
Satu bulan kemudian ...
Seusai ujian akhir semester, malamnya Cyeril dan Dzoki melaksanakan acara syukuran empat bulanan kandungan Cyeril yang sempat tertunda karena harus fokus dengan ujian akhir yang menguras tenaga dan pikiran mereka.
Dzoki dan Cyeril melaksanakan acara syukuran emlat bulanan itu di rumah besar milih Ayah dan Bundanya.
Bunda Nur yang paling semangat dan antusias dengan acara empat bulanan ini. Maklum cucu pertama.
Cyeril sibuk membuat kue untuk acara nanti malam. Sedangkan Bunda Nur sibuk menyiapkan menu makanan yang harus di masak pihak katering dan sesekali mengecek dekorasi untuk acara syukuran nanti malam.
Acara itu memang di buat agak meriah. Bahkan lebih meriah di bandingkan acara pernikahan Cyeril dan Dzoki yang terkesan tertutup.
Kali ini, Bunda Nur mengundang semua teman sosialitanya dan semua para istri rekan kerja serta karyawan Ayah Riski, suaminya. Semua karyawan di undang untuk turut mendoakan kandungan Cyeril.
"Bunda ... Ini meriah sekali. Cyeril malah gak enak," ucap Cyeril pelan.
"Ini janji Bunda. Waktu itu pernikahan kalian kan tertutup karena memang terburu -buru, jadi persiapannya kurang maksimal. Kamu gak keberatan kan? Kalau lelah kamu istirahat gak apa -apa," titah Bunda Nur pada Cyeril, menantu kesayangannya itu.
Cyeril sering kali merasa tak enak hati dengan perlakuan istimewa Bunda Nur dan Ayah Riski yang terkadang terlalu berlebihan menurutnya. Sampai kadang Dzoki merasa tersisihkan. Untung saja, Dzoki itu cuek dan tidak peduli. Pernah suatu hari Cyeril bertanya soal kasih sayang Bunda Nur dan Ayah Riski yang di rasa terlalu men -spesialkan Cyeril. Dengan santainya Dzoki hanya tersenyum lalu terkekeh. Dzoki hanya menjawab singkat, "Sudah sepantasnya Bunda dan Ayah sayang sama kamu, Ril. Apalagi sayang dengan calon cucunya. Itu wajar kan? Tandanya kamu itu menantu yang baik, menantu idaman."
Skip ...
Hari semakin sore, Cyeril sudah merebahkan tubhnya di kasur. Sejak siang, Cyeril apmit untuk istiraht saat perutnya mulai keram. Semenjak kejadian itu, kondisi Cyeril memang lemah terurama pada kandungannya. Ia harus benar- benar menjaga kandungannya dengan baik. Caranya harys banyak makan makanan yang bergizi dan sehat. Tidak boleh lelah bekerja. Tidak boleh stres karena pikiran yang membebani serta harus selalu bahagia dan senang.
Cyeril menatap jam dinding. Sekarang sudah pukul tiga sore, seharusnya Dzoki sudah pulang dari kampus. Ia tadi meminta ijin kembali ke kampus lagi karena ada acara persiapan untuk KKN -nya. Semacam acara pra koching sebelum awal semester harus mulai koching dengan para tutor dan lendamping dengan kelompok yang sudah di tentukan dari kampus.
Cyeril mengambil ponselnya dan mengetikkan satu pesan singkat kepada Dzoki. Selama ini Cyeril jarang sekali mengecek kepergian Dzoki, suaminya. Selama Dzoki ijin ya, Cyeril akan menunggunya sampai pulang.
Tapi semenjak kehamilannya membesar dan Cyeril masuk rumah sakit. Dzoki memang sudah tidak pernah lagj pergi dan nongkrong bersama sahabatnya di luar. Komunitasnya kini bukan sebagai ketua genk motor King Speed. Dzoki kini lebih nyaman nongkrong bersama teman -teman SMA nya dulu dan membuat komunitas baru untuk membuka lapangan pekerjaan. Usaha barunya itu masih dalam wacana dan sedang di persiapkan. Jadi, Cyeril pun sama sekali tak mengetahui juga.
__ADS_1
Cyeril menatap pesannya yang tak terkirim.
"Kok centang satu," lirih Cyeril penasaran.
Baru kali ini Cyeril penasaran dan tiba -tiba saja khawatir dengan keadaan Dzoki yang sedang berada di luar sana.
Dengan cepat Cyeril menekan tombol yang bergambar simbol telepon untuk menghubungi Dzoki. Dan benar, ponselnya tidak aktif alias mati.
"Gak biasanya begini. Ponsel itu tadi penuh baterainya. Gak mungkin kan langsung habis gitu saja," lirih Cyeril menduga.
Deg ...
Dadanya seperti tertusuk duri tajam. Sakit sekali.
Tok ... tok ... tok ...
"Ril ... Cyeril," panggil Bunda Nur keras.
Cyeril bergegas turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar itu. Bunda Nur segera menarik Cyeril dan membawa Cyeril ke mobil.
Cyeril hanya diam dan menurut. Ia tak tahu apa -apa dan diam duduk di jok belakang. Ayah Riski yang menyetir mobil dan Bunda Nur duduk di sebelahnya. Wajahnya panik dan cemas tapi tak ada yang bicara sepatah kata pun.
"Sebenarnya ada apa Bunda?" tanya Cyeril memberanikan diri untuk bertanya.
Bunda Nur melirik kenaeah Ayah Riski yang juga melirik ke arah istrinya itu.
Keduanya seolah bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Cyeril.
"Bun? Ada apa?" tanya Cyeril kembali mengilang pertanyaannya sambil menatap lekat ke arah Bunda Nur.
__ADS_1
"Ekhemm ... Dzoki ...." ucapan Bunda Nur bergetar malah membuat Cyeril panik.
Deg ...
"Kak Dzoki? Kenapa Kak Dzoki ... Bun?" tanya Cyeril dengan suara keras.
"Dzoki di kantor polisi Cyeril," ucap Ayah Riski lantang.
Ayah Riski juga tak pernah menyangka akan hal ini. Belum tahu kronologinya seperti apa.
"Kenapa? Ada apa ini?" teriak Cyeril keras.
"Ayah juga belum tahu, Ril. Makanya kita kesana sekarang. Kamu yang sabar, Ril," ucap Ayah Riski bingung.
Padahal liburan semester kali ini hanya satu bulan saja. Dzoki akan mempersiapkan diri untuk KKN. Kalau begini caranya, ia bisa mendekam di sel tahanan. Tapi kasus apa ini? Masa iya, Dzoki terlibat kasus besar?
Cyeril menyandarkan tubuhnya. Ucapan Ayah Riski tadi membuat Cyeril lebih bisa mengontrol emosinya dan tidak berpikir jelek agar tak mengganggu kondisinya dan kondisi kandungannya.
Tak sampai setengah jam. Mobil Ayah Riski sudah masuk ke dalam pelataran kantor polisi. Bunda Nur, Ayah Riski dan Cyeril masuk ke dalam dan meminta bertemu dengan Dzoki.
Dzoki keluar dari sebuah ruangan dan sudah memakai baju oranye khas narapidana.
Cyeril segera beranjak dari duduknya dan berlari menubruk Dzoki dan memeluk lelaki itu.
Dzoki tersenyum kecut. Ia malu pada Cuetil dan anaknya. Cerota buruk apa yang sedang ia torehkan saat ini. Dzoki pun merasa tak percaya berada di tempat ini dan mulai menjadi penghuni teralis besi tinggi itu.
"Kak Dzoki kenapa? Kenapa bisa begini? Ini acara empat bulanan calon anak kita. Cyeril berharap semua acara ini berjalan dengan lancar. Tapi ... kenapa?" ucapan Cyeril berhenti karena sesak di dadanya. Ia tak bisa melanjutkan ucapannya. Air matanya sudah turun ke pipi. Cyeril hanya menenggelamkan kepalanya di dada Dzoki.
Dzoki hanya membalas pelukan erat itu dan mengusap lembut rambut Cyeril dan di cium kepalanya berulang kali.
__ADS_1
"Maafkan Kakak ya," ucap Dzoki pelan berbisik.
Cyeril tak menjawab malah memeluk Dzoki semakin erat. Tak perlu minta maaf, tentu Cyeril akan memaafkan Dzoki dengan lapang dada dan penuh keikhlasan.