
"Iya. Baik banget. Makanya Cyeril harap kamu bisa menjaga rahasia ini dengan baik. Jangan sampai Dzoki tahu kalau aku menceritakan semua ini. Bisa -bisa dia akan marah besar padaku. Aku sedang tidak ingin cari masalah apapun dengan Dzoki. Aku hanya ingin fokus dengan kuliahku agar beasiswaku tetap turun dan fokus sama bayiku agar sehat," ucap Cyeril pelan. Dari ucapannya, Bukan kepasrahan yang di ungkap Cyeril. Tapi perempuan itu ingin menyemangati dirinya agar tetap termotivasi dan bisa melnajutkan hidupnya lebih baik lagi di saat keadaannya sedang tidak baik -baik saja
"Semangat Ril. Aku tetap akan menjaga kamu, boleh? Kalau ada apapun kamu bisa minta tolong padaku, itu juga jika kamu gak keberatan," ucap Anton pelan
"Iya, terima kasih Nton. Kamu memang sahabat paling baik. Tapi ... Cyeril kan punya suami. Dzoki pasti akan memata -matai Cyeril seperti kemarin. Jadi, aku harap kamu lebih mengerti, dengan posisi aku saat ini," ucap Cyeril pelan.
"Ya ... aku ngerti. Oke. Mau pulang? Aku antar yuk? Dzoki kan gak ada?" ucap Anton mengajak Cyeril.
Sejak dulu Cyeril memang paling anti di ajak main atau nongkrong kecuali ada hal lain yang bertujuan jelas. Contohnya saja seperti mengerjakan tugas kelompok atau ada traktiran teman yang ulang tahun. Tapi kalau hanya sekedar untuk bercanda, guyonan tentu akan dapat penolakan.
"Ekhemmm ... Gak ah. Kan arah rumah kamu dan Dzoki beda. Aku tinggal.di rumah Dzoki," ucal Cyeril pelan.
"Gak apa -apa. Aku malah khawatir sama kandungan kamu. Aku akan memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat," ucap Anton tegas.
__ADS_1
Cyeril mengangguk pasrah.
"Oke lah." Cyeril mengangguk pelan dan tersenyum.
Siang ini Cyeril pulang dengan di antar oleh Anton. Motor besar Anton masuk ke halaman rumah Dzoki. Kebetulan sekali, Bunda Nur ada di depan sedang menyirami tanamannya yang ada di teras rumahnya. Tanaman mahal yang perlu di rawat secara khusus.
Bunda Nur menatap lelaki yang datang memgantarkan Cyeril. Lelaki yang tak jelas raut wajahnya karena tertutupi oleh helm full face dan saat Cyeril turun, ia langsung pergi tanpa ada aktivitas apapun yang mencurigakan.
"Siang Bunda," sapa Cyeril lembut sambil mencium punggung tangan Bunda Nur dan duduk di salah satu kursi yang ada di teras itu.
"Siapa tadi? Dzoki mana?" tanya Bunda Nur pelan.
"Kak Dzoki pergi dengan Tasya. Gak masuk kuliah juga, mereka berdua bolos. Dan Cyeril gak tahu kemana mereka pergi," ucap Cyeril pelan.
__ADS_1
"Terus tadi siapa? Lelaki yang antar kamu?" tanya Bunda Nur pelan.
Bunda Nur meletakkan cawan untuk menyiram kembangnya dan ikut duduk bersama Cyeril.
"Dia Anton. Teman satu kelas Kak Dzoki juga. Dia sahanat Cyeril. Bunda keberatan kalau Cyeril di antar oleh Anton?" tanya Cyeril pelan.
"Ekhemm bukan keberatan sih. Cuma kalau di lihat orang itu bakal jadi fitnah. Sebagai perempuan yang telah memiliki suami harus bisa menjaga baik harga dirinya. Walaupun itu hanya sebatas teman atau sahabat. Paham maksud Bunda?" titah Bunda Nur menasehati.
"Iya Bunda. Cyeril paham. Maafin Cyeril ya, Bunda," ucap Cyeril pelan.
"Iya. Maaf kalau Bunda cerewe. Ini demi kebaikan bersama," ucap Bunda Nur pelan.
Cyeril mengangguk pelan.
__ADS_1
"Iya Bunda. Cyeril tak masalah. Lalu, bagaimana ya Bunda. Cyeril mau buka usaha kue. Kebetulan Cyeril dapat uang duka tadi di kampus. Jumlahnya lumayan. Renacananya Cyeril mau buka usaha agar tidak merepotkan Ayah dan Bunda," ucap Cyeril pelan.
"Kamu yakin? Mau usaha apa?" tanya Bunda Nur pelan.