedua matanya mulai terpejam, mengingat dosa semalam kemarin yang telah di lakukan bersama Cyeril. Di tambah lagi permintaan Bunda untuk menikahi gadis itu di saat hatinya menyukai gadis lain.


Skip ...


Satu bulan telah berlalu. Cyeril belum juga menampakkan wajahnya beredar di kampus. Awalnya Dzoki biasa saja, lama -lama hatinya mulai gundah gulana dan ikut memikirkan gadis yang telah di kontrak menjadi pelayannya selama tiga bulan ini.


Dzoki juga tak pernah ikut nongkrong di tepat tongkrongan biasa. Ia selalu datang tepat waktu dan masuk ke dalam kelas lalu memilih duduk di bagian depan tanpa peduli dengan teman- temannya. Setelah kelas selesai, ia langsung pulang dan duduk di danau atau pulang ke rumah dan tidur.


Kini, Dzoki berada di dalam kamarnya. Tubuhnya sudah di rebahkan sambil menonton televisi dan beberapa cemilan ikut ada bersamanya di tempat tidur itu.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Ki ... Ini Bunda, boleh masuk, Sayang?" tanya Bunda Nur pelan sambil mengentuk pintu kamar Dzoki.


"Iya Bun. Masuk," ucap Dzoki pelan lalu duduk tegak di atas kasur dan mengecilkan volume televisinya.


Bunda Nur tersenyum bahagia. Setidaknya ada perubahan sedikit demi sedikit anak lelaki kesayangannya ini.


"Tumben, Bunda ihat kamu jarang leura malam?" tanya Bunda Nur ikut duduk di tepi rnjang dan mengambil cemilan dari dalam toples besar yang di letakkan diatas kasur dengan tutup yang terbuka lebar.


Dzoki hanya tersenyum penuh arti.


"Males Bun. Rasanya bosen juga," ucap Dzoki pelan.

__ADS_1


"Cyeril mana? Katanya mau di bawa kesini?" tanya BundaNur pelan.


Dzoki menggelengkna kepalaya pelan.


"Sudah satu bulan semenjak kejadian itu, Cyeril gak lagi masuk kuliah," ucap Dzoki mulai ada kecemasan di hatinya.


"Kamu gak coba cari di kosnya?" tanyaBunda Nur mencoba membuka alur pembahasan.


"Waktu itu sempet berkabar, Ibunya sakit. Terus gak pernah ada kabar lagi," ucap Dzoki pelan.


"Gak coba telepon? Atau kasih pesan singkat gitu? Biar Cyeril tahu, kamu sedang mencarinya?" ucap Bunda Nur memberikan saran.


"Ponselnya gak aktif Bun," ucap Dzoki pelan.


"Kamu gak berusaha mencari Cyeril? Tanya di bagian pengajaran, alamat Cyeril atau ke kostnya untuk mencari tahu Cyeril? Kamu gak takut sesuatu terjadi pada Cyeril dan ternyata dia mengandung anak kamu? Bagaimana pertanggung jawaban kamu pada Tuhan kamu?" tanya Bunda Nur pelan.


"Bunda jangan nakut -nakutin Dzoki dong," ucap Dzoki pelan.


"Bunda gak pernah nakut -nakutin kamu, Ki. Bunda cuma pengen kamu lebih bisa menghargai perasaan perempuan saja. Kamu tahu hancurnya perempuan itu saat kegadisannya itu terenggut dengan paksa," ucap Bunda Nur menjelaskan.


Deg ...


Dada Dzoki tiba -tiba bergemuruh keras sekali. Degub jantungnya begitu keras berdetak.


Dengan cepat Dzoki langsug melompat dari tempat tidur dan memakai pakaian dan jaket kulit kesukaannya.


"Dzoki ke kost Cyeril dulu ya, Bun," ucap Dzoki pelan.


Tanpa banyak membuang waktu, Dzoki langsung meluncur menju kost putri yang di tempati oleh Cyeril dan bertanya keberadaan Cyeril.


Beberapa temannya tak mengenal dekat dengan Cyeril. Sampai tukan kebun kost putri tersebut memberikan alamat rumah di kampung Cyeril.


Dzoki membaca alamat itu yang cukup jauh berbeda beberapa kota dari kota besarnya saat ini. Tapi, jarak tak membuatnya gentar mencri Cyeril dan membawanya kmabli untuk di perkenalkan kepada Bunda Nur. Dzoki sudah siap dengan segala konsekuensinya.

__ADS_1


__ADS_2